<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717</id><updated>2012-01-01T00:40:31.906+07:00</updated><category term='Gizi Tambahan'/><category term='Ungkapan Sedih Sang Ratu Amisan'/><category term='Karya Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra'/><category term='Profil'/><category term='Filsafat Ajaran Islam'/><category term='Ucapan dan Do&apos;a'/><category term='Makalah'/><category term='Info Yahoo'/><category term='Karya Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh'/><category term='Nasehat Penting'/><category term='Syekh Siti Jenar'/><category term='Tanggapan'/><category term='Syaikh Abdul Qadir al Jaelani'/><category term='Info Budaya'/><category term='April 1993'/><category term='The Review of Religions'/><category term='Islamlah yang Benar'/><category term='Berita'/><category term='Kisah'/><category term='Terapi Kesehatan Islami'/><title type='text'>Agen CINTA dan DAMAI</title><subtitle type='html'>Kita berusaha sebisa yang kita lakukan, Allah Ta'ala yang menilai dan menghargai dengan Karunia dan Ridho-Nya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-3847866903817348911</id><published>2011-05-15T21:21:00.000+07:00</published><updated>2011-05-15T21:21:19.678+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasehat Penting'/><title type='text'>KETENTUAN MENGKAFIRKAN ORANG Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-IYE-g4Gytsg/Tcsae1UTMII/AAAAAAAAAb8/Tl2VO1ThpHw/s1600/cl0102.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-IYE-g4Gytsg/Tcsae1UTMII/AAAAAAAAAb8/Tl2VO1ThpHw/s320/cl0102.jpg" width="165" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #741b47; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Bangsa Indonesia sedang dihadapkan dengan permasalahan konflik atas nama agama, fenomena saling tuduh dalam laku keagamaan dengan istilah yang sensitif dan memancing api kemarahan muslim awam. Sehingga dengan bertindak dalam prosentase emosi lebih tinggi tanpa menyentuh sisi keilmuan secara mendalam, maka terjadilah saling tuduh, atau senantiasa menuduh disusul dengan kezaliman fisik, mental dan lainnya. Isu sensitif dengan istilah kafir, sesat, murtad menjadi buah bibir dalam kalangan muslim umum. Berdasar pemukiran itu semua, saya berusaha menampilkan dalam blig ini nasehat dari seorang Mujaddid salaf mengenai hal itu. Inilah nasehat beliau rh:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt; "Memvonis kafir ada dua macam: At-Takfir al-Muthlaq (umum): Yaitu memvonis kafir terhadap perkataan atau perbuatan atau keyakinan yang bertentangan dengan ushulul Islam (prinsip dasar Islam). At-Takfir al-Mu'ayyan : Yaitu memvonis kafir terhadap individu tertentu karena dia melakukan suatu perkara yang bertentangan dengan Islam setelah syarat-syarat vonis kafir terhadapnya terpenuhi dan tidak ada mawani' (penghalang) untuk vonis tersebut. Ada dua syarat untuk menta'yin (memvonis) kafir: Syarat Pertama: Individu tertentu (orang yang divonis kafir) tersebut mengucapkan suatu ucapan yang dapat memvonisnya kafir dan dia memang bermaksud demikian Syarat ini perlu, sebab terkadang sebagian lafazh mengandung banyak arti dan barangkali saja orang tersebut tidak memaksudkan arti yang memvonisnya kafir itu, atau dia mengucapkan suatu ucapan yang memang dapat memvonis kafir terhadapnya namun dia tidak bermaksud demikian. Diantara contohnya: firman Allah Ta'ala: artinya: ".... janganlah kamu katakan (Muhammad): 'Raa'ina'.." (Al-Baqarah: 104)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Ucapan tersebut sering dilontarkan oleh orang-orang Yahudi untuk menyakiti hati Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam , sedangkan kaum Muslimin ketika mengucapkan ungkapan tersebut sama sekali tidak bermaksud demikian, namun begitu Allah tetap melarang mereka mengucapkannya tetapi tidak memvonis kafir terhadap mereka saat mereka mengucapkannya. Arti dari raa'ina di kalangan orang-orang Yahudi menunjukkan makna ketololan (bahasa Ibrani). Kaidah yang berlaku dalam hal ini: "Konsekuensi dari suatu ucapan (yang dapat memvonis kafir) tidak dapat dijadikan pegangan untuk memvonis kafir kecuali bila orang yang divonis kafir tersebut ( al-Mu'ayyan) komitmen dengan ucapan itu". Syarat Kedua: Tegaknya hujjah Diantara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut: Firman Allah: "Dan tidaklah Kami mengazab (suatu kaum) hingga Kami utus (kepada mereka) seorang Rasul". (al-Isra': 15), dan firman Allah : "Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (al-Mulk: 11) Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah Rahimahullaah berkata: "Tidak seorangpun yang berhak memvonis kafir terhadap siapa pun dari kaum Muslimin meskipun dia bersalah dan keliru hingga dijelaskan kepadanya dengan hujjah yang kuat dan jelas. Orang yang telah mantap keislamannya secara yakin, maka hal itu tidak bisa dihapus oleh keraguan terhadapnya bahkan tidak akan hapus kecuali telah dijelaskan kepadanya hujjah yang&lt;br /&gt;ii&lt;br /&gt;memuaskan dan tidak ada lagi syubhat yang berkaitan dengannya". (Lihat: Al-Fataawa, XII, hal. 466). Firman Allah: "maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat". Al-Hasan al-Bashri berkata (berkaitan dengan makna ayat tersebut): "sebagai peringatan bagi seorang Mukmin dan hujjah atas orang kafir". (lihat: Tafsir al-Qurthubi, XX/20). Dalam ayat tersebut kata "an-Naf'u" (manfaat) dipaparkan secara mutlak, yakni tanpa ada kaitan dengan sesuatu. Firman Allah: "orang yang takut (kepada azab Allah) akan mengingatnya/ menjadikannya sebagai pelajaran dan orang yang sengsara akan menjauhinya". Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah Rahimahullaah berkata: "Tidak tersisa satupun dari fauj (rombongan manusia) yang masuk neraka kecuali mereka dahulunya telah didatangi oleh seorang nadzir (seorang Nabi/Rasul yang memberikan peringatan kepada mereka); jadi, orang yang tidak didatangi oleh nadzir tersebut maka dia tidak masuk neraka".&lt;br /&gt;Mawaani' (Hal-Hal yang mencegah dan menghalangi) dalam memvonis kafir terhadap orang per-orang/individu tertentu Pertama; Faktor Kesalahan Kesalahan dalam masalah-masalah 'ilmiyyah (teoritis) atau masalah 'amaliyah (praktis) yang terjadi merupakan kesalahan yang terampuni selama belum dijelaskan hujjah (yang jelas dan kuat) kepada pelakunya. Hal ini dapat terjadi terhadap dua kelompok manusia: Kelompok Pertama, Seorang Mujtahid yang salah dalam memberikan vonis hukum terhadap suatu masalah. Syaikhul Islam berkata: "Seorang Mujtahid yang salah mendapatkan satu pahala sebab maksudnya adalah untuk mencari kebenaran sesuai dengan ke-mampuannya. Jadi, dia tidak memberikan suatu vonis hukum kecuali berdasarkan dalil…". (Lihat: al-Fataawa, XX/30-31). Allah berfirman: "Wahai Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah". Kelompok kedua; yaitu seorang yang tidak memberikan komentar hukum apa pun terhadap suatu masalah (abstain) Maksudnya adalah orang yang tidak mampu untuk menemukan hukum yang berkaitan dengan masalah tersebut sehingga membuat dia tidak memberikan vonis hukum, baik menafikan atau menetapkan. Jadi, tidak boleh memvonis kafir terhadap orang seperti ini seba-gaimana tidak bolehnya memvonis kafir terhadap seorang Mujtahid yang salah. Diantara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Ayat terakhir surat al-Baqarah: "Allah tidak akan membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya..." (al-Baqarah: 286)&lt;br /&gt;2. Firman Allah Ta'ala: "dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu…". (al-Ahzaab; 5)&lt;br /&gt;iii&lt;br /&gt;3. Hadits dari Nabi n bahwasanya beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah meletakkan (tidak menjadikan sebagai beban/taklif sehingga divonis dengan suatu hukum-red) dari umatku; kesalahan, kelupaan dan hal yang dilakukan karena dipaksa".&lt;br /&gt;4. Bahwa Allah memerintahkan agar bertakwa kepadaNya sesuai dengan kemampuan dalam firmanNya: "maka bertakwalah kalian sesuai dengan kemampuan kalian".&lt;br /&gt;5. Al-Ijma': Syaikhul Islam berkata: "Para shahabat dan seluruh imam kaum Muslimin telah bersepakat secara ijma' bahwa tidak semua orang yang menge-mukakan suatu pendapat yang salah, maka orang tersebut kemudian divonis kafir karenanya meskipun dia menyelisihi as-Sunnah. Jadi, memvonis kafir terhadap setiap orang yang bersalah bertentangan dengan ijma' ". (lihat: Majmu' al-Fataawa: VII/685)&lt;br /&gt;6. Qiyas al-Awla (analogi prioritas): hal ini lantaran seorang Mujtahid yang bersalah lebih utama untuk diterima 'uzurnya ketimbang seorang Jahil yang tidak mencari ilmu (syar'i) . Syaikhul Islam berkata: "tidak diragukan lagi bahwa kesalahan dalam ilmu yang diperlukan kajian secara mendetail di dalamnya adalah dimaafkan bagi umat ini, sebab bila tidak demikian niscaya mayoritas orang-orang utama di kalangan umat ini akan binasa". (lihat: Majmu' al-Fataawa, 20/165-166).&lt;br /&gt;Syaikhul Islam berkata lagi : "Meskipun Ulama Salaf berbeda pendapat dalam banyak masalah namun tak seorangpun dari mereka yang bersaksi atas kekufuran, kefasikan bahkan kemaksiatan yang diperbuat oleh sebagian yang lainnya". Kedua; Faktor Kebodohan/ketidak-tahuan&lt;br /&gt;Kebodohan/ketidaktahuan merupakan salah satu maani' (penghalang) dalam memvonis kafir terhadap orang per-orang sebab keimanan seseorang erat hubungannya dengan pengetahuan (ilmu) sedangkan mengetahui sesuatu yang diimani merupakan syarat dari ke-imanan kepadanya (sesuatu tersebut). Firman Allah Ta'ala: "…Dan tidaklah Kami mengazab (suatu kaum) hingga Kami mengutus kepada mereka seorang Rasul". (al-Isra': 15) Bahwa ketidaktahuan tentang sebagian masalah aqidah terjadi juga terhadap sebagian shahabat, meskipun demikian Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak memvonis kafir mereka bahkan tidak memvonis mereka berdosa atas perbuatan tersebut. Hadits: "seorang laki-laki telah berbuat boros terhadap dirinya, lalu tatkala maut menjemputnya dia berwasiat kepada anak-anaknya seraya berucap: 'bila aku mati maka bakarlah aku, tumbuklah (abunya) dan taburkanlah dibawah deru angin laut…". (HR. Muslim). Dalam beralasan dengan kebodohan/ketidaktahuan tersebut perlu diperhatikan perbedaan kondisi , tempat dan waktu mereka dilihat dari sisi signifikasi tersebar atau tidaknya pengetahuan tentang hal tersebut. Begitu juga, perlu diperhatikan jenis sunnah&lt;br /&gt;iv&lt;br /&gt;Rasul yang diingkari oleh si Jahil; apakah termasuk jenis yang sudah diketahui oleh umum secara luas alias tak seorangpun yang tidak mengetahuinya?. Ketiga; Faktor Kelemahan/Ketidak-mampuan Seseorang tidak akan dibebani syara' bila tidak mampu, Allah berfir-man: "Allah tidak akan membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuan-nya". Syaikhul Islam berkata: "barangsiapa yang meninggalkan sebagian keimanan yang wajib (diketahui olehnya) disebabkan ketidak mampuannya; baik hal itu karena dia tidak mendapatkan pengetahuan/ilmu tentang hal tersebut, seperti risalah tersebut belum sampai kepadanya atau ketidakmampuannya untuk melakukan hal itu maka dia tidak diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya dan hal itu bagi dirinya bukan merupakan keimanan dan ajaran agama yang wajib atasnya meskipun pada prinsipnya hal itu adalah bagian dari keimanan dan ajaran agama. Kedudukan mereka dalam hal ini seperti kedudukan orang yang sakit, orang yang dalam keadaan takut, orang yang sedang haidh dan seluruh ahlul a'dzaar (orang-orang yang memiliki 'udzur syar'i) yang tidak mampu menyempurnakan shalat dimana shalat yang mereka lakukan adalah shah. Contohnya: Kisah tentang kondisi salah seorang yang beriman dari keluarga Fir'aun yang hidup di tengah-tengah kaum Fir'aun dan isteri Fir'aun sendiri. Demikian pula dengan kisah nabi Yusuf ash-Shiddiq p dengan penduduk Mesir yang masih kafir se-hingga beliau tidak dapat menjalankan seluruh apa yang diketahuinya dari Dienul Islam. Keempat, Faktor Pemaksaan&lt;br /&gt;1. Adanya pemaksaan merupakan salah satu mawaani' pemvonisan kafir terhadap orang per-orang; hal ini didukung oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam serta perkataan ulama Salaf.&lt;br /&gt;2. Maksud pemaksaan tersebut adalah sesuatu yang dapat mengakibat-kan terjadinya pembunuhan, pemukulan, penahanan atau perampasan terhadap harta yang amat diperlukan oleh korban (orang yang dipaksa).&lt;br /&gt;Diantaranya adalah firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)." (An-Nahl: 106). Ini merupakan Maani' yang mu'tabar (yang dijadikan acuan) oleh ulama Salaf ; sebagaimana diriwayatkan dari al-Hasan bahwa dia berkata: "at-Taqiyyah (berlindung dibalik kekufuran sedangkan hati tetap tenang beriman-red) berlaku hingga Hari Kiamat". Sedangkan melakukan perbuatan-perbuatan kekufuran atau mengucapkan perkataan kufur demi untuk mendapatkan kedudukan atau harta tidak dianggap sebagai suatu pemaksaan." (Disarikan dari Majalah al-furqan oleh Abu Shofiyyah )&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-3847866903817348911?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.gosya.co.cc' title='KETENTUAN MENGKAFIRKAN ORANG Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/3847866903817348911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=3847866903817348911&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3847866903817348911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3847866903817348911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/ketentuan-mengkafirkan-orang-menurut.html' title='KETENTUAN MENGKAFIRKAN ORANG Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IYE-g4Gytsg/Tcsae1UTMII/AAAAAAAAAb8/Tl2VO1ThpHw/s72-c/cl0102.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-3184676816908174284</id><published>2011-05-15T21:10:00.000+07:00</published><updated>2011-05-15T21:10:07.414+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="off"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-3184676816908174284?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/3184676816908174284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=3184676816908174284&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3184676816908174284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3184676816908174284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/blog-post.html' title=''/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-5387306170753958730</id><published>2011-05-14T22:17:00.000+07:00</published><updated>2011-05-14T22:17:18.597+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh'/><title type='text'>Krisis Teluk &amp; Tatanan Dunia Baru</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-284yS8OeOms/Tc6b6UynVYI/AAAAAAAAAdw/QSxS3GexNEc/s1600/Hazoor+IV+in+Mta.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-284yS8OeOms/Tc6b6UynVYI/AAAAAAAAAdw/QSxS3GexNEc/s1600/Hazoor+IV+in+Mta.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #741b47; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Yahudi - Korban Tirani dan Penganiayaan di Eropa&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;“ . . . Kenyataannya umat Yahudi memang benar jika mereka mengatakan bahwa dunia Kristen Barat telah menjadikan umat Yahudi mengalami kekejaman luar biasa yang tiada taranya dalam sejarah. Perang Salib yang dimulai tahun 1095 dimulai dari Perancis dan kalau tidak salah dipimpin oleh Lord Godfrey dari Bouillon. Ketika ia dan raja-raja Perancis lainnya akan memulai perang salib yang pertama,mereka berpendapat bahwa harus ada suatu karitas atau ‘sedekah’sebelum melaksanakan tugas yang demikian berat. Karena itu Godfrey dari Bouillon mengusulkan bahwa sedekah yang terbaik adalah pembalasan dendam atas penyaliban Yesus a.s. dengan cara menjagal kaum Yahudi.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Mirip dengan umat Muslim yang mempunyai tradisi menyampaikan pengurbanan atau sedekah hewan sebelum melakukan suatu kegiatan penting, begitu juga pandangan mereka itu mengambil bentuk berupa pembunuhan massal (genoside) umat&lt;br /&gt;Yahudi di Perancis. Kita tidak akan banyak memperoleh contoh di seantero sejarah manusia dimana suatu bangsa yang tidak bersenjata diperlakukan sedemikian kejamnya. Inilah yang menurut mereka dikatakan tindakan karitas atau ‘sedekah’ sebelum berangkat untuk perang salib yang pertama. Kejadian itu lalu menjadi kebiasaan dan&lt;br /&gt;selama dua ratus tahun berikutnya setiap kali akan berangkat untuk perang salib, umat Yahudi secara acak dijagal sebagai tindakan karitas!” (15 Februari 1991)&lt;br /&gt;“Dari sudut pandang lain, rasanya lebih tepat jika dikatakan bahwa&lt;br /&gt;Israel-lah yang telah menundukkan dunia dan bukan Presiden Bush&lt;br /&gt;dan bahwa Amerika Serikat telah ikut tunduk bersimpuh di kaki si&lt;br /&gt;pemburu. Gambaran ini lebih akurat dan dunia memandang kejadiankejadian&lt;br /&gt;yang sedang berlangsung dalam perspektif ini.” (22 Februari&lt;br /&gt;1991)&lt;br /&gt;“Dengan menghancurkan sosok Hitler imajiner dalam diri Saddam,&lt;br /&gt;sebenarnya Amerika Serikat dan para sekutunya sedang mendukung&lt;br /&gt;negara Israel yang sekarang ini telah mengambil bentuk sebagai Hitler&lt;br /&gt;yang sebenarnya. Apakah sedemikian butanya negara Barat? Apakah&lt;br /&gt;mereka tidak menyadari bahwa justru Israel yang pertama kali&lt;br /&gt;menyebut Saddam dan kaum Palestina sebagai Hitler? Dengan cara&lt;br /&gt;mengenalkan ‘hantu-Hitler’ justru Barat telah membantu ‘Hitler’&lt;br /&gt;sebenarnya. Jika mereka tidak menyadari hal ini maka masa depanlah&lt;br /&gt;yang akan mengungkapkan motivasi Israel dan bagaimana Israel akan&lt;br /&gt;memperlakukan Amerika Serikat dan Barat.” (22 Februari 1991)&lt;br /&gt;Perserikatan Bangsa-bangsa&lt;br /&gt;“Aku bertanya kepada umat Muslim, bangsa Arab dan dunia: Apa&lt;br /&gt;gunanya Perserikatan Bangsa-bangsa? Perserikatan Bangsa-bangsa&lt;br /&gt;hanya untuk melayani kepentingan negara-negara kaya dan adikuasa.&lt;br /&gt;Apa gunanya PBB demikian yang konstitusinya mengizinkan negara&lt;br /&gt;kuat menjadikan negara-negara lainnya jadi kurban kekejamannya&lt;br /&gt;dan melarang yang lemah untuk mengangkat suara? Kalau mereka&lt;br /&gt;mengangkat suara mengajukan resolusi, langsung saja diveto dan&lt;br /&gt;negara-negara adikuasa terus saja menjalankan kekejamannya.&lt;br /&gt;Negara-negara kaya inilah yang memerintah dunia dan mengatur&lt;br /&gt;nasib negara-negara lainnya. Atas nama Perserikatan Bangsa-bangsa,&lt;br /&gt;negara-negara adikuasa dan kaya ini menghukum Arab dan Muslim&lt;br /&gt;tanpa sungkan dan memperlakukan mereka secara kejam dan ganas.&lt;br /&gt;Tetapi jika teman-teman negara-negara kaya itu yang melakukan&lt;br /&gt;kesalahan, tidak ada hukuman yang dijatuhkan dan paling-paling&lt;br /&gt;diberi resolusi yang lemah dan inefektif.” (22 Februari 1991)&lt;br /&gt;“Di Vietnam, sebuah negara adidaya yang terkuat dan terbesar telah&lt;br /&gt;dipermalukan oleh sebuah negeri kecil yang miskin dan kekalahan&lt;br /&gt;tersebut menjadi pukulan psikologis yang berat. Amerika Serikat&lt;br /&gt;tanpa memperdulikan biayanya, bermaksud menebus malu dan&lt;br /&gt;mengembalikan harga dirinya sebagai negara dengan kekuatan militer&lt;br /&gt;terbesar. Namun nyatanya pinggang yang pernah patah jarang yang&lt;br /&gt;bisa pulih seutuhnya. Sampai hari ini Amerika Serikat telah&lt;br /&gt;menghujani Irak dengan bom empat kali lebih banyak dibanding di&lt;br /&gt;Vietnam tetapi pertempuran masih terus berlangsung.” (22 Februari&lt;br /&gt;1991)&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi hari ini sebenarnya merupakan pengulangan&lt;br /&gt;menyedihkan dari sejarah kelam tersebut. Aku tidak tahu apa yang&lt;br /&gt;akan terjadi di masa depan atau kapan pasang naik sejarah akan&lt;br /&gt;merubah yang kuasa dan sombong diruntuhkan, tetapi aku benarbenar&lt;br /&gt;yakin bahwa Allah s.w.t. pada waktunya akan mempermalukan&lt;br /&gt;dan meruntuhkan yang sombong. Aku bisa memastikan bahwa&lt;br /&gt;Amerika Serikat tidak akan bisa memulihkan pinggangnya yang telah&lt;br /&gt;patah di Vietnam dengan cara melakukan kekejaman dan&lt;br /&gt;merendahkan harga diri orang lain di Irak. Pinggang Amerika Serikat&lt;br /&gt;yang pernah patah di Vietnam akan tetap patah. Mereka bisa saja&lt;br /&gt;menciptakan kawah-kawah ledakan yang dalam dan lebar di bumi&lt;br /&gt;dengan 2.500.000 ton bahan ledak. Dalam kawah-kawah dan liangliang&lt;br /&gt;itu, reputasi dan nama baik Amerika Serikat akan tetap terkubur&lt;br /&gt;memalukan sepanjang masa. Dengan berjalannya waktu, tindak&lt;br /&gt;barbar demikian akan menjadi tambah nyata dan reputasi Amerika&lt;br /&gt;Serikat akan tercemar tanpa bisa ditebus lagi. Bisa saja karena&lt;br /&gt;kekuatan mereka yang luar biasa saat ini, hanya sedikit kritikus yang&lt;br /&gt;berani mengungkapkan kejahatan mereka karena takut pembalasan.&lt;br /&gt;Hanya saja tindakan terhadap kemanusiaan demikian tidak akan&lt;br /&gt;memudar atau hilang, bahkan dengan berjalannya waktu akan&lt;br /&gt;menjadi tambah jelas dan nyata dimana generasi masa datang akan&lt;br /&gt;membaca dengan ngeri dan jijik bahwa negara yang katanya beradab&lt;br /&gt;bisa melakukan kekejian dan kejahatan seperti itu. Amerika Serikat&lt;br /&gt;seharusnya bisa berkaca melihat dirinya sebagaimana orang lain&lt;br /&gt;melihat diri mereka dan berhati-hati untuk tidak menjadi yang&lt;br /&gt;disisihkan dari abad keduapuluh.” (22 Februari 1991)&lt;br /&gt;“Salah satu aspek dari perang Amerika di Vietnam adalah mereka&lt;br /&gt;waktu itu tidak harus terpaksa berkeliling dengan menadahkan&lt;br /&gt;tangan untuk bantuan keuangan dalam melaksanakan suatu perang.&lt;br /&gt;Dalam perang di Vietnam, Amerika Serikat membelanjakan $120milyar&lt;br /&gt;untuk berperang selama delapan setengah tahun dan untuk itu&lt;br /&gt;mereka sepenuhnya menggunakan dana sendiri. Uang senilai&lt;br /&gt;$120milyar adalah jumlah yang besar sekali. Tetapi perang sekarang&lt;br /&gt;ini sepenuhnya menggunakan uang yang diperoleh dari negara-negara&lt;br /&gt;lain. Kalau sudah contoh demikian dimana perang bisa dibiayai oleh&lt;br /&gt;orang lain maka tidak ada lagi jaminan bagi perdamaian dunia.&lt;br /&gt;Sepertinya Amerika Serikat telah menyewakan penggunaan angkatan&lt;br /&gt;bersenjatanya. Jadinya tidak beda dengan serdadu sewaan. Hal mana&lt;br /&gt;berarti takdir dari negeri-negeri miskin sepenuhnya berada di tangan&lt;br /&gt;negara kaya. Negara-negara kaya dan kuat bisa menuntut kontribusi&lt;br /&gt;dan sumberdaya keuangan dari negeri-negeri miskin dan menyewa&lt;br /&gt;serdadu bayaran untuk memerangi, membunuh, mencederai dan&lt;br /&gt;menghancurkan mereka. Preseden demikian benar-benar berbahaya.&lt;br /&gt;Jenis perang seperti itu pasti selalu diikuti unsur keserakahan. Jika&lt;br /&gt;hasilnya nanti sudah jelas maka negara-negara Eropah lainnya akan&lt;br /&gt;termotivasi guna memetik hasil dengan cara melaksanakan perang&lt;br /&gt;yang serupa. Irak dan Kuwait sudah menderita kerusakan dan&lt;br /&gt;kehancuran sedemikian rupa. Amerika Serikat telah dibayar dengan&lt;br /&gt;sejumlah uang yang sangat banyak untuk menimbulkan kehancuran&lt;br /&gt;demikian dan akan dibayar lagi dengan jumlah yang lebih banyak lagi&lt;br /&gt;nanti guna memulihkan kerusakan yang telah ditimbulkan tentaranya.&lt;br /&gt;Amerika Serikat dibayar untuk menghancurkan dan kemudian dibayar&lt;br /&gt;lagi untuk memperbaiki dan rekonstruksi. Dengan demikian Amerika&lt;br /&gt;Serikat memainkan peran ganda, sebagai penghancur dan sebagai&lt;br /&gt;pemulih. Dibayar untuk menghancurkan dan dibayar lebih banyak lagi&lt;br /&gt;untuk memulihkan.” (22 Februari 1991)&lt;br /&gt;“Sepanjang dunia Islam tidak menegakkan sistem keadilan Islam,&lt;br /&gt;tidak mengikuti konsep Quran mengenai keadilan maka mereka tidak&lt;br /&gt;akan dapat memaparkan keadilan kepada dunia dan jangan juga&lt;br /&gt;mengharapkan keadilan dari dunia.” (1 Maret 1991)&lt;br /&gt;“Solusi bagi semua problem masa kini adalah dihidupkannya kembali&lt;br /&gt;semangat ini dalam dunia politik. Hal ini akan menghidupkan kembali&lt;br /&gt;kemanusiaan yang sedang sekarat. Jika semangat ini bisa bertahan&lt;br /&gt;terus maka perang tidak akan ada lagi. Namun jika semangat ini&lt;br /&gt;dibiarkan mati maka api peperangan akan kembali menyala dan tidak&lt;br /&gt;ada lagi kekuatan di muka bumi yang akan bisa memadamkannya.” (1&lt;br /&gt;Maret 1991)&lt;br /&gt;“Umat Muslim mengatur satu perangkat ketentuan bagi diri mereka&lt;br /&gt;sendiri dan satu perangkat yang berbeda bagi non-Muslim. Hak-hak&lt;br /&gt;istimewa dicadangkan buat Muslim sedangkan yang non-Muslim tidak&lt;br /&gt;mendapat hak demikian. Kalau ini yang namanya prinsip Al-Quran&lt;br /&gt;(nauzubillahi min zalik) maka seluruh dunia secara alamiah akan&lt;br /&gt;membencinya dan akan menganggap umat Muslim sebagai ancaman&lt;br /&gt;terhadap perdamaian dunia. Karena itu tidak adil rasanya untuk&lt;br /&gt;menyalahkan orang lain atas tindakan berlebihan mereka terhadap&lt;br /&gt;umat Muslim. Kita harus merenungi kalbu kita sendiri mengapa ekses&lt;br /&gt;demikian bisa terjadi dan menyadari bagaimana musuh yang licik&lt;br /&gt;telah memanfaatkan senjata yang dibuat umat Muslim terhadap diri&lt;br /&gt;mereka itu. Adalah suatu fakta bahwa pabrik-pabrik senjata&lt;br /&gt;mematikan seperti itu ada di tiap negeri Muslim dan dikendalikan oleh&lt;br /&gt;para Ulama. Senjata ini ‘diekspor’ dalam jumlah besar ke negeri&lt;br /&gt;lainnya dimana senjata itu kemudian digunakan terhadap negerinegeri&lt;br /&gt;Muslim.” (1 Maret 1991)&lt;br /&gt;“Telinga mana yang mau mendengarkan nasihat ini? Hati siapa yang&lt;br /&gt;akan tersentuh dan bergerak menjadi tindakan? Kalau seluruh fondasi&lt;br /&gt;akhlak, perekonomian dan politis bersifat tidak stabil, jika ideologinya&lt;br /&gt;sudah keropos, kalau motivasinya sudah membusuk, tidak ada&lt;br /&gt;nasihat baik yang akan menghasilkan efek sehat pada siapa pun. Aku&lt;br /&gt;telah memberikan nasihat kepada negara-negara kaya bahwa demi&lt;br /&gt;Tuhan mereka itu harus menjaga motivasi mereka karena ada iblis dan&lt;br /&gt;serigala dalam niat mereka. Keputusan mengenai nasib dunia&lt;br /&gt;ditentukan oleh motive-motive demikian. Kehandalan diplomasi&lt;br /&gt;mereka tidak dapat menekan motivasi, bahkan malah merangsangnya.&lt;br /&gt;Karena itu aku juga menasihati negeri-negeri Muslim dan mereka di&lt;br /&gt;Dunia Ketiga agar demi Allah, telitilah kembali motivasi kalian.” (1&lt;br /&gt;Maret 1991)&lt;br /&gt;“Sudut pandang historikal tentang Vietnam selama ini dan akan selalu&lt;br /&gt;menganggap bahwa di abad modern seperti ini, Amerika Serikat yang&lt;br /&gt;katanya mengenakan jubah peradaban, secara tidak sah telah&lt;br /&gt;menyerang suatu negara yang amat lemah dan miskin dan terus&lt;br /&gt;menerus menghujani negeri itu dengan kematian dan kehancuran&lt;br /&gt;selama delapan setengah tahun. Pemboman yang keji dicurahkan&lt;br /&gt;kepada mereka sehingga desa demi desa dan daerah telah dibuat&lt;br /&gt;menjadi tanah tandus. Mereka tidak bisa menghapus ingatan tentang&lt;br /&gt;Vietnam karena dunia tidak mengizinkan mereka untuk melupakan.&lt;br /&gt;Sekarang ditambah lagi dengan tirani yang dilakukan terhadap Irak.”&lt;br /&gt;(8 Maret 1991)&lt;br /&gt;“Negara-negara maju dan telah berkembang di mulut menyatakan&lt;br /&gt;bahwa kediktatoran harus diakhiri. Tetapi nyatanya hanya sistem&lt;br /&gt;kediktatoran itulah yang cocok untuk memperbudak negara-negara&lt;br /&gt;Dunia Ketiga karena dimana ada kediktatoran, muncullah bahayabahaya&lt;br /&gt;internal. Guna menghadapi bahaya demikian diperlukan&lt;br /&gt;adanya sekutu eksternal dan sekutu eksternal seperti inilah yang&lt;br /&gt;akan ditemukan seperti sudah aku utarakan sebelumnya. Kemudian,&lt;br /&gt;sepanjang semuanya berjalan sesuai keinginannya, mereka akan&lt;br /&gt;memberikan bantuan yang diperlukan. Kalau ada yang dilakukan&lt;br /&gt;tidak sejalan dengan keinginan mereka maka bantuan itu akan sirna&lt;br /&gt;dengan sendirinya. Ini adalah kehinaan yang mungkin dihadapi Dunia&lt;br /&gt;Ketiga. Sudah waktunya kita memanfaatkan akal kita. Sekarang&lt;br /&gt;setelah munculnya kembali era imperialisme baru dengan segala&lt;br /&gt;bahayanya, adalah penting bagi kebebasan, kemerdekaan dan harga&lt;br /&gt;diri nasional untuk menganut cara hidup yang terhormat di antara&lt;br /&gt;negara-negara terhormat lainnya, bahwa kita merenungi permasalahan&lt;br /&gt;ini secara tekun dan bertindak cepat.” (8 Maret 1991)&lt;br /&gt;“Ketika bangsa-bangsa menjadi penganut dari kekejian demikian, buat&lt;br /&gt;apa kita meratap bahwa kita sedang sekarat dan bahwa burung nasar&lt;br /&gt;duduk dekat-dekat menunggu kematian kita. Ada penyakit yang&lt;br /&gt;berkembang di dalam diri kalian dan penyakit itu mengundang&lt;br /&gt;bakteri. Benar bahwa penyakit berkembang karena bakteri, tetapi juga&lt;br /&gt;suatu kenyataan bahwa bakteri tidak bisa mencelakakan tubuh yang&lt;br /&gt;sehat. Karena itu suatu penyakit menjelma dari dalam dan bukan dari&lt;br /&gt;luar. Ketika tubuh tidak lagi memiliki kekuatan untuk menangkal&lt;br /&gt;penyakit maka bakteri-bakteri itu akan mulai berkembang dan&lt;br /&gt;mengambil alih pengendalian tubuh dan ketika kendali mereka sudah&lt;br /&gt;sempurna, datanglah kematian dimana datangnya kumpulan burung&lt;br /&gt;nasar yang akan memakan bangkai adalah urutan alamiah dari apa&lt;br /&gt;yang akan terjadi sesudahnya. Hakikat daripada itu ialah semua itu&lt;br /&gt;merupakan hukum alam yang tidak bisa dielakkan oleh kekuatan apa&lt;br /&gt;pun jika kalian tidak mau memutuskan untuk merubah diri kalian&lt;br /&gt;sekarang ini. Karena itu, sebelum mencapai tahapan tersebut dimana&lt;br /&gt;mayat kalian bergeletakan di luar sebagai bahan pelajaran bagi yang&lt;br /&gt;lainnya atau dimasukkan ke liang kubur, kalau saja kalian mau&lt;br /&gt;menganut mulai hari ini nilai-nilai akhlak dan ajaran yang diberikan&lt;br /&gt;oleh Rasulullah Muhammad s.a.w. sebagai rencana kerja kehidupan&lt;br /&gt;dan kalian memutuskan untuk selanjutnya melindungi nilai-nilai&lt;br /&gt;kemanusiaan maka inilah satu-satunya cara keselamatan bagi kalian&lt;br /&gt;dari kehidupan memalukan diperbudak oleh orang lain. Tidak ada&lt;br /&gt;jalan lainnya.” (8 Maret 1991)&lt;br /&gt;“Di masa depan tidak boleh lagi ada kejahatan yang dilakukan atas&lt;br /&gt;nama Islam. Konsep terorisme harus dihilangkan dari khazanah kata&lt;br /&gt;umat Muslim. Menimpakan cedera dan melakukan kejahilan pada&lt;br /&gt;orang lain demi suatu pandangan adalah tindakan tidak terhormat.&lt;br /&gt;Hal seperti itu tidak ada kaitannya dengan Islam. Jadikan diri kalian&lt;br /&gt;sendiri damai. Mulai dengan memperbaiki hubungan kalian.&lt;br /&gt;Bangunlah hubungan dengan bangsa lain dan tunggu dengan sabar.&lt;br /&gt;Barulah kalian akan melihat bagaimana rencana Allah s.w.t. akan&lt;br /&gt;menggagalkan rekayasa jahat bangsa lain.” (8 Maret 1991)&lt;br /&gt;Himbauan&lt;br /&gt;“Aku menghimbau tidak saja kepada negeri-negeri Muslim tetapi juga&lt;br /&gt;kepada dunia timur, Afrika dan Amerika Selatan, bahwa setelah kalian&lt;br /&gt;mengalami semua ini, aku mohon agar sadarlah dan ambil keputusan&lt;br /&gt;guna merubah takdir kalian sendiri. Periode penghinaan dan&lt;br /&gt;perendahan ini sudah berjalan lama. Keluarlah dari mimpi buruk ini.&lt;br /&gt;Bagi musuh kalian dan negara adikuasa masih ada konsep&lt;br /&gt;menggembirakan dari Tatanan Dunia Baru tetapi bagi Dunia Ketiga&lt;br /&gt;tidak ada mimpi buruk yang lebih mengerikan. Kalau kalian ingin&lt;br /&gt;menjadi pembangun dari Tatanan Dunia Baru maka mulailah&lt;br /&gt;memelihara dan membentuk impian kalian sendiri. Belajar menguasai&lt;br /&gt;cara-cara terhormat untuk mentransformasikan impian kalian menjadi&lt;br /&gt;tindakan dan kegiatan. Tidak ada negeri yang bisa merdeka&lt;br /&gt;sepenuhnya sebelum perekonomiannya bisa bebas. Langkah pertama&lt;br /&gt;ke arah kemajuan ekonomi adalah menjaga harga diri dan ego kalian.&lt;br /&gt;Semua ini tidak akan mungkin terwujud kecuali menganut gaya hidup&lt;br /&gt;sederhana di negeri-negeri Dunia Ketiga.” (1 Maret 1991)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-5387306170753958730?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://alhamdulillah-master.blogspot.com/2011/05/krisis-teluk-tatanan-dunia-baru.html#more' title='Krisis Teluk &amp; Tatanan Dunia Baru'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/5387306170753958730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=5387306170753958730&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/5387306170753958730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/5387306170753958730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/krisis-teluk-tatanan-dunia-baru_14.html' title='Krisis Teluk &amp; Tatanan Dunia Baru'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-284yS8OeOms/Tc6b6UynVYI/AAAAAAAAAdw/QSxS3GexNEc/s72-c/Hazoor+IV+in+Mta.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-3816568683543395483</id><published>2011-05-14T12:59:00.001+07:00</published><updated>2011-05-15T21:14:02.503+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-3816568683543395483?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/3816568683543395483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=3816568683543395483&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3816568683543395483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3816568683543395483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/cek.html' title=''/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-3384982185652342508</id><published>2011-05-14T12:22:00.001+07:00</published><updated>2011-05-15T21:17:34.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>USIA DUNIA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-3XpKf7_wcc4/Tc4QoivWW-I/AAAAAAAAAc0/TYOzI-Uf6W0/s1600/Mln.MA+Cheema.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-3XpKf7_wcc4/Tc4QoivWW-I/AAAAAAAAAc0/TYOzI-Uf6W0/s320/Mln.MA+Cheema.jpg" width="229" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Untuk mengetahui hal ini Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi/Masih Mauud a.s., menulis dalam bukunya Tuhfah Golarwiyah halaman 245 sebagai berikut;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Dan dalil kedua untuk akhir zaman ialah, bahwa kita ketahui dari surat Al Asr dalam alquran karim, bahwa zaman kita ini adalah ribu tahun yang keenam dari hazrat Adam a.s. yakni dari waktu lahir hazrat Adam sampai sekarang telah berlalu enam ribu tahun. Dan dalam hadits-hadits sahih juga ada keterangan bahwa dari sejak Hazrat Adam a.s. sampai akhir usia dunia ini adalah 7000 tahun.”&lt;br /&gt;Beliau menulis lagi dalam halaman 252 sbb.:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;“Allah SWT memberi tahu kepadaku melalui kasyaf, bahwa menurut hisab ilmu abjad kita ketahui dari bilangan surat wal-asri, bahwa sejak Adam a.s. sampai zaman mubarak Rasulullah saw. yakni zaman nubuwat beliau selama 23 tahun adalah 4739.  Ini menurut hisab qamariah, adapun menurut hisab Samsyiah masa itu adalah 4598 tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menulis lagi hal itu di pinggir sbb.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut hisab itu kelahiranku terjadi sebelas tahun kurang dari enam ribu tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menulis lagi dalam buku tersebut halaman 245 dipinggir sbb.:&lt;br /&gt;“Hakim Tirmizi meriwayatkan,dari Hazrat Abu Hurairah r.a. dalam Mawaderul Usul, Rasulullah telah bersabda, bahwa umur dunia ialah tujuh ribu tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Hazrat Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa orang yang memenuhi kebutuhan seorang muslim lainnya dalam jalan Allah SWT maka orang itu akan ditulis seperti berpuasa di waktu siang dan beribadah di waktu malam, selama perkiraan umur dunia dan perkiraan umur dunia adalah tujuh ribu tahun.” (Lihat tarikh Ibnu Asakir).  Selanjutnya penulis itu meriwayatkan dari Hazrat Anas r.a. bahwa hal itu marfuan, yakni dari Nabi saw. Dan menerangkan bahwa umur dunia ini di antara hari-hari akhir ialah tujuh hari, yang menurut hisab ialah tujuh ribu tahun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti firman Allah dalam alquran:&lt;br /&gt;Yang artinya:  “Satu hari di sisi Allah sama dengan seribu tahun yang kamu hitung.”  (Al Hajj:  48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikian pula Hazrat Abas r.a. meriwayatkan, bahwa umur dunia adalah tujuh hari, dan setiap hari adalah seribu tahun.&lt;br /&gt;Hazrat Mirza Bashir Ahmad r.a. meriwayatkan, bahwa Hazrat Masih Mau’ud a.s. menulis dalam kitabnya Tuhfah Golarwiyah hal. 255 di pinggir sebagai berikut: “Aku dilahirkan 11 tahun kurang dari 6000 tahun sesudah Adam a.s.  Menurut Hisab ilmu abjad dari surah wal ashri usia dunia sampai zaman Rasulullah saw adalah 4739 tahun. Maka jika 6000 tahun dikurangi 11 tahun sama dengan 5989 tahun dikurangi lagi 4739 tahun, (ialah usia dunia sejak Adam a.s. sampai zaman Rasulullah saw) sama dengan 1250 tahun. Maka tepat pada tahun 1250 Hijrah bertepatan dengan tahun 1835 Masehi, adalah benar-benar waktu dilahirkannya Hazrat Masih Mau’ud a.s. ialah tanggal 23 Februari 1835 Masehi (Siratul Mahdi jld. III hal. 74-77).&lt;br /&gt;Dan dalam hadits Misykat halaman 510, Rasulullah saw bersabda, bahwa Allah SWT menciptakan bumi, gunung, pohon, benda-benda yang tidak disukai, cahaya, hewan dan Adam ialah tujuh hari, dan menurut Alquran satu hari di sisi Allah sama dengan seribu tahun. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa zaman setiap Adam adalah tujuh ribu tahun.&lt;br /&gt;Dan juga Rasulullah saw. bersabda bahwa langit dan bumi juga diciptakan tujuh-tujuh.  Menurut semua penjelasan di atas, jelas bahwa bukti-bukti telah cukup dari Alquran dan Hadits, bahwa umur dunia sejak Adam kita sampai akhir dunia, ialah tujuh ribu tahun.  Dari tujuh ribu tahun umur dunia, kelahiran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi/Masih Mauud a.s., ialah dalam akhir ribu tahun yang keenam, dan sekarang kita masuk dalam ribu tahun yang ke tujuh, ialah akhir zaman.&lt;br /&gt;Maka jika terbukti kini sudah akhir zaman, dan semua umat Islam menunggu kedatangan Imam Mahdi, kita harus memperhatikan: Adakah tanda-tanda akhir zaman, dan bagaimana kesempurnaannya?&lt;br /&gt;Dalam buku hadits Misykat halaman 469 ditulis bab Asratus saah (syarat-syarat qiamat) seperti tertulis di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu agama akan terangkat&lt;br /&gt;Kejahilan akan meluas&lt;br /&gt;perzinahan akan banyak&lt;br /&gt;pemakaian minuman keras akan menjadi-jadi&lt;br /&gt;jumlah wanita akan lebih banyak dari kaum pria (Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;harta kekayaan akan melimpah-limpah&lt;br /&gt;tanah di negeri Arab akan menjadi subur (muslim)&lt;br /&gt;Pemimpin bukan ahlinya&lt;br /&gt;Tersebar api (fitnah perempuan) manusia dikumpulkan dari negeri-negeri timur ke negeri-negeri barat (Bukhari)&lt;br /&gt;Masa akan menjadi berdekatan, setahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam seperti panas bara. (Tirmidzi)&lt;br /&gt;Apabila khilafat akan turun di tanah suci, waktu itu akan terjadi gempa-gempa bumi, musibah-musibah dan perkara-perkara besar/perang besar.  (Alhamdulillah khilafat sudah turun di Qadian India, dan tanda-tandanya sudah terjadi sempurna)&lt;br /&gt;Harta rampasan akan dianggap harta kekayaan&lt;br /&gt;amanat akan dianggap sebagai rampasan&lt;br /&gt;zakat akan dianggap sebagai upeti&lt;br /&gt;ilmu pengetahuan akan dituntut bukan untuk kepentingan agama&lt;br /&gt;kaum pria akan taat kepada istrinya dan akan durhaka kepada ibunya dan akan lebih taat kepada temannya dan akan menjauhi orang tuanya&lt;br /&gt;suara-suara akan riuh di masjid-masjid&lt;br /&gt;orang kafir akan menjadi pemimpin kaum&lt;br /&gt;orang hina akan menjadi penggembala bangsa&lt;br /&gt;orang akan dihormati karena takut kepada kejahatannya&lt;br /&gt;penyanyi-penyanyi wanita akan berkembang&lt;br /&gt;alat-alat nyanyi akan banyak&lt;br /&gt;umat yang di belakang akan melaknat umat yang terdahulu&lt;br /&gt;orang laki-laki akan pakai sutra (Tirmidzi)&lt;br /&gt;Allah SWT akan membangkitkan seorang dari keturunanku yang maksudnya sama denganku, yang akan memenuhi bumi dengan keadilan. (Tirmidzi &amp;amp; Abu Daud)&lt;br /&gt;Imam Mahdi akan datang dari keturunan Siti Fatimah r.a. (Abu Daud)  (Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi a.s. adalah dari keturunan Siti Fatimah r.a. pen.)&lt;br /&gt;Imam Mahdi itu dari keturunan Nabi saw,, indah paras mukanya, bagus hidungnya, memenuhi muka bumi dengan kebaikan dan keadilan, berkuasa tujuh tahun (maksudnya akan dapat usia 70 tahun) (Abu Daud &amp;amp; Misykat 470) (Orang itu ialah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. pen.)&lt;br /&gt;Imam Mahdi akan membagikan banyak harta (Tirmizi) maksudnya harta ilmu agama dan jasmaninya.&lt;br /&gt;Orang yang akan datang disebut orang tani dan ia akan memperbaiki keturunan atau umat Nabi Muhammad saw. setiap orang harus menolongnya dan menerimanya (Abu Daud dan Misykat 471)&lt;br /&gt;Hewan buas akan bercakap dengan manusia dan barang-barang yang tidak punya nyawa akan bercakap dengan manusia. (Tirmizi dan Misykat 471)&lt;br /&gt;Tanda-tanda (kedatangan Imam Mahdi a.s.) sesudah dua abad yakni sesudah 1200 tahun (Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam buku hadits Misykat ada tulisan bab Alalamatu baina yadayissaah yakni tanda-tanda sebelum saah (qiamat) hal 472.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut yakni disebabkan bom atom dll. Udara angkasa akan penuh kabut&lt;br /&gt;Dajjal yakni orang-orang atau kaum-kaum penipu akan jadi banyak&lt;br /&gt;Dabbatan yakni semut dari penyakit pes atau ta’un akan tersiar&lt;br /&gt;matahari akan terbit dari barat yakni agama Islam akan akan disebarkan di negeri barat&lt;br /&gt;Isa bin Maryam akan turun yakni Imam Mahdi a.s. akan datang&lt;br /&gt;Yajuj dan Majuj yakni kaum Rusia akan dapat kekuasaan besar (Muslim)&lt;br /&gt;Dajjal akan buta mata kanannya yakni agamanya tidak benar (Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;Dajjal punya surga dan neraka dan sebenarnya surga yakni kekayaan dunia itu neraka (Bukhari Muslim dan Misykat 473)&lt;br /&gt;Dajjal akan bisa menurunkan hujan, bisa keluarkan khazanah-khazanah bumi, bisa memotong badan manusia dan menghidupkannya lagi&lt;br /&gt;Waktu itu Masih ibnu Maryam a.s, akan turun yakni Imam Mahdi a.s. akan datang&lt;br /&gt;Kafir akan mati dengan hembusan nafasnya yakni dengan bukti-bukti agamanya&lt;br /&gt;Hazrat Isa a.s. yakni Imam Mahdi a.s. akan membunuh dajjal di puntu lud yakni di kota Ludiana India&lt;br /&gt;Hazrat Isa a.s. yakni Imam Mahdi a.s. akan menjelaskan derajat mereka (yakni murid-muridnya) di sorga&lt;br /&gt;Hazrat Isa a.s. yakni Imam Mahdi a.s. akan menerima wahyu dari Allah SWT&lt;br /&gt;Hazrat Isa a.s. yakni Imam Mahdi a.s. tidak bisa lawan Dajjal dan Yajuj Majuj, hanya dengan doa dan bukti-bukti agamanya (Muslim dan Misykat 473-474)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab nuzulu isa alaihissalam yakni kedatangan Isa a.s. Misykat hal. 479:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hazrat Isa bin Maryam yakni Imam Mahdi a.s. akan datang sebagai Hakim dan Adil&lt;br /&gt;Beliau akan mematahkan salib dan akan membunuh babi yakni akan membatalkan agama kaum Kristen dengan bukti-buktinya&lt;br /&gt;Beliau akan membagikan harta ruhani yakni ilmu agama yang tidak akan diterima oleh banyak orang&lt;br /&gt;Beliau akan mengundurkan pajak yakni dalam waktunya tidak ada perang (Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;Di waktu itu unta tidak dipergunakan lagi karena akan banyak kendaraan baru&lt;br /&gt;Di antara murid-muridnya ada kecintaan besar (Muslim dan Misykat hal. 480)&lt;br /&gt;Apabila Hazrat Isa a.s. yakni Imam Mahdi a.s. akan datang, beliau biasa akan sembahyang belakang murid-muridnya&lt;br /&gt;Apabila Hazrat Isa a.s. yakni Imam Mahdi a.s. akan kawin dan dapat anak-anak yang punya keahlian besar dalam hal agama&lt;br /&gt;Beliau akan dapat kuburan dekat Nabi saw yakni Alam Barzakh (diriwayatkan oleh Ibnu jauzi dan Misykat hal. 480)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua keterangan yang ada di atas, sudah jelas bahwa usia dunia ialah tujuh ribu tahun dari Adam a.s. kita, dan sekarang kita sudah masuk dalam zaman akhir.  Dan tanda-tanda zaman akhir dan syarat-syarat/tanda-tanda qiamat sudah zahir.  Dan kedatangan Imam Mahdi a.s. yang termasuk syarat-syarat atau tanda-tanda qiamat juga sudah datang, yang namanya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.&lt;br /&gt;Karena itu berbahagialah orang yang takut kepada Allah SWT dan beriman kepada Imam Mahdi a.s. yang sedang menyebarluaskan agama Islam di seluruh dunia, dan hendaknya tidak termasuk di antara orang-orang yang ingkar karena menurut sejarah dunia atau agama, orang yang ingkar akan kebenaran ia selalu ada dalam keraguan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;Yang amat lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Mahmud Ahmad Cheema&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-3384982185652342508?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://alhamdulillah-master.blogspot.com/2011/05/usia-dunia.html#more' title='USIA DUNIA'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/3384982185652342508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=3384982185652342508&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3384982185652342508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3384982185652342508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/usia-dunia.html' title='USIA DUNIA'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-3XpKf7_wcc4/Tc4QoivWW-I/AAAAAAAAAc0/TYOzI-Uf6W0/s72-c/Mln.MA+Cheema.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-567016435947158280</id><published>2011-05-14T06:24:00.000+07:00</published><updated>2011-05-14T06:24:43.363+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kebahagiaan dan Waktu</title><content type='html'>Ardi Teguh 11 Mei jam 18:21 Balas • Laporkan&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_ofIYL6RHkE/Tc29arnJeCI/AAAAAAAAAcQ/M8krsqE3zlI/s1600/4333_Artistic_Beach.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-_ofIYL6RHkE/Tc29arnJeCI/AAAAAAAAAcQ/M8krsqE3zlI/s320/4333_Artistic_Beach.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #134f5c; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Alkisah disuatu pulau kecil tinggallah benda-benda abstrak seperti cinta, kesedihan, kekayaan, kebahagiaan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #134f5c; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #134f5c; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan segera menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat segera menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tiodak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai untuk mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik dan mulai membasahi kaki Cinta.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="color: #134f5c; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tak lama kemudian Cinta melihat kekayaan sedsng mengayuh perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. “Aduh maaf Cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan, tolong aku!”, teriak cinta. Namun Kegembiraan terlalu bergembira menemukan perahu sehingga ia tidak mendengar teriakan Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air makin tinggi membasahi sampai ke pinggang dan cintapun mulai panik. Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan.”Kecantikan , bawalah aku bersamamu”, teriak Cinta. “Wah Cinta, kamu basah dan kotor, aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku ini”, sahut Kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat Kesedihan. “Oh Kesedihan bawalah aku bersamamu”, kata Cinta. “Maaf Cinta, aku sedang sedih, dan aku ingin sendirian saja…”, kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta sudah mulai putus asa, ia melihat air semakin naik dan akan segera menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah terdengar suara, “Cinta, mari segera naik perahuku”. Cinta menoleh ke suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat ia naik ke perahu itu tepat sebelum air menenggelamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pulau terdekat orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah Cinta baru sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang telah menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakan orang tua itu kapada penduduk tua di pulau, siapa sebenarnya orang tua itu. “Oh, orang tua itu tadi?, dia adalah Waktu,” kata orang-orang tersebut. “Tapi kenapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalkupun enggan untuk menolongku”, tanya Cinta heran. “Sebab hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu…”.&lt;br /&gt;Ahsan Anang 12 Mei jam 12:09&lt;br /&gt;Trims atas kiriman kisahnya yg OK....saya ijin copas di blogku ya?&lt;br /&gt;Ardi Teguh 13 Mei jam 20:26 Laporkan&lt;br /&gt;silahkan :D &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-567016435947158280?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://alhamdulillah-master.blogspot.com' title='Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kebahagiaan dan Waktu'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/567016435947158280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=567016435947158280&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/567016435947158280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/567016435947158280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/cinta-kesedihan-kekayaan-kebahagiaan.html' title='Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kebahagiaan dan Waktu'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_ofIYL6RHkE/Tc29arnJeCI/AAAAAAAAAcQ/M8krsqE3zlI/s72-c/4333_Artistic_Beach.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-3702937298134470161</id><published>2011-05-10T10:44:00.000+07:00</published><updated>2011-05-10T10:44:31.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra'/><title type='text'>Huruf Muqothoat - Karya Terjemah (Original)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_Yu-9hoAc9U/Tci0cyGuTEI/AAAAAAAAAao/vnpBD3S11Ps/s1600/Hazrat+Khalifatul+Masih+II+ra+dg+Kaca+Mata.bmp" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="272" src="http://3.bp.blogspot.com/-_Yu-9hoAc9U/Tci0cyGuTEI/AAAAAAAAAao/vnpBD3S11Ps/s320/Hazrat+Khalifatul+Masih+II+ra+dg+Kaca+Mata.bmp" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: orange; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;TERJEMAHAN TAFSEER KABEER TENTANG &lt;span style="color: lime;"&gt;HURUF-HURUF MUQOTHOAT&lt;/span&gt; DALAM AL QUR’ANUL KARIIM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #741b47;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Hz Muslih Mau'ud ra bersabda:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #741b47;"&gt;&lt;b&gt;Surat Yunus: “Alif Laam Roo”…&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #741b47;"&gt;&lt;b&gt;• Adanya huruf muqothoat menyimpan hal-hal yang penting, didalamnya terdapat keterkaitan baik secara perbagian ataupun sendiri-sendiri. Keberadaan mereka berkaitan dengan makna mendalam dari Al Qur’anul Karim, bahwa dengan mengingatnya akan menimbulkan minat terhadap kandungan Al Qur’anul Karim. Namun selain itu huruf-huruf dari Al Qur’anul Karim yang dimunculkan singkat/sedikit untuk menjelaskan berbagai permasalahan/topik. Sebagian kecil huruf yang terbuka, maka akan sampai ke berbagai pembahasan. Dengan demikian akan dimengerti makna yang lain, sehingga arti dari ayat Al Qur’anul Karim akan terbuka. (Tafsir Kabir, j.III, h.7)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;• Saya katakan, inilah hakekatnya: Ketika terjadi pergantian huruf muqothoat maka ada pemahaman baru dari kandungan Al Qur’anul Karim. Dan ketika terdapat huruf muqothoat pada awal surat maka terdapat bobot kandungan pada surat itu sedemikian rupa. Sementara jika tidak ada huruf muqothoat maka pada surat tersebut hanya terdapat satu permasalahan/pembahasan saja. Dengan adanya huruf-huruf muqothoat pada beberapa surat maka pada surat-surat yang mengikutinya terdapat satu pembahasan. (ibid, h. 7-8)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;• Saya pertegas/jelaskan bahwa pada hakekatnya dari Surat Al Baqoroh sampai At Taubah hanya ada satu pembahasan. Semua surat itu berkaitan dengan “Alif Laam Miim”. Surat Al Baqoroh dimulai dengan “Alif Laam Miim”, kemudian Surat Ali Imroan juga dimulai dengan “Alif Laam Miim”. Kemudian Surat An Nisa, Al Maidah Al An’am tidak ada muqothoatnya, demikianlah keindahan pada permulaan surat-surat tersebut. Setelah berbicara tentang surat-surat yang diawali dengan “Alif Laam Min”, maka setelah itu ada Surat Al A’rof yang dimulai dengan “Alif Laam Mim Shod”, disitu juga terdapat “Alif Laam Mim”-nya. Iya ada tambahan huruf “Shod”. Setelah itu Surat Al Anfal dan Baro’ah/Taubah tidak terdapat huruf muqothoat, dengan demikian sampai pada Surat Baro’ah pembahasan berkenaan “Alif Laam Mim” terus berjalan. Dalam Surat Al A’rof terdapat penambahan huruf “Shod” hal ini berarti huruf ini menampakkan sisi kebenaran. Dalam Surat Al A’rof, Al Anfal dan At Taubah/Baro’ah memperingatkan terhadap kesuksesan Rasulullah saw dan kemajuan Islam. Dari segi asal usul pada Surat Al A’rof, Al Anfal dan At Taubah secara berurutan terdapat pembahasan kebenaran. Untuk itulah ditambahkan huruf “Shod” disana. (ibid, h.8)&lt;br /&gt;• Surat Yunus meninggalkan “Alif Laam Miim” dan dimulai dengan “Alif Laam Roo”. Disana “Alif Laam” masih ada dan huruf “Mim” diganti dengan “Ro”. Dengan demikian pembahasanpun telah berganti dan dalam hal ini isinya sudah berbeda dengan item-item pembahasan dari Al Baqoroh sampai At Taubah sedangkan dari Surat Yunus sampai Al Kahfi terdapat pembahasan tersendiri dengan item-item pembahasan yang terpisah. Oleh karena itu Dia berfirman: “Alif Laam Ro” yakni “Anallahu Aroo”: Aku Allah yang Melihat segala sesuatu dan memahami sejarah seluruh dunia, yang kalam-Nya terpelihara di depanmu, didalam surat-surat-Nya terdapat pembahasan yang senantiasa bertambah diatas landasan berbagai riwayat dan pada permulaan surat-surat-Nya terkandung wacana yang senantiasa berkembang diatas landasan berbagai ilmu. (ibid)&lt;br /&gt;• Saya ingin menarik sebuah kesimpulan dari peri kehidupan dunia dengan berbagai halnya bahwa sebagian manusia telah berpikir mengenai huruf-huruf muqothoat/singkatan ini, hal inipun mendatangkan arti dan mereka telah terbiasa dengannya. Bahkan mereka dengan sendirinya telah mempergunakan huruf-huruf muqothoat/ singkatan ini. Walaupun demikian ketika kami memasukkan satu pandangan terhadap seluruh Al Qur’anul Karim. Serentak mereka berkata, dimana ada penggunaan huruf-huruf muqothoat/ singkatan? Maka mereka memandang hal ini merupakan aturan baru. Surat Al Baqoroh dimulai dengan “Alif Laam Miim” kemudian surat Ali Imroan dimulai dengan “Alif Laam Miim” kemudian surat An Nisa, Al Maidah, Al An’am tidak terdapat huruf muqothoat kemudian surat Al A’rof dimulai dengan “Alif Laam Miim Shood”. Sedangkan surat Al Anfal dan Baro’ah tidak ada. Setelah itu surat Yunus , Hud, Yusuf dimulai dengan “Alif Laam Ro”. Sedangkan dalam surat Ar Ro’du terdapat “Alif Laam Mim Ro” setelah ketambahan “Mim”. Tetapi disana didalam “Alif Laam Miim Shood” terdapat “Shod” yang diletakkan diakhirnya. Sementara disini diletakkan “Mim” sebelum “Ro”. Padahal jika ada maksud tertentu tentunya ada penambahan-penambahan itu, maka hal ini diperlukan. Dengan telah ditambahkannya “Mim” yang diletakkan “Ro” setelahnya atau boleh dikatakan telah diletakkannya “Mim” diantara “Alif Laam Roo” ini berarti bahwa didalam huruf-huruf itu terkandung makna khusus. Dan jika kita perhatikan bahwa ada surat-surat yang diawali dengan “Alif Laam Miim’ dan setelahnya dengan “Alif Laam Roo”maka ada pemahaman-pemahaman yang halus walhasil “Mim” diatas “Ro” terdapat pembahasan-pembahasan tertentu. Didalam surat Ar Ro’du ditemukan “Mim” dan “Ro” disatukan, maka “Mim” diletakkan sebelum “Ro” disini terdapat petunjuk secara tersirat, bahwa semua huruf tersebut mengandung makna-makna khusus. Oleh karena itu huruf-huruf tersebut selalu diletakkan didepan. Setelah surat Ar R’du, maka di dalam surat Ibrahim dan Hijir terdapat penggunaan “Alif laam Roo”, tetapi di dalam surat An Nahl, Bani Isroil dan Al Kahfi tidak terdapat huruf-huruf singkatan dan inilah surat-surat yang mengikuti surat-surat pendahulunya. Setelah itu ada surat Maryam yang di dalamnya terdapat penggunaan “Kaf Ha Ya ‘Ain Shood” setelah surat Maryam ada surat Toha yang didalamnya menggunakan huruf “Thoo Haa”, setelahnya ada surat Al Anbiyya, Hajj, Mukminuun, An Nur dan Al Furqon yang mana surat-surat ini telah meninggalkan huruf-huruf muqthoat/ singkatan. Dengan demikian surat-surat ini dinyatakan mengikuti “Thoo Haa”. Selanjutnya surat Syu’aro dimulai dengan “Thoo Siin Miim” dengan demukian terdapat “Tho” tetap berdiri dan tempat “Ha” diambil alih oleh “Sin” dan “Mim”. Setelah itu ada surat An Naml yang dimulai dengan “Thoo Siin”, darinya “Mim” diangkat sedangkan “Thoo” dan “Siin” tetap ditempat, setelah itu ada surat Qoshosh yang dimulai dengan “Thoo Siin Miim” dengan demikian pembahasan “Mim” dimunculkan kembali, setelah itu pada surat Al Ankabut dimulai dengan “Alif Laam Miim” dan kembali lagi telah dimulai bab-bab baru ilmu-ilmu besar Ilahi dan dibawah tuntutan keperluan-keperluan baru. (Jika saya tidak mempunyai waktu pada 6 tertib ini, tetapi jika ada seseorang mengatakan, mengapa “Alif Laam Miim”  diulang-ulang lagi disampaikan? Maka inilah jawabannya: lawan bicara dari “Alif Laam Miim’ pada Al Baqoroh adalah kaum kafir sedangkan lawan bicara “Alif Laam Miim” disini adalah mukmin). Setelah Al Ankabut ada surat Rum, Luqman dan Sajdah yang juga dimulai dengan “Alif Laam Miim”, setelah itu ada surat Al Ahzab, Saba dan Fathir yang tanpa huruf muqothoat/ singkatan, dengan demikian surat-surat ini mengikuti surat-surat pendahulunya. Setelah itu ada surat Yasin, yang mana surat ini dimulai dengan “Yaa Siin”, setelahnya ada surat Ash Shofat tanpa huruf muqothoat. Setelah itu ada surat Shod yang dimulai hanya dengan “Shood” kemudian ada surat Az Zumar tanpa huruf muqothoat dan ini mengikuti surat pendahulunya. Setelah itu ada surat Mukmin yang dimulai dengan “Haa Miim”, setelahnya surat Hamim Sajdah yang juga dimulai dengan “Haa Miim”, kemudian surat Asy Syuro yang dimulai dengan “Haa Miim” juga tetapi bersamanya ditambahkan “Ain Sin Qoof”. Setelahnya ada surat Az Zuhruf yang didalamnya menggunakan huruf “Haa Miim” juga kemudian surat Ad Dukhan, Jatsiyah dan Ahqof yang dimulai dengan “Haa Miim” juga. Setelah itu semua ada surat Muhammad, Fatah dan Hujurot tanpa huruf muqothoat/ singkatan dengan demikian surat-surat ini mengikuti surat-surat pendahulunya. Surat Qof dimulai hanya dengan “Qoof” dan Al Qur’anul Karim sampai akhir telah berjalan dengan satu pembahasan saja. (ibid, h. 8-9)&lt;br /&gt;• Inilah tertib yang sedang saya sampaikan bahwa huruf-huruf ini tidaklah terletak begitu saja tanpa makna, pada awalnya terwujud dengan “Alif Laam Miim” kemudian dating “Alif Laam Miim Shood” yang didalamnya ditambahkan “Shod”, kemudian “Alif Laam Roo” hadir, kemudian “Alif Laam Miim Roo” yang berarti didalamnya ditambahkan huruf “Mim”. Kemudian “Kaf Haa Ya Ain Shood” yang mana diatas “Shod” ada tambahan empat huruf, kemudian ada “Thoo Haa” dan kemudian ada pergantian sedikit didalamnya menjadi “Thoo siin Miim”. Ini adalah kata sumpah satu-satunya yang mutawattir dan satu bagian digantikan dengan tempat bagian yang lain dan saya katakan terletak dengan rapinya, apakah penataan huruf-huruf seperti ini mendatangkan pemahaman atau tidak? Dimana huruf-huruf ini terletak mesti tertata dengan makna. Dengan tertata sedemikian rupa maka tidak adakah yang mengatakan huruf-huruf  ini tertata saling menggantikan, ada yang ditambahkan  ada juga yang dikurangkan? (ibid, h. 9)&lt;br /&gt;• Satu hal prinsip untuk para mukhalifin Islam berkenaan dengan mengingat dasar-dasarnya, ini adalah sesuatu yang mantap bahwa huruf-huruf muqothoat/ singkatan menyimpan beberapa makna. Para mukhalifin Islam mengatakan bahwa adanya ayat panjang dan pendek pada beberapa surat di dalam Al Qur’an disebabkan karena adanya beberapa sebab. Sekarang jika ini benar, maka apakah ini bukanlah sebuah keajaiban? Bahwa dikatakan dalam beberapa surat ada ayat-ayat yang panjang ataupun pendek karena mempunyai beberapa sebab, sebuah kesatuan dari huruf-huruf muqothoat/ singkatan yang disatukan, “Alif Laam Roo” disatukan, “Thoo Haa” dan berbagai perubahannya disatukan kemudian “Alif Laam Miim” disatukan, “Haa Miim” disatukan, jika surat-surat ini mempunyai petunjuk mendasar beberapa hal yang pokok, maka apakah tidak bisa dimaklumi sebagai sebuah keajaiban bahwa huruf-huruf muqothoat/ singkatan ini mempunyai ayat-ayat yang mendasar secara khusus? Jika hanya inilah keselamatan, maka berarti maknanya bahwa huruf-huruf muqothoat/ singkatan hanya mempunyai sedikit makna saja, ini sajakah maknanya bahwa surat itu mempunyai ayat-ayat panjang ataupun pendek? Bahkan inilah kebenaran bahwa satu kesatuan huruf-huruf muqothoat/ singkatan pada surat-surat, pada satu tempat memilii pemahaman secara menyeluruh, bahkan bermakna sangat dalam dan kompleks dan dilain tempat memiliki hikmah dan khazanah yang tersimpan untuk huruf-huruf pada beberapa surat. (ibid, h. 9-10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penterjemah (Maulana Ahsan) mengucapkan: “Demikianlah yang dapat kami persembahkan, atas segala do’a dan kerjasamanya kami menghaturkan jazakumullah ahsanal jaza.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-3702937298134470161?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://alhamdulillah-master.blogspot.com' title='Huruf Muqothoat - Karya Terjemah (Original)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/3702937298134470161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=3702937298134470161&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3702937298134470161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3702937298134470161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/huruf-muqothoat-karya-terjemah-original.html' title='Huruf Muqothoat - Karya Terjemah (Original)'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-_Yu-9hoAc9U/Tci0cyGuTEI/AAAAAAAAAao/vnpBD3S11Ps/s72-c/Hazrat+Khalifatul+Masih+II+ra+dg+Kaca+Mata.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-9150696792494015815</id><published>2011-05-10T09:06:00.002+07:00</published><updated>2011-05-10T09:34:21.322+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh'/><title type='text'>Krisis Teluk &amp; Tatanan Dunia Baru</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/--CloVPqlF3M/TcicCx_CygI/AAAAAAAAAaY/y2r0-zBoMjU/s1600/jayalah+ind.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/--CloVPqlF3M/TcicCx_CygI/AAAAAAAAAaY/y2r0-zBoMjU/s200/jayalah+ind.jpg" width="145" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;Definisi Jihad&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #660000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;“Pertanyaan kedua yang sekarang ini sering ditanyakan adalah yang berkenaan dengan ‘Jihad.’ Para Ahmadi dari seluruh dunia bertanya kepadaku tentang jawaban apa yang harus mereka berikan. Apakah perang ini merupakan Jihad atau Perang Suci menurut ajaran Islam? Sepanjang menyangkut definisi konsep Jihad menurut Islam, definisi yang paling komprehensif telah diberikan dalam Surat Al-Hajj di Al Quran yang ayatnya sudah beberapa kali aku kutipkan: ‘Telah diperkenankan untuk mengangkat senjata bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah diperlakukan dengan aniaya’ (S.22 Al-Hajj:40). Jadi berarti mereka diizinkan untuk mengangkat senjata terhadap kaum yang memerangi mereka. Mereka hanya boleh mengangkat senjata terhadap kaum yang terlebih dahulu melakukan kekerasan, bukan karena alasan yang bisa dibenarkan tetapi karena mereka memang telah ditindas dan dianiaya. Ayat ini memperjelas subyek ini lebih lanjut dan tidak ada definisi Jihad yang lebih lengkap atau lebih sempurna daripada ini. Kalau kita terapkan definisi itu pada situasi saat ini maka jelas bahwa perang itu bukanlah Jihad dalam pengertian menurut Islam. Ini adalah perang politik. Suatu perang politik, apakah di antara Muslim dan non-Muslim atau antara sesama Muslim, tidak lantas menjadi sebuah Jihad.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;Pengertian Jihad hanya berlaku pada keadaan dimana suatu kelompok yang&lt;br /&gt;tertindas dilarang untuk menyatakan keimanannya kepada Allah&lt;br /&gt;s.w.t. atau yang sedang melawan penganiayaan berlatar keagamaan.”&lt;br /&gt;(25 Januari 1990)&lt;br /&gt;“Program apa yang sedang disiapkan oleh Amerika Serikat dan negaranegara&lt;br /&gt;Barat? Kedaulatan apa yang menjadi dasar mereka? Mereka&lt;br /&gt;berbicara tentang ‘badai gurun pasir!’ Mereka tidak mengetahui bahwa&lt;br /&gt;yang benar-benar namanya badai atau topan yang menakutkan itu ada&lt;br /&gt;di tangan Allah s.w.t. Aku tidak mengetahui bagaimana keputusan&lt;br /&gt;Allah nanti tetapi sekurang-kurangnya aku mengetahui bahwa&lt;br /&gt;keputusan Allah s.w.t. pada akhirnya akan menimbulkan kehancuran&lt;br /&gt;mereka yang congkak dan pembual. Kalau tidak hari ini, mungkin&lt;br /&gt;besok, kecongkakan yang luar biasa ini akan dihancurkan seluruhnya.&lt;br /&gt;Hal ini terjadi karena kepada Allah-lah milik Kerajaan Surga dan&lt;br /&gt;Kerajaan Tuhan pasti akan mewujud juga di dunia. Jadi kalau tidak&lt;br /&gt;hari ini, mungkin besok atau lusa, kalian akan menyaksikan&lt;br /&gt;bagaimana kesombongan ini akan dihancurkan dan dilenyapkan dari&lt;br /&gt;muka bumi. Badai yang telah mereka mulai akan berbalik kepada&lt;br /&gt;mereka dan sejalan dengan keputusan Allah s.w.t. badai tersebut&lt;br /&gt;demikian dahsyat dan garangnya sehingga gabungan kekuatan mereka&lt;br /&gt;semuanya akan musnah dihancurkan tidak bersisa. Sistem tidak adil&lt;br /&gt;yang ada sekarang akan juga dihancurkan. Kalian harus mengingatingat&lt;br /&gt;hal ini dan agar tetap bersiteguh. Ingat dan jangan pernah&lt;br /&gt;melupakan bahwa kekuatan-kekuatan kuno yang sekarang bernama&lt;br /&gt;Perserikatan Bangsa-bangsa telah menggunakan sarana dan&lt;br /&gt;mengambil kebijakan yang tidak akan bertahan lama. Negara-negara&lt;br /&gt;itu akan menghilang dan menjadi monumen-monumen nasional dari&lt;br /&gt;kenangan pahit yang bisa menjadi bahan pelajaran. Dari puing-puing&lt;br /&gt;mereka itu, kalianlah wahai yang menyembah Ketauhidan Allah s.w.t.,&lt;br /&gt;benar KALIAN-lah yang akan membangun kembali struktur yang baru.&lt;br /&gt;KALIAN akan mendirikan sebuah gedung baru yang megah yang akan&lt;br /&gt;menjulang ke angkasa untuk Perserikatan Bangsa-bangsa yang baru,&lt;br /&gt;wahai hamba-hamba Al-Masih dari Muhammad s.a.w. Kepada KALIAN&lt;br /&gt;dibebankan tugas ini. Kalian akan melihat jika tidak hari ini, mungkin&lt;br /&gt;besok, kalau kalian tidak sempat menyaksikannya maka keturunan&lt;br /&gt;kalian pasti akan menyaksikannya. Ini adalah perkataan Allah s.w.t.&lt;br /&gt;sendiri dan keputusan-Nya tidak mungkin diubah di dunia. Kalian&lt;br /&gt;adalah pekerja yang akan membangun struktur baru tersebut. Fondasi&lt;br /&gt;dari Perserikatan Bangsa-bangsa yang baru telah diletakkan di langit.&lt;br /&gt;Menjadi tugas kalian untuk membangun di atas fondasi tersebut&lt;br /&gt;sebuah gedung yang menjulang tinggi. Kalian jangan sampai&lt;br /&gt;menghapus nama-nama pekerja terdahulu seperti Hazrat Ibrahim a.s.&lt;br /&gt;dan Hazrat Ismail a.s. dari hati kalian. Tetaplah kenang mereka dan&lt;br /&gt;teruslah tanamkan pada generasi penerus kalian ucapan: ‘Wahai para&lt;br /&gt;pekerja di jalan Allah, tetaplah bersiteguh di jalan ketaqwaan,&lt;br /&gt;kejujuran, ketekunan dan Tauhid Ilahi. Biarkan Tauhid itu masuk&lt;br /&gt;meresap ke dalam semua nadi dan jaringan tubuh kalian dan teruskan&lt;br /&gt;kerja pembangunan agung ini; kalau perlu ke abad berikutnya atau&lt;br /&gt;berikutnya lagi sampai gedung ini selesai. Yakinlah bahwa apakah&lt;br /&gt;kalian akan melihat gedung itu dengan mata dunia ini atau tidak,&lt;br /&gt;mata batinku telah melihat kejadian-kejadian tersebut pada hari&lt;br /&gt;ini. Mataku melihat perubahan-perubahan besar itu seolah-olah&lt;br /&gt;terjadi di hadapanku. Setelah ajal nanti, ruh kita akan juga&lt;br /&gt;melihatnya.’” (25 Januari 1991)&lt;br /&gt;“Edward Heath, mantan Perdana Menteri Inggris termasuk salah&lt;br /&gt;seorang dari orang-orang besar di Inggris yang memiliki pandangan&lt;br /&gt;jauh ke depan dan naluri politik yang dalam disamping pengalaman&lt;br /&gt;politik yang luas. Ia selalu berpandangan bahwa kepemimpinan politik&lt;br /&gt;saat ini sedang melakukan penipuan kepada rakyat dan bahwa perang&lt;br /&gt;ini bersifat sangat egoistis, brutal dan konyol karena menurut yang&lt;br /&gt;bersangkutan, perang ini hanya akan menghasilkan konsekwensi&lt;br /&gt;mengerikan di era pasca perang.” (10 Februari 1991)&lt;br /&gt;“Latar belakang sejarah ini menunjukkan bahwa kekuatan Barat&lt;br /&gt;mengakui hak kaum Yahudi untuk melakukan terorisme dan bahwa&lt;br /&gt;kegiatan para Yahudi itu tidak disebut sebagai ‘terorisme Yahudi.’&lt;br /&gt;Sebaliknya, negeri-negeri Muslim tidak diperbolehkan membalas&lt;br /&gt;walau guna melindungi kepentingan teritorial dan politik mereka dan&lt;br /&gt;kalau mereka melakukannya, tidak saja mereka itu dikecam bahkan&lt;br /&gt;Islam pun ikut-ikutan dihujat dan upaya demikian itu diberi gelar keji&lt;br /&gt;sebagai ‘terorisme Islam.’ Hak-hak dan privilese lainnya yang&lt;br /&gt;diberikan kepada kaum Yahudi adalah:&lt;br /&gt;1. Yahudi dibolehkan menolak resolusi Dewan Keamanan dan&lt;br /&gt;mereka bahkan berhak memandang resolusi-resolusi tersebut&lt;br /&gt;dengan pandangan menghina, menolak atau membuangnya ke&lt;br /&gt;tempat sampah. Namun tidak ada satu negara pun yang berhak&lt;br /&gt;menggugat perilaku mereka.&lt;br /&gt;2. Israel mempunyai hak untuk merubah garis tapal batas geografis&lt;br /&gt;dari negara-negara tetangganya dengan alasan pertimbangan&lt;br /&gt;keamanan.&lt;br /&gt;3. Israel berhak memproduksi dan menimbun bom atom dan&lt;br /&gt;persenjataan nuklir lainnya. Negara ini bahkan bisa memproduksi&lt;br /&gt;senjata kimia dan biologis untuk penghancuran massal.&lt;br /&gt;Tidak ada seorang pun, khususnya negeri-negeri Muslim, yang berhak&lt;br /&gt;mengkritik Israel karena melakukan kegiatan-kegiatan tersebut.” (8&lt;br /&gt;Februari 1991)&lt;br /&gt;“Tetapi Syria berada dalam bahaya dan kemungkinan akan menjadi&lt;br /&gt;korban berikut dari rekayasa mereka. Negeri ini baru saja muncul&lt;br /&gt;sebagai kekuatan militer. Adalah suatu kesalahan besar, bahkan&lt;br /&gt;kekonyolan, jika Syria beranggapan bahwa mereka akan terlepas&lt;br /&gt;karena aliansi mereka dengan kekuatan Barat saat perang Irak yang&lt;br /&gt;sedang berlangsung ini. Selama ada Israel yang tegak sebagai&lt;br /&gt;kekuatan di perbatasannya, Syria tidak akan pernah aman.” (8&lt;br /&gt;Februari 1991)&lt;br /&gt;“Tanggungjawab utama dari perang ini ada di pundak Amerika Serikat&lt;br /&gt;walaupun Saddam yang dijadikan sarana. Berkaitan dengan porsi&lt;br /&gt;tanggungjawab Saddam dalam perang tersebut, nyatanya ada beberapa&lt;br /&gt;elemen yang memaksa kita untuk mengakui bahwa yang bersangkutan&lt;br /&gt;rupanya tidak bisa bertindak lain. Tanggungjawab negara-negara&lt;br /&gt;koalisi sudah jelas dan bagian terburuk daripadanya adalah kenyataan&lt;br /&gt;bahwa perang ini dilakukan untuk tujuan-tujuan sepele. Semua&lt;br /&gt;negara koalisi mempunyai kepentingan tersembunyi dalam perang ini.&lt;br /&gt;Porsi tanggungjawab Israel adalah karena negara inilah yang&lt;br /&gt;merekayasa keseluruhan peristiwa dan sebagaimana dijelaskan di&lt;br /&gt;Krisis Teluk &amp;amp; Tatanan Dunia Baru&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;muka, dari sudut pandang Israel, saat ini merupakan momentum yang&lt;br /&gt;paling tepat. Suatu kekuatan Muslim yang berkembang cepat yang&lt;br /&gt;bisa menjadi ancaman bagi kepentingan Israel harus dilumatkan&lt;br /&gt;dengan cara klasik dimana sarana penghancurannya disediakan&lt;br /&gt;sebagian oleh negeri-negeri Muslim sendiri dan sebagian dari negaranegara&lt;br /&gt;koalisi. Sumber daya manusia dengan senang hati disediakan&lt;br /&gt;oleh Amerika Serikat, Inggris serta orang-orang Arab dan semua itu&lt;br /&gt;untuk mencapai tujuan dari Israel. Sebagai hasil sampingan perang&lt;br /&gt;ini, Israel malah mendapat alasan untuk menduduki beberapa bagian&lt;br /&gt;dari negeri itu dan kemudian memperoleh ‘jarahan’ bermilyar dollar.&lt;br /&gt;Israel juga diberi hak untuk menjadikan Irak bulan-bulanan balas&lt;br /&gt;dendam mereka. Dengan demikian adalah Israel yang paling banyak&lt;br /&gt;menerima keuntungan dari perang dan karena itu negeri inilah yang&lt;br /&gt;paling bertanggungjawab. Perserikatan Bangsa-bangsa sewajarnya&lt;br /&gt;juga ikut bertanggungjawab mengenai hal ini. Ketika anggota&lt;br /&gt;parlemen di Pakistan dibeli dengan uang, muncul istilah politik yang&lt;br /&gt;disebut sebagai ‘dagang sapi.’ Apa yang terjadi sekarang ini&lt;br /&gt;sebenarnya adalah dagang sapi namun mungkin kita heran darimana&lt;br /&gt;munculnya istilah tersebut yang semula berkonotasi pembelian hak&lt;br /&gt;suara dari anggota parlemen guna memperoleh keunggulan politis.&lt;br /&gt;Tetapi jika dilihat perilaku dari pemerintah Amerika Serikat, kita akan&lt;br /&gt;mudah melihat bahwa ide ini pasti lahir di Amerika karena cara&lt;br /&gt;mereka membeli hak suara di Perserikatan Bangsa-bangsa jelas&lt;br /&gt;merupakan dagang sapi. Mereka memang terbiasa melakukan politik&lt;br /&gt;dagang sapi demikian. Jadi kalau Perserikatan Bangsa-bangsa sudah&lt;br /&gt;merosot menjadi suatu organisasi yang dengan mudah bisa dibeli oleh&lt;br /&gt;negara-negara kaya demi kepentingan mereka maka hal itu telah&lt;br /&gt;menjadi kejahatan yang kotor. Perilaku demikian itu bersifat bunuh&lt;br /&gt;diri dan merampas kepercayaan kepada organisasi internasional&lt;br /&gt;tersebut.” (15 Februari 1991)&lt;br /&gt;“Jika kalian membenci Inggris atau Amerika maka itu hanyalah emosi&lt;br /&gt;dan ketidaktahuan semata. Pekerjaan seperti itu hanya dilakukan oleh&lt;br /&gt;orang tidak waras. Kebencian tidak akan pernah menang di dunia ini.&lt;br /&gt;Adalah adab luhur yang pada akhirnya jadi pemenang. Asas perilaku&lt;br /&gt;yang diajarkan Rasulullah s.a.w. yang akan menang karena yang&lt;br /&gt;begitu itu yang merupakan perilaku terbaik. Kalau saja umat Muslim&lt;br /&gt;mau mengikuti asas perilaku demikian maka hal itu akan menjadi&lt;br /&gt;teladan bagi seluruh dunia. Asas perilaku demikian tidak mungkin&lt;br /&gt;dikalahkan. Tidak ada kekuatan di dunia ini yang mampu menandingi&lt;br /&gt;asas perilaku Rasulullah Muhammad s.a.w. Jadi gunakanlah asas&lt;br /&gt;keadilan demikian dan terapkan ajaran tersebut maka revolusi baru&lt;br /&gt;akan mulai bergulir menciptakan surga di dunia! Jika kalian tidak&lt;br /&gt;mau menganut asas tersebut maka kalian hanya akan terus berkelahi&lt;br /&gt;dan dunia ini akan terus menghadapi cobaan dan musibah.” (15&lt;br /&gt;Februari 1991)&lt;br /&gt;“Duapuluh lima juta rakyat Afrika sedang berada di tubir kematian&lt;br /&gt;akibat dari kelaparan. Perkiraan ini berdasarkan perhitungan dari&lt;br /&gt;Perserikatan Bangsa-bangsa. Jika biaya menghidupi seorang Afrika&lt;br /&gt;adalah dua dollar sehari maka hanya diperlukan 1,5 milyar dollar&lt;br /&gt;untuk menghidupi 25 juta rakyat Afrika selama satu tahun. Sekarang&lt;br /&gt;bayangkan bahwa mereka yang tidak mempunyai belas kasihan&lt;br /&gt;kepada 25 juta rakyat Afrika - mereka yang menghujani 16 juta rakyat&lt;br /&gt;Irak dengan kematian dan kehancuran dengan cara membelanjakan&lt;br /&gt;berton-ton uang - mereka juga yang berteriak lantang atas kematian&lt;br /&gt;beberapa ekor burung. Semua ini semata-mata pengelabuan mata dan&lt;br /&gt;kejahatan. Kalau negara-negara koalisi itu memang memiliki secuil&lt;br /&gt;rasa iba pada kemanusiaan, mereka tentunya akan memperhatikan&lt;br /&gt;terlebih dahulu nyawa manusia. Mereka mestinya memperhatikan&lt;br /&gt;rakyat Afrika yang miskin dan rakyat berbagai negeri lain yang sedang&lt;br /&gt;sekarat kelaparan serta mencoba menghapus ketidakseimbangan&lt;br /&gt;perekonomian. Hanya dengan dana bantuan 1,5 milyar dollar sejumlah&lt;br /&gt;25 juta rakyat Afrika yang kelaparan bisa makan dua kali sehari&lt;br /&gt;selama satu tahun. Namun mereka tetap saja membelanjakan satu&lt;br /&gt;milyar dollar sehari untuk menghujani umat manusia dengan&lt;br /&gt;kematian dan kehancuran tetapi tidak bisa menyisihkan satu milyar&lt;br /&gt;dollar untuk periode sembilan bulan guna menghidupi 25 juta&lt;br /&gt;manusia!&lt;br /&gt;Mereka telah kehilangan keseimbangan dalam nilai-nilai yang mereka&lt;br /&gt;anut dan hal ini sudah berlangsung lama. Mereka lebih memilih&lt;br /&gt;membiarkan manusia mati dibanding anjing misalnya. Mereka tidak&lt;br /&gt;mau mengorbankan kepentingan pribadi yang picik demi kesejahteraan&lt;br /&gt;kemanusiaan. Karena itu mereka itulah yang sepenuhnya&lt;br /&gt;terlibat dalam pertanggungjawaban kriminal perang ini. Kalau mereka&lt;br /&gt;tidak mau bertanggungjawab hari ini maka hari esok pasti akan&lt;br /&gt;memintakan pertanggungjawaban mereka.” (15 Februari 1991)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-9150696792494015815?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.alislam.org' title='Krisis Teluk &amp; Tatanan Dunia Baru'/><link rel='enclosure' type='' href='http://cinta-islam.web.id/' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/9150696792494015815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=9150696792494015815&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/9150696792494015815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/9150696792494015815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/krisis-teluk-tatanan-dunia-baru.html' title='Krisis Teluk &amp; Tatanan Dunia Baru'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/--CloVPqlF3M/TcicCx_CygI/AAAAAAAAAaY/y2r0-zBoMjU/s72-c/jayalah+ind.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-6260894447301836333</id><published>2011-05-01T16:23:00.002+07:00</published><updated>2011-05-01T16:50:57.425+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>Syekh Siti Jenar</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="color: #ffe599;"&gt;&lt;div style="color: red; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;SYEKH SITI JENAR&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saat Pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499) Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda. Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali.&lt;br /&gt;&lt;div class="snappreview" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Siti Jenar dianggap telah merusak ketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri). Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam. Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan Sidi Jinnar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="snappreview" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali. Dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang semula ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen Swie (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Sunan Giri. Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon. Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun (saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499) yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya, di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="snappreview" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keberadaan Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari kita coba menyoroti falsafah/faham/ajaran Siti Jenar. Konsepsi Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam buku Falsafah Siti Jenar tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, yaitu kira-kira:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;1. Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;2. Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi, kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan, menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;3. Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana, tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;4. Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;5. Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat pancaindera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;6. Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;7. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa : Tuhan itu adalah wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang bersinar cemerlang yang berwujud samar-samar bila di lihat, dengan warna memancar yang sangat indah; Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia juga mengaku sebagai Tuhan; Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya, yang mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang Widi; Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian, bangkai yang busuk, sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di dunia; Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan ungkapan dari dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa : Saat diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata; Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya indah sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri dan tanpa bantuan sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara) yang terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan; Tuhan itu menurutnya adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menurut buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935) dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan (ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian. Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Siti Jenar memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap obyek (proses intuitif). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menurut Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal tak berakhir di kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya manusia, flora, fauna dan segala yang ada, sekaligus yang menjiwai segala sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan secitra Tuhan/Hyang Widi. Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam), tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar). Bisa jadi pula, tragedi Siti Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran. Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang tulisan mengenai Siti Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari budaya Jawa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebab Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut Ir. Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri. Dikatakan bahwa dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pengalaman tetaplah pengalaman, tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti, yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini. Kalau misalnya dengan kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kisah Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran, yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci. Kesimpulannya, Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya. Kita akhiri kisah singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”. Sidang para Wali Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad. Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba, mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya. Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar. Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya. Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi masalah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat luas. Menurut Sunan Giri paham Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk islam, karena seperti disampaika di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie sbb: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pedah punapa mbibingung, Ngangelaken ulah ngelmi, NJeng Sunan Giri ngandika, Bener kang kaya sireki, Nanging luwih kaluputan, Wong wadheh ambuka wadi. Telenge bae pinulung, Pulunge tanpa ling aling, Kurang waskitha ing cipta, Lunturing ngelmu sajati, Sayekti kanthi nugraha, Tan saben wong anampani. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Artinya: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Syeh Siti Jenar berkata, untuk apa kita membuat bingung, untuk apa kita mempersulit ilmu? Sunan Giri berkata, benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar, karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya. Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ngrame tapa ing panggawe Iguh dhaya pratikele Nukulaken nanem bibit Ono saben galengane Mili banyu sumili Arerewang dewi sri Sumilir wangining pari Sêrat Niti Mani . . . Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah. Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita. Kinanti Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti. Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga runggi. Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani. Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika, neng kaanan ênêng êning&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-6260894447301836333?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/6260894447301836333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=6260894447301836333&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/6260894447301836333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/6260894447301836333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/syekh-siti-jenar.html' title='Syekh Siti Jenar'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-8545448805218693390</id><published>2011-05-01T15:37:00.001+07:00</published><updated>2011-05-01T15:47:26.271+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Yahoo'/><title type='text'>Setuju Tentang Literatur Ini</title><content type='html'>&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Jemaat Ahmadiyah Tolak Disebut Sesat&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b style="color: #f6b26b;"&gt; Sesat dalam makna yang bagaimana? Sesat dari jalan kebenaran Ilahi tentunya yang melenceng dari Al Qur'an dan As Sunnah serta Al Hadits, jika masih mempunyai rujukan ke dalam 3 hal tadi tentunya belum bisa dikategorikan sebagai sesat. Saya mengamati bagaimana orang-orang ahmadi ini berperilaku sedemikian rupa berusaha mengikuti jalan ketaatan kepada Rasulullah SAW. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #f6b26b;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ingat sejarah para nabi ams denngan para pengikut kenabian di setiap masa! Mereka diliputi penuh perjuangan dan tantangan dari kaum yang mengingkarinya. Ingat juga para wali, mujaddid dan orang-orang suci yang senantiasa dihujat oleh kaum dan bangsanya sendiri pada masa tertentu.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style="color: #f6b26b;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tatkala kulihat ada info ini dari Jateng, maka tindakan memberikan pernyataan di media seperti ini bisa memberikan info yang jujur terhadap masyarakat, yang masa kini sebuah info dan cekokan dajjal yang penuh tipu, manipulasi dan pemutarbalikan fakta, serta fitnah yang dipelihara berpuluh-puluh tahun. Inilah info tersebut:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Semarang, CyberNews. Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menolak disebut sesat. Pasalnya, mereka mengaku berakidah sesuai dengan akidah keislaman, yakni enam rukun iman dan beribadah sesuai dengan lima rukun Islam. Di samping itu, pokok ajaran bersumber dari Alquran dan Hadis sehingga memercayai Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Pernyataan Bakorpakem Jateng bahwa Ahmadiyah sesat, menandakan kalau mereka belum memahami betul eksistensi JAI. Serta, belum bisa memisahkan antara Ahmadiyah versi asli yang bersumber dari Pakistan dan versi Majelis Ulama Indonesia. Melihat kesimpulan rapat koordinasi di Kementerian Agama Jateng lalu, Bakorpakem berarti masih berpegangan pada keputusan MUI, padahal keputusan itu tidak sesuai fakta," kata Ketua DPW JAI Jateng, M Arief Syafi'ie, Selasa (26/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Arief menegaskan, JAI tidak pernah berbuat sesuatu yang meresahkan masyarakat. Dikatakan, JAI merupakan organisasi Islam yang menjunjung tinggi dan menyajikan Islam sebagai agama yang toleran dan damai. Polemik berkepanjangan JAI dalam lima tahun terakhir, dinilai hanya sebagai bentuk beda tafsir atas beberapa ayat Alquran. "Dalam kehipan beragama merupakan hal yang lumrah," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubaligh JAI, Syaiful Uyun menambahkan, SKB tentang pelarangan JAI yang ditandatangani Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung yang terbit 9 Juni 2008 adalah karena desakan kelompok-kelompok Islam intoleran-radikal, anti Pancasila dan NKRI. "Mereka maunya mengimpor Islam ala Timur Tengah ke Indonesia. Ini kan tidak benar," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, yang harus diwaspadai dan diawasi Bakorpakem yakni kesinambungan dan keselamatan bangsa serta NKRI, bukan Ahmadiyah tetapi organisasi Islam intoleran-radikal antai Pancasila dan NKRI itu. "Sudah bukan rahasia lagi, mereka justru menghalalkan bom bunuh diri, merampok, mencuri, membunuh orang yang tidak sepaham, menjual diri untuk mencari dana yang katanya untuk berjihad," tutur dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief memohon, Bakorpakem Jateng melihat dan meletakkan masalah Ahmadiyah secara proporsional dan sesuai fakta. "Kami berpendapat seperti ini bukan untuk membela diri, takut selalu diawasi dan dianggap sesat. Ini hanya sebagai rasa tanggung jawab mengamankan Pancasila dan UUD 1945," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Hadziq Jauhary / CN27 / JBSM )&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-8545448805218693390?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/04/26/84029' title='Setuju Tentang Literatur Ini'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/8545448805218693390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=8545448805218693390&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8545448805218693390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8545448805218693390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2011/05/setuju-tentang-literatur-ini.html' title='Setuju Tentang Literatur Ini'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-6820023843337637920</id><published>2010-09-19T18:05:00.002+07:00</published><updated>2010-09-19T18:10:06.661+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Jama'at Muslim Ahmadiyah Kecam Rencana untuk Membakar Kitab Suci Al-Quran di Amerika Serikat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJXuFvb9PfI/AAAAAAAAAZY/U4nZuaW2yW4/s1600/ukjalsasalana07242009261.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJXuFvb9PfI/AAAAAAAAAZY/U4nZuaW2yW4/s200/ukjalsasalana07242009261.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #741b47; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Saya sangat setuju dan mengikuti dengan keputusan dari Hazrat Khalifatul Masih Al Khomis atba menanggapi pembakaran Al Qur'an di negara bagian USA itu,inilah tulisan mengenai hal itu:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #741b47; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Jama'at Muslim Ahmadiyah mengutuk dengan sekeras-kerasnya berita-berita bahwa the Dove World Outreach Center, yang berpusat di Amerika Serikat, sedang berencana untuk membakar Kitab Suci Al-Qur-an tanggal 11 September. Ini akan merupakan tindakan yang paling provokatif dan tak akan menghasilkan apa pun kecuali menyebabkan tekanan dan kemarahan jutaan orang pencinta damai di seluruh dunia. Membakar kitab suci suatu agama merupakan satu tindakan yang menakutkan dan secara langsung bertentangan dengan ajaran-ajaran semua agama besar dunia.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #351c75;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berbicara mengenai masalah ini dari London, Imam Jama'at Muslim Ahmadiyah, Yang Mulia, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad bersabda bahwa ekstrimisme keagamaan dalam semua jenisnya harus dihapuskan. Beliau bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="color: #134f5c;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;"Ekstrimisme keagamaan, apakah ekstrimisme Kristen, ekstrimisme Muslim atau jenis lainnya tak pernah merupakan cerminan hakiki dari agama. Sungguh sejumlah gereja telah mengutuk tindakan ini. Tak ada salahnya berbahas ilmiah atau theologi tapi ini seharusnya diadakan dalam batas-batas kesopanan dan toleransi. Alih-alih apa yang sedang kita lihat adalah kebencian sedang tersebar."&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Adalah yang paling disayangkan bahwa sebagian orang yang disebut Muslim telah menodai nama Islam dengan kekejaman dan kebencian yang mengisi perbuatan-perbuatan [mereka]. Orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan semacam itu gagal untuk menyadari ajaran-ajaran Islam yang hakiki. Al-Qur-an Suci diturunkan sebagai rahmat bagi umat manusia dan ajaran-ajarannya berisi cinta kasih, toleransi dan saling menghormati. Bagaimanapun tindakan-tindakan jahat dari minoritas ekstrimis itu telah membawa suatu kepercayaan bahwa ia mengajarkan kebencian, pembunuhan dan tak bertoleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Mulia melanjutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #134f5c;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;"Dunia memerlukan perdamaian, cinta kasih dan persaudaraan. Dunia perlu mengakhiri peperangan. Alih-alih tembok-tembok kebencian yang sedang didirikan kita memerlukan perdamaian untuk diberlakukan dan untuk mewujudkan ini umat semua agama harus bekerja bersama-sama. Seperti yang telah saya katakan bahwa tak ada salahnya berbahas tapi perbahasan-perbahasan itu seharusnya terjadi dalam suasana lingkungan yang penuh damai dan saling menghormati."&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Mirza Masroor Ahmad juga berbicara dengan menyesalkan pembunuhan dua orang Ahmadi Muslim yang tak bersalah di Propinsi Sindh awal pekan ini. Dr Najam al-Hasan dan Pir Habib-ur-Rehman keduanya disyahidkan karena keyakinan mereka. Dengan demikian jumlah Ahmadi Muslim yang dibunuh di Pakistan sejauh ini pada tahun ini adalah 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama'at Muslim Ahmadiyah mengungkapkan harapannya bahwa the Dove World Outreach Center menarik kembali (membatalkan) rencananya untuk membakar Kitab Suci Al-Qur-an. Jika mereka gagal berbuat demikian maka diharapkan bahwa tindakan semacam itu tidak diizinkan terjadi oleh pihak-pihak berwenang setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #38761d;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bagaimanapun jika peristiwa itu terjadi Jama'at Muslim Ahmadiyah akan melakukan protesnya dengan penuh damai dan taat hukum. Fanatisme seharusnya tidak ditanggapi dengan cara yang serupa tapi bahkan dengan cara yang masuk akal dan penuh damai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-6820023843337637920?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://alhamdulillah-master.blogspot.com' title='Jama&apos;at Muslim Ahmadiyah Kecam Rencana untuk Membakar Kitab Suci Al-Quran di Amerika Serikat'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/6820023843337637920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=6820023843337637920&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/6820023843337637920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/6820023843337637920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2010/09/jamaat-muslim-ahmadiyah-kecam-rencana_19.html' title='Jama&apos;at Muslim Ahmadiyah Kecam Rencana untuk Membakar Kitab Suci Al-Quran di Amerika Serikat'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJXuFvb9PfI/AAAAAAAAAZY/U4nZuaW2yW4/s72-c/ukjalsasalana07242009261.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-8157067974798903093</id><published>2010-09-16T09:12:00.003+07:00</published><updated>2010-09-16T11:47:17.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Ajaran Islam'/><title type='text'>Ribut, Berdebat, Bertukarpandangan Boleh! Tapi Jangan Lupa Tujuan Kita</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: #741b47; color: #6fa8dc; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Masalah Ketiga&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #741b47; color: #6fa8dc; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #741b47; color: #6fa8dc; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;APA TUJUAN SEBENARNYA MANUSIA HIDUP DI DUNIA DAN BAGAIMANA DAPAT MENCAPAINYA ?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJF82BwzqTI/AAAAAAAAAXo/SnVKQYyaM5g/s1600/Filais+Logo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="173" src="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJF82BwzqTI/AAAAAAAAAXo/SnVKQYyaM5g/s200/Filais+Logo.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Jawaban terhadap masalah ini adalah, manusia dengan berbagai macam pembawaan alaminya, karena penge­tahuan yang dangkal serta kemampuan yang terbatas, menetapkan ber­bagai tujuan bagi hidupnya. Dan mereka berjalan hanya sampai pada tujuan dan cita-cita duniawi belaka, lalu berhenti. Akan tetapi tujuan yang ditetapkan Allah Ta’ala di dalam Kalam Suci-Nya adalah sebagai ber­ikut:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Yakni, Aku telah menciptakan jin dan manusia agar mereka mengenal‑Ku dan menyembah‑Ku (51:57). Jadi, menurut ayat ini tujuan sebenarnya hidup manusia adalah untuk menyembah Allah Ta’ala dan meraih makrifat Allah Ta’ala serta menjadi milik Allah Ta’ala. Jelas bahwa manusia tidak memperoleh kedudukan untuk -- dengan ikhtiarnya -- menetapkan sendiri tujuan hidupnya. Sebab, manusia bukan atas kemauannya sendiri datang dan bukan pula atas kemauannya sendiri akan kembali. Melainkan dia hanyalah makhluk (hasil ciptaan). Sedangkan Wujud yang telah men­ciptakan serta telah menganugerahkan kemampuan yang cemerlang dan lebih tinggi kepadanya dibandingkan dengan seluruh hewan, Dia itu jugalah yang telah menetapkan suatu tujuan hidup baginya. Tidak perduli apakah manusia mengerti atau tidak mengerti tujuan itu. Akan tetapi tujuan penciptaan manusia tidak diragukan lagi yaitu untuk menyembah Tuhan dan meraih makrifat Allah Ta’ala serta menjadi fana di dalam Allah Ta’ala.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Sebagai-mana Allah Ta’ala berfirman di satu tempat lain di dalam Alquran Suci:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Yakni, agama yang di dalamnya terdapat makrifat yang benar tentang Tuhan dan penyembahan terhadap-Nya dalam bentuk yang terbaik, adalah Islam (3:20). Dan Islam telah ditanamkan dalam fitrat manusia. Dan Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dalam keadaan Islam serta telah menciptakannya untuk Islam (30:31). Yakni, Dia telah menghendaki agar manusia dengan segala kemampuannya terus-menerus menyembah, menaati, dan men-cintai Tu­han. Itulah sebabnya Sang Maha Kuasa dan Maha Mulia telah menganugerahkan kepada manusia seluruh kemampuan yang selaras dengan Islam&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Rincian ayat‑ayat ini sangat luas dan kami dalam kadar tertentu telah juga menuliskannya pada bagian ketiga Masalah Pertama. Akan tetapi saat ini kami hanya ingin menzahirkan secara ringkas bahwa segala organ bagian dalam dan luar yang telah dianugerahkan kepada manusia, atau segala kemampuan yang telah diberikan, tujuan sebenarnya dari semua itu ialah untuk mendapatkan makrifat Ilahi dan menyembah Allah serta mencintai Allah Ta’ala. Itulah sebabnya manusia di dunia setelah tenggelam dalam ribuan kesibukan, mereka tetap saja tidak menemukan kebahagiaan sejati dalam suatu apa pun, kecuali pada Allah Ta’ala. Setelah menjadi hartawan, setelah memperoleh kedudukan tinggi, setelah menjadi saudagar besar, setelah mencapai tahta kerajaan besar, setelah dijuluki filsuf besar, akhirnya ia pergi dengan hasrat-hasrat besar karena belenggu-­belenggu duniawi itu. Dan kalbunya senantiasa mengecamnya karena tenggelam dalam dunia. Hati nuraninya tidak pernah menyetujui tindakan-tindakannya yang licik, penuh tipu muslihat, dan curang. Seorang manusia bijak dapat juga memahami masalah ini dengan cara demikian: tugas-tugas paling tinggi yang dapat dilakukan oleh kemampuan-kemampuan suatu benda, lalu lebih dari itu kemampuan-kemampuan tersebut terhenti, maka tugas paling tinggi itu dianggap sebagai tujuan penciptaan benda tersebut. Misalnya, tugas paling tinggi seekor lembu jantan ialah membajak tanah atau menimba air sumur untuk pengairan atau menarik pedati. Lebih dari itu ia tidak mempunyai kemam­puan lainnya. Jadi, tujuan hidup lembu jantan adalah ketiga tugas tersebut. Lebih dari itu di dalam dirinya tidak ada kemampuan lain. Akan tetapi apabila kita mengukur kemampuan-kemampuan manusia -- yaitu kemampuan apa yang paling tinggi terdapat di dalam dirinya -- maka yang terbukti adalah padanya terdapat pencarian terhadap Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Besar. Sampai-sampai manusia berkeinginan untuk melebur dan tenggelam di dalam kecintaan Tuhan sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi yang tersisa miliknya, semua telah menjadi milik Tuhan. Dalam hal makan dan tidur serta hal-hal alami lainnya, manusia menyerupai hewan-hewan lain. Dalam bidang keterampilan, sebagian hewan sangat jauh melebihi manusia. Bahkan lebah-lebah madu mengambil sari dari setiap bunga lalu menghasilkan madu murni yang sampai sekarang tidak berhasil dibuat oleh manusia. Jadi, jelaslah bahwa kelebihan paling tinggi yang dimiliki manusia yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala. Oleh karena itu tujuan sebenarnya hidup manusia ialah agar terbuka jendela hatinya ke arah Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana-sarana untuk Mencapai Tujuan Hidup Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, jika yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dan bagaimana tujuan itu dapat dicapai serta dengan sarana-sarana apa manusia dapat meraihnya, maka hendaknya jelas bahwa sarana paling besar yang dipersyaratkan untuk mencapai tujuan itu adalah: mengenali Allah Ta’ala secara benar dan mengimani Tuhan Yang Hakiki. Sebab, jika langkah pertama saja sudah salah, dan seseorang misalnya menjadikan burung atau hewan atau unsur-unsur zat atau anak manusia sebagai tuhan, maka bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa pada langkah-langkah berikutnya dia akan menempuh jalan yang lurus. Tuhan Yang Hakiki memberikan pertolongan kepada orang‑orang yang mencari-Nya. Akan tetapi bagaimana mungkin benda mati dapat memberikan pertolongan ke­pada sesuatu yang mati? Dalam hal ini Allah swt. memberikan tamsil yang indah, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Dia-lah Tuhan Hakiki yang pantas dimintai do’a, yang berkuasa atas tiap sesuatu. Dan orang-orang yang berseru kepada wujud‑wujud selain Dia, wujud-wujud itu sedikit pun tidak dapat menjawab mereka. Keadaan mereka seperti orang yang sambil membuka telapak tangannya ke air lalu berkata, “Hai air datanglah ke mulutku!” Apakah air itu akan datang ke mulutnya? Sekali-kali tidak! Jadi, barangsiapa tidak mengenal Tuhan Yang Hakiki, maka segala do’a mereka menjadi sia-sia (13:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana kedua ialah mendapatkan gambaran jelas tentang kejuitaan (      ) serta keindahan yang lengkap lagi sempurna di dalam Wujud Allah Ta’ala. Sebab, kejuitaan adalah sesuatu yang secara alami menawan hati dan dengan menyaksikannya akan timbul kecintaan secara alami. Ada pun kejuitaan Allah Ta’ala itu terletak pada keesaan‑Nya, kebesaran‑Nya, kemu­liaan‑Nya, dan sifat‑sifat‑Nya. Sebagaimana berkata Alquran Suci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Tuhan adalah Esa dalam Dzat‑Nya, sifat‑sifat‑Nya dan kegagahan‑Nya. Tak ada sesuatu yang bersekutu dengan Dia. Segala sesuatu bergantung pada Dia. Tiap zarah menerima anuge­rah hidup dari Dia. Dia sumber karunia bagi segala sesuatu dan Dia tidak menerima karunia dari suatu apa pun. Dia bukan anak se­seorang dan bukan pula bapak seseorang. Bagaimana mungkin! Sebab tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia (112:2‑5). Alquran telah menarik perhatian orang‑orang dengan berkali-kali mengemukakan kesempurnaan dan keagungan Tuhan, “Lihatlah, Tuhan seperti itu adalah Wujud yang menarik minat, dan bukan wujud yang mati, lemah, tidak memiliki kasih sayang maupun kekuasaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana ketiga untuk mencapai tujuan sebenarnya yang merupakan tangga kedua ialah, mengenal ihsan Tuhan (kebaikan yang lebih, dari Tuhan). Karena, pendorong rasa cinta itu hanya terdiri dari dua hal, yaitu: kejuitaan (      ) dan ihsan (          ). Sedangkan ringkasan sifat-sifat ihsan Allah Ta’ala terdapat di dalam Surah Al‑Fatihah. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, jelaslah bahwa ihsan yang sempurna terletak pada kenyataan bahwa Allah Ta’ala menciptakan hamba-hamba‑Nya dari tiada, dan kemudian sifat rabbu biyyat (pemelihara dan penjaga) senantiasa menaungi mereka, dan Dia sendiri yang merupakan penunjang bagi segala sesuatu, serta segala macam rahmat-Nya diwujudkan bagi hamba‑hamba‑Nya, dan ihsan‑Nya tak terbatas sehingga tidak ada yang dapat menghitungnya. Jadi, Allah Ta’ala telah berulangkali menjelaskan tentang ihsan-ihsan‑ Nya yang demikian, sebagaimana pada tempat lain Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, jika kamu ingin menghitung nikmat‑nikmat Allah Ta’ala, maka kamu sekali‑kali tidak akan dapat menghitungnya (14:35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana keempat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah do’a. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, kamu berdo’alah, Aku akan kabulkan (40:61). Dan berulang-kali Dia menarik minat untuk berdo’a supaya manusia bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan dengan kekuatan Tuhan meraih sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana kelima yang telah ditetapkan Allah Ta’ala untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah mujahadah. Yakni, mencari Allah Ta’ala dengan cara membelanjakan harta di jalan-Nya; dengan cara menyalurkan kemampuan-kemampuan di jalan Allah Ta’ala; dengan cara mengorbankan jiwa pada jalan Allah, dan dengan cara mengerahkan akal pikiran di jalan Allah. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, belanjakan harta-bendamu, jiwamu, dan dirimu beserta segenap kemampuannya pada jalan Allah (9:41). Dan apa pun yang telah Kami anugerahkan kepada kamu -- berupa akal, ilmu, pemahaman, keahlian dan sebagainya -- kerahkanlah semuanya di jalan Allah (2:4). Orang-orang yang berusaha dengan segala cara pada jalan Kami, Kami selalu menunjukkan jalan Kami pada mereka (29:70).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana keenam untuk mencapai tujuan sebenarnya yang telah Dia jelaskan ialah istiqamah. Yakni, di jalan ini tidak bosan, tidak putus-asa, tidak lelah, dan tidak gentar menghadapi co­baan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, orang‑orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah dan kami sudah menjauhkan diri dari tuhan‑tuhan palsu,” kemudian mereka istiqamah, yakni tetap teguh dalam menghadapi berbagai-macam cobaan dan musibah, maka malaikat‑malaikat turun kepada mereka sambil berkata, “Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati, dan bergembira serta bersuka-rialah. Sebab, kamu telah menjadi pewaris kebahagiaan yang telah dijanjikan kepadamu. Kami adalah sahabatmu di dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat” (41:31,32). Ayat ini mengisyaratkan bahwa dengan istiqamah manusia memperoleh keridhaan Allah Ta’ala. Benarlah bahwa istiqamah lebih unggul dari keajaiban. Istiqamah yang sempurna ialah: ketika bala musibah mengepung dari segala penjuru, dan di jalan Allah nyawa, ke­hormatan dan harga diri dihadapkan kepada bahaya; sementara tidak terdapat sesuatu yang menghibur, sampai-sampai Tuhan pun dengan tujuan hendak menguji, menutup pintu kasyaf atau mimpi atau ilham yang membesarkan hati, lalu membiarkan dalam keadaan-keadaan takut yang mengerikan; pada saat itu tidak memperlihatkan sikap penakut dan tidak mundur ke belakang bagai para pengecut, serta tidak memperlihatkan suatu perubahan apa pun pada sifat kesetiaan, tidak mencemari ketulusan dan ketabahan, rela terhadap kenistaan, pasrah terhadap maut, dan untuk mengokohkan langkah tidak menunggu-nunggu seorang kawan agar dia memberikan pertolongan, tidak menuntut turunnya khabar-khabar su­ka dari Tuhan sebab masa yang genting, dan walaupun tidak berdaya serta lemah serta tidak memperoleh sesuatu yang menghibur sekali pun, tetap saja berdiri tegak, dan merebahkan leher ke depan seraya mengatakan, “Apa yang akan terjadi biarlah terjadi,” dan tidak mengecam keputusan takdir, serta sama-sekali tidak memperlihatkan kegelisahan dan keluh-kesah sampai selesainya saat cobaan itu. Inilah istiqamah yang karenanya terjadi perjumpaan dengan Allah. Inilah hal yang menyebabkan sampai sekarang masih menimbulkan aroma wangi dari tanah (kubur) para rasul, para nabi, para shiddiq dan para syahid. Ke arah inilah Allah Ta’ala memberikan isyarat dalam do’a berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, wahai Allah Ta’ala kami, tunjukilah kami jalan istiqamah. Yaitu jalan yang di atasnya diperoleh nikmat‑nikmat dan kemu­liaan, dan Engkau meridhainya (1: 6,7). Dan pada tempat lain Allah Ta’ala mengisyaratkan kepada hal itu juga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Tuhan, dalam menghadapi musibah, turunkanlah kepada hati kami perasaan tenteram yang karenanya timbul kesabaran, dan semoga kematian kami ada dalam Islam (7:127). Hendaklah diketahui bahwa pada waktu penderitaan dan mu­sibah datang, Allah Ta’ala menurunkan suatu nur atas hati hamba‑ hamba kesayangan-­Nya sehingga mereka mendapat kekuatan lalu menghadapi musibah dengan sangat tenang. Dan karena lezatnya iman, mereka menciumi rantai yang membelenggu kaki‑kaki mereka di jalan-Nya. Apabila bala-musibah turun kepada orang yang berTuhan dan tanda-tanda maut sudah zahir, maka dia tidak akan mulai bertengkar dengan Tuhan-nya Yang Maha Mulia supaya dia diselamatkan dari bala-bencana tersebut. Sebab, bersikeras mendesak minta keselamatan pada saat demikian berarti melawan Allah Ta’ala dan bertentangan dengan penyerahan diri secara sempurna. Bahkan dengan turunnya bencana, seorang pencinta sejati melangkahkan kaki lebih maju ke depan. Dan pada saat demikian dia menganggap jiwanya tidak berharga serta mengucapkan selamat tinggal kepada kecintaan terhadap jiwanya lalu dia sepenuhnya mengikuti kehendak Tuhan‑nya, dan menginginkan keridhaan‑Nya. Mengenai hal itu Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, hamba kesayangan Tuhan memberikan jiwanya di jalan Allah, dan sebagai imbalannya dia menerima keridhaan Allah Ta’ala. Itulah orang-orang yang memperoleh rahmat istimewa dari Allah Ta’ala (2:208). Ringkasnya, yang telah diuraikan ini adalah ruh istiqamah yang karenanya dapat berjumpa dengan Tuhan. Barangsiapa yang mau memahami, pahamilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana ketujuh untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah bergaul dengan orang‑orang saleh dan memperhatikan tauladan-tauladan sempurna mereka. Jadi, hendaknya diketahui bahwa salah satu sebab perlunya para nabi ialah, manusia secara alami memerlukan tauladan yang sempurna. Dan tauladan yang sempurna meningkatkan gairah serta membangkitkan semangat. Sedangkan orang yang tidak meng­ikuti tauladan akan menjadi malas dan sesat. Ke arah inilah Allah swt. mengisyaratkan di dalam ayat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, bergaullah kamu dengan orang-orang saleh (9:119). Pelajarilah jalan orang‑orang sebelum kamu yang telah mendapat karunia (1:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana kedelapan adalah kasyaf suci, ilham suci, dan mimpi-mimpi suci dari Allah Ta’ala. Dikarenakan menempuh jalan menuju kepada Allah Ta’ala merupakan suatu jalan yang sangat pelik dan dipenuhi oleh berbagai macam musi­bah serta penderitaan, dan mungkin saja manusia tersesat di jalan yang tidak nampak itu, atau dicekam rasa putus-asa sehingga enggan meneruskan langkahnya ke depan, oleh karena itu rahmat Ilahi menghendaki agar di dalam perjalanan tersebut Dia terus-menerus menghibur­nya dan membesarkan hatinya serta terus-menerus mengukuhkan semangat dan meningkatkan gairahnya. Jadi, demikianlah sunnah Allah yang berlaku terhadap orang-orang yang menempuh jalan-Nya. Yaitu, dari waktu ke waktu Dia menghibur mereka dengan kalam dan ilham‑Nya, dan Dia menzahirkan kepada mereka bahwa, “Aku ada bersama kamu.” Barulah mereka memperoleh kekuatan, kemudian dengan sangat cepat menempuh jalan tersebut. Berkenaan dengan itu Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula banyak lagi sarana lain yang telah diterangkan oleh Alquran Suci, akan tetapi sayang sekali kami tidak dapat memaparkannya, karena khawatir terlalu panjang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-8157067974798903093?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/Filsafat/MasalahKetiga.htm' title='Ribut, Berdebat, Bertukarpandangan Boleh! Tapi Jangan Lupa Tujuan Kita'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/8157067974798903093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=8157067974798903093&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8157067974798903093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8157067974798903093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2010/09/ribut-berdebat-bertukarpandangan-boleh.html' title='Ribut, Berdebat, Bertukarpandangan Boleh! Tapi Jangan Lupa Tujuan Kita'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJF82BwzqTI/AAAAAAAAAXo/SnVKQYyaM5g/s72-c/Filais+Logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-8720505153898372321</id><published>2010-09-16T08:52:00.002+07:00</published><updated>2010-09-16T11:48:38.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Ajaran Islam'/><title type='text'>Kita Lanjutkan...Hanya Sekedar Mengingatkan</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: #a64d79; color: #6fa8dc; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;MASALAH KEDUA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #a64d79; color: #6fa8dc; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #a64d79; color: #6fa8dc; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;BAGAIMANAKAH KEADAAN MANUSIA SESUDAH MATI?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJF4RXRkDZI/AAAAAAAAAXg/NMvh4RN9Ggo/s1600/Filais+Logo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="173" src="http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJF4RXRkDZI/AAAAAAAAAXg/NMvh4RN9Ggo/s200/Filais+Logo.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #4c1130; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Dalam menjawab pertanyaan ini, dapat diterangkan bahwa keadaan sesudah mati itu sesungguhnya bukanlah suatu keada­an baru melainkan keadaan-keadaan di alam dunia ini juga yang dinampakkan lebih jelas. Apa pun akidah yang dianut dan amal‑amal yang dikerjakan ma­nusia -- yang baik maupun yang buruk -- di alam dunia ini tersembunyi dalam diri manusia. Dan obat penangkalnya atau pun racunnya memberi dampak terselubung pada diri manusia. Akan tetapi, di alam mendatang tidaklah demikian keadaannya, melain­kan segala keadaan itu secara terbuka akan menampakkan wajahnya. Contohnya dapat ditemukan di alam mimpi. Yakni, se­suatu yang mempengaruhi tubuh manusia, di alam mimpi akan nam­pak dalam bentuk jasmani. Apabila seseorang akan terserang demam tinggi, maka acapkali di alam mimpinya nampak api dan kobaran api. Apabila ia terserang influenza, ia melihat dirinya di dalam air. Ringkasnya, sebagaimana tubuh telah melakukan persiapan terhadap penyakit-penyakit, maka keadaan-keadaan itu akan nampak di alam mim­pi dalam bentuk tamsil. Jadi, dengan menelaah untaian mimpi-mimpi, setiap manusia dapat memahami bahwa demikian jugalah sunnah Allah di alam ukhrawi. Sebab, sebagaimana mimpi menimbulkan suatu perubahan tersendiri di dalam diri kita lalu menampakkan unsur-unsur rohani dalam bentuk jas­mani, demikian jugalah yang akan berlaku di alam ukhrawi.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Dan pada hari itu amal perbuatan kita serta buah-buahnya akan tampil secara jasmani. Dan segala sesuatu yang terselubung akan kita bawa bersama dari alam ini, pada hari itu semuanya akan tampak nyata di hadapan kita. Dan sebagaimana manusia menyaksikan berbagai-macam tamsil di dalam mimpi -- dan tidak pernah menganggap itu sebagai tamsil, bahkan ia meyakininya sebagai benda-benda nyata -- demikian pula yang akan berlaku di alam ukhrawi. Bahkan Allah Ta’ala, melalui tamsil-tamsil akan memperlihatkan kodrat‑Nya yang baru. Dikarenakan itu merupakan kodrat yang kamil, maka jika pun kita tidak menye­butnya sebagai tamsil‑tamsil dan mengatakan hal itu sebagai suatu kelahiran baru kodrat Tuhan, maka ungkapan itu sangat benar, tepat, dan betul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, seorang manusia yang beramal saleh, tidak mengetahui nikmat‑nikmat apa saja yang tersembunyi baginya (32:18). Jadi, Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa nikmat‑nikmat itu ter-sembunyi, yang tidak ada contohnya di antara nikmat-nikmat dunia. Ini suatu kenyataan bahwa nikmat‑nikmat dunia tidaklah tersem­bunyi dari kita. Kita mengetahui susu, delima, anggur, dan lain‑lain, serta kita senantiasa memakan benda-benda itu. Jadi, dari itu diketahui bahwa nikmat-nikmat bagi manusia yang beramal saleh adalah lain, dan namanya saja yang sama dengan benda-benda ini. Jadi, barangsiapa yang menganggap bahwa surga sebagai kumpulan benda‑benda dunia, berarti dia tidak memahami satu huruf pun Alquran Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penjelasan ayat ini -- yang baru saja saya sebutkan --junjungan kita Nabi Muhammad saw. bersabda, bahwa surga dan nikmat-nikmat­nya merupakan benda‑benda yang tidak pernah ter-lihat oleh mata; tidak pernah terdengar oleh telinga; dan tidak pula pernah terlintas di dalam hati. Padahal, nikmat‑nikmat dunia kita saksikan dengan mata dan juga kita dengar dengan telinga, serta di dalam hati pun nikmat-nikmat itu terlintas. Jadi, tatkala Allah Ta’ala dan Rasul menyatakan benda‑benda itu se­bagai benda-benda asing, maka kita jauh meninggalkan Alquran jika kita beranggapan bahwa di dalam surga nanti yang akan ada ialah susu dunia ini juga, yang diperah dari kerbau dan sapi-sapi. Seakan-akan disana terdapat bergerombol-gerombol ternak penghasil susu. Di atas pohon‑pohon bergelayutan sarang­-sarang lebah, dan malaikat‑malaikat mencari lalu mengambil madu, kemudian menuangkannya ke dalam sungai-sungai. Apakah pemikiran-pemikiran serupa itu sesuai dengan ajaran ini? Yaitu, ajaran yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa benda-benda itu mencahayai ruh serta melipat-gandakan makrifat Ilahi dan merupakan makanan rohani. Walaupun seluruh gam­baran makanan-makanan itu telah diungkapkan dalam bentuk jasmani, namun beriringan dengan itu telah dijelaskan bahwa sumber utama benda‑benda tersebut adalah ruh dan kebenaran. Janganlah ada yang beranggapan demikian dengan alasan, di dalam ayat Alquran berikut ini didapati bahwa nikmat‑nikmat yang akan dianugerahkan di surga itu akan dikenali oleh para ahli surga setelah melihat-nya, sebab nikmat‑nikmat itu telah mereka peroleh juga sebelum-nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, sampaikanlah khabar suka kepada orang‑orang yang beriman dan beramal saleh dan yang tak mempunyai cela sedikit pun, bahwa mereka adalah pewaris surga yang di bawahnya mengalir sungai‑sungai. Di akhirat, ketika mereka akan mendapat buah-buahan yang telah mereka peroleh dari pohon di dalam kehidup­an di dunia ini juga, mereka akan berkata, “Ini jugalah buah‑buahan yang telah diberikan kepada kami dahulu,” sebab mereka akan mendapatkan buah‑buah itu sama dengan buah-buahan sebelumnya (2:26). Anggapan bahwa yang dimaksud dengan buah‑buah yang dahulu itu merupakan nikmat‑nikmat jasmani di dunia, adalah keliru sekali serta sungguh bertentangan dengan arti dan logika sebenarnya dari ayat terdahulu. Melainkan dalam ayat ini Allah Ta’ala menerangkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka telah membangun sebuah surga dengan tangan mereka sendiri yang pohon-pohonnya adalah iman dan sungai‑sungainya adalah amal-amal saleh. Buah‑buah surga yang demikian itulah yang akan mereka makan di masa mendatang, dan buah‑buahan itu akan lebih nyata dan lebih lezat. Dan dikarenakan mereka secara rohani telah memakan buah‑buah itu di dunia, oleh karenanya mereka akan mengenali buah‑buah tersebut di alam nanti, serta mereka akan berkata, “Tampaknya ini adalah buah-buah yang pernah kami makan sebelumnya.” Dan mereka akan menemukan buah-buah tersebut sama seperti makanan mereka terdahulu. Jadi, ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa orang-orang yang biasa memakan makanan kecintaan serta kasih sayang Tuhan di dunia, makanan itu jugalah yang akan mereka dapati nanti dalam bentuk jasmani. Dan dikarenakan mereka telah mencicipi kelezatan cinta dan kasih sayang, serta mengetahui benar keadaannya, oleh sebab itu ruh mereka akan ingat kembali zaman lampau. Yaitu tatkala mereka duduk menyendiri di pojok-pojok tertentu mengenang Kekasih Hakiki mereka dengan kecintaan di dalam kegelapan malam, dan mereka menikmati kenangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, disini makanan-makanan jasmani tidak disinggung sedikit pun. Sekiranya di dalam hati seseorang timbul pemikiran -- bahwa sejak di dunia, orang-orang arif sudah memperoleh makanan-makanan itu secara rohani, maka bagaimana mungkin dapat dinyatakan benar bila mengatakan bahwa itu adalah nikmat‑nikmat yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia, tidak pernah terdengar, dan tidak pernah terlintas di dalam hati seseorang; sehingga dalam hal demikian timbul pertentangan di antara kedua ayat tersebut -- maka jawabannya adalah, pertentangan itu baru akan timbul jika yang dimaksud di dalam ayat ini adalah nikmat‑nikmat dunia. Padahal pada ayat ini yang dimaksudkan bukan nikmat‑nikmat dunia. Apa pun yang diperoleh seorang arif dalam bentuk makrifat, itu pada hakikatnya merupakan nikmat alam ukhrawi yang contohnya telah diperlihatkan terlebih dahulu untuk membangkitkan seleranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya diingat bahwa orang yang mempunyai hubungan dengan Tuhan bukanlah berasal dari dunia. Itulah sebabnya dunia membencinya. Melainkan, dia berasal dari Langit, oleh karena itu ia mene­rima nikmat‑nikmat samawi. Orang dunia memperoleh nikmat‑nik­mat dunia, sedangkan orang‑orang samawi menerima nikmat‑nikmat samawi. Jadi, memang benar bahwa nikmat‑nikmat tersebut tersembunyi dari teli­nga, hati, dan mata dunia. Akan tetapi, seseorang yang kehidupan duniawinya telah mengalami maut, dan mangkuk itu diminumkan kepadanya secara rohani -- yaitu mangkuk yang di alam ukhrawi akan dinikmati secara jasmani -- maka pada saat itu akan teringat olehnya bahwa mangkuk itu jugalah yang akan diberikan kepadanya dalam bentuk jasmani. Akan tetapi ini pun benar, bahwa dia dari segi mata dan telinga dunia akan dianggap tidak tahu-menahu perihal nikmat tersebut. Dikarenakan dia dahulu berada di dunia -- namun bukan dari kalangan dunia -- oleh karena itu dia pun akan memberikan kesaksian bahwa nikmat‑nikmat ukhrawi tersebut bukanlah nikmat-nikmat dunia. Ketika di dunia, matanya tidak pernah menyaksikan nikmat semacam itu. Tidak pula telinganya pernah mendengar nikmat demikian, dan tidak pernah terlintas di hati. Akan tetapi, di sisi kehidupan kedua, dia telah menyaksikan contoh‑contoh nikmat ukhrawi yang bukan berasal dari dunia, melainkan yang merupakan suatu khabar dari alam yang akan datang. Dia memiliki hubungan serta kaitan dengan alam itu. Dengan dunia, sedikitpun dia tidak mempunyai kaitan.&lt;br /&gt;Tiga Makrifat Alquran mengenai Alam Akhirat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sebagai kaedah umum, hendaknya diingat juga bahwa kondisi-kondisi yang tampil sesudah kematian, telah dibagi oleh Alquran Suci ke dalam tiga macam. Dan ketiga makrifat Alquran mengenai alam akhirat itu kami uraikan disini secara terpisah-pisah.&lt;br /&gt;Rahasia Makrifat Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia makrifat pertama ialah, Alquran Suci berulang‑ulang mengatakan bahwa alam akhirat bukan­lah suatu barang baru, melainkan segala pemandangannya merupakan pantulan dan dampak-dampak kehidupan di dunia ini juga. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, di dunia ini juga Kami telah mengikatkan dampak amal perbuatan setiap orang pada lehernya. Dan dampak-dampak terselubung itulah yang akan Kami zahirkan pada Hari Kiamat, dan Kami akan memperlihatkan dalam bentuk sebuah daftar amal perbuatan yang telah terbuka (17:14). Di dalam ayat ini terdapat kata             thairun. Maka hendaknya jelas bahwa sebenarnya thairun itu berarti burung. Lalu secara kiasan diartikan juga sebagai amal perbuatan. Sebab, setiap amal -- yang baik maupun yang buruk -- setelah dilakukan, akan terbang seperti burung. Jerih payah ataupun kelezatan amal itu akan sirna, sedangkan kekotoran ataupun kebaikannya akan membekas di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan kaedah Alquran Suci, bahwa setiap amal terus membekaskan jejak-jejaknya secara terselubung. Bagaimanapun bentuk perbuatan manusia, sesuai dengan itu Allah Ta’ala akan memperlihatkan perbuatan-Nya. Dan perbuatan Ilahi itu tidak akan membiarkan dosa atau kebaikan tersebut menjadi sia-sia. Melainkan jejak-jejaknya akan dituliskan pada hati, wajah, mata, ta­ngan, dan kaki. Inilah yang secara terselubung merupakan suatu daftar amal perbuatan, yang akan zahir secara terbuka pada kehidupan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berkenaan dengan para penghuni surga, di tempat lain Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, pada hari itu pun cahaya keimanan yang diperoleh orang-orang mukmin secara terselubung, akan tampak berlari-lari secara terbuka, di depan dan di kanan mereka (57:13). Di tempat lain Dia berfirman kepada orang‑orang yang berbuat buruk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, keinginan dan ketamakan berlebih‑lebihan akan dunia telah merintangi kamu mencari akhirat, hingga kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah lekatkan hatimu pada dunia. Kamu segera akan mengetahui bahwa melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Sekali lagi Aku mengatakan bahwa sege­ra kamu akan mengetahui, melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Jikalau kamu memperoleh ilmu yang pasti, niscaya di dunia ini juga kamu akan melihat neraka. Kemudian di Alam Barzakh kamu akan melihat dengan penglihatan-penglihatan yang pasti. Lalu kamu akan dimintai pertanggung-jawaban sepenuhnya pada Hari Kebangkitan, dan azab dalam bentuk penuh akan menimpa dirimu. Dan bukan hanya melalui ucapan saja, melainkan melalui kondisi itu sendiri kamu akan memperoleh pengetahuan ten­tang neraka (102: 2‑9).&lt;br /&gt;Tiga Macam Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat‑ayat ini Allah Ta’ala menerangkan dengan jelas bahwa bagi orang-orang jahat di alam ini pun ada kehidupan neraka secara terselubung. Dan jika mereka memperhatikan, mereka akan melihat nerakanya masing‑masing di dunia ini juga. Dan disini Allah Ta’ala membagi ilmu dalam tiga tingkat, yak­ni: ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin dan haqqul yaqin. Agar umum memahami, berikut ini adalah contoh-contoh ketiga ilmu tersebut. Misalnya, jika seseorang melihat dari jauh kepulan asap tebal di suatu tempat, maka pikirannya menghubungkan kenyataan itu ke­pada api dan ia yakin bahwa di sana ada api, karena antara asap dan api ada hubungan yang tidak terpisahkan. Dimana ada asap disana pasti ada api. Ringkasnya, pengetahuan yang demikian dinamakan ‘ilmul yaqin. Kemudian ketika dilihatnya nyala api, maka pengetahuan demikian di­namakan ‘ainul yaqin. Dan jika ia sendiri masuk ke dalam api, pengetahu­an demikian dinamakan haqqul yaqin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Allah Ta’ala berfirman bahwa ‘ilmul yaqin tentang adanya neraka dapat diperoleh di dunia ini juga. Kemudian di Alam Barzakh akan diperoleh ‘ainul yaqin. Dan pada Hari Kebangkitan pengetahuan itu juga yang akan sampai pada tingkat sempurna, yaitu haq­qul yaqin.&lt;br /&gt;Tiga Alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini hendaknya jelas bahwa menurut ajaran Alquran ter-bukti ada tiga macam alam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Alam Pertama ialah Dunia yang dinamakan alam kasab (alam usaha) dan nisya ula (alam kejadian pertama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia inilah manusia melakukan kebaikan atau keburukan. Walaupun di alam kebangkitan akan ada kemajuan-kemajuan bagi orang‑orang yang berbuat kebaikan, tetapi itu hanyalah merupakan karunia Tuhan. Disitu tidak ada campur tangan upaya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Alam Kedua dinamakan Barzakh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kata barzakh di dalam bahasa Arab ditujukan kepada sesuatu yang ada di tengah‑tengah dua benda. Jadi dikarenakan periode itu ada di antara alam kebangkitan dan alam kejadian per­tama, untuk itulah ia dinamakan Barzakh. Akan tetapi kata ini sejak awal dan sejak dunia diciptakan telah digunakan untuk menunjukkan alam pertengahan. Oleh sebab itulah di dalam kata tersebut terselubung suatu kesaksian agung tentang adanya alam pertengahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami telah membuktikan di dalam buku Minanur‑Rahman bahwa perkataan‑perkataan bahasa Arab adalah perkataan-perkataan yang keluar dari mulut Tuhan. Dan inilah satu‑satunya bahasa di dunia yang merupakan bahasa Tuhan Yang Mahasuci; bahasa yang sudah ada sejak awal; sumber segala ilmu pengetahuan; induk segala bahasa; dan merupakan singgasana awal dan terakhir bagi wahyu Tuhan. Dikatakan sebagai singgasana awal bagi wahyu Tuhan, karena seluruh bahasa Arab merupakan Kalam Tuhan yang dari sejak awal menyertai Tuhan. Kemudian Kalam itu turun ke dunia dan dunia telah menjadikannya sebagai bahasa mereka. Dan dikatakan sebagai singgasana terakhir bagi wahyu Ilahi, karena Kitab terakhir Allah Ta’ala -- yaitu Alquran Suci -- telah diturunkan dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kata barzakh berasal dari bahasa Arab dan merupakan paduan dari kata       (zakhkha) serta              (barra), yang artinya, “Jalan upaya untuk beramal sudah berakhir dan sudah masuk ke dalam suatu kondisi yang terselubung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan barzakh adalah suatu keadaan ketika wujud manu­sia yang fana ini menjadi terurai; ruh terpisah dan tubuh pun terpisah. Sebagaimana yang tampak, tubuh dimasukkan ke dalam suatu lubang, sedangkan ruh masuk ke dalam semacam lubang juga, seperti yang terungkap dari kata zakhkha. Sebab, ruh tidak dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk seperti yang biasa dapat dilaksanakannya ketika mempunyai pertalian dengan tubuh. Adalah jelas bahwa sempurnanya kesehatan ruh bergantung pada tubuh. Akibat luka pada satu bagian tertentu di otak, maka daya ingat menjadi hilang. Dan akibat cedera pada bagian lainnya, kemampuan berpikir menjadi hilang dan segala kesadaran jadi lenyap. Dan apabila di dalam otak terjadi kekejangan, bengkak, atau penggumpalan darah, atau penggumpalan zat lain hingga timbul penyempitan bersifat sementara atau perma­nen, maka seketika itu juga dapat mengakibatkan ping­san, ayan, atau serangan lumpuh. Jadi, pengalaman kita sejak dahulu mengajarkan secara pasti bahwa ruh kita tanpa ada hubungan dengan tubuh, sama sekali tidak akan berarti. Maka amat keliru jika kita beranggapan bahwa pada waktu tertentu ruh kita secara mandiri, tanpa disertai tubuh, dapat memperoleh kebahagiaan. Jika kita mempercayainya sebagai suatu cerita, silahkan. Akan tetapi secara akal tidak ada dalilnya. Kami sama sekali tidak dapat mengerti bahwa ruh -- yang tidak berdaya akibat gangguan-gangguan kecil pada tubuh -- bagaimana mungkin pada hari itu akan berada dalam keadan sempurna, padahal hubungannya dengan tubuh diputuskan sama sekali. Tidakkah pengalaman sehari‑hari mengajarkan kepada kita bahwa untuk kesehatan ruh mutlak adanya kesehatan tubuh? Tatkala seseorang di antara kita menjadi tua‑renta, maka beriringan dengan itu ruhnya menjadi tua. Seluruh kekayaan ilmu pengetahuannya hilang termakan oleh usia lanjut. Sebagaimana Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, sesudah manusia menjadi tua, sampailah ia pada keadaan ia lupa sama sekali kepada ilmu yang pernah diperoleh-nya (22:6). Jadi, kesaksian kita ini cukup menjadi dalil atas kenyata­an bahwa ruh tanpa tubuh tidak akan bermakna sama sekali. Kemudian pemikiran ini pun menarik perhatian manusia kepada hakikat bahwa seandainya ruh tanpa tubuh merupakan sesuatu yang bermakna, maka perbuatan Tuhan tanpa alasan mengaitkan ruh dengan tubuh yang fana ini menjadi sia-sia. Dan patut pula direnungkan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan manusia untuk meraih kemajuan‑kemajuan tak terbatas. Jadi, kalau da­lam keadaan hidup singkat ini saja kemajuan-kemajuan tidak dapat dicapai tanpa keikut-sertaan tubuh, maka bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa kemajuan yang tidak terbatas dan tanpa tepi itu mampu dicapai mandiri tanpa keikut-sertaan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dari semua keterangan ini terbukti bahwa untuk ter-laksana­nya pekerjaan‑pekerjaan ruh secara sempurna, menurut prinsip-prinsip Islam, keikut-sertaan tubuh pada ruh adalah kekal. Walaupun tubuh yang fana ini sesudah mati akan terpisah dari ruh, tetapi di Alam Barzakh tiap‑tiap ruh akan mendapat suatu tubuh sementara guna mencicipi cita rasa buah amal perbuatannya. Tubuh tersebut bukanlah dari jenis tubuh ini, melainkan ia dipersiapkan dari suatu cahaya, atau ke­balikannya, dari kegelapan -- sesuai dengan keadaan amal perbuatan. Seolah‑olah di Alam Barzakh itu keadaan‑keadaan amal manusia menjalankan peranan sebagai tubuh. Demikianlah berkali‑kali disebutkan dalam Kalam Ilahi, sebagian dinyatakan tubuh cahaya dan sebagian lagi tubuh kegelapan, yang terbentuk dari cahaya amal perbuatan atau dari kegelapan amal perbuatan. Kendatipun rahasia ini amat mendalam, akan tetapi bukanlah tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang insan kamil (manusia sempurna), di dalam kehidupan ini juga dapat memperoleh suatu tubuh cahaya di samping tubuh kasar­nya. Dan di alam kasyaf banyak terdapat contoh-contohnya. Meskipun sulit memberikan pemahaman kepada orang yang akal-nya terbatas hanya pada pengetahuan lahiriah saja, namun orang-orang yang pernah mengalami sebagian alam kasyaf, mereka tidak akan heran melihat tubuh semacam itu yang dipersiapkan dari amal perbuatan. Bahkan mereka akan merasakan kelezatan dalam masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, tubuh yang diperoleh berdasarkan kondisi amal perbuatan, itulah yang akan menjadi faktor ganjaran baik dan buruk di Alam Barzakh. Saya mempunyai pengalaman dalam hal ini. Acapkali, secara kasyaf, dalam keadaan sadar, saya mendapat kesem­patan berjumpa dengan beberapa orang yang sudah meninggal dunia. Dan saya melihat tubuh beberapa orang fasik serta orang sesat demikian hitamnya sehingga seakan‑akan tubuh itu terbuat dari asap. Ringkasnya, saya secara pribadi cukup mengenal kawasan ini. Dan dengan tegas saya katakan, seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala, pasti akan demikian bahwa sesudah mati setiap orang akan men­dapat suatu tubuh, baik berupa cahaya maupun kegelapan. Adalah kekeliruan manusia jika ia ingin membuktikan makrifat yang sangat halus ini hanya de­ngan perantaraan akal belaka. Melainkan hendaknya dimaklumi, sebagaimana mata tidak dapat menyatakan cita rasa makanan manis, dan tidak pula lidah dapat melihat sesuatu, demikian pulalah ilmu‑ilmu ukhrawi yang dapat diperoleh melalui kasyaf-kasyaf suci tidak akan da­pat diraih hanya dengan melalui perantaraan akal belaka. Allah Ta’ala telah menetapkan sarana-sarana tertentu secara terpisah untuk mengetahui hal-hal yang tidak berwujud di dunia ini. Jadi, carilah tiap se­suatu melalui sarananya masing-masing, maka barulah akan kalian dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang patut diingat, bahwa Tuhan telah menamakan di dalam Kalam-Nya orang‑orang jahat dan sesat sebagai orang mati, dan menyatakan orang‑orang yang beramal saleh sebagai orang hidup. Rahasianya ialah, orang-orang yang telah melupakan Allah Ta’ala, sarana-sarana kehidupan mereka -- yang digunakan untuk memuaskan nafsu makan, minum dan syahwat -- telah terputus dan mereka tidak memperoleh makanan rohani sedikitpun. Jadi, pada hakikatnya mereka telah mati. Dan mereka akan dibangkitkan hanya untuk memikul azab bela­ka. Ke arah rahasia inilah Allah swt. mengisyaratkan, sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, barangsiapa datang kepada Tuhan dalam keadaan berdosa, baginya disediakan tempat di neraka Jahanam, di dalamnya ia tidak akan mati dan tidak pula akan hidup (20:75). Akan tetapi orang‑orang yang mencintai Allah tidak mati oleh maut, sebab minuman dan makanan mereka ada beserta mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Alam Ketiga dinamakan Alam Kebangkitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Alam Barzakh kemudian datanglah zaman yang dinama­kan Alam Kebangkitan. Pada masa itu setiap ruh -- yang baik maupun yang buruk; yang saleh maupun yang fasik -- akan mendapatkan tubuh nyata. Dan hari itu telah ditetapkan untuk penampakkan-penampakkan Tuhan seutuhnya, ketika setiap insan akan mengenali Wujud Tuhan dengan sejelas-jelasnya. Dan setiap orang akan mencapai titik akhir ganjarannya. Hendaknya jangan heran mengapa Tuhan akan berbuat demikian, sebab Dia memiliki segala kekuasaan. Apa yang dikehendaki‑Nya dikerjakan‑Nya. Se­bagaimana Dia Sendiri berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, apakah manusia tidak melihat bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air yang dimasukkan ke dalam rahim, kemudian ia menjadi seorang pembantah. Ia mulai membuat‑buat perkara mengenai Kami dan melupakan peristiwa penciptaan dirinya. Dan dia akan berkata, “Bagaimana mungkin dapat terjadi, tatkala tulang-belulang pun tidak selamat lagi maka bagaimana mungkin akan hidup kembali. Siapa pula yang mempunyai kekuasa­an demikian sehingga dapat menghidupkan-nya?” Katakanlah kepada mereka, “Yang akan menghidupkan adalah Dia yang telah menciptakannya pertama kali. Dan Dia mengetahui segala macam dan cara untuk menghidupkan. Begitu hebat perintah-Nya sehingga manakala Dia menghendaki se­suatu, Dia hanya mengatakan, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia. Jadi, Mahasuci-lah Dzat Yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepada Dia‑lah kamu sekalian akan kembali” (36: 78‑80; 82‑84). Jadi, di dalam ayat‑ayat ini Allah swt. berfirman bahwa di hadapan Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil; Dia-lah yang telah menciptakan manusia dari setetes air yang tidak berarti. Apakah Dia tidak mampu meng­hidupkan untuk kedua kalinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini dapat timbul pertanyaan dari pihak yang kurang paham. Yaitu, Alam Ketiga atau Alam Kebangkit­an akan datang sesudah jangka waktu yang amat lama. Maka dalam ke­adaan demikian bagi setiap orang yang baik dan yang buruk, Alam Barzakh merupa­kan suatu tempat tahanan dan tampak sia‑sia. Jawaban­nya adalah, pengertian demikian sama sekali keliru, yang timbul karena kekurang-pahaman belaka. Justru di dalam Kitab Allah Ta’ala terdapat dua tempat untuk ganjaran baik dan buruk. Yang pertama adalah Alam Barzakh, yang di dalamnya setiap manusia akan memperoleh ganjarannya secara terselubung. Orang-orang jahat, setelah mati akan langsung masuk ke dalam neraka. Orang-orang baik setelah mati akan langsung mendapatkan ketentraman di dalam surga. Banyak terdapat ayat‑ayat semacam itu di dalam Alquran Suci. Segera sesudah mati, setiap insan akan melihat ganjar­an atas amal perbuatannya. Sebagaimana Allah Ta’ala mengabarkan tentang seorang penghuni surga, dan berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, telah dikatakan kepadanya, “Masuklah engkau ke dalam surga” (36:27). Dan demikian pula Dia mengabarkan tentang seorang penghuni neraka, lalu berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, orang surga mempunyai teman orang neraka. Ketika keduanya meninggal, maka orang surga merasa heran, kemana kawannya pergi. Maka kepadanya diperlihatkan bahwa temannya itu berada di tengah‑tengah neraka Jahanam (37:56). Jadi, pelaksanaan ganjaran dan hukuman itu berlaku segera. Ahli neraka masuk neraka dan ahli surga masuk surga. Akan tetapi, sesu­dah itu akan datang hari lain penampakkan agung yang dizahirkan oleh hikmah agung Tuhan. Sebab, Dia telah menciptakan manusia agar Dia dikenali melalui sifat penciptaan‑Nya. Kemudian Dia akan membinasakan semuanya supaya Dia dikenali melalui sifat keperkasaan‑Nya. Dan kemudian pada suatu hari Dia akan menganugerahkan kepada semuanya suatu kehidupan sempurna, lalu akan menghimpun mereka di suatu lapangan agar Dia dikenali melalui sifat kekuasaan‑Nya. Kini hendaknya diketahui bahwa itulah rahasia makrifat pertama di antara rahasia‑rahasia makrifat tersebut di atas, yang telah diuraikan.&lt;br /&gt;Rahasia Makrifat Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia makrifat kedua mengenai Alam Ukhrawi yang telah dijelaskan Alquran ialah, segala hal yang dahulu di dunia ini bersifat rohani, disana, di dalam Alam Ukhrawi -- baik di tingkat Barzakh maupun di tingkat Alam Kebangkitan -- akan dinampakkan dalam bentuk jasmani. Berkenaan dengan ini segala sesuatu yang telah difirmankan Allah Ta’ala, satu di antaranya adalah ayat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, barangsiapa di dunia ini buta, ia di alam nanti pun akan buta (17:73). Maksud ayat ini adalah, kebutaan rohani di dunia ini akan disaksikan dan dirasakan secara jasmani di alam nanti. Demikian pula pada ayat lain Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, tangkaplah orang neraka itu. Kalungkanlah belenggu di lehernya. Lalu bakarlah dia di dalam api neraka. Kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta (69:31‑33). Hendaknya diketahui, di dalam ayat ini telah dizahirkan bahwa azab rohani dunia akan tampil secara jasmani di alam ukhrawi. Demikianlah, belenggu leher merupakan hasrat-hasrat duniawi yang telah menundukkan kepala manusia ke tanah, ia akan tampil dalam bentuk zahir di alam ukhrawi. Begitu pula rantai belenggu-belenggu dunia akan nampak melilit kaki-kaki. Dan api kobaran hasrat‑hasrat duniawi akan nampak menyala-nyala secara zahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di alam kehidupan dunia, orang fasik menyimpan suatu neraka hawa nafsu di dalam dirinya. Dan dalam kegagalan-kegagalan dia merasakan kobaran-kobaran neraka itu. Jadi, tatkala dia dijauhkan dari nafsu berahinya yang fana serta akan diliputi keputus-asaan yang abadi, maka Allah Ta’ala akan menampakkan kepadanya hasrat‑hasrat tersebut dalam bentuk api jasmani. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, akan diletakkan suatu pemisah antara mereka dengan apa­-apa yang mereka hasratkan (34:55). Dan inilah merupakan akar azab. Kemudian yang difirmankan bahwa, “Ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta,” hal ini mengisyaratkan bahwa kadang-kadang seorang fasik mencapai usia tujuh puluh tahun. Bahkan seringkali di dunia ini ia mencapai usia begitu panjang sehingga apabila dipotong masa kanak-kanak dan masa tua-renta, tetap saja ia memperoleh bagian umur bersih dan murni yang layak untuk digunakan berfikir secara bijak dan bekerja keras. Akan tetapi, orang malang itu menjalani tujuh puluh tahun kehidupannya tersebut dalam cengkeraman-cengkeraman di dunia. Dan dia tidak berkeinginan untuk lepas dari rantai itu. Jadi, di dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman bahwa masa tujuh puluh tahun yang telah dia lalui di dalam cengkeraman-cengkeraman dunia itulah yang akan dinampakkan di Alam Kebangkitan sebagai rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Tiap hasta merupakan satu tahun. Disini hendaknya diingat bahwa Allah Ta’ala dari diri-Nya sendiri tidak menimpakan suatu musibah kepada manusia, melainkan Dia memaparkan di hadapan manusia pekerjaan buruk manusia itu sendiri. Kemudian untuk menzahirkan sunnah-Nya ini Allah Ta’ala di tempat lain berfir­man:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, hai orang‑orang yang berbuat jahat dan sesat! Pergilah kamu ke tempat bernaung bercabang tiga yang tidak dapat memberi teduh dan tidak pula dapat menyelamatkan dari panas (77: 31,32). Di dalam ayat ini yang dimaksud dengan tiga cabang adalah sifat kebinatangan, kebuasan, dan kejalangan. Orang-orang yang tidak mengubah ketiga sifat ini ke dalam bentuk akhlak serta tidak mene­rapkannya pada tempat yang semestinya, maka sifat-sifat itu pada Hari Kiamat akan diwujudkan dalam bentuk tiga cabang yang berdiri tanpa ­daun-daun serta tidak dapat melindungi dari panas terik. Dan mereka akan hangus karena panasnya. Demikian pula, Allah Ta’ala untuk menzahirkan sunnah-Nya, telah berfirman mengenai orang-orang surga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, pada hari itu engkau akan melihat bahwa cahaya orang-orang mukmin -- yang selama di dunia terselubung -- akan berlari-lari secara nyata di hadapan dan di sisi kanan mereka (57:13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada sebuah ayat lainnya Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, pada hari itu beberapa wajah akan menjadi hitam dan beberapa akan menjadi putih serta bersinar-sinar (3:107).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam satu ayat lainnya Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, surga yang akan dianugerahkan kepada orang-orang mutaki adalah seibarat sebuah kebun. Di dalamnya terdapat sungai-sungai air yang tidak pernah busuk. Kemudian di dalamnya terdapat sungai-sungai susu yang rasanya tidak pernah berubah. Kemudian di dalamnya terdapat sungai-sungai arak yang menimbulkan perasaan sangat riang tapi tidak memabukkan. Lalu di dalamnya terdapat sungai-sungai madu yang sangat murni dan tidak mengandung bahan campuran (47:16). Disini dengan jelas telah difirmankan bahwa surga itu hendaknya dipahami demikian secara kiasan, bahwa di dalamnya terdapat sungai-sungai yang tak bertepi tersebut dari seluruh benda tersebut. Air kehidupan yang diminum secara rohaniah di dunia oleh orang arif, di dalam kebun itu akan terwujud secara zahir. Dan susu rohani -- yang secara rohaniah di dunia dia dibesarkan bagai bayi yang menyusu -- itu akan nampak nyata di surga. Dan arak kecintaan Ilahi -- yang dengan itu dia di dunia secara rohaniah selalu mabuk -- kini di dalam surga sungai‑sungai arak itu akan kelihatan secara nyata. Dan madu manisnya iman -- yang selama di dunia secara rohaniah masuk ke dalam mulut orang arif -- di surga akan terasa dan nampak bagai sungai-sungai yang nyata. Dan masing-masing penghuni surga, dengan sungai-sungai dan kebun-kebun miliknya, akan memperlihatkan secara terbuka taraf keadaan rohaninya. Dan Tuhan-pun pada hari itu akan tampil keluar bagi para penghuni surga dari balik tirai-tirai. Ringkasnya, keadaan‑keadaan rohani tidak akan tersembunyi la­gi, melainkan akan nampak secara jasmani.&lt;br /&gt;Rahasia Makrifat Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia makrifat ketiga ialah, kemajuan-kemajuan di Alam Ukhrawi tidak akan ada batasnya. Mengenai itu Allah Ta’ala berfir­man:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, barangsiapa memiliki cahaya iman di dunia, cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan dan di sisi kanan mereka pada Hari Kiamat. Mereka akan senantiasa berkata, “Ya Tuhan, sampaikanlah cahaya kami kepada kesempurnaan, dan tariklah kami ke dalam maghfirat (ampunan) Engkau. Engkau ber­kuasa atas segala sesuatu” (66:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat ini yang telah difirmankan bahwa mereka senantiasa akan mengatakan, “Sampaikanlah cahaya kami kepada kesempurnaan,” ini mengisyaratkan kepada kemajuan-kemaju­an yang tidak ada batasnya. Yakni, mereka akan memperoleh suatu kesempurna­an cahaya, kemudian akan nampak kesempur­naan kedua. Setelah menyaksikan hal itu, mereka akan mendapatkan bahwa kesempurnaan yang pertama tadi memiliki kekurangan. Jadi mereka akan memohon kesempurnaan yang kedua. Dan apabila itu diperoleh, maka akan zahir pula atas mereka derajat kesempurnaan yang ketiga. Kemudian setelah menyaksikan hal itu, mereka akan menganggap kesempurnaan-kesempurnaan yang terdahulu tidak berarti dan mereka berhasrat mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi. Inilah hasrat terhadap kemajuan-kemajuan yang dipahami dari kata atmim (sempurnakanlah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, seperti itulah rangkaian kemajuan tak terbatas yang akan berkesinambungan. Kemunduran tidak pernah akan ter-jadi. Dan tidak pula mereka akan pernah dikeluarkan dari dalam surga. Bahkan setiap hari mereka akan maju ke depan dan tidak akan mundur ke belakang. Dan yang telah difirmankan bahwa mereka akan senantiasa memohon pengampunan bagi diri mereka, disitu timbul pertanyaan: kalau sudah masuk ke dalam surga, mengapa pula masih ada masalah maghfirat (pengampunan)? Tatkala dosa-dosa sudah diampuni, apa pula perlunya istighfar? Jawabannya adalah, arti maghfirat yang sebenarnya ialah menekan dan menutup-nutupi keadaan cacat dan kekurangan. Jadi, para penghuni surga akan berkeinginan untuk meraih kesempurnaan yang paling lengkap serta tenggelam di dalam lautan cahaya. Setelah melihat keadaan yang kedua, mereka akan menemukan keadaan pertama tidak sempurna. Maka mereka akan berkeinginan agar keadaan pertama itu ditekan ke bawah. Kemudian setelah melihat kesempurnaan yang ketiga, mereka akan berkeinginan untuk memperoleh maghfirat bagi kesempurnaan yang kedua. Yakni, supaya keadaan yang tidak sempurna itu ditekan ke bawah dan diselubungi. Seperti itulah mereka akan terus menginginkan maghfirat yang tak terbatas. Kata maghfirat dan istighfar ini jugalah yang selalu dipaparkan oleh beberapa orang bodoh sebagai celaan terhadap Nabi kita saw. Jadi, para pemerhati disini tentu telah memahami bah­wa hasrat akan istighfar ini merupakan kebanggaan ma­nusia. Barangsiapa yang telah lahir dari rahim seorang wanita dan kemudian untuk selamanya dia tidak menjadikan istighfar sebagai adat kebiasaannya, maka dia merupakan seekor cacing, bukan manusia. Buta, tidak melihat. Kotor, tidak suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kesimpulannya adalah, berdasarkan Alquran Suci, pada hakikatnya neraka dan surga keduanya me­rupakan bayangan-bayangan dan dampak-dampak kehidupan manusia. Bukanlah benda jasmaniah baru, yang datang dari suatu tempat lain. Memang benar, bahwa keduanya itu akan diperagakan secara jasmani, akan tetapi merupakan bayangan dan dampak keadaan-keadaan rohani yang sebenarnya. Kami tidak mengakui suatu surga yang hanya secara jasmani akan ditanami pohon‑pohon di atas sebidang tanah. Dan tidak pula kami mengakui adanya suatu neraka yang di dalamnya terdapat batu‑batu belerang. Melainkan, sesuai dengan akidah Islam, surga dan neraka merupakan cerminan-cerminan amal perbuatan yang dilakukan manusia di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-8720505153898372321?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/Filsafat/MasalahKedua.htm' title='Kita Lanjutkan...Hanya Sekedar Mengingatkan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/8720505153898372321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=8720505153898372321&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8720505153898372321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8720505153898372321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2010/09/kita-lanjutkanhanya-sekedar.html' title='Kita Lanjutkan...Hanya Sekedar Mengingatkan'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJF4RXRkDZI/AAAAAAAAAXg/NMvh4RN9Ggo/s72-c/Filais+Logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-3943064297816946050</id><published>2010-09-16T08:39:00.003+07:00</published><updated>2010-09-16T11:50:33.140+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Ajaran Islam'/><title type='text'>Hanya Ingin Mengingatkan Kembali</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="172" src="http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJF1Oq6rr6I/AAAAAAAAAXY/-fu3edFboR4/s200/Filais+Logo.jpg" width="200" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #4c1130; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Saya hanya ingin mengingatkan kembali tentang suatu hal yang penting dan perlu senantiasa dikaji, sehingga kita akan semakin memahami apa itu CINTA dan DAMAI. Dalam tulisanku kali ini saya ingin mengajak kembali membuka sebuah Kitab yang pernah dituturkan oleh Orang Suci pada zaman abad 14..............&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Tentunya beliau adalah Sang Mahdi dan Masih Mau'ud salam Rasulullah saw atasnya. Kita buka: BAB&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: #e06666; font-size: large;"&gt;&lt;b style="color: blue;"&gt;MASALAH PERTAMA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #e06666; color: blue; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;KEADAAN THABI’I, AKHLAKI DAN ROHANI MANUSIA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #660000;"&gt;&lt;b&gt;Sidang yang terhormat diharap maklum bahwa pada halaman-halaman pertama karangan ini terdapat beberapa kata pendahuluan yang mungkin nampak seolah‑olah tidak ada sangkut‑pautnya dengan uraian berikut. Namun, agar jawabannya yang tepat dapat diresapi, hal itu perlu dipahami.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Agar hadirin jangan menemui kesukaran dalam memahami pokok masalah, kami lebih dahulu menyertakan beberapa patah kata pendahuluan itu untuk penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Macam Keadaan Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah dimaklumi bahwa masalah pertama ialah bertalian de­ngan keadaan‑keadaan thabi’i (pembawaan alami), akhlaki dan rohani manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketahuilah bahwa Alquran Suci, Kalam Suci Allah Ta’ala mengada­kan pembagian tiga keadaan itu demikian: bagi ketiga keadaan itu ditetapkan tiga sumber yang berlainan. Dengan perkataan lain, disebutkan tiga mata air yang daripadanya memancar keadaan‑keadaan itu secara terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan Pertama: Nafs Ammarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber pertama yang merupakan pangkal dan daripadanya tim­bul semua keadaan thabi’i manusia, Alquran Suci menamakan-nya nafs ammarah, seba­gaimana dikatakan-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, adalah ciri khas nafs ammarah bahwa ia membawa manusia kepada keburukan yang bertentangan dengan kesempurnaannya ser­ta bertolak belakang dari keadaan akhlaknya dan ia mengingin­kan manusia supaya berjalan pada jalan yang tidak baik dan buruk (12:54). *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, melangkahnya manusia ke arah pelanggaran dan keburuk­an adalah suatu keadaan yang secara alami menguasai diri­nya, sebelum ia mencapai keadaan akhlaki. Sebelum manusia melang­kah dengan dinaungi oleh akal dan makrifat (pengetahuan), keadaan ini dinamai keadaan thabi’i (pembawaan alami). Bahkan seperti halnya hewan­-hewan berkaki empat, di dalam kebiasaan mereka makan‑minum, tidur‑bangun, menunjukkan emosi dan naik darah, dan begitu juga kebiasaan‑kebiasaan lainnya, manusia ikut kepada dorongan thabi’inya. Dan manakala manusia tunduk kepada akal dan makrifat serta memperhatikan timbang rasa, maka saat itu keadaan ketiga tersebut tidak lagi dinamakan keadaan-keadaan thabi’i, melainkan saat itu keadaan-keadaan ini disebut keada­an-keadaan akhlaki, yang mengenainya akan diterangkan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan Kedua: Nafs Lawwamah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Terjemahan ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya merupakan terjemahan tafsiriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Alquran Suci sumber keadaan akhlaki itu dinamai nafs lawwamah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam Alquran Suci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, aku bersumpah dengan nafs (jiwa) yang menyesali dirinya sendiri atas perbuatan buruk dan setiap pelanggarannya (75:3). Nafs lawwamah ini merupakan sumber kedua bagi keadaan‑keada­an manusia yang daripadanya timbul keadaan akhlaki; dan sesampai­nya ke martabat itu manusia terlepas dari keadaan yang menyerupai keadaan hewan‑hewan lainnya. Bersumpah dengan perkataan nafs lawwamah disini adalah untuk memberikan penghormatan kepadanya. Jadi, dengan meningkatnya dari keadaan nafs ammarah kepada keadaan nafs lawwamah, yang merupakan kemajuan, ia layak menerima penghormatan di sisi Allah. Dinamai lawwamah karena dia mencela manusia atas keburukannya dan tidak senang kalau manusia bertingkah-laku sewenang-wenang dalam memenuhi keinginan-keinginan thabi’i-nya dan men­jalani hidup seperti hewan-hewan berkaki empat. Bahkan ia meng­hendaki supaya manusia menghayati keadaan-keadaan yang baik ser­ta memiliki budipekerti luhur, dan dalam usaha memenuhi segala keperluan hidupnya manusia jangan sekali pun melakukan pelanggar­an, dan ia menghendaki agar perasaan‑ perasaan serta hasrat‑hasrat thabi’inya diberi penyaluran yang sesuai dengan pertimbangan akal. Jadi, karena dia menyesali tindakan yang buruk, maka ia dinamai nafs lawwamah, yaitu jiwa yang sangat menyesali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun nafs lawwamah tidak menyukai dorongan-dorongan thabi’i, bahkan selalu menyesali dirinya sendiri, akan tetapi dalam melaksana­kan kebaikan‑kebaikan ia belum dapat menguasai diri sepenuhnya. Kadang-kadang dorongan-dorongan thabi’i mengalahkannya, kemudian ia tergelincir dan jatuh. Bagaikan seorang anak kecil yang lemah, walau­pun tidak mau jatuh, namun karena lemahnya ia jatuh juga, lalu ia menyesali diri sendiri atas kelemahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, ini merupakan keadaan akhlaki bagi jiwa tatkala di dalam dirinya telah terhimpun akhlak fadhilah (budipekerti luhur) dan dia sudah jera dari kedurhakaan, akan tetapi belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan Ketiga: Nafs Muthmainnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ada sumber ketiga yang boleh dikatakan sumber keadaan‑keadaan rohani. Alquran Suci menyebut sumber ini nafs muthmainnah, sebagaimana dikatakannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, hai jiwa yang tenteram dan mendapat ketenteraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb‑mu! Kamu senang kepada‑Nya dan Dia senang kepadamu. Maka bergabunglah dengan hamba‑hamba‑Ku dan masuklah ke dalam surga‑Ku (89:28‑31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah martabat dimana jiwa manusia memperoleh najat (keselamatan/kebebasan) dari segala kelemah­an, lalu dipenuhi oleh kekuatan‑kekuatan rohaniah dan sedemikian rupa melekat jadi satu dengan Allah Ta’ala sehingga ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Laksana air mengalir dari atas ke bawah yang karena banyaknya dan tiada sesuatu yang menghambat­nya, maka air itu terjun dengan deras, begitu pula jiwa manusia tak henti‑ hentinya mengalir terus dan menjurus ke arah Tuhan. Ke arah ini-lah Allah Ta’ala mengisyaratkan, “Hai jiwa yang mendapat ketenteraman dari Tu­han! Kembalilah kepada-Nya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, di dalam hidup ini jugalah dan bukan sesudah mati, manusia menciptakan perubahan yang gilang‑gemilang. Dan di dalam dunia inilah dan bukan di tempat lain ia menemui suatu surga. Dan sebagaimana tercantum dalam ayat itu, yakni, “Kembalilah kepada Rabb-mu (yakni Sang Pemelihara),” seperti itu pula ia mendapat pemeliharaan dari Tuhan. Dan kecintaan Tuhan merupakan makanan baginya. Dari mata air pemberian kehidupan inilah ia mereguk air itu. Oleh karenanya ia terlepas dari maut, sebagaimana firman Allah Ta’ala di tempat lain dalam Alquran Suci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, barangsiapa yang membersihkan jiwa dari hasrat-hasrat duniawi, sungguh ia telah selamat dan tidak akan binasa. Akan tetapi barangsiapa yang membenamkan dirinya dalam hasrat‑hasrat duniawi, yang merupakan dorongan-dorongan thabi’i sungguh telah putus‑asalah ia dari hidup ini (91:10,11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, inilah tiga keadaan yang dengan kata lain dapat disebut keadaan‑keadaan thabi’i, akhlaki, dan rohani. Dan dikarenakan pada saat kuatnya dorongan-dorongan thabi’i menjadi sangat berbahaya dan kadang-kadang membinasakan akhlak serta kerohanian, oleh karena itu di dalam Kitab Suci Allah Ta’ala, dia dinamakan keadaan-keadaan nafs ammarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada pertanyaan, apa pengaruh Alquran Suci terhadap keadaan-keadaan thabi’i manusia, dan bimbingan apakah yang diberi­kannya dalam hal itu, serta secara amal, sampai batas manakah yang di­perkenankannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah diketahui bahwa menurut Alquran Suci keadaan-keadaan thabi’i manusia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keadaan-keadaan akhlaki serta rohaninya. Bahkan, cara manusia makan-minum pun mempengaruhi keadaan‑keadaan akhlaki dan rohani manusia. Jika keadaan-keadaan thabi’i dipergunakan sesuai dengan bimbingan-bimbingan syariat, maka sebagaimana benda apa pun yang jatuh ke dalam tambang garam akan berubah menjadi garam juga, seperti itu pula semua keadaan tersebut berubah menjadi nilai‑nilai akhlak dan memberi pengaruh yang mendalam sekali pada kerohanian. Oleh karena itu, Alquran Suci amat memperhati­kan kebersihan jasmani, tata‑tertib jasmani, dan keseimbangan jasmani dalam berusaha untuk mencapai tujuan segala ibadah, kesucian batin, ke­khusyukan, dan kerendahan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita renungkan dengan dalam maka benar sekali kan­dungan filsafat yang mengatakan bahwa tingkah laku jasmani amat besar pengaruhnya pada ruh. Sebagaimana kita saksikan perbuatan-perbuatan alami, walaupun pada lahirnya bersifat jasmani, namun tidak ayal berpengaruh pada keadaan rohani kita. Misalnya, apabila kita mulai menangis, kendatipun hanya pura‑pura serta dibuat‑buat, air mata menggugah suatu perasaan dalam hati dan hati pun ikut merasa sedih. Demikian pula, apabila kita mulai tertawa secara pura-pura dan dibuat‑buat, di dalam hati pun akan timbul rasa gem­bira. Kita saksikan juga bahwa gerakan sujud secara jasmani pun menimbulkan suatu perasaan khusyuk dan kerendahan hati dalam ruh. Sebaliknya kita saksikan pula bahwa apabila kita berjalan dengan menegakkan kepala seraya membusungkan dada, hal ini segera menimbulkan semacam rasa takabur dan tinggi hati. Dari contoh‑contoh di atas nampaklah sejelas-jelasnya bahwa gerak‑gerik jasmani tidak syak lagi mempengaruhi keadaan rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula pengalaman menyatakan kepada kita bahwa makanan yang beraneka‑ragam juga mempengaruhi kemampuan-kemampuan otak dan hati. Misalnya, silakan mengamati dengan seksama keadaan orang‑orang yang tidak pernah makan daging. Potensi keberanian mereka lambat‑laun semakin berkurang sehingga akhirnya hati mere­ka menjadi lemah dan mereka kehilangan satu kekuatan yang terpuji anugerah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian hukum kodrat * berkenaan dengan itu membuktikan bahwa di antara binatang‑binatang berkaki empat pemakan rumput, tak ada seekor pun memiliki keberanian yang sebanding dengan keberanian binatang pemakan daging. Hal ini dapat kita saksikan pula pada burung-burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kodrat = kekuasaan; kekuatan Ilahi; sifat bawaan alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, tidak dapat diragukan lagi, bahwa makanan ber­pengaruh pada akhlak. Benar, orang‑orang yang siang‑malam mengutamakan makan da­ging dan sangat kurang makan sayur‑ mayur, kurang memiliki sifat santun dan rendah hati. Sedangkan orang‑orang yang mengambil jalan tengah, mewarisi kedua sifat itu. Mengingat akan hikmah itulah Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran Suci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, makan jugalah daging dan makan jugalah makanan yang lain. Akan tetapi tiap sesuatu jangan melampaui batas agar jangan timbul pengaruh buruk pada keada­an akhlak, dan agar cara berlebihan itu jangan pula merugikan kesehatan (7:32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana perbuatan dan tingkah laku jasmani berpengaruh pada ruh, begitu pula adakalanya ruh pun berpengaruh pada tubuh. Orang yang sedang mengalami kesedihan, matanya tentu tergenang air mata, sedangkan yang bergembira, tentu akan tertawa. Makan, minum, tidur, bangun, bergerak, istirahat, mandi dan lain‑lain merupakan perbuatan alami. Segala perbuatan itu pasti mempengaruhi keadaan rohani kita. Struktur jasmani kita sangat erat hubungannya dengan perangai kemanusiaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka yang terjadi pada satu tempat di otak segera menghilangkan daya ingat, dan luka pada tempat lainnya menyebab­kan hilangnya kesadaran. Udara wabah yang beracun menjalar dengan cepat ke seluruh tubuh, kemudian memberi bekas pada hati, dan segera mengacaukan jaringan batiniah yang dengannya terkait segenap sistem akhlak. Akhirnya, dalam beberapa detik, orang itu pun mati seperti orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, penderitaan jasmani juga memperlihatkan pemandangan menakjubkan yang dengan itu terbukti bahwa antara ruh dan tubuh ter­dapat suatu pertalian demikian rupa, di luar kemampuan manusia untuk menyingkap rahasianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat Ruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dalil mengenai adanya hubungan itu ialah, apa­bila kita renungkan dengan seksama, kita akan mengetahui bahwa induk ruh justru tubuh itu juga. Sesungguhnya ruh tidak jatuh dari atas dan masuk ke dalam kandungan wanita hamil, melainkan ia adalah suatu nur (cahaya) yang justru terkandung dalam nutfah (sperma/ mani) secara tersembunyi dan semakin bercahaya seiring perkembangan tubuh (embrio). Kalam Suci Allah Ta’ala memberikan pengertian kepada kita bahwa ruh berasal dari struktur yang memang sudah terbentuk dari nut­fah di dalam rahim. Sebagaimana Dia berfirman dalam Alquran Suci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, kemudian Kami jadikan tubuh yang terwujud dalam rahim ibu, dalam bentuk lain serta menzahirkan lagi satu ciptaan lain yang dinamai ruh. Dan Tuhan Maha Beberkah serta tidak ada pencipta lain yang menyamai-Nya (23:15). Dan difirmankan bahwa, “Kami menzahirkan lagi satu ciptaan lain di dalam tubuh itu juga,” disitu terkandung rahasia yang sangat dalam tentang hakikat ruh dan juga mengisyaratkan adanya pertalian yang sangat erat antara ruh dengan tubuh. Isyarat itu mengajarkan juga kepada kita bahwa perbuatan‑perbuatan jasmani, ucapan‑ucapan, dan segala perbuatan alami manusia apabila semuanya dikerjakan untuk Allah Ta’ala dan mulai nampak di jalan-Nya, maka hal itu berkaitan dengan falsafah Ilahi ini juga. Yakni di dalam amal perbuatan yang ikhlas pun, sejak mula sudah tersembunyi suatu ruh sebagaimana tersembunyinya ruh dalam nutfah. Sema­kin berkembang amal‑amal tersebut, ruh itu semakin cemerlang. Dan, tatkala amal‑amal tersebut sudah sempurna, maka serta-merta ruh itu memancar dengan penampakkannya yang sem­purna dan memperlihatkan wujudnya sendiri dari sisi keruhannya, dan mulailah gerak kehidupan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala struktur amal‑amal itu sudah sempurna, segeralah bagaikan cahaya kilat ia mulai menampakkan sinarnya yang nyata. Itulah tahap yang mengenainya Allah Ta’ala secara kiasan berfirman di dalam Alquran Suci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, tatkala Aku telah siap membuat struktur dan telah menyelaraskan segala penzahiran manifestasinya dan Aku telah meniupkan ruh‑Ku ke dalamnya, maka rebahkanlah diri di atas tanah seraya bersujud kepadanya (15:30). Jadi, di dalam ayat tersebut terkandung isyarat bahwa apabila struktur amal-amal itu telah sempurna maka di dalam struktur tersebut bersinarlah ruh yang dilukiskan oleh Allah Ta’ala sebagai datang dari Zat‑Nya sendiri. Oleh karena struktur itu baru siap sesudah kehidupan duniawi mengalami kemusnahan, maka cahaya Ilahi yang tadinya redup, serta-merta menyala berkilauan. Dan dengan melihat keagungan Tuhan serupa ini, wajib bagi segala sesuatu untuk bersujud dan tertarik kepadanya. Maka segala sesuatu bersujud ketika melihat cahaya tersebut dan secara alami bergerak ke arah itu, kecuali iblis yang bersahabat dengan kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruh sebagai Makhluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali lagi kepada pembicaraan semula, saya jelaskan, sangatlah benar dan tepat bahwa ruh adalah suatu cahaya yang latif (halus), tumbuh dari dalam tubuh itu juga serta yang di­besarkan dalam rahim. Yang dimaksudkan dengan tercipta­nya (ruh) itu ialah, pada taraf permulaan ia tersembunyi dan tak diketahui, kemudian menjadi nampak nyata. Pada taraf permulaan, intinya sudah terkandung dalam nutfah. Tidak ragu lagi, sesuai dengan kehendak, izin serta keinginan Tuhan Samawi, ruh memiliki pertalian yang menakjubkan dengan nutfah. Dan ruh merupa­kan sebuah permata cahaya nurani yang dimiliki nutfah. Tidaklah dapat dikatakan bahwa ruh merupakan bagian dari nutfah seperti halnya bagian-bagian badan yang dimiliki tubuh. Akan tetapi, tidak pula dapat dikatakan bahwa ruh datang dari luar atau jatuh ke bumi lalu bercampur dengan bahan nutfah. Melainkan, ia tersem­bunyi di dalam nutfah seperti halnya api tersembunyi di dalam batu api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud oleh Kitab Allah, ruh tidak turun dari langit secara terpisah atau jatuh ke bumi dari angkasa, kemudian secara kebetulan berpadu dengan nutfah, lalu masuk ke dalam rahim. Betapa pun, pendapat demikian tidak dapat dibenarkan. Jika kita berpendapat seperti itu maka hukum alam menyalahkan kita. Setiap hari kita saksikan, bahwa di dalam makanan yang kotor dan basi serta di dalam borok yang kotor terdapat ribuan kuman. Pada pakaian yang kotor melekat ratusan bakteri. Di dalam perut manusia pun berkembang biak cacing-cacing keremi dan sebagai-nya. Sekarang, dapatkah kita mengata­kan bahwa mereka itu terlihat oleh seseorang datang dari luar atau turun dari langit? Jadi, yang benar ialah ruh muncul dari dalam tubuh juga. Dan berdasarkan dalil ini terbukti juga bahwa ruh adalah makhluk (yang diciptakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran Kedua bagi Ruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang maksud kami melalui uraian ini adalah -- Yang Mahakuasa, yang dengan kekuasaan sempurna, telah memunculkan ruh dari dalam tubuh juga -- agaknya Dia berkehendak agar kelahiran kedua bagi ruh pun diwujudkan melalui tubuh juga. Gerak‑gerik ruh bergantung pada gerak‑gerik tubuh kita. Ke jurusan mana kita membawa tubuh, pastilah ruh pun akan ikut serta. Oleh karena itu, menjadi kewajiban Kitab Suci Allah Ta’ala untuk memperhatikan keadaan‑keadaan thabi’i manusia. Itulah sebab-nya Alquran Suci sangat menaruh perhatian terhadap perbaikan keada­an‑keadaan thabi’i manusia dan mencantumkan petunjuk-petunjuk berkenaan dengan: tertawa, menangis, makan, minum, berpakaian, tidur, bicara, diam, kawin, membu­jang, berjalan, menetap, serta mensyaratkan mandi, dan sebagainya untuk kebersihan lahiriah. Begitu pula ketentuan-ketentuan khusus dalam keadaan sakit dan dalam keadaan sehat. Dan Alquran Suci menegaskan bahwa keadaan‑keadaan jasmani manusia berpengaruh pada keadaan‑keadaan rohani. Seandainya semua petunjuk itu ditulis secara rinci, tidak dapat saya bayangkan apakah waktu akan mengizinkan untuk menguraikan masalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan Bertahap bagi Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya merenungkan Firman Suci Allah dan memper­hatikan -- bahwa mengapa di dalam ajaran‑ajaran-Nya Dia menganugerahkan kepada manusia kaedah‑kaedah perbaik­an terhadap keadaan‑keadaan thabi’i, lalu secara perlahan-lahan mengangkat-nya ke atas dan ingin mengantarkan sampai kepada derajat tertinggi keadaan rohani -- maka nampak kepada saya bahwa kaedah‑kaedah yang mengandung nilai-nilai kebijakan itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(i) Pertama, Allah berkehendak melepaskan manusia dari cara-cara hewani dengan mengajarkan kepadanya: cara duduk, bangun, makan-minum, bercakap‑cakap dan segala macam tata-cara hidup bermasyarakat. Dan dengan menganugerahkan perbedaan nyata dari kesamaan terhadap hewan, Dia mengajarkan suatu derajat dasar keadaan akhlaki yang dapat dinamakan adab dan tata krama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ii) Lalu Dia memberikan keseimbangan pada kebiasaan-kebiasaan alami manusia yang dengan kata lain dapat disebut akhlaq razilah (akhlak rendah), sehingga dengan mencapai keseimbangan itu, ia dapat masuk ke dalam warna akhlaq fadhilah (akhlak tinggi). Akan tetapi, kedua langkah ini, pada hakikatnya sama, sebab bertalian dengan perbaikan keadaan‑keadaan thabi’i. Hanya perbedaan tinggi‑rendah sajalah yang menjadikannya dua macam. Dan Sang Maha Bijaksana telah mengemukakan tatanan akhlak dengan cara demikian se­hingga melaluinya manusia dapat maju dari akhlak rendah mencapai akhlak tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(iii) Dan selanjutnya Dia telah menetapkan tingkat kemajuan ketiga, yakni manusia tenggelam dalam kecintaan dan keridha­an Sang Maha Pencipta‑nya Yang Hakiki, serta segenap wujud­nya menjadi milik Allah. Inilah suatu tingkat yang untuk mengingatkannya, maka agama orang-orang Muslim telah diberi nama Islam. Sebab, yang disebut Islam ialah penyerahan diri secara sempurna kepada Tuhan dan tidak menyisih­kan sesuatu bagi dirinya sendiri, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, orang yang mendapat keselamatan ialah orang yang untuk Allah menyerah­kan diri bagaikan hewan korban di jalan-Nya. Dan ia menunjukkan keikhlasannya tidak hanya dengan niat saja, melainkan dengan perbuatan-perbuatan baik. Barangsiapa berbuat demikian, ganjarannya sudah ditetapkan di sisi Allah. Dan orang‑orang yang demikian, sedikit pun tidak ­takut serta tidak pula akan berduka cita (2:113). Katakanlah: “Sembahyangku, pengorbananku, hidupku, dan matiku ha­nya untuk Allah, yang sifat rabbubiyat‑Nya melingkupi segala sesuatu. Tiada sesuatu dan tiada seorang pun yang merupakan sekutu bagi-Nya, dan tidak ada makhluk yang menyekutui-Nya. Kepadaku diperintahkan agar aku berbuat demikian dan aku adalah yang paling pertama berdiri tegak di atas makna Islam, yakni yang mengorbankan diri di jalan Allah” (6:163‑164). Inilah jalan‑Ku, maka ikutilah jalan‑Ku. Dan sebaliknya jangan ­ikuti jalan lain, karena engkau nanti akan menyimpang jauh dari Allah (6:154). Katakanlah kepada mereka, “Jika kamu cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, dan berjalanlah pada jalanku supaya Allah pun cinta kepadamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Dia adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (3:32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Keadaan Thabi’i dan Keadaan Akhlaki    serta Penolakan atas Konsep Kekekalan Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kami akan menerangkan ketiga tingkat keadaan manu­sia itu satu demi satu. Akan tetapi, pertama-tama perlu diingatkan bahwa, menurut isyarah-isyarah Kalam Suci Allah Ta’ala, keadaan thabi’i (alami) manusia yang bersumber dan berpangkal dari nafs ammarah itu, bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan‑keadaan akhlaki. Sebab Kalam Suci Allah telah menempatkan semua kekuatan alami, keinginan‑keinginan, serta dorongan-dorongan jasmani sebagai keadaan-keadaan thabi’i. Dan keadaan‑keadaan thabi’i -- yang secara sadar dilakukan dengan teratur, seimbang dan sesuai dengan kesempatan serta keadaan -- akan mengambil warna akhlak. Begitu pula keadaan-keadaan akhlaki bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan rohani. Justru keadaan‑keadaan akhlaki itu jugalah yang akan mengambil warna kerohanian dengan cara meleburkan diri sepenuhnya pada Allah; mensucikan diri; memutuskan segala hubungan hanya untuk melekatkan diri kepada Allah; serta dengan penuh kecintaan, penuh kemabukan, penuh ketenangan, penuh ketenteraman, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Selama keadaan‑keadaan thabi’i tidak beralih ke dalam warna akhlak, selama itu manusia tidak layak mendapat pujian. Sebab, keadaan itu terdapat juga di kalangan hewan lain, bahkan pada tumbuh‑tumbuhan. Begitu pula dengan hanya memiliki akhlak saja, tidak dapat menganugerahi manusia kehidupan rohani. Bahkan seorang yang mengingkari adanya Wujud Allah Ta’ala sekali pun dapat memperlihatkan akhlak yang baik. Kerendahan hati atau kehalusan budi atau suka damai, meninggalkan kejahatan dan tidak memperdulikan orang‑orang bejad, semua itu adalah keadaan‑keadaan thabi’i. Dan semua sifat itu dapat juga dimiliki oleh seorang yang rendah, yang tidak mengenal sumber najat (keselamatan) yang sebenarnya. Banyak juga binatang berkaki empat yang rendah hati, jika diganggu dan disakiti mereka cenderung menampakkan sikap damai. Bila mereka tidur, dipukuli dengan tongkat, mereka tidak melawan. Namun walau demikian mereka tidak dapat disebut manusia. Apalagi dengan sifat-sifat itu bagaimana mungkin mereka akan dapat menjadi manusia yang tinggi martabat­nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula seorang penganut prinsip paling buruk sekalipun, bahkan juga pelaku berbagai kejahatan, dapat memiliki sifat‑sifat semacam itu. Mungkin saja seorang manusia dalam hal kasih sayang mencapai batas sedemikian rupa, sehingga ia tidak tega membunuh kuman-kuman yang ada pada lukanya. Ia begitu tolerannya terhadap makhluk-makhluk hidup, sehingga ia tidak ingin mencelakakan kutu‑kutu yang ada di kepala atau kuman-kuman yang terdapat dalam perut, dalam usus atau dalam otak. Bahkan dapat saya akui bahwa ada orang yang demikian jauhnya mempunyai rasa kasih sayang sehingga ia berpantang minum madu. Sebab untuk memperoleh madu itu banyak nyawa harus dibinasakan dan lebah-lebah malang itu harus diusir dari sarang-nya. Saya percaya ada orang yang berpantang menggunakan minyak kesturi, sebab terbuat dari darah kijang 1) yang diperoleh dengan membunuh binatang malang itu terlebih dahulu dan memisahkan dari anak-anaknya. Begitu pula saya tidak menyangkal, ada orang yang tidak mau menggunakan mutiara dan tidak mau mem­akai sutera, sebab keduanya diperoleh dengan cara membinasakan hewan-hewan malang itu. Bahkan saya percaya, ada orang yang ketika sakit berpantang menggunakan lintah 2) dan membiarkan dirinya sendiri men­derita asal tidak membuat lintah itu mati. Pada akhirnya, ada yang mau mengakui ataupun tidak, namun saya mengakui bahwa ada orang yang memperlihatkan kasih sayang demikian besar sehingga untuk menyelamatkan kutu‑kutu air, ia rela membinasakan dirinya (dengan pantang minum air, Peny.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Kijang ini dari jenis tertentu, karena tidak semua kijang mengandung bahan kesturi. Dan dari jenis tertentu ini hanya kijang betina baru beranak yang mengandung kesturi. (Peny).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Pengobatan tradisional menggunakan lintah untuk mengisap darah si pasien. (Peny).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akui semua hal itu, akan tetapi saya sekali‑kali tidak dapat menerima bahwa semua keadaan thabi’i itu dapat disebut akhlak. Atau, bahwa hanya dengan itu saja dapat dibersihkan kekotoran batin yang merintangi jalan untuk berjumpa dengan Wujud Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sekali-kali tidak akan percaya bahwa kerendahan hati dan sikap toleran seperti itu -- yang mana beberapa hewan berkaki empat dan unggas pun lebih baik dalam perkara tersebut -- dapat menjadi faktor untuk meraih derajat kemanusiaan yang tinggi. Bahkan, menurut saya, itu adalah menentang hukum kodrat; berlawanan dengan akhlak mulia guna mendapatkan keridhaan Allah; dan mengingkari nikmat yang telah dilimpahkan kodrat kepada kita. Justru tingkat kerohanian itu sebenarnya diperoleh melalui penggunaan setiap akhlak yang tepat menurut keadaan serta kesempatan, dan dengan melangkah secara setia pada jalan Allah, serta menyerahkan diri kepada kehendak‑Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pun tanda orang yang menjadi milik-Nya, ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Seorang arif adalah seekor ikan yang telah disembelih dengan tangan Tuhan, sedangkan airnya adalah kecintaan Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Cara Perbaikan dan Diutusnya Rasulullah saw.        ketika Perbaikan sangat Diperlukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya kembali pada pembahasan semula. Saya baru saja menyebutkan bahwa ada tiga buah sumber keadaan‑keadaan manusia, yaitu: nafs ammarah, nafs lawwamah, dan nafs muthma’innah. Sedangkan cara perbaikan (ishlah) pun ada tiga macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pertama ialah, menegakkan orang‑orang biadab yang tidak mengenal sopan-santun, pada akhlak rendah/dasar. Yaitu, supaya mereka mengikuti tata-cara manusiawi dalam hal makan‑ minum, kawin, dan lainnya yang berhubungan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Tidak telanjang kesana-kemari; tidak memakan bangkai seperti anjing; dan tidak memper­lihatkan sesuatu perbuatan lain yang tidak sopan. Ini merupakan perbaikan dasar di antara perbaikan keadaan‑keadaan thabi’i. Ini adalah semacam perbaikan yang umpamanya jika ingin mengajarkan tata-cara manusia­wi kepada salah seorang di antara orang‑orang biadab di Port Blair, 3) maka pertama‑tama kepada mereka diajarkan adab sopan-santun dan akhlak-akhlak dasar manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kedua untuk perbaikan ialah, apabila orang itu sudah menguasai adab sopan-santun manusiawi secara zahir, maka kepadanya hendaklah diajarkan akhlak-akhlak manusiawi yang tinggi, serta mengajarkannya supaya menggunakan segala potensi insaniah yang ada, agar diterapkan pada ke­adaan dan kesempatan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara ketiga untuk perbaikan ialah, orang‑orang yang telah memiliki akhlak tinggi, kepada orang-orang zahid (saleh) seperti ini dicicipkan kelezatan serbat kecintaan dan perjumpaan (Ilahi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tiga perbaikan yang telah diterangkan oleh Alquran Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan junjungan kita Sayyidina Muhammad Mustafa saw. telah diutus pada zaman ketika dunia mengalami kerusakan dan kebinasaan dalam segala segi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, daratan telah binasa dan lautan pun binasa (30:42). Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang disebut ahlulkitab telah rusak,  begitu pula orang-orang lain yang tidak pernah menerima siraman air wahyu juga telah rusak. Jadi, tugas yang diemban Alquran Suci pada hakikatnya ialah menghidupkan orang-orang mati, sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Port Blair adalah sebuah tempat di kepulauan Andaman yang di masa penjajahan Inggris dipakai tempat pengasingan orang‑orang jahat dari India. (Peny.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, ketahuilah bahwa Allah Ta’ala sekarang menghidupkan bumi kembali sesudah matinya (57:18). Pada zaman itu keadaan di Arab telah mencapai puncak kebiadaban, dan dikalangan mereka sudah tidak tersisa lagi suatu tatanan manusiawi. Dan segala bentuk kemaksiatan, pada pandangan mereka merupakan suatu kebanggaan. Masing-masing orang memiliki ratusan perempuan sebagai istri. Makan barang haram merupakan suatu kecanduan menurut mereka. Menikahi ibu kandung sen­diri mereka anggap halal. Untuk itulah terpaksa Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, semenjak sekarang ibu-ibumu diharamkan bagi kalian (4:24). Begitu pula mereka biasa makan bangkai, juga makan daging manusia. Tiada perbuatan dosa di dunia ini yang tidak mereka lakukan. Kebanyakan mereka mengingkari Hari Kemudian. Banyak di antara mereka yang juga tidak mengakui adanya Wujud Tuhan. Mereka biasa membunuh anakanak perempuan mereka dengan tangan mereka sen­diri. Mereka membunuh anakanak yatim lalu memakan harta kekayaannya. Secara lahiriah mereka manusia, akan tetapi akal mereka mati. Tidak punya sifat hayya, malu dan tidak pula harga diri. Mereka biasa minum minuman keras seperti minum air. Siapa yang unggul berbuat zina, dialah yang disebut pe­mimpin kaum. Demikian kosongnya mereka dari ilmu, sehingga segenap kaum di sekitarnya menjuluki mereka ummi (buta huruf). Pada zaman demikian serta untuk memperbaiki kaum-kaum serupa itulah Junjungan kita Nabi Muhammad saw. telah diutus di kota Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, tiga macam perbaikan yang baru saya terangkan. Pada hakikatnya memang itulah zamannya. Jadi, dibandingkan dengan semua ajaran lain di dunia, Alquran Suci mendakwakan diri sebagai yang paling sempurna dan paling lengkap. Sebab kitab‑kitab lain di dunia ini tidak mendapat kesempatan melaksanakan ketiga macam perbaikan itu, sedangkan Alquran Suci telah memperolehnya. Dan tujuan Alquran Suci ialah membuat hewan menjadi manusia, dan dari manusia itu membuat manusia-manusia berakhlak, lalu dari manusia-manusia berakhlak membuat manusia-manusia yang berTuhan. Untuk itulah Alquran Suci mengandung ketiga masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Pokok Ajaran Alquran adalah Ketiga Perbaikan &amp;amp; Keadaan Thabi’i dapat menjadi Akhlak melalui Penyelarasan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya menerangkan ketiga perbaikan itu secara rinci, kami merasa perlu menjelaskan bahwa di dalam Alquran Suci tidak ada suatu ajaran yang harus dipercayai secara paksa. Justru tujuan seluruh Alquran hanyalah ketiga perbaikan itu. Dan intisari semua ajarannya adalah ketiga perbaikan tersebut. Sedangkan segenap peraturan lainnya merupakan sarana-sarana untuk perbaikan itu. Seperti halnya seorang dokter yang dalam usahanya memulihkan kembali kesehatan pasiennya, sewaktu‑waktu perlu melakukan pembedahan dan kadang‑kadang hanya mengoleskan salep; demikian pula ajaran Alquran, solidaritasnya terhadap umat manusia, telah melakukan tindakan-tindakan seperti itu sesuai dengan kondisi masing-masing. Maksud sebenarnya semua ajaran makrifat —yakni ilmu-ilmu, nasihat dan sarana-sarana lainnya --ialah mengantarkan umat manusia dari keadaan‑keadaan thabi’i yang memiliki corak biadab, kepada keadaan-keadaan akhlaki. Dan kemudian mengantarkannya dari keadaan-keadaan akhlaki hingga ke samudera kerohanian yang tiada bertepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya telah kami terangkan bahwa keadaan‑keadaan thabi’i bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan‑keadaan akhlaki, melainkan keadaan‑keadaan itu jugalah yang bila diterapkan sesuai pertimbangan akal dan tempat serta kesempatan yang tepat, dengan cara yang semestinya, akan mengambil corak keadaan‑keadaan akhlaki. Selama hal itu tidak dilakukan berdasarkan perbaikan dan pertimbangan akal serta makrifat -- tidak perduli betapa pun hal itu sangat menyerupai akhlak -- pada hakikatnya itu bukanlah akhlak, melainkan hanya merupakan dorongan naluri yang mengalir tanpa kendali. Seperti halnya jika seekor anjing atau seekor kambing yang menampakkan kecintaan atau kepatuhan pada majikannya, maka kita tidak akan mengatakan anjing itu berakhlak, dan tidak pula akan menyebut kambing itu beradab. Demikian pula kita tidak akan mengatakan serigala atau singa berakhlak buruk karena faktor kebuasannya. Melainkan, sebagaimana telah disebutkan, keadaan akhlaki itu mulai berlaku setelah bertindak sesuai dengan keadaan, pertimbangan akal dan ketepatan waktu. Dan orang yang tidak menggunakan akal serta pikirannya, adalah seperti bayi-bayi yang hati serta akalnya belum dinaungi daya pikir, atau seperti orang gila yang kehilangan akal dan kebijakan. Jelaslah bahwa seorang bayi atau orang gila, kadang‑kadang memperlihatkan tingkah-laku yang nampaknya seper­ti akhlak, akan tetapi tiada orang arif yang dapat menamakan-nya akhlak. Sebab, tingkah laku tersebut tidak terbit dari sumber penalaran dan pertim­bangan suasana, melainkan timbul secara alami oleh rangsangan-rangsangan. Misalnya bayi manusia, begitu lahir serta‑merta ia mencari buah dada ibunya. Dan anak ayam begitu menetas langsung lari untuk mematuk biji‑bijian. Anak lintah mewarisi kebiasaan lintah, anak ular menampakkan kebiasaan-kebiasaan ular, dan anak singa memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan singa. Hendaknya diperhatikan, khususnya keadaan anak manusia, bagaimana dia begitu lahir langsung memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan manusia. Dan tatkala ia telah mencapai usia satu sampai satu setengah tahun, maka kebiasaan‑kebiasaan thabi’inya nampak sangat nyata. Misalnya, sebagaimana ia menangis pada masa-masa awal, kini ia menangis lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya. Begitu pula senyumnya berubah menjadi tertawa terbahak‑bahak. Matanya pun memperlihatkan tanda bahwa ia mulai melihat dengan sengaja. Pada usia ini timbul pula suatu gejala alami lainnya, yaitu mem­perlihatkan suka atau tidak sukanya melalui gerak‑gerik, dan ia ingin memukul atau ingin memberi sesuatu kepada orang lain. Akan tetapi semua gerak-gerik ini sesungguhnya hal-hal alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seperti halnya bayi tadi, ada juga manusia biadab yang sedikit sekali memiliki nalar manusiawi. Dia pun hanya sekedar memperlihatkan gerakan-gerakan alami dalam setiap ucapan, perbuatan, gerak dan diamnya. Dan dia mengikuti gejolak-gejolak alaminya. Tiada suatu perkara timbul daripadanya yang merupakan hasil pikiran dan pertimbangan kekuatan batin, me­lainkan segala sesuatu yang timbul dari dalam dirinya secara alami terus mengalir berdasarkan rangsangan-rangsangan dari luar. Mungkin saja gejolak-gejolak alami yang keluar dari dalam dirinya akibat suatu rangsangan, tidak semuanya buruk. Bahkan di antaranya ada yang menyerupai akhlak baik. Akan tetapi di dalamnya tidak terdapat campur tangan pemikiran dan pertimbangan akal. Kalau pun ada campur tangan akal dan pikiran dalam kadar tertentu, dikarenakan gejolak-gejolak alami lebih dominan, maka hal itu tidak layak dipercaya. Justru sesuatu yang lebih dominanlah yang dianggap dapat dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak Sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, kita tidak dapat menyebutkan bahwa orang-orang yang di­kuasai unsur-unsur alami -- seperti hewan, anakanak dan orang-orang gila itu, dan yang cara hidupnya hampir‑hampir menyerupai orang biadab semacam itu -- memiliki akhlak sejati. Melainkan pada hakikatnya, berlaku­nya masa akhlak baik atau akhlak buruk ialah semenjak akal manusia, yang merupakan anugerah Tuhan, telah ma­tang. Dan dengan perantaraan akal itu ia dapat membedakan kebaikan dan keburukan, atau membedakan dua kebaikan dari dua keburukan dalam derajatnya. Kemudian, dengan meninggalkan jalan kebaikan, timbullah di dalam hatinya suatu penyesalan atas perbuatan buruknya. Itu­lah masa kedua dalam kehidupan manusia, yang di dalam Kalam Suci Allah, Alquran Suci, diungkapkan dengan nama nafs lawwamah. Akan tetapi, hendaknya diperhatikan bahwa untuk mengantarkan seorang biadab sampai kepada keadaan nafs lawwamah tidaklah cukup dengan sekedar memberi nasihat saja. Melainkan adalah mutlak baginya untuk memiliki pengetahuan tentang Tuhan, yang dengan itu ia tidak akan beranggapan bahwa kelahirannya sia‑sia dan tidak mem­punyai suatu maksud, sehingga dengan makrifat Ilahi itu timbul pada dirinya akhlak sejati. Oleh karenanya, Allah Ta’ala bersamaan dengan itu menekankan masalah makrifat Tuhan yang sejati, dan Dia memberi keyakinan bahwa di dalam setiap amal serta akhlak terkandung suatu konsekuensi yang dapat mengakibatkan kelezatan rohani atau pun siksaan rohani di dalam hidupnya; dan yang akan menampakkan dampak-dampaknya secara nyata di dalam kehidupan kedua (akhirat). Pendeknya, pada derajat nafs lawwamah manusia sudah sedemi­kian rupa memiliki akal, makrifat, dan hati nurani yang suci sehingga ia menyesali dirinya sendiri apabila melakukan perbuatan buruk, lalu mendambakan dan menghasratkan perbuatan yang baik. Pada derajat itulah manusia memperoleh akhlak fadhilah (budipekerti luhur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalq dan Khulq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tempat ini ada baiknya jika saya juga menjelaskan definisi kata khulq dalam kadar tertentu. Hendaknya dimaklumi bahwa khalq        (      ) dengan tanda fatah di atas huruf kha (   ) merupakan nama dari penciptaan/kelahiran lahiriah. Sedangkan khulq (     ) dengan tanda dhammah (   ) di atas huruf kha (   ) merupakan nama dari penciptaan/kelahiran batiniah. Dikarenakan penciptaan/kelahiran batiniah baru akan mencapai kesempurnaan hanya melalui akhlak, bukan melalui gejolak-gejolak alami, oleh sebab itulah kata khulq dipakai untuk akhlak dan tidak digunakan untuk gejolak-gejolak alami. Lalu, patut diterangkan juga, sudah merupakan anggapan umum bahwa khulq itu hanya merupakan kelemah-lembutan, kehalusan dan kerendahan hati saja. Padahal, sebanding dengan anggota tubuh lahiriah, segala bentuk kelebihan manusiawi yang telah ditanamkan di dalam batin, kesemuanya itu dinamakan khulq. Misalnya, orang menangis melalui mata, dan seiring dengan itu di dalam hatinya terdapat rasa haru. Apabila itu digunakan pada tempatnya, melalui akal anugerah Tuhan, maka ia merupakan suatu khulq (akhlak). Begitu pula manusia melawan musuh dengan tangan, dan se­jalan dengan gerakan itu di dalam hati timbul suatu kekuatan yang disebut keberanian. Jadi, apabila manusia menggunakan kekuatan tersebut sesuai dengan tempat dan keadaan, itu pun di­namakan khulq. Demikian pula kadang-kadang manusia dengan tangan­nya ingin menyela­matkan orang‑orang teraniaya dari orang-orang zalim. Atau, ia ingin memberikan sesuatu kepada orang miskin dan orang‑orang lapar, atau dengan cara lain ingin mengkhidmati umat manusia. Dan sejalan dengan gerakan itu di dalam hatinya timbul suatu kekuatan yang disebut kasih sayang. Dan kadang‑kadang manusia memberi hukuman dengan tangannya kepada orang zalim, dan bersesuaian dengan itu di dalam hatinya terdapat suatu kekuatan yang disebut pembalasan. Kadang‑kadang manusia tidak ingin membalas serangan dengan serangan, dan membiarkan saja per­buatan zalim itu. Seiring dengan gerakan tersebut di dalam hatinya ter­dapat suatu kekuataan yang disebut maaf dan sabar. Dan kadang‑kadang manusia ingin membantu sesamanya dengan menggunakan tangan atau kakinya, perasaan dan pikirannya, serta membelanjakan harta bendanya untuk kesejahteraan mereka, maka sejalan dengan gerakan itu terdapat di dalam hatinya suatu kekuatan yang disebut kedermawanan. Pendeknya, apabila manusia menggunakan semua kekuatan sesuai dengan tempat dan keadaan, maka pada waktu itu kekuatan-kekuatan tersebut dinamakan khulq (akhlak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, engkau menempati khulq yang agung (68:5). Jadi, sesuai penjelasan itu, artinya adalah: “Segala macam akhlak --kedermawanan, keberanian, keadilan, kasih-sayang, baik hati, lurus hati, tabah hati, dan sebagainya -- terhimpun di dalam diri engkau (Rasulul­lah saw.).” Ringkasnya, sekian banyak kekuatan yang terdapat di dalam hati manusia -- seperti sopan, malu, jujur, sayang, harga diri, teguh, pembatasan diri/suci, bersih hati, keseimbangan, setia kawan, demikian pula keberanian, kedermawanan, maaf, sabar, baik hati, lurus hati, setia, dan sebagainya -- apabila semua keadaan thabi’i ini ditampilkan sesuai dengan tempat dan kesempatan, serta mengikutkan pertimbangan akal dan pikiran, maka semuanya akan dinamakan akhlak. Semua akhlak ini pada hakikatnya merupakan keadaan‑keadaan thabi’i serta gejolak-gejolak alami manusia, dan mereka baru dapat disebut akhlak apabila digunakan dengan sengaja, sesuai tempat dan keadaan. Dikarenakan pada potensi-potensi alami manusia terdapat suatu potensi sebagai makhluk hidup yang maju, maka dengan menganut agama yang benar; dengan berkumpul bersama orang-orang baik; dan dengan ajaran yang suci, maka gejolak-gejolak alami semacam itu dapat diubahnya menjadi akhlak. Dan hal ini tidak dimiliki oleh makhluk bernyawa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbaikan Pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan-keadaan Thabi’i Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kami akan membahas perbaikan pertama, berkaitan dengan keadaan-keadaan thabi’i (alami) yang paling rendah, salah satu di antara tiga per­baikan dari Alquran Suci. Perbaikan ini merupakan salah satu bagian dari akhlak yang disebut adab (sopan santun). Yakni, adab yang dengan menerapkannya, orang‑orang biadab dapat menjadi seimbang/normal dalam perkara-perkara alami: makan, minum, kawin dan tata cara peradaban lainnya serta melepaskannya dari kehidupan liar bagaikan hewan berkaki empat atau binatang buas. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Alquran Suci berkenaan de­ngan seluruh adab itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemah: yakni, diharamkan atas kamu (mengawini) ibu‑ ibumu, demikian pula anakanak perempuanmu, saudara‑saudara perempuanmu, saudara‑saudara perempuan bapakmu, saudara‑ saudara perempuan ibumu, anak anak perempuan saudara laki‑ lakimu dan anakanak perempuan saudara perempuanmu dan ibu‑ ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan sepesusuanmu, ibu‑ibu istri-istrimu, dan anakanak tiri perempuan dari istri‑istrimu yang telah kamu gauli, dan apabila kamu belum menggauli­ mereka, maka tidak ada dosa bagimu. Dan istri‑istri anakanak lelaki dari sulbimu dan begitu pula dua saudara perempuan pada satu waktu. Semua hal yang sudah biasa kamu lakukan di masa lampau itu sekarang diharamkan atasmu (4:24). Ini pun tidak dibenar­kan bagimu mengambil warisan perempuan-perempuan dengan jalan paksa (4:20). Dan ini pun tidak dibenarkan bagimu mengawini perempuan‑perempuan yang pernah menjadi istri‑istri bapakmu kecuali yang telah terjadi pada masa lampau (4:23). Perempuan‑perempuan yang memelihara kehormatan mereka dari antara kamu atau dari antara Ahli Kitab yang terdahulu, dihalal­kan bagimu untuk mengawini mereka sesudah mas kawin mereka ditetapkan. Berbuat zina dan mempunyai perempuan‑perempuan piaraan tidak dibenarkan (5:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan orang jahil Arab, jika seseorang tidak mempunyai anak, terdapat adat kebiasaan di antara mereka menyuruh istri‑istri mereka digauli orang lain untuk memperoleh anak. Alquran Suci mengharamkan perbuatan itu. Kebiasaan buruk itu disebut musafahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Dia berfirman: Janganlah kamu bunuh diri (4:30). Janganlah membunuh anakanakmu (6:152). Janganlah kamu memasuki rumah orang lain tanpa izin seperti orang biadab; meminta izin adalah syarat. Pada saat kamu me­masuki rumah orang lain ucapkanlah, “Assalamu’alaikum”.... Dan apabila tidak ada siapa‑siapa di dalam rumah itu, sebelum kamu diizinkan oleh penghuni rumah, kamu jangan memasuki rumah itu. Dan apabila penghuni rumah berkata kepadamu, “Pulang sajalah,” maka pulanglah kamu (24:28,29). Dan janganlah kamu memasuki rumah dengan melompati pagar­nya, melainkan hendaknya kamu memasukinya dari pintu-pintunya (2:190). Dan kalau ada seseorang memberi salam kepadamu, hendaknya kamu membalas salam kepadanya dengan cara yang lebih baik (4:87). Dan minuman keras, berjudi, menyembah berhala, dan panah undian, semua itu adalah pekerjaan kotor dan pekerja­an syaitan. Maka jauhilah pekerjaan‑pekerjaan itu (5:91). Janganlah kamu makan bangkai; jangan makan daging babi, jangan makan sesajen‑sesa­jen yang dipersembahkan bagi berhala‑berhala, jangan makan binatang yang dibunuh dengan tongkat; jangan makan binatang yang mati karena terjatuh, jangan makan binatang yang mati karena ditanduk; jangan makan binatang yang mati diterkam binatang buas; jangan makan binatang yang disembelih untuk berhala. Sebab, se­muanya itu termasuk bangkai (5:4). Dan jika orang-orang ini bertanya, “Lalu, apa yang harus kami ma­kan?” Maka jawablah, “Makan segala barang yang bersih di dunia ini, hanya janganlah kamu memakan bangkai dan yang se­bangsa bangkai, dan benda-benda yang kotor” (5:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila di dalam acara-acara pertemuan dikatakan kepadamu, “Geserlah dudukmu,” yakni berilah orang lain tempat, maka segeralah lapang­kan tempat agar orang lain dapat duduk. Dan kalau dikatakan, “Berdirilah,” maka berdirilah tanpa bersungut‑ sungut (58:12). Boleh saja kamu makan daging, kacang‑kacangan dan segala ma­kanan lainnya yang bersih, akan tetapi janganlah kamu berlebihan terhadap satu jenis makanan saja, dan hindarilah diri dari hal-hal yang berlebih‑lebihan (7:32). Janganlah berbicara yang sia‑sia, tetapi berbicara­lah tepat sesuai dengan keadaan dan tempat (33:71). Peliharalah pakaianmu agar tetap bersih. Singkirkanlah kotor­an dan najis dari badan, rumah, jalan dan dari se­tiap tempat kediamanmu; yakni dengan jalan membiasakan man­di dan membersihkan rumah‑rumahmu (74:5,6). Janganlah berjalan terlampau cepat dan jangan pula terlampau lambat. Hendaknya sedang‑sedang sajalah. Dan jangan ter­lampau keras suaramu, jangan pula terlalu lemah (31:20). Apabila kamu hendak mengatakan perjalanan, maka persiapkanlah perjalananmu dari segala segi dan bawalah bekal dengan cukup, agar kamu terhindar dari meminta‑minta (2:198). Dalam keadaan junub hendaknya kamu mandi (5:7). Ketika kamu sedang makan, berikan jugalah kepada peminta‑minta, begitu juga kepada anjing, burung dan lain‑lain (51:20). Jika ada kelapangan, tiada salahnya kamu mengawini anakanak perempuan yatim yang ada di bawah asuhanmu. Akan tetapi jika kamu menimbang bahwa disebabkan mereka tidak berahli-waris mungkin kamu akan berlaku aniaya terhadap mereka, maka kawinilah perempuan‑perem­puan yang masih mempunyai ibu-bapak serta kerabat yang meng­hormati kamu dan kamu menyegani mereka. Kamu dapat mengawini satu, dua, tiga sampai empat dengan syarat kamu harus berlaku adil. Dan apabila kamu tidak dapat berlaku adil, maka seorang pun memadailah, walau sangat diperlukan. Penetapan batas bilangan empat ialah untuk menjaga agar kamu jangan berlebih-lebihan mengikuti kebiasaan lama, yaitu mengawini perempuan sampai beratus‑ratus jumlahnya. Atau supaya kamu jangan cenderung berbuat zina (4:4). Dan berikanlah kepada istri‑istrimu maskawin (4:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, inilah perbaikan pertama dari Alquran Suci. Di dalamnya keadaan-keadaan alami manusia ditarik ke luar dari cara-cara yang biadab, lalu mengarahkannya kepada unsur-unsur manusiawi yang lazim dan kepada peradaban. Di dalam ajaran ini belum lagi disinggung tentang akhlak luhur, hanya mengenai adab manusiawi saja. Dan telah kami tuliskan bahwa ajaran ini diperlukan adalah karena bangsa yang untuk memperbaikinya Rasulullah saw. telah diutus, merupakan bangsa yang paling biadab dari segenap bangsa lainya. Dari segala segi, mereka tidak memiliki tata-cara manusiawi. Jadi, kepada mereka perlu diajarkan lebih dahulu adab manusiawi yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya Babi      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang patut diingat disini ialah babi yang telah diharamkan. Tuhan semenjak awal telah mengisyaratkan keharaman itu di dalam namanya sendiri. Sebab, kata khinzir (babi) adalah paduan dari kata‑kata khinz dan ar, yang berarti, “Saya lihat dia sangat rusak dan buruk.” Kata khinz berarti “sangat rusak” dan ar berarti “saya lihat.” Pendeknya, nama binatang ini, yang diperolehnya dari Tuhan semenjak awal, itu pun menunjukkan keburukannya. Suatu kebetulan yang menakjubkan bahwa dalam bahasa Hindi binatang ini dinamakan suar. Kata itu paduan dari kata su’ dan ar, yang artinya “Saya lihat dia sangat buruk.” Jangan heran mengapa kata su’ itu berasal dari bahasa Arab, sebab di dalam kitab kami Minan‑ur‑Rahman kami telah membuktikan bahwa ibu segala bahasa adalah bahasa Arab, dan per­kataan bahasa Arab tidak hanya satu-dua buah terdapat dalam tiap‑tiap bahasa, melainkan ribuan. Jadi, suar adalah kata bahasa Arab. Oleh karena itu, terjemahan kata suar dalam bahasa Hindi ada­lah buruk. Ringkasnya, binatang itu disebut buruk. Dalam hal ini tidak ada suatu keraguan pun bahwa pada zaman ketika bahasa seluruh dunia adalah bahasa Arab, di negeri ini (Hindus­tan) binatang itu dikenal dengan nama yang searti dengan kata khinzir dalam bahasa Arab, dan kemudian masih berlaku sampai sekarang sebagai peninggalan. Ya, mungkin saja dalam bahasa Sansekerta terdapat kata yang mirip dengan itu telah mengalami perubahan, kemudian bentuknya menjadi lain. Akan tetapi, inilah kata yang benar, sebab dia mengandung makna demikian, dan kata khinzir merupakan saksi yang berbicara sendiri atas hal itu. Adapun arti kata tersebut  -- yakni sangat rusak -- tidak memerlukan penjelasan lebih dalam. Siapa yang tidak tahu bahwa binatang ini paling hebat dalam hal makan kotoran dan juga tidak punya malu serta dayyus 4). Sekarang nyatalah penyebab mengapa ia diharamkan, yaitu menurut hukum alam, daging binatang yang kotor dan buruk, juga berpengaruh buruk pada badan dan ruh. Sebab telah kami buktikan bahwa makanan juga pasti berpengaruh pada ruh manusia. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa yang buruk itu juga memberikan pengaruh buruk. Tabib‑tabib Yunani di masa sebelum Islam berpendapat bahwa daging binatang ini mengurangi khususnya rasa malu dan memperbesar sifat dayyus. Itulah sebab­nya di dalam syariat Islam memakan bangkai juga dilarang, karena bangkai pun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menarik pemakannya ke dalam sifat bangkai, dan menimbul­kan mudarat pula pada kesehatan jasmani. Binatang‑binatang yang mati dengan darah masih tetap di dalam badannya -- misalnya dicekik atau dipukul mati dengan tongkat -- sebenarnya semua binatang ini termasuk kategori bangkai. Apakah darah bangkai, dengan tetap berada dalam badannya, masih tetap dalam keadaan semula? Tidak! Justru,  kare­na kelembaban, darah akan segera busuk dan kebusukannya akan merusak seluruh daging. Dan bakteri-bakteri di dalam darah yang juga telah terbukti melalui penelitian-penelitian mutakhir, akan mati, lalu menyebarkan suatu kebusukan yang beracun di dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Dayyus adalah ungkapan bagi suami yang isterinya tidak setia dan dia tidak peduli serta tidak punya rasa malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbaikan Kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan-keadaan Akhlaki Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua dari perbaikan menurut Alquran Suci ialah, meningkatkan keadaan‑keadaan thabi’i menjadi akhlak fadhilah dengan memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Hendaknya jelas, bahwa ini merupakan bagian yang sangat luas. Seandainya bagian ini kami uraikan secara rinci -- yakni menuliskan disini semua akhlak yang dijelaskan oleh Alquran Suci -- maka karangan ini akan demikian rupa panjangnya sehingga waktu tidak memadai untuk mengetengahkan bagian seper­sepuluhnya pun. Oleh karena itu bebera­pa akhlak fadhilah saja yang dipaparkan sebagai contoh. Ketahuilah, akhlak terdiri dari dua macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Akhlak-akhlak yang dengan perantaraannya manusia mampu meninggalkan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Akhlak-akhlak yang dengan perantaraannya manusia mampu berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam makna “meninggalkan kejahatan” terkandung akhlak-akhlak yang dengan perantaraannya manusia berusaha agar lidah, tangan, mata atau salah satu anggota badan lainnya tidak mendatangkan kerugian pada harta, kehormatan, dan jiwa orang lain; atau berniat menimbulkan kerugian serta ke­rusakan pada nama baik seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di dalam makna “berbuat kebaikan” terkan­dung semua akhlak yang dengan perantaraannya manusia ber­usaha agar lidah, tangan, harta, dan ilmunya, atau dengan perantaraan sarana lain, memberikan manfaat pada harta atau kehormatan orang lain; atau bermaksud menzahirkan kemegahan maupun kehormatannya. Atau, bila seseorang telah berbuat suatu aniaya terhadapnya, ia mampu memberi maaf atas hukuman yang patut ditimpakan kepada si penganiaya, dan melalui cara itu dapat memberi faedah kepada orang tersebut dengan menghindarkannya dari kesusahan, dan hukuman badan serta denda. Atau, memberi orang itu hukuman sedemikian rupa yang pada hakikatnya bagi dia merupakan suatu rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(i). Akhlak-akhlak yang Berkaitan dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Kejahatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, baiklah dimaklumi bahwa akhlak-akhlak yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta untuk meninggalkan kejahatan disebut dengan empat nama dalam bahasa Arab yang masing-masing mengandung kata mufrad (tunggal), untuk men-zahirkan seluruh pemikiran, tingkah laku, dan budipekerti manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kesucian Farji             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak pertama dinamakan ihshon (       ). Yang dimaksud dengan kata ini khususnya adalah kesucian diri yang ada kaitannya dengan kemampuan kembang biak laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sebutan muhshin (      ) dan muhshinah (      ) ditujukan pada laki‑laki dan perempuan yang mencegah dirinya dari ketidak sucian dengan cara menghindari perbuatan zina mau-pun perbuatan yang mendekati itu, yang dapat mengakibatkan kehinaan dan laknat di dunia ini serta azab akhirat di alam nanti bagi mereka berdua. Dan bagi kaum kerabat, selain pencemaran nama baik, juga mendatangkan kerugian yang sangat besar. Misalnya, seseorang telah melakukan per­buatan tidak senonoh terhadap isteri orang lain, atau mungkin bukan berupa zina, akan tetapi laki‑laki dan perempuan melakukan hal-hal yang mendekati itu, maka tidak diragukan lagi kepada istri dari suami yang teraniaya dan punya harga diri itu -- yakni isteri yang membiarkan dirinya memancing perzinahan, atau benar-benar telah terjadi perzinahan -- terpaksa dijatuhkan talak. Dan jika dari kandungan perem­puan itu lahir anak keturunan, maka mereka pun akan mengalami kekacauan. Dan sang kepala keluarga akan memikul segala kerugian yang disebabkan oleh orang yang buruk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini hendaknya diingat, bahwa akhlak yang dinamakan ihshon atau ‘iffat (       ) -- yakni menjaga kesucian diri -- itu baru akan disebut akhlak apabila di dalam diri seseorang terdapat kemampuan untuk memandang dengan pandangan berahi atau untuk berbuat tidak senonoh. Yakni, kodrat telah memberinya kemampuan yang dengan perantaraan itu dia memperoleh peluang untuk melakukan pelanggaran, namun dia menyelamatkan dirinya dari perbuatan tercela itu. Dan apabila kemampuan serupa itu tidak terdapat dalam dirinya -- kare­na masih kanak-kanak, atau lemah syahwat, atau kasim (yang di­kebiri), atau tua-renta -- maka dalam keadaan demikian kita tidak dapat menamakannya akhlak ihshon atau ‘iffat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang di dalam dirinya pasti terdapat ihshon atau ‘iffat yang tampil dalam keadaan alami. Akan tetapi, berkali‑kali telah kami tuliskan bahwa keadaan-keadaan alami itu tidak dapat disebut akhlak. Justru keadaan-kadaan itu baru dapat dimasukkan dalam kategori akhlak apabila berlangsung sesuai pertimbangan akal, tepat pada tempat dan kondisinya; atau keadaan-keadaan itu menimbulkan kemampuan untuk terjadi. Oleh karenanya seperti telah kami tuliskan, kanak-kanak atau laki‑laki lemah syahwat dan orang‑orang yang melalui suatu upaya telah memadamkan kejantanannya sendiri, tidak dapat dikatakan memiliki akhlak ter-sebut; walaupun secara zahir mereka menjalani hidup dengan warna ‘iffat dan ihshon. Justru ‘iffat dan ihshon mereka dalam segala bentuk berlangsung dalam keadaan alami -- tidak lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dikarenakan perbuatan tidak senonoh serta pendahuluan-pendahuluannya dapat berlangsung dari laki-laki maupun perempuan, maka di dalam Kitab Suci Tuhan terdapat ajaran berikut yang ditujukan kepada laki‑laki dan perempuan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, katakanlah kepada orang‑orang mukmin laki‑laki agar menahan mata mereka dari memandang wanita‑wanita yang bukan muhrim dan janganlah mereka memandang dengan cara menyolok kepada wanita‑wanita yang dapat membangkit­kan syahwat, dan pada keadaan serupa itu hendaklah membiasa­kan memandang mereka dengan pandangan redup. Dan menjaga kemaluan mereka dengan segala cara yang mungkin. Begitu pula hendaknya memelihara telinga mereka dari wanita‑wanita yang bukan muhrim, yaitu janganlah mereka mendengarkan nyanyian dan suara merdu wanita‑wanita lain. Janganlah mendengarkan ceritera‑ceritera tentang keelokan paras wanita‑wanita. Cara demikian merupakan yang terbaik untuk memelihara kesucian mata dan kalbu. Begitu juga katakanlah kepada wanita‑wanita mukmin supaya mereka menahan pandangan mereka dari laki‑laki yang bukan muhrim. Dan begitu pula hendaknya memelihara telinga mereka dari yang bukan muhrim, yaitu janganlah mereka men­dengar suara yang dapat membangkitkan syahwat dan tutuplah aurat dan jangan menampakkan bagian keindahan mereka kepada yang bukan muhrim. Dan kenakanlah kain kudungan demikian rupa sehingga menutup kepala sampai ke dadanya, yakni kedua daun telinga, kepala dan kedua belah pelipis tertutup kudungan semuanya. Dan janganlah menghentak-hentakkan kedua kaki seperti para penari. Inilah upaya yang dengan mengikutinya akan dapat menyelamatkan dari ketergelinciran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cara kedua untuk menyelamatkan diri ialah dengan kembali kepada Allah Ta’ala dan memanjatkan do’a kepada-Nya supaya Dia menyelamat­kan dari ketergelinciran dan keter­pelesetan (24:31,32). Janganlah mendekati zina, yaitu hindarilah pertemuan yang karena­nya di dalam hati dapat timbul pikiran ke arah itu. Dan janganlah menempuh jalan-jalan yang dengan melaluinya dikhawatirkan timbul dosa tersebut. Orang yang berzina sungguh melakukan suatu perbuatan buruk bertaraf puncak. Jalan zina adalah sangat buruk karena menghalangi sasaran yang dicita-citakan, dan sangat berbahaya bagi tujuan akhir kalian (17:33). Orang‑orang yang belum mampu kawin hendaknya menjaga ‘iffat-nya (ke­sucian farji) dengan cara-cara lain, misalnya, berpuasa atau mengu­rangi makan, atau mengerjakan pekerjaan yang melelahkan tubuh (24:34). Dan orang‑orang ada juga yang memilih cara dengan sengaja untuk selamanya tidak kawin atau menjadi kasim 5) dan dengan cara tertentu menempuh jalan hidup rahbaniyyat 6). Akan tetapi, Kami tidak mewajibkan perintah-perintah ini atas manusia. Oleh karenanya, mereka tidak dapat melaksanakan bid’ah‑bid’ah itu dengan sepenuhnya (57:28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5).  Kasim adalah orang yang dikebiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6).  Rahbaniyyat artinya tidak beristeri atau bersuami seperti biarawati dan biarawan, atau para rahib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Tuhan yang menyatakan bahwa Dia tidak memerintahkan orang agar menjadi kasim, mengisyaratkan bahwa sekiranya itu merupakan perintah Tuhan, maka semua orang akan berkewajiban mengamalkan perintah itu. Sehingga dalam keadaan demikian anak keturunan manusia akan terputus, lalu dunia akan punah sejak lama. Kemudian, jika untuk memperoleh kesucian, perlu memotong alat kelamin laki-laki, maka hal itu seolah‑olah celaan terhadap Sang Pencipta yang telah membuat bagian tubuh tersebut. Dan demikian pula, bahwa tumpuan sentral dari pahala terletak pada adanya suatu potensi, kemudian manusia karena takut kepada Allah terus melawan dorongan-dorongan buruk dari potensi tersebut, dan dengan mengambil manfaat-manfaat dari potensi itu maka manusia meraih pahala dari dua sisi. Jadi, nyata-lah bahwa dengan menghilangkan bagian tubuh itu, manusia luput dari kedua pahala tersebut. Pahala justru diperoleh karena adanya dorongan negatif, kemudian manusia melawannya. Namun seseorang yang seperti anak kecil tidak memiliki potensi tersebut, pahala apa yang akan ia peroleh? Apakah anak kecil dapat menerima pahala karena ‘iffat-nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima Resep untuk Memelihara Kesucian Farji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat‑ayat tersebut, untuk meraih akhlak ihshon yakni ‘iffat, Allah Ta’ala tidak hanya mengemukakan ajaran mulia saja, melainkan Dia juga memberitahukan lima resep untuk tetap memelihara kesucian diri. Yakni: 1. mencegah mata memandang yang bukan muhrim; 2. mencegah telinga mendengar suara orang-orang yang bukan muhrim; 3. tidak mendengarkan ceritera‑ceritera tentang orang-orang yang bukan muhrim; 4. mencegah diri dari segala acara yang dikhawatirkan dapat menimbulkan perbuatan buruk tersebut; 5. jika tidak kawin hendaknya berpuasa, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tempat ini kami menyatakan sepenuhnya bahwa ajaran mulia yang diterangkan oleh Alquran Suci dengan segala tata cara itu hanya khusus terdapat dalam Islam. Dan disini ada satu hal yang patut diingat, yaitu dikarenakan keadaan thabi’i manusia --yang merupakan sumber nafsu syah­wat; yang tanpa suatu perubahan sempurna, manu­sia tidak dapat menghindarkan diri daripadanya -- dengan menemukan suasana dan kesempatan maka dorongan-dorongan syahwatnya tidak akan tinggal diam. Atau katakanlah akan terjerumus ke dalam bahaya yang besar. untuk itulah Allah Ta’ala tidak mengajarkan kepada kita agar memandangi wanita-wanita bukan muhrim walau tanpa sengaja, dan memperhatikan segala keindahan mereka serta menyaksikan liuk‑lenggang mereka menari dan sebagainya asal kita memandang dengan pandangan yang suci. Dan Dia tidak pula mengajarkan kepada kita agar kita mende­ngarkan nyanyian gadis‑gadis bukan muhrim, dan agar kita mendengarkan ceritera‑ceritera tentang kecantikan mereka, asal kita mendengarkan­nya dengan pikiran yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru kepada kita ditekankan supaya sekali‑kali jangan memandang wanita‑wanita bukan muhrim dan keindahan-keindahan mereka, baik dengan pan­dangan suci maupun dengan pandangan berahi. Jangan mendengarkan suara-suara merdu mereka serta kisah‑kisah kecantikan mereka, baik dengan pikiran bersih maupun dengan pikiran kotor. Bahkan hendaknya kita merasa jijik mendengarkan serta memandang mereka seperti melihat bangkai, agar kita tidak jatuh terge­lincir. Sebab, pasti pada suatu waktu pandangan yang tanpa kendali akan menggelincirkan. Oleh sebab itu, dikarenakan Allah Ta’ala menghendaki supaya mata, hati dan resiko-resiko kita semuanya tetap terpelihara suci, untuk itulah Dia telah memberikan ajaran yang mulia ini. Memang tidak diragukan lagi bahwa tidak adanya ikatan dapat menimbulkan ketergelinciran. Apabila kita letakkan roti-roti lembut di depan seekor anjing lapar dan kita berharap anjing itu tidak akan menghiraukan roti tersebut, maka dengan mempunyai pikiran itu sesungguhnya kita melakukan suatu kekeliruan. Jadi, Allah Ta’ala telah menghendaki agar kekuatan nafsu itu tidak memperoleh kesempatan melakukan gerakan-gerakan tersembunyi, begitu pula tidak dihadapkan kepada kesempatan apa pun yang dapat menimbulkan bahaya-bahaya buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7).  Pardah ialah cara pembatasan pergaulan antara kaum pria dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jugalah yang merupakan falsafah pardah 7) menurut Islam dan inilah petunjuk syariat. Di dalam Kitab Allah, yang dimaksudkan dengan pardah bukanlah sekedar mengurung wanita‑ wanita seperti para tahanan dalam penjara. Itu adalah tang­gapan orang‑orang yang tidak mengetahui tata-cara Islami. Justru yang dimaksudkan adalah, wanita dan laki­-laki keduanya dicegah memandang secara bebas dan memamerkan keindahan masing-masing. Sebab di situ terdapat suatu kebaikan bagi kaum pria dan wanita keduanya. Akhirnya, hendaklah diingat juga bahwa sikap menghindarkan diri dengan memandang secara redup dan melihat benda-benda yang dibenarkan untuk dipandang, dalam bahasa Arab sikap demikian disebut ghadhu bashar (             ). Dan setiap orang mutaki yang ingin tetap memelihara hatinya dengan suci, hendaknya ia jangan melayangkan pandangannya dengan liar kesana-kemari, seperti binatang-binatang, melainkan wajib baginya menerapkan kebiasaan ghadhu bashar dalam pergaulan hidupnya. Dan ini adalah suatu kebiasaan beberkat yang mengakibatkan keadaan thabi’i tersebut berubah masuk ke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam warna suatu akhlak yang kokoh, dan tidak akan menimbulkan perbedaan di dalam keperluan-keperluan pergaulan hidupnya. Inilah akhlak yang disebut ihshon dan ‘iffat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kejujuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corak kedua dalam meningggalkan kejahatan adalah akhlak yang disebut amanah (     ) atau diyanah (     ). Yakni, tidak suka merugikan orang lain de­ngan jalan merampas hartanya secara licik dan dengan niat jahat. Hendaknya jelas bahwa diyanah dan amanah merupakan salah satu keadaan thabi’i. Untuk itulah bayi yang masih menyusu pun, disebabkan oleh umurnya yang masih dini, memiliki kepolosan alami. Dan kemudian, dikarenakan usia yang masih dini, ia belum biasa terhadap kebiasaan‑kebiasaan buruk. Ia demikian rupa tidak menyukai barang milik orang lain sehingga ia sulit sekali menetek dari wanita lain. Jika di waktu masih belum punya kesadaran tidak ditetapkan se­orang ibu-inang, maka ketika sudah memiliki kesadaran sangatlah sukar memberikan susu kepadanya dari wanita lain, dan jiwanya sangat menderita. Dan mungkin sekali, akibat penderitaan itu ia bisa mati. Sebab secara alami ia tidak suka menetek dari wanita lain. Apa rahasia yang terkandung di dalam ketidak-sukaan semacam itu? Tidak lain adalah kare­na ia secara alami tidak suka meninggalkan ibunya lalu beralih kepada barang milik orang lain. Sekarang, jika kita perhatikan, renung­kan, dan selami hakikat kebiasaan bayi tersebut, maka akan nam­pak dengan jelas kepada kita bahwa kebiasaan tidak menyukai milik orang lain -- sampai-sampai ia rela menyusahkan diri sendiri -- itu adalah akar dari kejujuran dan amanah. Dan dalam hal akhlak diyanah, seseorang tidak dapat dikatakan jujur selama ia -- seperti bayi tersebut -- belum menimbulkan di dalam hatinya rasa benci dan jijik yang se-sungguhnya terhadap harta benda orang lain. Akan tetapi, bayi tidak menerapkan kebiasaan itu tepat pada tempat­nya, dan karena belum berakal maka ia memikul cukup banyak penderitaan. Oleh karenanya, kebiasaan serupa itu hanyalah gejala keadaan alami belaka, yang secara spontan diperlihatkannya; sehingga tingkah‑lakunya itu tidak dapat digolongkan sebagai akhlaknya, walaupun itu merupakan akar akhlak jujur dan amanah yang sesungguhnya sebagai pembawaan fitrat manusia. Seperti halnya bayi tidak dapat dikatakan bersifat amiin (ter­percaya) dan jujur karena tingkah lakunya yang belum berdasarkan pada pertimbangan akal. Begitu pula seseorang tidak dapat dika­takan memiliki akhlak tersebut karena tidak mempergunakan keadaan alami itu tepat pada tempatnya. Untuk menjadi seorang amiin dan jujur bukanlah suatu hal yang mudah. Selama manusia belum memperhatikan segala segi, maka ia tidak dapat disebut amiin dan jujur. Berkenaan dengan itu Allah Ta’ala dalam ayat‑ayat berikut ini mengemukakan cara‑cara amanah sebagai contoh. Dan cara-cara amanah itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemah: yakni, andaikata di antara kamu ada orang berharta yang belum sempurna akalnya -- misalnya anak yatim atau yang belum baligh -- dan kamu khawatir bahwa dia akan menyia-nyiakan hartanya karena kebodohannya, maka janganlah kamu (sebagai wali) menyerahkan seluruh harta yang merupakan modal perniagaan dan penghidupan kepada mereka yang belum sempurna akalnya itu. Dan dari harta itu berikanlah seperlunya untuk makan dan pakaian mereka. Dan hendaklah kamu ucapkan kepada mereka perkataan-perkataan yang baik, yakni perkataan-perkataan yang dapat meningkatkan akal dan pemahaman mereka. Dan dengan demikian mereka akan memperoleh didikan yang layak, dan mereka tidak selalu menjadi terkebelakang serta tidak berpengalaman. Seandainya mereka anakanak saudagar, ajarilah mereka cara-cara berniaga. Jika berasal dari suatu bidang usaha lainnya, maka kokohkanlah mereka dalam bidang itu sebaik-baik-nya. Pendeknya, berilah secara bersamaan pelajaran kepada mereka dan secara berkala ujilah pengetahuan mereka, apakah mereka sudah memahami segala sesuatu yang kamu ajarkan atau belum. Kemudian, kalau mereka sudah layak menikah, yakni sudah mencapai usia kurang lebih delapan belas tahun, dan kamu lihat bahwa akal mereka telah mampu mengelola harta mereka sendiri, maka serahkanlah kepada mereka harta mereka itu. Dan janganlah belanjakan harta mereka dengan tujuan yang sia-sia, serta janganlah kamu tergesa-gesa merugikan harta mereka dengan mengkhawatirkan bahwa mereka akan dewasa sehingga mereka akan mengambil alih harta mereka. Barangsiapa yang kaya, hendaknya jangan mengambil sebagian dari harta itu sebagai imbalan jasa. Akan tetapi yang kurang mampu dapat mengambil sepantasnya (4:6,7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan bangsa Arab terdapat cara yang lazim bagi para pengurus harta (anak yatim), yaitu jika pengurus anakanak yatim ingin mengambil dari harta anakanak itu, maka sedapat mungkin hendaknya mereka menaati kaedah ini. Yakni mereka mengambil dari laba hasil usaha perputaran harta anakanak yatim itu dan jangan menghancurkan modal pokoknya. Jadi, ke arah tradisi inilah diisyaratkan supaya kalian pun menerapkan demikian. Kemudian Dia berfirman, apabila kamu hendak mengem­balikan harta kepada anakanak yatim, maka serahkanlah harta mereka itu dihadapan saksi‑saksi. Dan barangsiapa hampir meninggal dunia sedangkan anakanaknya masih lemah serta di bawah umur, maka hendaknya mereka jangan membuat wasiat yang akan mengabaikan hak anakanaknya. Barangsiapa memakan harta anakanak yatim hingga mengakibatkan aniaya terhadap anakanak yatim itu, maka mereka bukannya memakan harta, melainkan api. Dan pada akhirnya mereka akan dimasukkan ke dalam api yang menyala-nyala (4:10,11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini perhatikanlah, betapa hebatnya Allah Ta’ala menjelaskan aspek-aspek mengenai kejujuran dan amanah. Jadi, kejujuran dan amanah yang hakiki ialah yang merangkum seluruh aspek itu. Dan jika dalam amanah itu semua aspek tidak diperhatikan tanpa disertai bimbingan akal sepenuhnya, maka ke­jujuran dan amanah seperti itu akan diiringi oleh beraneka ragam unsur ­khianat yang terselubung, melalui berbagai cara. Kemudian pada tempat lain Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan tidak sah. Dan janganlah kamu memberikan hartamu kepada petugas pemerintah sebagai suapan sehingga dengan bantuan si petugas itu kamu menguasai harta orang lain (2:189). Serahkanlah amanat‑amanat itu kepada orang‑orang yang ber­hak memilikinya (4:59). Allah tidak bersahabat dengan orang‑orang yang berkhianat (8:59). Apabila kamu mengukur maka ukurlah dengan sempurna. Dan apabila kamu menimbang, maka timbanglah dengan sempurna dan dengan timbangan yang benar (17:36). Dan janganlah kamu merugikan harta orang lain dengan cara apa pun (7:86). Dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan niat meng­adakan kekacauan, yakni dengan niat mencuri atau merampok atau mencopet atau menguasai harta orang lain dengan cara‑cara yang tidak sah (2:61). Kemudian Dia berfirman: Janganlah kamu pertukarkan barang-barang yang buruk dan jelek sebagai ganti barang-barang yang baik. Yaitu, seperti halnya menguasai harta orang lain tidak dibenarkan, demikian pula tidak di­benarkan menjual barang yang buruk, atau janganlah kamu memberi­kan barang yang buruk dan jelek sebagai ganti yang baik. Yakni, seperti halnya tidak dibenarkan menguasai harta orang lain, begitu pula tidak dibenarkan menjual barang buruk, memberikan yang buruk sebagai ganti yang baik (4:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semua ayat ini Allah Ta’ala telah menerangkan segala cara ketidakjujuran. Dan firman itu begitu luasnya sehingga tidak ada unsur ketidak­jujuran apa pun yang tidak tercakup di dalamnya. Tidak hanya sekedar mengatakan, janganlah kamu mencuri; sehingga seseorang yang bodoh tidak sampai beranggapan bahwa mencuri baginya diharamkan tetapi cara-cara tidak sah lainnya dibenarkan semua. Mengharamkan segala cara yang tidak sah, adalah hikmah uraian yang terkandung di dalam firman yang luas tersebut. Ringkasnya, jika seseorang tidak memiliki akhlak kejujuran dan amanah dengan wawasan tersebut serta tidak memperhatikan semua aspeknya itu, sekalipun ia memperlihatkan juga kejujuran dan amanah dalam beberapa hal, maka perbuatannya itu tidak dapat digolongkan ke dalam akhlak kejujuran, melainkan merupakan suatu keadaan thabi’i yang hampa dari pertimbangan akal dan pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak Jail dan Bersikap Rukun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corak ketiga dari akhlak-akhlak meninggalkan kejahatan ialah yang disebut dalam bahasa Arab hudnah (      ) dan haun (      ) yakni tidak menyakiti jasmani orang lain secara aniaya dan menjadi manusia yang tidak jail serta menjalani hidup yang rukun. Jadi, tidak ragu lagi bahwa bersikap rukun merupakan akhlak yang tinggi derajatnya dan amat penting bagi kemanusiaan. Dan sesuai dengan akhlak tersebut, di dalam diri bayi terdapat ulfat (        ) -- yakni keakraban -- yang merupakan suatu potensi alami, yang bila diterapkan secara seimbang dapat menjadi akhlak. Adalah jelas bahwa seorang manusia hanya di dalam keadaan thabi’i saja, -- yakni di dalam keadaan manusia belum menggunakan akalnya -- tidak akan dapat memahami arti rukun dan tidak pula dapat memahami arti berkelahi. Jadi, pada saat itu di dalam dirinya terdapat kebiasaan untuk hidup serasi/akrab; dan itulah yang merupakan akar dari sikap rukun. Akan tetapi, oleh karena belum diterapkan dengan pertimbangan akal, renungan mendalam dan iradah (kehendak) yang khusus, maka hal itu tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan akhlak. Melainkan apabila manusia dengan sadar mem­buat dirinya sendiri menjadi seorang yang tidak jail lalu mengguna­kan akhlak rukun tepat pada tempatnya serta menghindarkan diri dari penggunaannya yang tidak tepat, barulah hal itu dapat dimasukkan ke dalam golongan akhlak. Berkenaan dengan itu Allah Ta’ala mengajarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, berukun‑rukunlah antara sesamamu (8:2). Di dalam rukun terdapat kebaikan (4:129). Dan jika mereka cenderung ke arah perdamaian, maka cenderung pulalah engkau ke arah itu (8:62). Hamba‑hamba Allah yang saleh berjalan di muka bumi dengan rukun (25:64). Dan jika mendengar suatu ucapan sia‑sia, beru­pa pendahuluan dan mukadimah yang menjurus kepada pertentangan dan perkelahian, maka berlalulah mereka secara terhormat (25:73). Dan mereka tidak memulai pertengkaran karena perkara-perkara kecil. Yakni, selama tidak menimbulkan penderitaan besar maka mereka tidak merasa pantas untuk bersengketa. Dan dasar untuk menerapkan sikap rukun yang tepat sesuai keadaan adalah mengabaikan perkara-perkara kecil dan bersedia memaafkannya. Dan kata laghw (       -- sia‑sia) yang terdapat di dalam ayat ini hendaknya jelas bahwa di dalam bahasa Arab perkataan laghw itu menunjukkan kepada perbuatan demikian, misalnya, seseorang yang karena nakalnya mengucapkan kata‑kata yang tidak senonoh atau melakukan suatu perbuatan dengan maksud menyakiti, sedangkan pada hakikatnya hal itu tidak mendatangkan suatu kerugian dan kemudaratan bagi si pen­derita. Jadi, tanda hidup rukun ialah mengabaikan perbuatan-perbuatan menyakiti yang sia-sia itu dan menerapkan perilaku yang mulia. Tetapi jika perbuatan menyakiti itu tidak hanya se-batas laghw saja, malahan benar‑benar mendatangkan kerugian pada jiwa, harta atau kehormatan, maka akhlak rukun sedikit pun tidak ada kaitannya dengan itu. Melainkan, jika dosa semacam itu diampuni, maka akhlak yang demikian disebut ‘afw (    ), yang uraiannya insya Allah akan dijelaskan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa yang karena nakalnya mengucapkan kata‑kata tidak senonoh, maka hendaklah kamu membalasnya dengan sikap rukun melalui cara yang baik. Maka dengan jalan demikian musuh pun akan menjadi kawan (41:35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, penggunaan sikap mengabaikan dengan cara rukun hanyalah bagi jenis keburukan yang tidak mendatangkan kerugian, dan hanya berupa ucapan-ucapan yang tidak berarti dari musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ucapan yang Sopan dan Tutur Kata yang Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corak keempat dari akhlak-akhlak meninggalkan kejahatan adalah rifq (      = ucapan yang sopan) dan qaulu hasan (        = tutur kata yang baik). Se­dangkan akhlak ini timbul dari keadaan alami yang dinamakan thalaqat (       = kefasihan lidah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum seorang anak mampu mengungkapkan isi hatinya melalui kata-kata, dia hanya mem­perlihatkan kefasihan lidah, bukannya ucapan yang sopan dan tutur kata yang baik. Inilah dalil yang membuktikan bahwa akar rifq yang daripadanya tumbuh cabang ini adalah thalaqat. Thalaqat adalah sebuah potensi, sedangkan rifq merupakan sebuah akhlak yang timbul melalui peng­gunaan potensi tersebut tepat pada tempatnya. Berkenaan dengan itu Tuhan mengajarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemah: yakni, ucapkanlah kepada orang‑orang kata‑kata yang benar-benar baik (2:84). Janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum lain, boleh jadi kaum yang diperolok‑olokkan itulah yang baik. Sebagian wanita janganlah memperolok‑olokkan sebagian wanita yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan itulah yang baik. Janganlah timbulkan aib. Jangan beri julukan-julukan buruk kepada orang-orangmu... Janganlah berprasangka buruk dan jangan mencari-cari aib orang lain. Janganlah mempergunjingkan satu sama lain (49:12,13). Janganlah kamu menuduh seseorang yang mengenainya kamu tidak mempunyai bukti. Dan ingatlah bahwa semua anggota tubuh akan dimintai pertanggungjawaban, dan telinga, mata, serta hati masing-masing akan ditanyai (17:37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ii) Akhlak-akhlak yang Berkaitan dengan   Berbuat Kebaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis akhlak meninggalkan keja­hatan telah selesai dan sekarang kami akan menjelaskan jenis-jenis akhlak berbuat kebaikan. Jenis kedua dari akhlak-akhlak itu berkaitan dengan berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sikap Memaafkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak pertama dari antaranya ialah ‘awf (   ) yakni memaafkan dosa orang lain. Disini, berbuat kebaikan adalah: Se-seorang melakukan dosa sehingga dia mengakibatkan kemudaratan, dan dia sendiri layak untuk dibalas dengan kemudaratan -- dihukum, dipenjara, didenda, atau menghukum dirinya sendiri -- jika memaafkannya adalah sesuatu yang tepat, maka hal itu sudah merupakan sikap berbuat kebaikan. Dalam hal ini ajaran Alquran Suci adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, orang‑orang baik ialah mereka yang menahan amarah pada saat kemarahan itu harus ditahan, dan memaafkan dosa pada saat harus dimaafkan (3:135). Balasan bagi kejahatan adalah se-timpal dengan keja­hatan yang dilakukan. Akan tetapi, seseorang yang memaafkan suatu dosa -- dan pemberian maaf itu dilakukan pada kesempatan yang dapat mendatangkan perbaikan dan tidak menimbulkan keburukan; yakni tepat pada kondisi ‘awf (pemberian maaf) serta bukan tidak pada tempatnya -- maka ia akan memperoleh pahalanya (42:41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini jelas bahwa bukanlah ajaran Alquran untuk --tanpa sebab dan dalam setiap kasus -- tidak memerangi kejahatan serta tidak menghukum para penjahat dan orang-orang aniaya. Melainkan ajarannya adalah, hendaknya dilihat, apakah kondisi dan kesempatan itu merupakan tempat pemberian maaf atau tempat pemberian hukuman. Jadi, yang benar-benar terbaik bagi si pelaku kejahatan dan juga bagi khalayak umum, itulah yang hendaknya diterapkan. Kadangkala dengan diberi maaf, seorang pelaku kejahatan akan ber­tobat, dan adakalanya dengan diberi maaf, seorang pelaku kejahatan akan bertambah berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, Allah Ta’ala berfirman, janganlah membiasakan diri memberi maaf secara membuta, melain­kan pertimbangkanlah dengan seksama, dimana terletak kebaikan yang sejati: apakah dalam sikap memaafkan, atau dalam sikap memberi hukuman. Jadi, ambillah tindakan yang tepat menurut keadaan dan tempat-nya. Dengan memperhatikan banyak orang, nampak jelas bahwa sebagian orang sangat berhasrat membalas dendam, sampai-sampai mereka tetap mempertahankan dendam-dendam yang berasal dari nenek moyang mereka. Demi­kian pula sebagian orang mempunyai kebiasaan memaafkan serta merelakan yang sangat berlebihan. Dan kadang-kadang kebiasaan ini begitu keterlaluan-nya sehingga menimbulkan dayus. 8) Sikap lunak, memaafkan dan merelakan -- yang memalukan itu -- benar-benar bertentangan dengan martabat, harga diri, dan kesucian farji, bahkan menodai norma-norma baik. Dan dampak sikap memaafkan serta merelakan seperti ini, membuat semua orang membencinya. Dengan memperhatikan keburukan‑keburukan semacam inilah, Alquran Karim telah menetapkan syarat ketepatan tempat dan keadaan bagi setiap akhlak. Dan Alquran tidak menyetujui akhlak yang dilakukan pada tem­pat dan keadaan yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8). Lihat catatan kaki No. 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah diingat bahwa sikap memaafkan semata tidak dapat disebut akhlak, melainkan hal itu merupakan suatu potensi alami yang terdapat pada diri anakanak. Seorang anak yang terluka oleh seseorang, walaupun sekedar karena main‑main, sebentar kemudian ia akan melupakan peristiwa itu dan akan menghampiri orang tersebut dengan akrab. Dan kendatipun orang itu benar‑benar berniat hendak membunuhnya, tetap saja si anak senang terhadap kata-kata yang manis. Jadi, sikap memaafkan serupa itu, bagaimanapun tidak dapat di­golongkan ke dalam akhlak. Ia baru dapat digolongkan ke dalam akhlak apabila kita menggunakannya tepat sesuai dengan tempat dan keadaan. Jika tidak demikian halnya, maka itu hanyalah berupa suatu potensi alami belaka. Sedikit sekali orang di dunia ini yang dapat membedakan antara potensi alami dengan akhlak. Telah berulang-kali kami katakan bahwa perbedaan antara akhlak hakiki dan keadaan‑keadaan thabi’i ialah: akhlak senantiasa mengandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertimbangan tempat dan keadaan yang tepat, sedangkan potensi alami dapat menampilkan dirinya tanpa memper­dulikan tempat dan keadaan yang tepat. Benar, di antara binatang berkaki empat, lembu tidak berbahaya dan kambing pun lunak hatinya. Akan tetapi berdasarkan faktor-faktor itu, kita tidak dapat menyebutnya memiliki akhlak-akhlak tersebut, karena mereka tidak diberi akal untuk mengenal tempat dan keadaan. Hikmah kebijaksanaan Tuhan dan Kitab‑Nya yang benar lagi sempurna, telah menetapkan tempat dan keadaan bagi setiap akhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bersikap Adil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak kedua dari akhlak-akhlak berbuat kebaikan adalah‘adl      (     ) dan yang ketiga adalah ihsan, sedangkan yang keempat adalah itai zil. qurba. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Allah Ta’ala memerintahkan agar kamu berbuat kebaikan sebagai balasan terhadap kebaikan. Dan apabila kamu mendapat kesempatan serta kemungkinan untuk berbuat lebih dari bersikap adil, maka berbuatlah ihsan. Dan apa­bila lebih dari ihsan kamu mendapat kesempatan serta kemungkinan berbuat baik seperti kepada kaum kerabat yang timbul dari dorongan alami, maka berbuatlah kebaikan dengan kasih sayang alami. Dan Allah Ta’ala melarang kamu melampaui batas‑batas kewajaran atau dalam peluang berbuat ihsan kamu menampakkan kemunkaran yang tidak diterima oleh akal. Yakni, kamu berbuat ihsan yang tidak pada tempatnya, atau kamu tidak mau berbuat ihsan padahal dikehendaki oleh keadaan; atau kamu agak lalai dalam akhlak itai zil qurba pada tempat yang sepatutnya; atau melimpahkan kasih sayang berlebih‑lebihan sampai melampaui batas (16:91). Di dalam ayat suci ini diuraikan tiga derajat berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat per­tama ialah berbuat kebaikan sebagai balasan terhadap kebaikan. Ini merupakan derajat rendah. Dan orang-orang yang memiliki peradaban paling rendah dapat memiliki akhlak ini, yaitu ia tetap berbuat kebaikan terhadap orang‑orang yang berbuat ­baik kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berbuat Kebaikan yang Lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat kedua adalah lebih sulit dari derajat pertama. Yakni, pertama‑tama ia sendiri yang berbuat kebaikan, dan tanpa adanya hak pada seseorang ia memberikan manfaat kepada orang itu sebagai perbuatan baik yang lebih (ihsan -    ). Dan ini merupakan akhlak derajat menengah. Kebanyakan orang berbuat kebaikan kepada orang‑orang miskin. Dalam berbuat ihsan itu terselip suatu aib terselubung. Yakni, orang yang berbuat ihsan mempunyai pikiran bahwa ia telah berbuat ihsan dan sekurang-kurangnya sebagai imbalan ihsan tersebut dia menginginkan ucapan terima kasih atau do’a. Dan apabila orang yang telah menerima kebaikannya itu melawannya, maka dia menyebut orang itu tidak tahu membalas budi. Kadangkala, disebabkan oleh ihsan-nya seseorang telah meletakkan beban yang tak terpikulkan pada orang lain dan mengungkit‑ungkit ihsan itu kepadanya. Sebagai-mana Allah Ta’ala telah berfirman untuk memperingatkan orang-orang yang berbuat ihsan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, hai orang‑orang yang berbuat ihsan! Janganlah kamu merusak sedekah‑sedekahmu -- yang seharusnya diberikan berdasar hati tulus -- dengan menyebut‑nyebut ihsan itu serta dengan menyakiti hatinya (2:265).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sadaqah (     ) berasal dari kata sidq (    - ketulusan). Jadi, jika di dalam hati tidak ada rasa tulus serta ikhlas, maka sedekah itu tidak lagi merupakan sedekah, melainkan suatu perbuatan ria. Ringkasnya, di dalam diri orang yang berbuat ihsan, terdapat suatu kekurangan. Yaitu, kadangkala bila sedang emosi ia mengungkit-ungkit kebaikannya. Itulah sebabnya Allah Ta’ala memperingat­kan orang‑orang yang berbuat ihsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memberi Tanpa Perhitungan Seperti Kepada Kaum Kerabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat ketiga berbuat kebaikan yang telah diterangkan oleh Allah Ta’ala ialah, hendaknya jangan sampai ada anggapan telah melakukan kebaikan yang lebih (ihsan) dan tidak mengharap­kan balasan terima kasih. Melainkan hendaklah kebaikan itu dilakukan atas dorong­an rasa kasih sebagaimana terhadap kerabat terdekat  (                   ). Misalnya, seorang ibu berbuat kebaikan terhadap anaknya se­mata‑mata hanya karena dorongan rasa kasih. Inilah derajat terakhir dalam rangka berbuat kebaikan yang tidak mungkin lagi ada langkah lebih dari itu. Akan tetapi Allah Ta’ala telah mengaitkan semua jenis perbuatan baik itu dengan tempat dan keadaan yang tepat. Dan di dalam ayat tersebut di atas, telah diterangkan dengan jelas, apabila kebaikan-kebaikan itu dilakukan tidak pada tempatnya masing-masing, maka akan berubah men-jadi keburukan. Dari ‘adl akan berubah menjadi fahsya, yaitu demikian rupa melampaui batas sehingga keadaannya berubah men­jadi buruk. Demikian pula dari ihsan akan berubah menjadi munkar, yaitu keadaan yang ditolak oleh akal dan hati nurani. Dan dari itai zil qurba akan berubah menjadi baghy, yaitu dorongan rasa kasih yang tidak pada tempatnya sehingga akan menimbulkan suatu keadaan yang buruk. Pada dasarnya yang disebut baghy itu adalah hujan yang turun melampaui batas dan membinasakan sawah ladang. Atau, sikap keterlaluan yang melebihi hak semesti-nya, juga merupakan baghy. Ringkasnya, di antara ketiga derajat tersebut, jika dilakukan tidak pada tempat yang tepat, akan berubah menjadi buruk keadaannya. Untuk itulah pada ketiga derajat tersebut telah dipersyaratkan ketepatan tempat dan keadaan. Disini hendaklah diingat, bahwa ‘adl atau ihsan atau rasa kasih itai zil qurba itu sendiri tidak dapat disebut akhlak, melainkan itu semua merupakan keadaan‑keadaan dan potensi-potensi alami di dalam manusia, yang juga terdapat pada diri kanak-kanak sebelum akalnya bekerja. Akan tetapi, bagi akhlak terdapat persyaratan akal, kemudian persyaratan penerapan segala potensi alami yang tepat sesuai keadaan dan tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Contoh Ihsan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, berkenaan dengan ihsan, di dalam Alquran Suci ter­dapat juga petunjuk‑petunjuk penting lainnya. Dan kesemuanya diawali dengan alif lam (   ) untuk memberi tekanan khusus yang mengisyaratkan agar dilakukan sesuai dengan keadaan dan tempat yang tepat. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahnya adalah: hai orang‑orang yang beriman, berikanlah dari harta yang kamu usahakan dengan jalan bersih kepada orang-orang sebagai kemurahan hati atau kebaikan atau sedekah dan sebagainya. Yakni harta yang tidak dicampuri oleh harta hasil pencurian atau suapan atau pengkhianatan atau korupsi atau hasil perampasan hak orang lain. Dan jangan sampai timbul niat di dalam hatimu untuk memberikan harta yang tidak bersih kepada orang lain (2:268). Dan perkara yang kedua ialah jangan kamu gugurkan sedekah‑sedekahmu dan kemurahan hatimu karena niat agar orang berhutang budi dan dengan niat menyakiti. Yakni, janganlah sekali‑kali menyebut‑nyebut kepada orang yang menerima kebaikanmu bahwa kamu telah memberi­kan sesuatu kepadanya. Dan janganlah menyakitinya. Sebab, dengan demikian kebaikanmu akan hilang. Dan janganlah kamu melakukan suatu langkah dimana kamu membelanjakan hartamu dengan jalan ria (2:265). Berbuatlah kebaikan kepada makhluk Allah karena Allah menyukai orang‑orang yang berbuat baik (2:196). Orang‑orang yang berbuat kebaikan hakiki akan diberi minum dari mangkuk minuman yang campurannya adalah kafur (sejenis kamper). Yakni, kepedihan duniawi dan hasrat-hasrat serta keinginan-keinginan kotor akan dijauhkan dari hati mereka (76:6,7). Kata kafur (     ) berasal dari kata kafara (     ). Ada­pun kata kafara dalam bahasa Arab mengandung arti menekan dan menutupi. Maksudnya, dorongan-dorongan tidak benar yang ada pada mereka akan di­tekan, dan batin mereka akan menjadi suci, serta kesejukan makrifat akan mencapai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian difirmankan bahwa orang-orang itu akan meminum air dari mata air yang sekarang sedang dipancarkan oleh tangan mereka sendiri. Disini telah dibukakan sebuah rahasia mendalam tentang fal­safah surga. Barangsiapa yang ingin memahaminya, pahamilah. Dan kemudian telah difirmankan bahwa tanda-tanda orang‑orang yang mengerjakan kebaikan hakiki ialah, semata‑mata karena kecin­taan Ilahi mereka memberi makanan yang mereka sendiri sukai kepada orang‑orang miskin, anakanak yatim dan para tawanan, seraya mengatakan: “Kami tidak berbuat ihsan atas kalian, melainkan kami lakukan ini agar Tuhan ridha kepada kami, dan pengkhidmatan ini adalah untuk Wajah-Nya (untuk menarik perhatian-Nya). Kami tidak menghendaki sesuatu imbalan dan tidak pula menghendaki agar kalian kesana-kemari berterima kasih kepada kami” (76:9,10). Ini mengisyaratkan kepada derajat ketiga berbuat kebaikan, yang diamalkannya semata‑mata karena terdorong oleh rasa kasih. Kebiasaan orang-orang saleh sejati ialah, untuk meraih keridhaan Tuhan, mereka membantu karib‑kerabat dengan harta mereka. Dan kemudian dari harta itu mereka senantiasa membelanjakan untuk pengawasan, pengurusan dan pendidikan anakanak yatim dan sebagainya. Dan mereka menye­lamatkan orang‑orang miskin dari kelaparan serta memberi pertolongan kepada para musafir dan peminta‑minta. Dan me­reka memberikan harta benda itu untuk memerdekakan sahaya‑sahaya dan juga untuk melunasi hutang orang‑orang yang berhutang (2:178). Dan dalam membelanjakan harta, mereka tidak boros dan tidak pula kikir dan bersikap mengambil jalan tengah (25:68). Mereka menghubungkan sesuatu yang harus dihubungkan dan mereka takut kepada Allah (13:22). Dan di dalam harta mereka ada hak bagi orang yang minta-minta dan juga bagi yang tidak dapat berbicara (51:20). Yang tidak dapat berbicara, maksudnya ialah anjing, kucing, burung, lembu, keledai, kambing dan lain‑lain. Dalam keadaan susah dan surutnya pendapatan serta dalam musim paceklik, mereka dari bermurah hati tidak berubah menjadi kikir. Dan dalam keadaan sempit pun mereka tetap bermurah hati menurut kemampuan mereka (3:135). Mereka membelanjakan harta secara diam-diam dan secara terbuka. Dilakukannya secara diam‑diam adalah agar mereka terhindar dari perbuatan ria, dan dilakukanya secara terbuka adalah agar orang‑orang lain tergugah (13:23). Harta benda yang diberikan dalam bentuk sumbangan, sedekah dan sebagainya, hendaknya diperhatikan agar pertama-tama diberikan kepada yang memerlukannya. Ya, orang‑orang yang bertugas mengawas, mengurus dan mengelola harta-harta itu dapat memperoleh sedikit dari harta tersebut. Dan kemudian dari itu dapat juga diberikan untuk menyelamatkan seseorang dari perbuatan buruk. Begitu pula harta itu hendaknya dibelanjakan untuk membebaskan sahaya‑sahaya, dan untuk membantu orang‑orang yang memerlukan dan orang‑orang yang berhutang serta orang-orang yang tertimpa musibah, dan untuk hal-hal lainnya yang semata-mata demi Allah (9:60). Sekali‑kali tidak akan kamu capai kebaikan yang hakiki selama dalam menunaikan kasih-sayang terhadap umat manusia kamu belum membelanjakan harta yang kamu cintai (3:93). Penuhilah hak orang‑orang yang tidak mampu, berilah orang-orang miskin, khidmatilah para musafir, dan hindarkanlah dirimu dari hal-hal yang sia-sia (17:27). Yakni, hindarkanlah dirimu dari pemborosan-pemborosan biaya dalam perkawinan-perkawinan, berbagai macam kemeriahan dan upacara-upacara kelahiran anak. Berbuat baiklah terhadap ibu‑ bapakmu, kaum kerabat, anakanak yatim, orang‑orang miskin, tetangga yang sesanak-saudara, dan tetangga yang bukan kerabat, dan terhadap orang‑orang yang ada da­lam perjalanan (musafir), pembantu rumah-tangga, sahaya, kuda, kambing, kerbau, lembu, dan binatang‑binatang lainnya yang kamu kuasai. Sebab, Tuhan --yang merupakan Tuhan-mu -- menyu­kai perbuatan-perbuatan itu. Dia tidak mencintai orang‑orang yang tidak perduli dan yang mementingkan diri sendiri. Dan Dia tidak menginginkan orang‑ orang bakhil serta yang mengajarkan kebakhilan kepada orang‑ orang, dan yang menyembunyikan hartanya sendiri. Yakni, mereka ber­kata kepada orang‑orang yang memerlukan bahwa mereka tidak mempunyai sesuatu (4:37,38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keberanian Sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia terdapat suatu keadaan yang menyerupai keberanian. Misalnya, anak yang masih menyusu pun disebabkan oleh potensi itu kadang-kadang ingin memasukkan tangannya ke dalam api. Sebab, anak manusia, dikarenakan adanya potensi fitrati berupa kecenderungan manusia yang selalu ingin dominan, tidak takut terhadap suatu apa pun sebelum nampak contoh-contoh yang menakutkan. Dalam keada­an itu manusia dengan sangat berani melawan singa-singa atau binatang‑binatang buas lainnya; dan tampil seorang diri untuk berkelahi melawan beberapa orang. Dan orang‑orang mengetahui bahwa ia seorang yang sangat pemberani. Akan tetapi, ini hanyalah suatu keadaan thabi’i belaka yang terdapat juga pada binatang‑ binatang buas lainnya; bahkan juga terdapat pada anjing. Sedangkan, keberanian sejati (       - sajaah) -- yang berkaitan khusus dengan ketepatan tempat dan keadaan, serta yang merupakan salah satu akhlak dari antara akhlak-akhlak fadhilah --adalah nama dari sikap-sikap yang tepat sesuai dengan tempat dan keadaannya, yang di dalam Kalam Suci Allah Ta’ala dikemukakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, pemberani ialah mereka yang tidak melarikan diri pada saat bertempur, atau pada saat mereka ditimpa suatu musibah (2:178). Kesabaran mereka pada waktu bertempur dan pada saat-saat susah ialah demi keridhaan Allah untuk meraih Wajah-Nya. Bukan memamerkan keberanian (13:23). Mereka ditakut‑takuti bahwa orang‑orang telah sepakat untuk menghukum mereka, maka hendaklah mereka takut kepada orang‑orang itu. Ternyata dengan ditakut-takuti itu keimanan mereka semakin bertambah, dan mereka berkata, “Cukuplah Tuhan bagi kami” (3:174). Yakni, keberanian mereka tidaklah seperti anjing-anjing dan binatang-binatang buas yang bertumpu pada gejolak alami belaka, yang hanya cenderung ke satu sisi saja. Sebaliknya keberanian mereka mengandung dua sisi. Kadang‑kadang dengan keberanian yang mereka miliki, mereka mela­wan serta menundukkan dorongan-dorongan nafsu mereka sendiri. Dan kadang‑kadang apabila mereka melihat bahwa melawan musuh adalah kebijakan yang tepat, maka mereka tidak hanya terdorong oleh nafsu saja, melainkan mereka melawan musuh demi membela kebenaran. Akan tetapi dalam menunjukkan keberanian, mereka tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan mereka bertumpu kepada Tuhan. Dan di dalam keberanian mereka tidak terdapat unsur pamer serta menonjolkan diri, dan tidak pula untuk menuruti nafsu, melainkan dari segala segi keridhaan Allah-lah yang diutamakan (8:48). Di dalam ayat‑ayat itu dijelaskan bahwa akar keberanian sejati ialah sabar dan keteguhan langkah. Tetap teguh dan tidak melarikan diri sebagai pengecut dalam menghadapi setiap dorongan nafsu atau musibah yang menyerang bagaikan musuh, inilah keberanian. Jadi, di antara keberanian manusia dan binatang terdapat perbedaan besar. Binatang buas hanya pada satu sisi saja memanfaatkan dorongan nafsu dan amarahnya. Sedangkan manusia, yang memiliki keberanian sejati, memilih kebijakan yang tepat antara melawan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lurus Hati/Kejujuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia, yang merupakan ciri khas fitratnya ialah lurus hati (        - Ash-shidq). Manusia tidak ingin berkata dusta selama tidak terdorong oleh kepentingan pribadinya. Dan dalam berdusta dia merasakan di dalam hatinya semacam kebencian serta ganjalan. Itulah sebabnya dia tidak senang dan me­mandang rendah orang yang terbukti telah berkata dusta. Akan te­tapi, keadaan alami itu saja tidak dapat masuk dalam kategori akhlak. Bahkan anakanak dan orang‑orang gila pun dapat memperlihatkan sikap itu. Jadi, hakikat yang sebenarnya ialah, selama manusia belum terlepas dari kepentingan-kepentingan pribadi yang menjadi hambatan untuk berkata jujur, selama itu ia secara hakiki tidak dapat dikatakan sebagai orang yang lurus hati. Sebab, jika seseorang berkata jujur hanya mengenai hal-hal yang tidak seberapa merugikan dirinya sedangkan ia berkata dusta dan bungkam dari berkata jujur pada saat kehormatan atau harta atau jiwanya ter­ancam kerugian, maka apalah kelebihannya dibandingkan dengan orang‑orang gila dan anakanak. Tidakkah orang gila dan anakanak pun suka lurus hati seperti itu? Barang-kali tidak ada seorang pun di dunia ini yang begitu saja ber­dusta tanpa sebab. Jadi, kejujuran yang ditinggalkan pada saat terancam suatu kerugian, sama sekali tidak tergolong dalam akhlak sejati. Keadaan dan kesempatan yang sangat tepat untuk lurus hati ialah pada saat jiwa atau harta atau kehormatannya terancam bahaya. Berkenaan dengan itu ajaran Allah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemah: hindarilah perbuatan menyembah berhala‑berhala dan berkata dusta (22:31). Yakni, dusta pun merupakan sebuah berhala; orang yang bertumpu padanya berarti telah melepaskan tumpuan (tawakal) terhadap Allah. Jadi, dengan berkata dusta, Tuhan pun terlepas dari tangan. Dan kemudian difirmankan, apa-bila kamu di­panggil untuk memberi kesaksian yang benar, maka janganlah kamu menolak untuk pergi (2:283). Dan janganlah kamu sembunyikan kesaksian-benar dan barangsiapa menyembunyikan-nya berdosalah hatinya (2:284). Dan apabila kamu berkata, maka ucapkanlah sama sekali kata‑kata jujur serta adil, sekalipun kesaksian yang kamu berikan itu untuk salah seorang kerabatmu (6:153). Berdirilah kamu di atas kebenaran serta keadilan, dan hendaknya tiap-tiap kesaksianmu itu adalah karena Allah, jangan kamu berkata dusta walaupun dengan berkata jujur itu jiwamu akan mendapat kerugian, atau dengan itu ibu-bapakmu serta kerabat-kerabatmu -- seperti anak dan sebagainya -- akan men-dapat kemudaratan (4:136). Dan hendaknya permusuhan terhadap suatu kaum tidak menghalangi kamu untuk memberi kesaksian yang jujur (5:9). Laki‑laki yang lurus hati dan wanita‑wanita yang lurus hati akan mendapat pahala-pahala besar (33:36). Kebiasaan mereka adalah menasihati orang lain agar lurus hati (103:4). Dan mereka tidak ikut di dalam majelis-majelis para pendusta (25: 73).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia, salah satunya adalah sabar (     - ash-shabr), yang terpaksa manusia lakukan ketika menghadapi musibah-musibah, penyakit-penyakit, dan penderitaan-penderitaan yang senantiasa menimpanya. Dan manusia memilih bersabar setelah banyak meratap dan berkeluh-kesah. Tetapi ketahuilah, menurut Kitab Suci Ilahi kesabaran semacam itu tidak tergolong akhlak, melainkan suatu keadaan yang pasti akan tampil setelah mengalami keletihan. Yakni, di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia terdapat juga suatu keadaan, ketika datang musibah maka ia pertama‑tama menangis, meraung-raung dan memukul-mukul kepala. Setelah semua emosi terluapkan akhirnya gejolak itu terkendali, dan pada puncaknya ia ter-paksa mundur. Jadi, kedua sikap ini merupakan keadaan-keadaan thabi’i. Sedikit pun tidak ada kaitannya dengan akhlak. Justru akhlak yang berkaitan dengan itu ialah, bila suatu benda terle­pas dari tangan, maka dia tidak berkeluh-kesah seraya menganggap benda itu sebagai amanat Allah. Dan dia mengatakan, “Ini tadinya merupakan milik Tuhan, dan Tuhan telah mengambilnya. Kami rela terhadap kehendak‑Nya.” Berke­naan dengan akhlak ini, Alquran Suci, Kalam Suci Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, hai orang‑orang yang beriman! Kami senantiasa akan menguji kamu. Kadang‑kadang kepadamu akan didatangkan keadaan yang menakutkan dan kadang‑kadang kamu akan mengalami kekurangan serta kelaparan, dan kadang‑kadang kamu akan menderita ke­rugian harta dan kadang‑kadang kamu akan mengalami kehilangan jiwa. Dan kadang‑kadang kamu mengalami kegagalan dalam usaha-usahamu, dan upaya-upayamu tidak akan membawa hasil sebagaimana yang diinginkan. Dan kadang-kadang anakanak kesayanganmu akan meninggal. Jadi, bagi mereka ada khabar suka. Apabila mereka tertimpa suatu musibah, mereka mengatakan, “Kami ada­lah kepunyaan Tuhan, amanat-Nya, dan milik‑Nya.” Jadi, yang benar ialah, kembalikan segala sesuatu kepada Sang Pemilik amanat. lnilah orang-orang yang mendapat rahmat Ilahi dan inilah orang-orang yang telah mene­mukan jalan Tuhan (2:156‑158). Ringkasnya, nama akhlak ini adalah sabar dan rela terhadap keputusan Ilahi. Dalam pengertian lainnya, akhlak ini juga dinamakan adil. Sebab, tatkala Allah Ta’ala melakukan segala sesuatu di dalam seluruh kehidupan manusia sesuai dengan keinginannya, dan kemudian ribuan hal telah tampil sesuai kehendaknya, dan sekian banyak nikmat telah dianugerahkan kepada manusia yang selaras dengan keinginannya, yang tidak dapat dihitung oleh manusia; maka tidaklah adil apabila Tuhan ingin menerapkan kehendak-Nya lalu manusia mengelak dan tidak setuju terhadap kehendak-Nya itu serta membuat-buat alasan atau meninggalkan agama dan menyimpang dari jalan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Solidaritas terhadap Sesama Makhluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia yang menjadi bagian mutlak fitratnya ialah suatu gejolak solidaritas terhadap sesama makhluk (       - al muwasah). Gejolak membela kaum terdapat secara alami di dalam diri para penganut setiap agama. Dan kebanyakan orang karena gejolak alami solidaritas terhadap kaumnya, berlaku aniaya terhadap kaum lain seakan-akan menganggap mereka itu bukan manusia. Jadi, keadaan itu tidak dapat dikatakan akhlak. Ini hanyalah suatu gejolak alami belaka. Dan jika diperhatikan dengan seksama, keadaan alami ini juga terdapat di kalangan burung gagak serta burung-burung lainnya. Ketika seekor burung gagak mati, maka ribuan burung gagak lainnya datang berkumpul. Akan tetapi kebiasaan ini baru akan tergolong dalam akhlak insani apabila solidaritas tersebut diterapkan tepat sesuai tempat dan waktunya, dengan memperhatikan keadilan dan keseimbangan. Pada waktu itu ia akan menjadi suatu akhlak agung yang di dalam bahasa Arab disebut muwasah dan di dalam bahasa Farsi, hamdardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke arah itulah Allah swt. mengisyaratkan dalam Alquran Suci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, solidaritas dan dukungan terhadap kaummu hendaknya dilakukan dalam perkara-perkara kebaikan. Dan dalam perkara-perkara aniaya serta pelanggaran hendaknya sama sekali jangan mendukung mereka (5:3). Dan selalu giatlah dalam berlaku solider terhadap kaummu, dan jangan letih (4:105). Janganlah membela orang‑orang khianat (4:106). Adapun orang‑orang yang tidak jera dari perbuatan khianat, Allah Ta’ala tidak menyu­kai para pengkhianat (4: 108).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mencari Wujud Yang Maha Agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keadaan‑keadaan thabi’i manusia, yang merupakan ba­gian mutlak fitratnya, ialah mencari Wujud Yang Maha Agung. Untuk pencarian itulah di dalam lubuk hati manusia terdapat suatu tarikan. Dan pengaruh pencarian itu mulai terasa pada saat bayi lahir dari kandungan ibu. Sebab, begitu bayi lahir, pertama-tama sifat rohani yang ditampakkannya adalah lekat pada ibunya dan secara alami mencintai ibunya. Kemudian dengan terbukanya indera-indera yang dia miliki dan semakin berkembang fitratnya, tarikan kecintaan yang semula tersembunyi di dalam dirinya kian menampakkan warna dan bentuk­nya. Kemudian, keadaannya ialah, ia tidak merasa tenang di tempat lain kecuali di pangkuan ibunya. Anugerah berada di sisi ibunya itulah merupakan ketenangan sempurna yang dia miliki. Apabila ia dipisahkan dan dijauhkan dari ibunya, maka seluruh ketenangannya akan hilang. Dan walaupun dihadapannya disodorkan banyak ke­nikmatan, tetap saja dia melihat kebahagiaan sejatinya berada di dalam pangkuan ibu. Dan tanpa itu, bagai­manapun ia tidak memperoleh ketenangan. Jadi, apa sebenarnya tarikan kecintaan yang timbul di dalam dirinya terhadap sang ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya tarikan itu jugalah yang telah ditanamkan dalam fitrat bayi untuk mencari Ma’bud Haqiqi (Tuhan Sejati yang disembah). Bahkan hubungan kecintaan yang dijalin manusia di setiap tempat, pada hakikatnya tarikan itu jugalah yang tengah bekerja. Dan di tempat mana pun manusia menampakkan gejolak asmara, pada hakikatnya itu merupakan suatu pantulan kecintaan tersebut. Seakan‑akan dia membongkar-bongkar barang lain sedang mencari sesuatu yang hilang yang namanya pun dia sudah lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kecintaan manusia kepada harta, anak keturunan, isteri, atau ketertarikan hatinya terhadap suatu nyanyian suara merdu, pada hakikatnya itu merupakan pencarian terhadap Sang Kekasih yang telah hilang. Dikarenakan manusia tidak mampu melihat dengan mata jasmaninya sendiri Wujud Yang Maha Halus itu --yang bagaikan api tersembunyi di dalam setiap sesuatu dan terselubung dari semua orang -- dan tidak pula akal manusia yang tak sempurna dapat mene­mukan-Nya, maka berkenaan dengan makrifat Ilahi, manusia telah melakukan kesalahan-kesalahan besar. Dan dengan kesalahan-kesalahan itu hak-Nya telah dialihkan manusia kepada yang lain. Di dalam Alquran Suci Allah telah memberikan tamsil ini, bahwa dunia bagaikan istana kaca yang lantainya terbuat dari kaca bening, dan kemudian di bawah kaca itu dialirkan air yang melaju dengan sangat deras. Jadi, setiap penglihatan yang tertuju pada kaca itu dapat keliru mengira bahwa kaca-kaca itu pun air. Kemudian manusia demikian rupa takutnya berjalan di atas kaca itu sebagai­mana ia takut berjalan di atas air. Padahal sebenarnya itu adalah kaca be­ning yang tembus cahaya. Jadi, benda‑benda langit raksasa yang kelihatan, se­perti matahari, bulan, dan sebagainya merupakan kaca-kaca bening yang dengan keliru telah disembah. Dan dibalik benda-benda itu ada suatu kekuatan tinggi yang sedang bekerja, bagaikan air yang mengalir dengan derasnya di bawah kaca. Dan kekeliruan yang telah dilakukan oleh penglihatan para penyembah makhluk ialah, mereka menganggap pekerjaan itu dilakukan oleh kaca-kaca tersebut yang memperlihatkan kekuatan bawahnya. Demikianlah tafsir ayat suci ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya itu adalah istana yang berlantaikan kaca (27:45). Ringkasnya, oleh karena Dzat Allah Ta’ala yang kendati pun sangat cemerlang namun tetap saja terselubung, sebab itulah untuk menge­nali-Nya tidak cukup hanya dengan menyaksikan tatanan jasmani yang nampak di hadapan kita saja. Itulah sebabnya kebanyakan orang yang menggantungkan diri pada tatanan ini, tetap saja tidak dapat melepaskan diri dari gelapnya keraguan dan kebimbangan. Dan kebanyakan mereka terperangkap dalam berbagai kekeliruan, serta karena terjerat dalam syak-wasangka yang sia-sia, maka mereka telah tersesat jauh. Padalah mereka merenungkan dengan seksama gugusan sempurna dan kokoh itu, yang mengandung ribuan keajaiban. Bahkan mereka telah menciptakan kemahiran-kemahiran di bidang astronomi, ilmu alam, dan filsafat, seolah-olah mereka telah menyatu dengan langit dan bumi. Dan seandainya terpikirkan juga sedikit oleh mereka tentang Sang Pencipta, maka itu hanyalah sekedar anggapan yang timbul setelah menyaksikan tatanan yang tinggi dan sempurna, sehingga di dalam hati mereka muncul anggapan bahwa hendaknya memang harus ada suatu wujud yang menciptakan tatanan agung yang mengandung sistem yang penuh hikmah ini. Akan tetapi jelas bahwa pemikiran demikian tidak sempurna dan itu merupakan pengetahuan yang dangkal. Sebab mengatakan, “Untuk tatanan ini perlu ada suatu tuhan,” sekali‑kali tidak sama dengan ucapan bahwa, “Tuhan itu benar‑benar ada.” Ringkasnya, itu hanyalah merupakan pengetahuan mereka yang bersifat dugaan, yang tidak dapat memberikan ketenangan dan ketenteraman kepada hati serta sama sekali tidak dapat menghapuskan kebimbangan kalbu. Dan itu bukanlah suatu mangkuk yang dapat menghilangkan kedahagaan akan makrifat kamil yang telah dipatrikan pada fitrat manusia. Justru pengetahuan dangkal demikian itu sangat berbahaya, karena setelah heboh demikian rupa akhirnya tanpa hasil dan tidak membuahkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, selama Allah Ta’ala sendiri belum menzahirkan keberadaan-Nya melalui Kalam‑Nya -- sebagaimana yang telah Dia zahirkan melalui Kalam‑Nya -- selama itu pula penelaahan terhadap perbuatan‑Nya semata, tidak akan memberikan kepuasan. Misalnya, jika kita melihat sebuah kamar yang terasa mengherankan karena terkunci dari dalam, maka dari perbuatan itu pertama-tama yang pasti terpikirkan oleh kita adalah bahwa di dalam pasti ada orang yang telah memasangkan rantai dari dalam. Sebab, dari luar tidak mungkin rantai bagian dalam itu dapat dipasangkan. Akan tetapi apabila sampai masa tertentu -- bahkan sampai bertahun‑tahun -- kendati pun telah berulang‑ulang dipanggil, dari orang itu tidak juga ada sahutan, maka akhirnya pikiran kita yang beranggapan bahwa ada orang di dalam, akan berubah. Dan kita akan berpikir bahwa di dalam tidak ada orang, dan kunci itu telah terpasang dari dalam melalui suatu hikmah tertentu. Demikianlah keadaan para ahli filsafat yang telah membatasi pengetahuan mereka hanya pada penelaahan terhadap perbuatan Tuhan. Ini adalah suatu kekeliruan besar menganggap Tuhan seperti sesuatu yang telah mati, yang dapat dikeluarkan dari dalam kubur hanya oleh manusia. Seandainya Tuhan itu demikian -- yang diketahui hanya oleh usaha manusia saja -- maka seluruh harapan kita berkenaan dengan Tuhan yang demikian itu akan sia-sia. Justru Tuhan itu adalah Dia yang selamanya dan yang sejak awal terus memanggil manusia ke arah‑Nya dengan menyatakan sendiri:                  (Aku ada !)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sungguh sangat lancang apabila kita berpikiran bahwa dalam mengetahui tentang Tuhan terdapat ihsan manusia atas diri‑Nya, dan jika para ahli filsafat tidak ada, maka Dia seakan-akan tetap tidak akan ditemukan. Dan mengatakan bahwa, “Bagaimana Tuhan dapat berbicara? Apakah Dia memiliki lidah?” Itu pun suatu kekurang-ajaran. Tidakkah Dia telah menciptakan benda-benda langit dan bumi tanpa tangan-tangan jasmani? Tidak-kah Dia melihat seluruh alam semesta tanpa mata jasmani? Tidakkah Dia mendengar suara-suara kita tanpa telinga jasmani? Jadi, tidaklah mutlak bahwa Dia juga berbicara dengan cara demikian? Sungguh tidak benar bahwa di masa mendatang Tuhan tidak bercakap­-cakap, melainkan hanya di masa lampau saja. Kita tidak dapat menutup ucapan dan percakapan-percakapan-Nya se-batas zaman tertentu saja. Tidak diragukan lagi, sekarang pun Dia siap mencurahkan mata-air ilham kepada orang-orang yang mencari, sebagaimana sebelumnya Dia siap. Dan sekarang juga pintu-pintu karunia-Nya tetap terbuka seperti halnya dahulu. Ya, karena segala keperluan telah sempurna, maka syariat serta hukum-hukum pun telah sempurna. Dan seluruh kerasulan serta kenabian telah mencapai kesempurnaannya pada titik yang ter-akhir, dalam wujud Junjungan kita Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Kedatangan Rasulullah saw. di Negeri Arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya nur terakhir di negeri Arab pun bukanlah tanpa hikmah. Arab adalah kaum Bani Ismail yang terputus dari Israil yang atas hikmah Ilahi telah terdampar di belantara Faran. Dan arti faran ialah dua orang yang melarikan diri, yakni pelarian. Jadi, orang‑orang yang telah dipisahkan sendiri oleh Nabi Ibrahim a.s. dari Bani Israil, tidak lagi mempunyai bagian dalam syariat Taurat, seperti telah tercantum bahwa mereka itu tidak akan memperoleh bagian bersama Ishak a.s. Jadi, mereka telah ditinggalkan oleh orang-orang yang memiliki pertalian dengan mereka, dan tidak pula mereka memiliki hubungan dengan yang lainnya. Dan di semua negeri lainnya terdapat sedikit banyak tata-cara per­ibadatan dan peraturan. Dari itu dapat diketahui bahwa pa­da suatu masa tertentu ajaran nabi-nabi pernah sampai kepada mereka. Tetapi hanya negeri Arab saja satu‑satunya negeri yang sama sekali tidak me­ngenal ajaran‑ajaran tersebut, dan paling terkebelakang di seluruh dunia. Oleh karena itu, akhirnya tiba giliran mereka, dan Nabi mereka itu diperuntukkan bagi semesta alam supaya semua negeri kembali memperoleh berkat‑berkat serta memperbaiki kekeliruan yang telah terjadi. Jadi, sesudah Kitab Kamil seperti ini -- yang telah menangani seluruh perbaikan manusia dan tidak seperti halnya kitab-kitab terdahulu yang hanya diperuntukkan bagi satu kaum saja, melainkan bermaksud memperbaiki seluruh kaum serta telah menguraikan segenap jenjang tarbiyat manusia; telah mengajarkan peradaban manusiawi kepada orang-orang biadab, lalu mengajarkan akhlak fadhilah setelah membentuk mereka sebagai manusia -- kita harus menunggu kitab apa lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa Alquran Suci kepada Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan kebaikan/jasa Alquran Suci yang telah menunjukkan perbeda­an antara keadaan‑keadaan thabi’i dan akhlak fadhilah. Ia tidak berhenti sekedar mengangkat dari keadaan‑ keadaan thabi’i lalu menyampaikannya sebatas mahligai mulia akhlak fadhilah saja, melainkan pintu-pintu makrifat suci telah dibukakannya untuk mencapai tahapan berikut yang masih tersisa, yakni derajat keadaan-keadaan rohani. Dan tidak hanya sekedar membukakan, bahkan ia telah pula berhasil mengantarkan ratusan ribu insan sampai ke derajat itu. Ringkasnya, demikianlah Alquran Suci menjelaskan dengan amat indahnya tiga macam ajaran sebagaimana telah kami paparkan di atas. Jadi, dikarenakan Alquran adalah himpunan sempurna segenap ajaran yang merupakan landasan unsur‑unsur pendidikan agama, untuk itulah Alquran Suci menyatakan bahwa ia telah mengembangkan wawasan ajaran agama sampai ke taraf yang sempurna. Sebagai-mana Dia berfirman: ­&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu dan telah melengkapkan nikmat‑Ku atasmu dan Aku telah meridhai Islam sebagai agamamu (5:4). Yakni, derajat tertinggi dalam agama ialah hal-hal yang mengan­dung makna “Islam”, yaitu menyerahkan diri semata-mata kepada Tuhan dan mengupayakan keselamatan dirinya melalui pengorbanan diri sendiri, bukan dengan cara lain; dan memperlihatkan niat serta tekad itu secara amalan. Itulah titik dimana segenap kesempurnaan berakhir. Jadi, Alquran Suci telah menunjukkan Tuhan sejati yang tidak dikenali oleh para cendekiawan. Alquran Suci telah menetapkan dua cara untuk memperoleh makri­fat Ilahi. Cara pertama ialah yang dengan menempuhnya, maka akal manusia akan menjadi amat kuat dan cemerlang dalam mencetuskan dalil-dalil logika, sehingga ter-hindar dari melakukan kekeliru­an. Yang kedua ialah cara rohaniah yang insya Allah sebentar lagi akan kami uraikan dalam pembahasan masalah ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-dalil Adanya Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang perhatikanlah dalil-dalil hebat dan tidak ada bandingannya yang telah dipaparkan oleh Alquran Suci secara logika tentang Wujud Tuhan, sebagaimana firman‑Nya di satu tempat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Tuhan adalah Dia Yang telah menganugerahkan kepada tiap sesuatu penciptaan/kelahiran yang sesuai dengan keadaannya, kemudian me­nunjukinya jalan untuk mencapai kesempurnaannya yang diinginkan­ (20:51). Kini jika dengan memperhatikan makna ayat tersebut kita menelaah bentuk ciptaan --mulai dari manusia hingga binatang‑bina­tang daratan dan lautan serta burung‑burung -- maka timbul ingatan akan kekuasaan Ilahi. Yakni, bentuk ciptaan setiap benda tampak sesuai dengan keadaannya. Para pembaca dipersilahkan memikirkannya sendiri. Sebab masalah ini sangat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil kedua mengenai adanya Tuhan ialah, Alquran Suci telah menyatakan Allah Ta’ala sebagai sebab dasar dari segala sebab, sebagaimana Alquran Suci menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, seluruh rangkaian sebab dan akibat berakhir pada Tuhan engkau (53:43). Rincian dalil ini ialah, berdasarkan penelaahan cermat akan diketahui bahwa seluruh alam se­mesta ini terjalin dalam rangkaian sebab dan akibat. Dan oleh karena itu, di dunia ini timbul berbagai macam ilmu. Sebab, karena tiada bagian ciptaan yang terlepas dari tatanan itu. Sebagian merupakan landasan bagi yang lain, dan sebagian lagi merupakan pengembangan-pengembangannya. Adalah jelas bahwa suatu sebab timbul karena zatnya sendiri, atau berlandaskan pada sebab yang lain. Kemudian sebab yang lain itu pun berlandaskan pada sebab yang lain lagi. Dan demikianlah seterusnya. Tidak benar bah­wa di dalam dunia yang terbatas ini rangkaian sebab dan akibat tidak mempunyai kesudahan dan tiada berhingga. Maka terpaksa diakui bahwa rangkaian ini pasti berakhir pada suatu sebab ter­akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, puncak terakhir semuanya itu ialah Tuhan. Perhatikanlah dengan seksama betapa ayat: “Wa anna ilaa rabbikal-muntahaa” itu dengan kata‑katanya yang ringkas telah menjelaskan dalil ter­sebut di atas, yang artinya, puncak terakhir segala rangkaian ialah Tuhan engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian satu dalil lagi mengenai adanya Tuhan ialah, sebagaimana firman‑Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, matahari tidak dapat mengejar bulan dan juga malam yang merupakan penampakkan bulan tidak dapat mendahului siang yang merupakan penampakkan mata­hari. Yakni, tidak ada satu pun di antara mereka yang keluar dari batas-batas yang ditetapkan bagi mereka (36:41). Jika di balik semua itu tidak ada Wujud Sang Perencana, niscaya segala rangkaian tersebut akan hancur. Dalil ini sangat bermanfaat bagi orang-orang yang gemar menelaah benda-benda langit, sebab benda‑benda langit tersebut merupakan bola-bola raksasa yang tiada terhitung banyaknya, sehingga dengan sedikit saja terganggu maka seluruh dunia dapat hancur. Betapa ini merupakan suatu kekuasaan yang hakiki sehingga benda‑benda langit itu tidak saling bertabrakkan dan kecepatannya tidak berubah seujung rambut pun, serta tidak aus walau telah sekian lama bekerja dan tidak terjadi perubahan sedikit pun. Sekiranya tidak ada Sang Penjaga, bagaimana mungkin jalinan kerja yang demikian besar ini dapat berjalan dengan sendirinya sepanjang masa. Dengan mengisyaratkan kepada hikmah-hikmah itulah, di tempat lain Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, dapatkah Wujud Tuhan Yang telah menciptakan langit dan bumi demikian itu diragukan? (14:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sebuah dalil lagi tentang keberadaan-Nya, difirmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, tiap sesuatu akan mengalami kepunahan dan yang kekal itu ha­nyalah Tuhan Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan (55:27,28). Kini perhatikanlah! Jika kita bayangkan dunia ini menjadi hancur-lebur dan benda-benda langit pun pecah berkeping‑keping, serta bertiup angin yang melenyapkan seluruh jejak benda-benda itu, namun demikian akal mengakui serta menerima -- bahkan hati nurani menganggapnya mutlak -- bahwa sesudah segala kebinasaan itu terjadi, pasti ada sesuatu yang bertahan yang tidak mengalami kepunahan serta perubahan-perubahan dan tetap utuh seperti keadaannya semula. Jadi, itulah Tuhan yang telah menciptakan semua wujud fana (tidak kekal), sedangkan Dia sendiri terpelihara dari kepunahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian satu dalil lagi berkenaan dengan keberadaan-Nya yang Dia dikemukakan di dalam Alquran Suci adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Aku berkata kepada setiap ruh: “Bukankah Aku Tuhan­ kamu?” Mereka berkata, “Ya, sungguh benar!” (7:173). Di dalam ayat ini Allah Ta’ala menerangkan dalam bentuk kisah, suatu ciri khas ruh yang telah ditanamkan-Nya di dalam fitrat mereka. Ciri khas itu ialah, pada fitratnya tiada satu ruh pun yang dapat mengingkari hanyalah karena mereka tidak menemukan apa pun di dalam pikiran mereka. Kendati mereka ingkar mereka mengakui bahwa tiap‑tiap kejadian pasti ada penyebabnya. Di dunia ini tidak ada orang yang begitu bodohnya, misalnya jika pada tubuhnya timbul suatu penyakit, dia tetap bersikeras menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada suatu sebab yang menimbulkan penyakit itu. Seandainya rangkaian dunia ini tidak terjalin oleh sebab dan akibat, maka tidaklah mungkin dapat membuat prakiraan bahwa pada tanggal sekian akan datang taufan atau badai; akan terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan; atau seseorang yang sakit akan wafat pada waktu tertentu; atau sampai pada waktu tertentu suatu penyakit akan muncul bersamaan dengan penyakit lain. Jadi, seorang peneliti, walaupun tidak mengakui Wujud Tuhan, namun dari satu segi dia telah meng­akuinya. Yakni ia pun, seperti halnya kita, mencari-cari penyebab dari sebab akibat. Jadi, itu pun merupakan suatu bentuk pengakuan, walaupun bukan pengakuan yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, apabila seseorang yang mengingkari Wujud Tuhan, dengan cara tertentu kesadarannya dihilangkan -- yaitu ia sama sekali dijauhkan dari segala keinginan rendah ini dan segala hasratnya dihilangkan, lalu diserahkan ke dalam kendali Wujud Yang Maha Tinggi -- maka dalam keadaan demikian ia akan mengakui Wujud Tuhan, tidak akan ingkar. Hal serupa itu telah dibuktikan melalui percobaan orang-orang yang berpengalaman luas. Jadi, ke arah kondisi demikianlah isyarat yang terdapat di dalam ayat itu. Dan makna ayat itu adalah, pengingkaran Wujud Tuhan hanya terjadi sebatas kehidupan rendah saja. Sebab, fitrat yang asli dipenuhi oleh pengakuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat Allah Ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dalil-dalil tentang Wujud Tuhan yang kami tuliskan sebagai contoh. Kemudian hendaklah diketahui bahwa Tuhan yang ke arah-Nya Alquran Suci mengimbau kita, sifat-sifat-Nya telah ia terangkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Dia itulah Tuhan Yang Esa, dan tiada sekutu bagi‑ Nya, tidak ada yang patut disembah dan ditaati kecuali Dia (59:23). Hal itu dikatakan karena seandainya Dia bukan sesuatu yang tanpa sekutu, mungkin saja kekuatan-Nya dapat ditaklukkan oleh kekuatan musuh‑Nya. Dalam keadaan demikian, posisi Ketuhanan akan tetap berada dalam ancaman bahaya. Dan yang difirmankan bahwa, “Tidak ada yang patut disembah kecuali Dia,” artinya adalah, Dia merupakan Tuhan Yang Sempurna sedemikian rupa yang sifat-sifat, kelebihan‑kelebihan serta kesempurnaan‑ kesempurna­an‑Nya demikian tinggi dan agung sehingga jika kita ingin memilih satu tuhan dari segala wujud yang ada berdasarkan sifat-sifatnya yang sempurna, atau kita di dalam hati membayangkan sifat‑sifat tuhan yang paling indah dan paling tinggi, maka Dia-lah yang paling tinggi, yang selain-Nya tidak ada yang dapat lebih tinggi dari Dia. Dia-lah Tuhan yang di dalam penyembahan-Nya menyekutukan sesuatu yang lebih rendah merupakan suatu keaniayaan. Lebih lanjut Dia berfirman, bahwa Dia ‘Alimul Ghaib. Yakni, hanya Dia-lah yang mengetahui tentang diri-Nya sendiri. Tidak ada satu pun yang mampu meliputi batas Zat‑Nya. Kita dapat melihat matahari, bulan dan tiap makhluk seutuhnya, akan tetapi kita tidak dapat melihat Tuhan secara utuh. Kemudian firman-Nya bahwa Dia ‘Alimul Syahadah. Yakni, tak ada suatu benda pun tersembunyi dari pandangan-pandangan‑Nya. Tidaklah layak apabila Dia dikatakan sebagai Tuhan, lalu Dia tidak memiliki pengetahuan tentang benda‑benda. Dia memiliki peng-lihatan atas partikel-partikel alam ini, sedangkan manusia tidak memilikinya. Dia mengetahui kapan Dia akan menghancurkan tatanan alam ini dan akan mendatangkan kiamat. Dan selain daripada-Nya tidak ada yang mengetahui kapan hal itu akan terjadi. Jadi, Dia itulah Tuhan Yang Mengetahui semua waktu tersebut. Kemudian firman‑Nya: “Hua rahmaanu,” yakni sebelum ada wujud makhluk-makhluk hidup dan usaha-usaha mereka,. semata‑mata karena Dia senang, bukan karena suatu maksud tertentu, dan bukan sebagai balasan bagi suatu perbuatan, Dia telah menyediakan sarana-sarana kemudahan bagi mereka. Contohnya, Dia telah menciptakan matahari, bumi, dan segala benda lain sebelum adanya wujud serta perbuatan-perbuatan kita. Di dalam Kitab Ilahi anugerah demikian itu dinamakan rahma-niyyat dan karena pekerjaan-Nya itulah Allah Ta’ala disebut Rahman. Kemudian firman-Nya lagi: ”Ar-rahiim,” yakni Dia‑lah Tuhan yang memberikan ganjaran terbaik bagi amal per­buatan yang baik, dan Dia tidak menyia‑nyiakan upaya gigih seseorang. Berdasarkan pekerjaan‑Nya ini, Dia disebut Rahim, dan sifat itu disebut rahimiyyat (59:23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian firman-Nya: “Maaliki yaumiddiin,” yakni, Dia-­lah Tuhan Yang menyimpan di tangan-Nya balasan bagi segala sesuatu. Dia tidak memiliki petugas yang kepadanya Dia serahkan pemerintahan langit dan bumi, sedangkan Dia sendiri tidak campur-tangan duduk tanpa pekerjaan; hanya si petugas itu sajalah yang memberikan segala ganjaran maupun hukuman di alam ini atau di Hari Kemudian (1:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian firman‑Nya: “Almalikul-qudduus,” Yakni, Tuhan itu Dia‑lah Raja Yang tiada bernoda dan tiada ber­cacat (59:24). Adalah jelas bahwa kerajaan manusia tidak bersih dari keaiban. Seandainya seluruh penduduk suatu negeri meninggalkan negeri mereka beramai‑ramai dan mengungsi ke negeri lain, niscaya kerajaan itu tidak akan dapat berdiri. Atau, andaikata seluruh rakyat di­landa musim kemarau, dari manakah akan diperoleh upeti bagi raja? Sekiranya rakyat mulai mempersoalkan apa kelebihan raja dari mereka, maka kekuasaan apa yang dapat dibuktikan oleh sang raja? Jadi, kerajaan Allah Ta’ala tidaklah demikian. Dia dalam sekejap mata dapat melenyapkan seluruh negeri, dan Dia dapat menciptakan makhluk‑makhluk. Sekiranya Dia bukan Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Kuasa, maka tatanan kerajaan‑Nya tidak dapat berjalan kecuali dengan menggunakan cara‑cara kezaliman. Sebab, satu kali Dia memberikan pengampunan dan ke­selamatan kepada dunia, maka dari mana Dia akan mendatangkan dunia yang lain? Apakah orang‑orang yang sudah mendapat keselamatan itu harus ditangkapi untuk diturunkan lagi ke dunia dan dengan cara aniaya Dia menarik kembali ampunan dan keselamatan yang telah dilimpahkan-Nya? Jika demikian, pasti terdapat cela pada sifat Ketuhanan‑Nya, dan Dia pun tak ubahnya seperti raja‑raja dunia mempunyai noda. Raja‑raja membuat undang‑undang bagi dunia, lalu murka pada hal‑hal kecil, dan jika untuk kepentingan pribadi mereka tidak melihat cara lain kecuali berbuat zalim, maka mereka akan mengangap perbuatan zalim itu halal bagaikan susu ibu. Misalnya, undang‑undang kerajaan mengizinkan agar sebuah perahu bersama penumpang-penumpangnya dibiarkan tenggelam untuk menyelamatkan sebuah kapal. Akan tetapi, ketidak-berdayaan seperti itu tidak berlaku pada Tuhan. Jadi, seandainya Tuhan bukan merupakan Penguasa penuh dan bukan Pencipta dari sesuatu yang tidak ada, maka Dia akan bertindak seperti raja‑raja lemah yang menggunakan kezaliman untuk menegakkan kekuasaan; atau berlaku adil tetapi melepaskan sifat Ketuhanan-Nya. Justru Bahtera Tuhan beserta segala kodrat‑Nya melaju dengan anggun di atas keadilan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian firman-Nya: “Assalaam,” yakni Dia‑lah Tuhan Yang terpelihara dari segala aib, musibah dan kesulitan. Justru Dia‑lah Pemberi keselamatan. Maksudnya pun jelas, sebab seandainya Dia sendiri tertimpa musibah-musibah, dipukuli orang‑orang dan rencana-rencana‑Nya tidak berjaya, maka dengan melihat contoh buruk itu bagaimana mungkin manusia akan merasa tenang hatinya bahwa tuhan yang semacam itulah yang akan melepaskan mereka dari musibah-musibah? Berkenaan dengan sembahan‑sembahan palsu, Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang kamu anggap sebagai Tuhan, keadaannya adalah demikian, jika mereka semua bersatu lalu ingin menciptakan seekor lalat, sampai kapan pun mereka tidak akan dapat menciptakan, walaupun mereka saling membantu. Bahkan jika lalat itu meram­pas sesuatu milik mereka, maka mereka tidak kuasa untuk mengambilnya kembali dari lalat itu. Orang‑orang yang menyembah mereka, akalnya lemah dan yang disembah pun kekuatannya tidak berdaya. Apakah Tuhan itu demikian? Tuhan adalah Dia yang lebih perkasa dari segala yang perkasa dan unggul atas semuanya; tidak ada yang dapat menangkap-Nya maupun memukul-Nya. Orang‑orang yang jatuh dalam kesalahan-kesalahan serupa itu tidaklah mengenal nilai Tuhan dan tidak tahu Tuhan itu seharusnya yang bagaimana (22:74,75).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian firman-nya: “Almu’min,” bahwa Tuhan adalah Sang Pemberi keamanan dan yang menegakkan dalil-dalil tentang kesempurnaan-kesempurnaan dan Tauhid‑Nya. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang yang beriman kepada Tuhan sejati tidak akan malu di hadapan orang banyak, dan tidak pula akan malu di hadapan Tuhan. Sebab, ia memiliki dalil‑dalil yang kuat. Akan tetapi orang yang percaya kepada tuhan palsu, berada dalam kesulitan besar. Bukannya dia mengemukakan dalil‑dalil, justru dia memasukkan seluruh perkara sia-sia itu sebagai rahasia supaya jangan sampai diter­tawakan, dan dia ingin menyembunyikan kekeliruan-kekeliruan yang telah terbukti nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merupakan pelindung bagi semua dan unggul atas segala sesuatu serta memperbaiki apa yang rusak, dan Zat‑Nya sangat berkecukupan (59:24). Dan difirmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Dia adalah Tuhan yang menciptakan tubuh-tubuh dan juga yang menciptakan ruh-ruh. Dia yang membentuk rupa di dalam rahim. Segala nama baik yang dapat terlintas di pikiran, semua itu hanyalah bagi-Nya (59:25). Kemudian firman-Nya:      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, para penghuni langit menyanjung nama‑Nya, demikian pula para penghuni bumi (59:25). Di dalam ayat ini diisyaratkan bahwa di benda‑ benda langit ada penghuni dan mereka pun terikat dengan petunjuk‑petun­juk Tuhan. Dan kemudian firman‑Nya pula:     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Tuhan adalah Maha Kuasa (2:21). Ini merupakan ketenteraman bagi para penyembah, sebab jika Tuhan itu lemah dan tidak ­kuasa, maka apalah yang dapat diharapkan dari tuhan seperti itu? Dan kemudian firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Dia‑lah Tuhan Pemelihara sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, serta Dia sendirilah Pemilik Hari Pembalasan. Wewenang itu tidak diserahkan-Nya kepada siapa pun (1:2-4). Dia mendengar dan menjawab seruan setiap penyeru-Nya, yakni mengabulkan do’a‑do’a (2:187). Kemudian firmannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Dia‑lah Yang Hidup selama‑lamanya dan Sumber segala kehidupan serta Tumpuan segala wujud (3:3). Hal ini dikatakan karena seandainya Dia tidak kekal abadi, maka berkenaan dengan hidup‑Nya pun akan tetap diragukan bahwa jangan-jangan Dia telah mati sebelum kita. Dan kemudian difirmankan bahwa, Dia‑lah Tuhan Yang Esa; bukan anak siapa pun, dan tidak pula ada anak‑Nya; tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada yang sejenis dengan-Nya (112:2‑5). Dan hendaknya diingat, mengakui secara benar Tauhid Allah Ta’ala dan tidak menambah serta menguranginya, itu merupakan sikap adil yang dilakukan manusia terhadap Majikan-nya Yang Hakiki. Seluruh bagian ini merupakan pelajaran akhlak yang telah dipaparkan dari ajaran Alquran Suci. Azas yang terdapat di dalamnya ialah Allah Ta’ala telah menyelamatkan seluruh akhlak dari batas-batas yang terlalu berlebihan dan terlalu kurang. Dan setiap akhlak baru dapat dinamakan akhlak apabila diterapkan tidak lebih dan tidak kurang dari batas-batas yang sebenarnya dan yang wajib. Adalah jelas bahwa kebaikan hakiki ialah sesuatu yang dilakukan di tengah-tengah kedua batas tersebut, yakni di antara batas-batas yang terlalu berlebihan dan yang terlalu kurang. Setiap kebiasaan yang menarik orang supaya berjalan di tengah-tengah dan mempertahankannya, itulah yang menciptakan akhlak fadhilah. Mengenal keadaan dan kesempatan adalah suatu jalan tengah. Misalnya, jika seorang petani menyemai­ benih sebelum waktunya, atau sesudah lewat waktunya, dalam kedua bentuk itu berarti dia telah meninggalkan jalan tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan, kebenaran, dan kebijaksanaan, semuanya berada di jalan tengah; sedangkan jalan tengah itu memperhatikan situasi. Atau, katakanlah, kebenaran itu merupakan sesuatu yang selalu terletak di tengah dua kebatilan yang berlawanan. Dan sedikit pun tidak diragukan lagi bahwa sikap yang tepat sesuai keadaan, senantiasa menempatkan manusia pada jalan tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berkenaan dengan pengenalan terhadap Tuhan, jalan tengahnya ialah, tidak condong ke arah penolakan terhadap sifat‑sifat-Nya dan tidak pula menyamakan Tuhan dengan benda-benda jasmani. Cara inilah yang diterapkan Alquran Suci berkenaan dengan sifat‑sifat Allah Ta’ala. Demikianlah, Alquran juga menyatakan bahwa Tuhan melihat, mendengar, mengetahui, berbicara, dan bercakap‑cakap, dan kemudian untuk menghindarkan kesamaan terhadap makhluk, Alquran pun menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, tidak ada yang menyekutui-Nya dalam hal zat dan sifat-sifat-Nya (42:12). Jangan ciptakan bagi-Nya persamaan-persamaan dari kalangan makhluk (16:75). Jadi, menempatkan Zat Tuhan tepat di antara batas-batas tasybih (sifat-sifat yang dapat ditamsilkan) dan tanzih (sifat-sifat asli Tuhan yang tidak dapat ditamsilkan), itulah jalan tengah. Ringkasnya, ajaran Islam adalah ajaran yang mengambil jalan tengah. Surah Al‑Fatihah pun memberi petunjuk mengenai jalan tengah ini, sebab Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan orang‑orang yang dimurkai ialah orang‑orang yang menggunakan emosi untuk melawan Allah Ta’ala lalu mengikuti nafsu rendah. Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat ialah mereka yang mengikuti nafsu kebinatangan. Dan jalan tengah adalah apa yang disebut dengan kata             . Ringkasnya, bagi umat yang berbahagia ini di dalam Alquran Suci terdapat petunjuk tentang jalan tengah. Di dalam Taurat, Allah Ta’ala telah menekankan perkara-perkara pembalasan. Dan di dalam Injil, Dia telah memberikan penekanan pada pemberian maaf dan sabar. Sedangkan umat ini telah mendapat ajaran tentang ketepatan situasi dan jalan tengah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Kami telah menjadikan kamu orang-orang yang mengamalkan jalan ­tengah dan kepada kamu telah diajarkan jalan tengah (2:144). Maka berbahagialah mereka yang mengikuti jalan tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Jalan tengah adalah yang terbaik]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbaikan Ketiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan-keadaan Rohani Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan ketiga ialah: apakah keadaan‑keadaan rohani itu? Hendaknya jelas bahwa sebelum ini kami sudah menerang­kan bahwa menurut petunjuk Alquran Suci, sumber dan mata-air keadaan‑keadaan rohani adalah nafs muthma’innah, yang mengantarkan manusia dari derajat akhlak sampai pada derajat kedekatan dengan Tuhan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, wahai jiwa yang mendapat ketenteraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb-mu! Dia senang kepadamu dan kamu senang kepada-Nya. Maka bergabunglah dengan hamba‑hamba‑ Ku dan masuklah ke dalam surga‑Ku (89:28‑31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tempat ini ada baiknya kalau kami menafsirkan ayat suci ini agak lebih luas untuk menjelaskan keadaan‑keadaan rohani. Jadi hendaknya diingat bahwa di dalam kehidupan manusia di dunia ini keadaan rohani tertinggi adalah memperoleh ketenteraman bersama Allah Ta’ala; dan segala ketenangan, kebahagiaan, dan kelezatan baginya terpusat pada Tuhan. Inilah keadaan yang dengan kata lain disebut kehi­dupan surgawi. Dalam keadaan itu manusia langsung mendapat surga sebagai ganjaran atas kejujuran hati, ketulusan, dan kesetiaannya yang sempurna. Orang‑orang lain masih mengharapkan surga yang dijanjikan, sedangkan orang yang memiliki derajat rohani tertinggi ini telah masuk ke dalam surga yang sudah menjadi kenyataan. Setelah mencapai derajat ini barulah manusia mengerti bahwa ibadah yang telah dibebankan atasnya justru merupakan makanan yang dengan itu ruhnya akan tumbuh berkembang dan merupakan landasan yang kuat sekali bagi kehidupan rohaninya. Untuk meraih hasilnya, tidak bergantung pada suatu alam lain. Justru di tempat ini jugalah hasil itu diperoleh. Segala penyesalan yang dilakukan oleh nafs lawwamah manusia atas kehidupannya yang kotor -- dan nafs lawwamah itu tetap tidak mampu membangkitkan secara benar keinginan-keinginan baik; dan tidak dapat membangkitkan kebencian sejati terhadap keinginan-keinginan buruk; serta tidak pula dapat memberikan kekuatan sempurna untuk bertahan di atas kebaikan -- melalui gerakan suci inilah hal-hal tersebut berubah. Itulah yang merupakan awal pertumbuhan nafs muthma’innah. Dan setelah mencapai derajat tersebut, tibalah saatnya manusia meraih kejayaan yang sempurna. Sejak itu dorongan-dorongan nafsu mulai padam dengan sendirinya. Dan angin pemberi kekuatan mulai bertiup di atas ruh, yang dengan itu manusia memandang kelemahan-kelemahannya yang sudah-sudah dengan penyesalan. Pada saat itu di dalam diri manusia timbul suatu revolusi besar, dan timbullah perubahan luar biasa dalam tingkah‑lakunya. Kemudian ia sangat jauh meninggalkan keadaan-keadaannya semula, dibasuh dan dibersihkan. Dan Tuhan dengan tangan‑Nya sendiri menuliskan di dalam hati orang itu kecintaan akan kebaikan, serta dengan tangan‑Nya sendiri Dia mencampakkan keluar kotoran keburukan dari dalam hatinya. Segenap lasykar kebenaran memasuki lubuk hatinya dan kebenaran menguasai seluruh kubu fitratnya. Dan kebenaran pun meraih kemenangan, sedangkan kebatilan melarikan diri dan membuang senjatanya. Pada kalbu orang itu terdapat Tangan Tuhan, dan setiap langkah bergerak di bawah naungan Tuhan. Di dalam ayat-ayat berikut ini Allah Ta’ala mengisyaratkan kepada hal‑hal tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Allah Ta’ala telah menuliskan dengan tangan‑Nya sendiri ke­imanan dalam kalbu orang‑orang mukmin dan menolong mereka dengan Ruhulkudus (58:23). Hai orang‑orang mukmin, Dia telah menjadikan keimanan sebagai sesuatu yang kamu cintai, dan telah menanamkan dalam hatimu keindahan serta kecantikannya. Dan Dia telah menanamkan dalam hatimu kebencian terhadap kekufuran, perbuatan buruk, dan perbuatan dosa. Dan Dia telah menanamkan di dalam hatimu rasa jijik terhadap segala jalan yang buruk. Kesemuanya itu adalah ber­kat karunia serta rahmat Allah (49:8,9). Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Dan kebatilan tidak mungkin bertahan terhadap kebenaran (17:82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, semua isyarat ini mengarah kepada keadaan rohani yang diraih manusia pada derajat ketiga. Dan manusia kapan pun tidak dapat memperoleh penglihatan sejati selama keadaan ini belum diraihnya. Dan yang difirmankan Allah Ta’ala bahwa, “Aku telah menuliskan dengan tangan‑Ku sendiri keimanan di dalam kalbu mereka serta telah menolong mereka melalui Ruhul­kudus”, hal itu mengisyaratkan, manusia sekali-kali tidak akan dapat meraih kebersihan dan kesucian sejati selama pertolongan samawi belum menyertainya. Keadaan manusia pada derajat nafs lawwamah adalah, ia berulangkali bertaubat dan berulangkali pula tergelincir. Bahkan acapkali ia putus-asa terhadap kemampuan dirinya dan menganggap penyakitnya tidak dapat disembuhkan lagi. Hingga satu jangka waktu tertentu keadaannya demikian. Kemudian ketika waktu yang ditetapkan telah sempurna, maka pada malam hari atau siang, turunlah suatu nur kepadanya. Dan di dalam nur itu terkandung kekuatan Ilahi. Bersamaan dengan turunnya nur itu timbul suatu perubah­an menakjubkan di dalam dirinya dan terasa adanya suatu kekuatan Tangan Gaib, lalu nampaklah di hadapannya suatu alam yang menakjubkan. Pada saat itu manusia menyadari bahwa Tuhan benar‑benar ada, dan pada matanya muncul cahaya yang tidak ada sebelumnya. Akan tetapi, bagaimanakah kita dapat menemui jalan itu dan bagaimana kita dapat memperoleh cahaya itu? Jadi hendaknya diketahui bahwa di dunia ini -- yang merupakan tempat berlakunya faktor-faktor sebab -- bagi setiap akibat ada satu penyebabnya, dan bagi setiap gerak ada satu penggeraknya. Dan untuk meraih setiap ilmu ada satu jalan yang dinamakan sirathal mustaqim. Tiada suatu pun di dunia ini yang dapat diperoleh tanpa mengikuti peraturan‑peraturan yang telah ditetapkan oleh Kodrat (kekuasaan Tuhan) baginya sejak awal. Hukum Kodrat menunjukkan bahwa untuk memperoleh sesuatu ada sirathal mustaqim, yang secara kodrati dengan bertumpu kepadanyalah hal itu baru dapat diperoleh. Umpamanya, jika kita duduk di dalam sebuah kamar yang gelap dan memerlukan cahaya matahari, maka sira­thal mustaqim bagi kita ialah, kita harus membuka jendela yang menghadap ke arah matahari. Dengan demikian barulah cahaya matahari akan masuk ke dalam, lalu menyinari kita. Jadi, adalah jelas, untuk memperoleh karunia Tuhan yang sejati dan hakiki pasti ada suatu jendela tertentu, dan untuk mencapai kerohanian yang suci pasti ada suatu cara tersendiri. Dan caranya, carilah sirathal mustaqim bagi hal-hal rohaniah, sebagaimana kita senantiasa men­cari sirathal mustaqim bagi keberhasilan-keberhasilan dalam segala urusan kehi­dupan kita. Akan tetapi, apakah memang demikian caranya, yaitu kita mencari perjumpaan dengan Tuhan hanya bertumpu pada kemampuan akal kita dan melalui hal-hal yang kita rancang sendiri saja? Apakah hanya melalui logika dan falsafah kita saja maka pintu‑pintu itu akan terbuka bagi kita, padahal terbukanya pintu-pintu tersebut sangat bergantung pada Tangan-Nya yang perkasa? Pahamilah dengan seyakin‑yakinnya bahwa hal demikian sama sekali tidak benar. Kita sama sekali tidak dapat meraih Sang Hayyul Qayyum (Tuhan Yang Maha Hidup dan Maha Tegak) dengan hanya melalui upaya-upaya kita sendiri. Justru pada jalan ini satu-satunya sirathal mustaqim ialah, pertama-tama kita harus menyerahkan kehidupan kita beserta segala kemampuan kita pada jalan Allah, kemudian tetap tekun memanjatkan do’a untuk meraih perjumpaan dengan Allah, agar kita dapat menjumpai Tuhan dengan peran­taraan Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Do’a yang Indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a paling indah yang diajarkan kepada kita selaras dengan waktu dan keadaan yang tepat, dan yang menampilkan di hadapan kita gambaran gejolak rohaniah yang dimiliki oleh fitrat, ialah do’a yang telah diajarkan kepada kita oleh Tuhan Yang Maha Pengasih di dalam Kitab Suci-Nya, Alquran Suci, yakni dalam Surah Al‑Fati­hah. Dan do’a itu ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala pujian suci yang ada ialah bagi Allah Yang menciptakan dan memelihara sekalian alam (1:1,2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia‑lah Tuhan yang menyediakan bagi kita sarana-sarana rahmat sebelum kita melakukan amal perbuatan, dan Dia-lah yang dengan rahmat-Nya mem­berikan ganjaran sesudah kita melakukan amal per­buatan (1:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia‑lah Tuhan yang Satu-satunya Pemilik Hari Pembalasan (1:4). Dan tidak Dia serahkan Hari itu kepada siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Dia Yang merupakan himpunan segala pujian itu, hanya kepada Engkau‑lah kami menyembah dan hanya dari Engkau-lah kami memohon taufik dalam segala pekerjaan (1:5). Disini ungkapan penyembahan dengan kata “kami”, mengisyaratkan bahwa, “seluruh kekuatan kami telah terpaut pada penyembahan terhadap Engkau dan tunduk di hadapan singgasana-Mu.” Sebab, manusia dari segi kekuatan batiniahnya merupakan satu jemaat dan satu ummat. Dan dalam keadaan demikian, bersujud-nya seluruh kekuatan kepada Tuhan, itulah keadaan yang disebut Islam.                                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunjukkanlah kami jalan Engkau yang lurus dan teguhkanlah kami di atas jalan itu, lalu tunjukkanlah jalan orang‑orang yang kepada mereka telah Engkau turunkan nikmat serta kemurahan Engkau, dan yang telah menjadi penerima anugerah serta karunia Engkau (1:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hindarkanlah kami dari jalan orang‑orang yang Engkau murkai dan yang tidak dapat mencapai Engkau serta yang telah sesat (1:7). Amin! Wahai Tuhan, lakukanlah demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat ini menerangkan bahwa nikmat‑nikmat Allah Ta’ala -- yang dalam perkataan lain disebut karunia‑karunia -- turun hanya kepada orang‑orang yang telah mengorbankan hidup mereka di jalan Tuhan dan mewakafkan seluruh wujud mereka di jalan-Nya, serta tenggelam dalam keridhaan‑Nya, lalu senantiasa berdo’a agar segala sesuatu yang dapat diperoleh manusia berupa nikmat-nikmat kerohanian, kedekatan dan perjumpaan dengan Tuhan serta percakapan dan dialog dengan-Nya, semuanya itu dapat mereka peroleh. Dan bersama do’a itu mereka melaksanakan ibadah dengan segenap kemampuan mereka, serta menjauhi dosa dan senantiasa merebahkan diri di singgasana Ilahi. Dan sejauh yang mungkin bagi mereka, mereka menghindarkan diri dari keburukan serta menjauhi jalan-jalan kemurkaan Ilahi. Jadi, karena mereka mencari Tuhan dengan semangat serta ketulusan yang tinggi, maka mereka menemu­kan-Nya dan mereka diberi minum dari mangkuk makrifat suci Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istiqamah (kegigihan) yang telah disebut dalam ayat ini mengisyarat­kan bahwa karunia sejati lagi sempurna yang menyampaikan kita ke alam kerohanian adalah berkaitan erat dengan istiqamah yang sempurna. Dan yang dimaksud dengan istiqamah yang sempurna ialah suatu kondisi tulus dan setia sedemikian rupa yang tidak dapat dirusak oleh suatu ujian apa pun. Yakni, suatu jalinan yang tidak dapat dipotong oleh pedang, tidak dapat di bakar oleh api, dan tidak dapat dicelakakan oleh bencana apa pun. Kematian sanak‑saudara tidak dapat memutuskan jalinan itu. Perpisahan dari segala yang dicintai tidak dapat mengganggunya. Kekhawatiran akan runtuhnya kehormatan, sedikit pun tidak dapat membuatnya takut. Penderitaan karena dera siksaan yang dahsyat, sedikit pun tidak membuat hatinya gentar. Jadi, jalan ini memang sangat sempit dan jalan ini sangat sulit ditempuh. Ah, betapa sulitnya! Ke arah inilah Allah swt. memberikan isyarat di dalam ayat-ayat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, katakanlah kepada mereka, “Sekiranya bapak-bapakmu dan anakanak lelakimu atau saudara-saudara lelakimu dan isteri‑isterimu dan kaum keluargamu dan harta kekayaan yang kamu usahakan dengan susah-payah dan perniagaan yang kamu khawatir akan terhenti dan gedung‑gedungmu yang disukai hatimu, adalah lebih berharga daripada Allah dan Rasul‑Nya, dan lebih berharga dari berjihad pada jalan Allah, maka tunggulah saat ketika Allah menurunkan perintah‑Nya, dan Allah sekali‑kali tidak akan me­nunjuki jalan‑Nya kepada orang‑orang yang berbuat jahat” (9:24). Dari ayat‑ayat ini jelaslah bahwa orang-orang yang meninggalkan ke­hendak Allah, kemudian mencintai sanak‑saudara serta harta-kekayaannya, mereka pada pandangan Allah merupakan orang‑orang jahat, mereka niscaya akan binasa. Sebab, mereka telah meng­utamakan sesuatu selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah derajat ketiga, yang di dalamnya orang itu menjadi dekat dengan Tuhan, yang untuk mencapainya ia telah menanggung ribuan penderitaan dan telah menundukkan kepala di hadapan Tuhan dengan ketulusan dan keikhlasan sedemikian rupa sehingga tiada lagi yang ia miliki selain Tuhan, seakan‑akan semuanya telah mati. Jadi, hakikat sebenarnya ialah, selama kita sendiri belum mati, Tuhan Yang Hidup tidak akan dapat kelihatan. Hari bagi penzahiran Tuhan adalah ketika kehidupan jasmani kita mengalami maut. Kita buta selama kita belum menutup mata terhadap benda lain selain Tuhan. Kita mati selama kita belum seperti orang mati di tangan Tuhan. Tatkala wajah kita betul-betul tertuju ke hadapan-Nya, maka barulah istiqamah sejati -- yang mengalahkan seluruh hawa nafsu -- akan kita peroleh. Sebelumnya tidak. Istiqamah inilah yang mendatangkan maut kepada kehidupan nafsu. Istiqamah kita adalah, sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, letakkanlah leher di hadapan‑Ku bagai hewan kurban (2:113). Demikian pula kita baru akan mencapai derajat istiqamah tatkala segala bagian wujud kita dan segala kemampuan diri kita tercurahkan kepada pekerjaan demikian, dan maut kita serta hidup kita menjadi untuk-Nya semata. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, katakanlah, sembahyangku dan pengorbananku, dan hidupku, dan matiku, semuanya adalah untuk Tuhan (6:163). Dan tatkala kecintaan manusia terhadap Tuhan mencapai derajat demikian -- yakni matinya serta hidupnya tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Tuhan semata -- maka barulah Tuhan yang senantiasa mencurahkan kasih sayang-Nya kepada orang-orang yang cinta kepada‑Nya, menurunkan kecintaan-Nya terhadap manusia itu. Dengan bertemunya dua kecintaan itu, di dalam diri manusia timbul sebuah nur yang tidak di­kenali dan tidak dapat dipahami oleh dunia. Dan ribuan orang shiddiq serta yang berkepribadian suci telah dibunuh disebabkan dunia tidak mengenali mereka. Mereka dikatakan pembuat makar dan mementingkan diri sendiri dikarenakan dunia tidak mampu menyaksikan wajah nurani mereka, sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, orang‑orang yang ingkar, memang mereka melihat ke arah engkau, namun engkau tidak kelihatan oleh mereka (7:199).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, ketika nur itu mulai muncul, maka sejak hari kemunculan nur tersebut seorang duniawi berubah menjadi seorang wujud samawi. Dia (Allah) Yang memiliki segala wujud, berbicara di dalam diri orang itu dan Dia memperlihatkan kilauan Ketuhanan‑Nya. Dan kalbu orang itu -- yang dipenuhi oleh kecintaan suci -- dijadikan-Nya sebagai singgasana‑Nya. Dan semenjak orang itu meraih suatu perubahan nuraniah, lalu dia menjadi seorang pribadi baru, maka Dia menjadi suatu Tuhan yang baru baginya, dan menampakkan kebiasaan dan sunnah-sunnah yang baru. Bukan berarti Dia merupakan Tuhan yang baru atau kebiasaan‑kebiasaan yang baru, melainkan kebiasaan-kebiasaan tersebut berlainan dari kebiasaan‑kebiasaan umum Tuhan yang tidak dikenal oleh falsafah dunia. Berkenaan dengan orang semacam itu Allah swt. telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, yang tinggi derajatnya di antara manusia ialah mereka yang telah sirna di dalam keridhaan Tuhan. Mereka menjual jiwa mereka dan membeli keridhaan Tuhan. Inilah orang‑orang yang mendapat rahmat Tuhan. Demikian pula orang yang telah mencapai derajat keadaan rohani, mereka menjadi rela berkorban di jalan Tuhan (2:208).­&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman bahwa orang yang mendapat keselamatan dari segala penderitaan ialah dia yang menjual jiwanya di jalan Tuhan dan di jalan keridhaan-Nya, dan dia dengan sepenuh hati membuktikan keadaan dirinya bahwa dia merupakan kepunyaan Tuhan dan mengang­gap seluruh wujudnya sebagai sesuatu yang telah diciptakan untuk menaati Sang Khaliq serta untuk mengkhidmati makhluk. Kemudian dia begitu minatnya dan dengan sepenuh hati mengerjakan kebaikan-kebaikan hakiki yang berkaitan dengan setiap potensi, seakan-akan dia sedang menyaksikan Sang Kekasih Hakiki di dalam cermin kesetiaannya. Dan kehendaknya menjadi sewarna dengan kehendak Allah Ta’ala. Dan segala kelezatan tampil di dalam kesetiaan terhadap-Nya. Dan segenap amal saleh mulai tampil bukan dalam bentuk upaya gigih, melainkan dalam bentuk ketertarikan terhadap kelezatan dan kenikmatan. Itulah surga yang diperoleh insan rohani sebagai panjar, sedangkan surga yang akan diperoleh kelak, pada hakikatnya merupakan cerminan dan bayangan surga tersebut yang akan diperlihatkan oleh kodrat Ilahi dalam bentuk jasmani di alam ukhrawi. Mengisyaratkan kepada hal inilah Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, barangsiapa takut kepada Allah Ta’ala dan gentar terhadap martabat kebesaran serta keagungan‑Nya, baginya tersedia dua surga, yang satu di dunia ini dan yang lainnya di akhirat (55:47). Dan orang-orang yang tenggelam di dalam Tuhan, Tuhan telah memberi minum kepada mereka serbat yang mensucikan kalbu, pikiran-pikiran dan kehendak-kehendak mereka (76:22). Orang‑orang baik meminum serbat yang campurannya kafur. Mereka minum dari mata air yang mereka alirkan sendiri (76:6,7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat Serbat Kafur dan Zanjabil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebelumnya pun sudah saya uraikan bahwa kata kafur telah digunakan dalam ayat ini dengan maksud tertentu. Sebab, di dalam bahasa Arab, kafara artinya adalah menekan ser­ta menutupi. Jadi, ini mengisyaratkan bahwa mereka telah meneguk mangkuk inqitha’ dan ruju’ ilallah (pemutusan hubungan dan kembali kepada Allah) dengan ketulusan sedemikian rupa sehingga kecintaan kepada dunia menjadi dingin sama sekali. Ini merupakan hal prinsip bahwa segala dorongan nafsu timbul dari keinginan di dalam hati. Dan ketika hati betul-betul jauh dari keinginan-keinginan yang tidak layak serta sedikit pun tidak lagi memiliki kaitan dengannya, maka dorongan-dorongan nafsu itu pun lambat-laun mulai berkurang hingga akhirnya lenyap. Jadi, disini demikian jugalah maksud Allah Ta’ala. Dan itu juga yang Dia jelaskan di dalam ayat tersebut bahwa orang-orang yang telah tunduk secara sempurna kepada-Nya, mereka telah keluar sangat jauh dari dorongan-dorongan nafsu. Dan mereka telah tunduk kehadapan Tuhan sedemikian rupa sehingga kalbu mereka menjadi dingin terhadap kesibukan du­niawi, dan dorongan-dorongan nafsu mereka telah tertekan tak ubahnya seperti kafur yang menekan unsur-unsur beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian difirmankan bahwa, setelah meneguk mangkuk kafur itu, orang-orang tersebut meneguk mangkuk yang campurannya zanjabil (76:18,19). Kini hendaklah diketahui bahwa zanjabil terdiri dari dua ­kata. Yakni, zana dan jabal. Dalam bahasa Arab, zana berarti mendaki dan jabal berarti gunung. Arti paduannya adalah mendaki gunung. Kini hendaknya diketahui bahwa pada manusia, dari saat setelah mengalami suatu penyakit beracun hingga mencapai derajat kesehatan yang tinggi, terdapat pula dua kondisi. Kondisi pertama ialah ketika gejolak unsur-unsur beracun menjadi lenyap sama sekali dan gejolak unsur-unsur berbahaya mulai membaik dan serangan infeksi telah pulih dan taufan fatal yang tadinya bergejolak telah mereda. Akan tetapi, hingga saat itu tubuh masih lemah, tidak mampu melakukan pekerjaan berat dan jalannya pun masih terhuyung‑huyung. Sedangkan kondisi kedua ialah tatkala kesehatan semula telah kembali muncul dan kekuatan terkumpul penuh di dalam tubuh, dan karena kembalinya kekuatan maka timbullah semangat sehingga dengan serta-merta dia mendaki ke atas gunung dan untuk meluapkan kegembiraan dia berlari-lari di dataran tinggi. Jadi, kekuatan ini diraih pada derajat suluk (jalan ke arah kesempurnaan rohani) yang ketiga. Mengenai kondisi ini Allah Ta’ala mengisyaratkan dalam ayat tersebut bahwa orang-orang yang sangat dekat dengan Tuhan meneguk mangkuk yang mengandung campuran zanjabil (jahe). Yakni, mereka meraih kekuatan penuh kondisi rohani, lalu memanjat puncak-puncak tinggi, dan pekerjaan-pekerjaan sulit dapat diselesaikan oleh tangan mereka dan mereka memperlihatkan pengorbanan-pengorbanan yang sangat menakjubkan di jalan Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khasiat Zanjabil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini hendaknya jelas pula bahwa menurut ilmu ketabiban, zanjabil merupakan obat yang dalam bahasa Hindi disebut sunth. Zanjabil banyak memberikan kekuatan pada daya panas tubuh dan menghentikan disentri. Dan dinamakan zanjabil karena memberikan kekuatan serta menimbulkan panas sedemikian rupa kepada orang yang lemah, sehingga ia mampu memanjat gunung-gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud Allah Ta’ala memaparkan ayat-ayat yang berlawanan arah ini -- di satu tempat memaparkan masalah kafur, dan di tempat lainnya masalah zanjabil -- adalah untuk menjelaskan kepada hamba‑hamba‑Nya bahwa tatkala manusia bergerak dari dorongan-dorongan nafsu menuju ke arah kebaikan, maka pertama-tama kondisi yang timbul setelah gerakan itu adalah lumpuhnya unsur‑unsur beracun yang ia miliki. Dan dorongan-dorongan nafsu mulai berkurang seperti halnya unsur-unsur beracun yang dilumpuhkan oleh kafur. Oleh karena itulah kafur bermanfaat untuk penyembuhan penyakit kolera dan typhus. Dan kemudian, ketika gejolak unsur-unsur berbahaya telah lenyap sama sekali serta kesehatan rapuh yang bercampur kelemahan telah dicapai, maka tahapan yang kedua adalah, orang sakit yang lemah itu akan mendapatkan kekuatan dari serbat zanjabil. Dan serbat zanjabil merupakan perwujudan keindahan serta kecantikan Allah Ta’ala, yang merupakan makanan bagi ruh. Apabila manusia mem­peroleh kekuatan dari perwujudan itu, maka dia akan mampu memanjat puncak-puncak yang tinggi serta memperlihatkan pekerjaan-pekerjaan besar yang begitu menakjubkan di jalan Allah Ta’ala. Sebab, seseorang sama sekali tidak akan sanggup memperlihatkan pekerjaan demikian selama di dalam hatinya belum terdapat api kecintaan. Jadi disini, untuk menjelaskan kedua keadaan itulah Allah Ta’ala telah menggunakan kedua kata bahasa Arab tersebut. Pertama kafur, yang berarti sesuatu yang menekan; dan yang kedua zanjabil, yang berarti sesuatu yang mendaki. Dan di jalan ini pun bagi para pencari Tuhan terdapat kedua keadaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat selanjutnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, kami telah menyediakan bagi orang‑orang ingkar --yang tidak mau menerima kebenaran -- rantai-rantai, belenggu leher, dan nyala api yang membakar (76:5). Maksud ayat ini ialah, barangsiapa yang tidak mencari Tuhan dengan tulus hati, mereka akan mendapat siksaan dari Tuhan. Mereka terperangkap dalam jeratan-jeratan dunia sehingga seakan-akan kaki mereka terikat rantai. Dan mereka begitu tunduk kepada urusan‑urusan dunia sehingga seakan-akan pada leher mereka terdapat sebuah belenggu yang menghalangi mereka menengadah ke langit. Dan hati mereka terbakar oleh api ketamakan serta nafsu untuk mendapatkan kekayaan; untuk memperoleh harta; untuk menguasai negeri tertentu; untuk menaklukkan musuh; untuk men­dapatkan sekian banyak uang dan harta. Jadi, dikarenakan Allah Ta’ala mendapatkan mereka dalam kondisi tidak layak dan tenggelam dalam pekerjaan-pekerjaan buruk, itulah sebabnya ketiga bencana ini Dia lekatkan pada mereka. Dan disini juga disyaratkan bahwa apabila manusia melakukan suatu perbuatan, maka bersesuaian dengan itu Allah Ta’ala pun dari pihak-Nya melakukan suatu perbuatan. Misalnya, pada saat manusia menutup semua pintu kamarnya, maka sesudah perbuatan manusia itu, perbuatan Allah Ta’ala adalah, Dia akan menciptakan kegelapan di dalam kamar tersebut. Oleh karena hal-hal tersebut di dalam hukum kodrat Allah Ta’ala, telah ditetapkan sebagai dampak mutlak bagi perbuatan-perbuatan kita, kesemuanya itu merupakan perbuatan Allah Ta’ala. Karena, Dia‑lah yang merupakan sebab dari segala sebab. Demikian pula misalnya, jika seseorang menelan racun mematikan, maka setelah perbuatannya itu, perbuatan Allah Ta’ala adalah Dia akan mematikan orang tersebut. Demi­kian pula jika seseorang melakukan suatu perbuatan tak se­nonoh yang dapat mendatangkan penyakit menular, maka setelah perbuatannya itu perbuatan Allah Ta’ala adalah, Dia akan membuat penyakit menular itu menjangkiti orang tersebut. Jadi, sebagaimana di dalam kehidupan duniawi kita tampak jelas bahwa bagi setiap perbuatan kita terdapat suatu akibat yang mutlak, dan akibat itu merupakan perbuatan Allah Ta’ala, demikian pula berkenaan dengan kerohanian pun berlaku hukum serupa. Sebagaimana Allah Ta’ala dengan jelas berfirman di dalam kedua tamsil berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, orang‑orang yang mengamalkan perbuatan ini -- yaitu, mereka telah berusaha keras mencari Allah Ta’ala -- maka bagi perbuatan itu sikap Kami secara mutlak adalah, Kami akan menunjukkan jalan Kami kepada mereka (29: 70). Dan orang-orang yang memilih jalan bengkok serta tidak ingin menempuh jalan lurus, maka sikap Kami yang bersesuaian dengan itu adalah, Kami akan membengkokkan hati mereka (61:6). Kemudian untuk lebih memperjelas keadaan ini, Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, barangsiapa buta di dunia ini, maka di akhirat pun dia akan tetap buta, bahkan lebih buruk dari orang-orang buta (17: 73). Ini mengisyaratkan bahwa bagi hamba-hamba saleh, penampakkan Tuhan akan tampil di dunia ini juga, dan disini pulalah mereka meraih penampakkan Sang Kekasih itu, yang untuknya mereka meninggalkan segala sesuatu. Ringkasnya, makna ayat ini adalah, landasan kehidupan surgawi justru tertanam di dunia ini juga, sedangkan akar kebutaan jahannami terletak di dalam kehidupan kotor lagi jijik yang ada di dunia ini juga. Kemudian Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, orang‑orang yang beriman dan beramal saleh, mereka merupakan pewaris kebun‑kebun yang di bawahnya mengalir sungai‑sungai (2:26). Di dalam ayat ini Allah Ta’ala telah menamsilkan iman dengan kebun yang di bawahnya mengalir sungai‑sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelas, disini telah diungkapkan dalam warna falsafah yang tinggi bahwa seperti hubungan sungai-sungai dengan kebun, demikian pulalah hubungan amal perbuatan dengan iman. Jadi, sebagaimana sebuah kebun tidak dapat hidup dengan subur tanpa air, demikian pulalah iman tanpa amal saleh tidak dapat dikatakan iman yang hidup. Andaikata iman ada, namun tidak ada amal, maka sia‑sialah keimanan itu. Dan apabila amal perbuatan ada, sedangkan iman tidak ada, maka amal perbuatan itu merupakan pamer. Hakikat surga menurut Islam ialah, surga merupakan bayangan amal dan iman di dunia ini. Surga bukanlah suatu barang baru yang didapat manusia dari luar. Justru surga bagi manusia muncul dari dalam diri manusia sendiri. Dan surga bagi setiap orang merupakan iman dan amal salehnya yang sejak di dunia ini juga mulai terasa kelezatannya, serta kebun iman dan amal-amalnya kelihatan secara terselubung. Dan sungai-sungai pun kelihatan. Tetapi kebun itu jugalah yang akan terasa secara nyata di alam akhirat. Ajaran suci Allah Ta’ala menerangkan kepada kita bahwa keiman­an yang sejati, suci, teguh, dan sempurna -- yang bertalian dengan sifat-sifat dan kehendak-kehendak-Nya -- itu merupakan surga yang indah dan pohon‑pohon yang berbuah lebat; sedangkan amal‑amal saleh me­rupakan sungai-sungai surgawi. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, kalimah keimanan -- yang suci dari segala kelebihan serta kekurangan, cela, cacat, kepalsuan dan kesia-siaan serta sempurna dari segala segi -- adalah ibarat pohon yang terhindar dari segala macam kekurangan yang akarnya menghunjam ke dalam bumi, sedangkan cabang‑cabangnya menjangkau langit, dan berbuah sepanjang masa, dan tiada musim ketika dahan‑dahannya tidak berbuah (14:25,26). Di dalam uraian ini Allah Ta’ala telah mengibaratkan kalimah keimanan sebagai pohon yang ber­buah sepanjang masa, lalu menerangkan tiga tandanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pertama, akarnya -- yakni, maknanya yang hakiki -- menghunjam ke dalam kalbu manusia. Yakni, fitrat dan hati nurani manusia telah menerima hakikat dan kemurniannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tanda kedua ialah, cabang‑cabang kalimah itu menjangkau langit. Yak­ni, dia mengandung unsur-unsur logika dan bersesuaian dengan hukum kodrat samawi yang merupakan pekerjaan Tuhan. Artinya, dalil-dalil kebenaran serta kemurniannya dapat dibuktikan melalui hukum kodrat. Kemudian dalil-dalil itu demikian luhurnya sehingga seakan‑akan ada di langit, yang tidak da­pat dijangkau oleh bantahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tanda ketiga ialah, buah yang layak untuk dimakan itu selamanya ada dan tidak pernah habis. Yakni, setelah penerapannya secara amalan, maka berkat-berkat serta pengaruh-pengaruhnya tampak dan terasa di setiap zaman -- tidak hanya muncul disuatu zaman tertentu saja, lalu selanjutnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, kalimah yang buruk adalah ibarat pohon yang tercabut dari bumi. Yakni, fitrat manusia tidak menerimanya dan dari segi apa pun tidak dapat berdiri tegak -- baik dari segi dalil-dalil logika, dari segi hukum kodrat, maupun dari segi hati nurani (14:27). Ia hanya berupa kisah dan dongengan belaka. Dan sebagaimana Alquran Suci telah mengibaratkan iman di alam akhirat sebagai pohon-pohon suci, anggur, deli­ma, dan buah‑buah lezat, dan telah Dia uraikan bahwa pada hari itu keimanan tersebut akan menjelma dan tampak dalam bentuk buah-buah tadi, maka seperti itu pula pohon buruk kekufuran di akhirat telah Dia namakan zaqqum. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, katakanlah oleh kamu, apakah kebun-kebun surga yang baik, ataukah pohon zaqqum yang merupa­kan satu cobaan bagi orang‑orang zalim? Zaqqum adalah sebuah pohon yang tumbuh dari akar jahannam, yak­ni yang tumbuh dari ketakaburan dan kesombongan (37:63‑65). Itulah akar jahannam. Putiknya berbentuk sedemikian rupa seperti kepala syaitan. Syaitan artinya yang binasa. Kata syaitan berasal dari kata syayatha. Jadi, kesimpulannya adalah, memakannya berarti suatu kebinasaan. Dan kemudian difirmankan, pohon zaqqum merupakan makanan bagi orang-orang neraka yang sengaja melakukan dosa. Makanan itu bagaikan cairan tembaga yang akan bergolak di dalam perut seperti air mendidih. Kemudian difirmankan kepada orang neraka, rasakanlah pohon itu, kamu orang terhormat lagi mulia (44:44‑47;50). Ini merupakan kalimat kemurkaan yang amat sangat. Maksudnya adalah: jika kamu tidak takabur dan mempertimbangkan kemuliaan serta kehormatanmu sehingga tidak berpaling dari kebenaran, maka pada hari ini tentu kamu tidak akan merasakan kepahitan-kepahitan tersebut. Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa sebenarnya kata zaqqum merupakan gabungan kata zuq dan am. Sedangkan am merupakan ringkasan dari kalimat                yang di dalamnya terdapat satu huruf pertama  (alif) dan satu huruf akhir  (mim). Dan penggunaan yang berulang kali telah mengubah huruf   (dzal) menjadi  (zai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kesimpulannya adalah, sebagaimana Allah Ta’ala telah mengibaratkan kalimat-kalimat imaniah dunia ini sebagai surga, demikian pula Dia telah mengibaratkan kalimat-kalimat kekufuran dunia ini dengan zaqqum dan menetapkannya sebagai pohon neraka. Dan Dia telah menyatakan bahwa akar surga serta akar neraka bermula dari dunia ini juga. Dia ber­firman pada tempat lain mengenai neraka sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, neraka adalah api yang bersumber pada kemurkaan Tuhan dan dikobarkan oleh dosa, dan pertama-tama menguasai hati (104:7,8). Hal itu mengisyaratkan bahwa sumber asli api tersebut ialah kedukaan, kekecewaan, dan derita yang merenggut hati. Sebab, segala siksaan rohani bermula dari hati, lalu menjalari sekujur tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di tempat lain Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, bahan bakar api neraka yang membuat api itu terus menerus berkobar, terdiri dari dua bahan (2:25). Pertama adalah manusia yang meninggalkan Tuhan hakiki dan menyembah benda‑benda lain, atau atas kehendak sendiri membuat diri mereka disembah. Sebagaimana Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, kamu dan sembahan-sembahan palsumu -- yang merupakan manusia tetapi disebut tuhan -- akan dilemparkan ke dalam Jahannam. Bahan bakar yang kedua bagi neraka adalah berhala-berhala. Artinya adalah jika kedua benda ini tidak ada maka neraka pun tidak akan ada (21:99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dari seluruh ayat ini nyatalah bahwa di dalam Kalam Suci Allah Ta’ala, surga dan neraka tidaklah sama seperti dunia jasmani ini, melainkan pangkal dan sumber keduanya adalah perkara-perkara rohani. Ya, benda-benda itu di alam akhirat akan tampak dalam bentuk jasmani. Akan tetapi di alam jasmani ini tidak akan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana untuk Menciptakan Hubungan Rohani yang Sempurna dengan Allah Ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya kembali kepada tujuan semula, mengatakan bahwa sarana untuk menciptakan hubungan rohani dan hubungan yang sempurna dengan Allah Ta’ala yang telah diajarkan Alquran Suci kepada kita adalah Islam dan do’a Al-Fati­hah. Yakni, pertama‑tama mewakafkan seluruh hidup kita di jalan Allah, dan kemudian senantiasa memanjatkan do’a yang telah diajarkan kepada orang‑orang Islam dalam Surah Al‑Fatihah. Kedua hal ini merupakan intisari Islam. Islam dan do’a Al‑Fatihah merupakan suatu sarana mulia un­tuk mencapai Allah di dunia dan untuk mereguk air keselamatan hakiki. Bahkan inilah sarana yang telah ditetapkan oleh hukum kodrat untuk meraih kemajuan tertinggi bagi manusia dan untuk memperoleh perjumpa­an Ilahi. Dan yang menemukan Allah adalah mereka yang masuk ke dalam api rohani makna Islam dan yang senantiasa memanjatkan do’a Al‑Fatihah. Apakah Islam itu? Islam adalah api menyala yang membakar kehidupan rendah kita dan menghanguskan berhala-berhala palsu kita, lalu mempersembahkan pengorbanan jiwa kita, harta kita, dan kehormatan kita di hadapan Sang Sembahan Yang Mahabenar dan Mahasuci. Setelah masuk ke dalam mata air yang demikian, kita meminum air kehidupan baru. Dan segenap kekuatan rohani kita lekat menyatu dengan Allah sedemikian rupa bagaikan seutas tali yang diikatkan dengan tali lainnya. Bagai api halilintar, dari dalam diri kita muncul sebuah api, dan sebuah api lagi turun kepada kita dari atas. Dengan bertemunya kedua kobaran api ini, segenap hawa nafsu dan kecintaan kita terhadap wujud-wujud selain Allah menjadi hangus terbakar. Dan kita menjadi mati dari kehidupan pertama kita. Berdasarkan Alquran Suci, keadaan ini dinamakan Islam. Melalui Islam dorongan-dorongan hawa nafsu kita mengalami maut. Dan kemudian melalui do’a, kita memperoleh kehidupan baru. Untuk kehidupan kedua ini, keberadaan ilham Ilahi adalah penting. Pencapaian pada derajat itulah yang dinamakan liqa Ilahi, yakni penampakan dan perwujudan Allah. Setelah mencapai derajat ini, manusia meraih suatu kedekatan dengan Allah, sehingga manusia seakan‑akan melihat-Nya dengan mata. Dan si manusia itu diberikan kekuatan. Seluruh indera serta segala ke­mampuan batinnya dicemerlangkan, dan daya tarik kehidup­an suci mulai berlangsung dengan sangat dahsyat. Setelah memasuki derajat ini, Allah menjadi mata bagi manusia yang dengan itu ia melihat; dan menjadi lidah yang dengan itu ia berkata-kata; menjadi tangan yang dengan itu ia menyerang; menjadi telinga yang dengan itu ia mendengar; menjadi kaki yang dengan itu ia berjalan. Mengisyaratkan kepada derajat itulah Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya (Muhammad saw.) merupakan tangan Allah Ta’ala yang ada di atas tangan-tangan mereka (48:11). Dan demikian pula Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, yang engkau lemparkan, bukan engkau yang melemparkan, melainkan Allah-lah yang telah melemparkan (8:18). Ringkasnya, pada derajat ini timbul keterpaduan yang sem­purna dengan Allah Ta’ala. Dan kehendak suci Allah Ta’ala mengalir di dalam urat-urat nadi ruh. Dan kekuatan-kekuatan akhlak yang tadinya lemah, pada derajat ini tampak bagaikan gunung-gunung yang kokoh. Akal dan firasat menjadi sangat peka. Inilah makna ayat yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada derajat ini sungai-sungai kecintaan dan keasyikan bergejolak sedemikian rupa, sehingga mati untuk Allah Ta’ala, menanggung ribuan penderitaan, dan kehilangan kehormatan demi Allah menjadi begitu mudahnya seperti mematahkan sebuah ranting yang kecil. Ia ditarik terus-menerus ke arah Allah Ta’ala dan ia tidak tahu siapa yang sedang me­nariknya. Sebuah tangan gaib senantiasa menuntunnya. Dan memenuhi segala kehendak Allah Ta’ala merupakan tujuan utama hidupnya. Pada derajat ini Allah Ta’ala nampak sangat dekat, sebagaimana Dia telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (50:17). Dalam kondisi seperti ini, orang yang memiliki derajat tersebut adalah bagaikan buah matang yang dengan sendirinya jatuh dari pohon. Seperti itulah segenap hubungan rendah yang dimiliki oleh orang pada derajat tersebut menjadi lenyap. Ia akan memiliki hubungan yang sangat dalam dengan Allah Ta’ala, dan menjadi jauh dari makhluk, serta meraih anugerah berkata-kata dan bercakap-cakap dengan Allah Ta’ala. Sekarang pun pintu-pintu untuk mencapai derajat itu masih ter­buka sebagaimana telah terbuka pada masa dahulu. Dan sekarang pun karunia Allah Ta’ala masih menganugerahkan nikmat ini kepada para pencari, sebagaimana Dia dahulu anugerahkan. Akan tetapi, jalan ini tidak dapat dicapai hanya dengan ucapan-ucapan kosong, dan pintu ini tidak dapat terbuka dengan ocehan dan bualan belaka. Banyak yang mendambakannya namun sedikit sekali yang berhasil mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkannya demikian? Sebabnya adalah, derajat ini sangat bertumpu pada kerja keras dan upaya yang sungguh‑sungguh. Teruslah bicara sampai Hari Kiamat, apalah yang dapat diperoleh! Dengan jujur melangkahkan kaki ke atas api ini -- yang justru karena sangat takut terhadapnya orang-orang lain pada berlarian -- adalah syarat pertama jalan itu. Jika tidak ada upaya gigih dalam bentuk amalan, maka sekedar berceloteh tidaklah berarti apa‑apa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-3943064297816946050?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/group.php?gid=258947494117&amp;ref=ts' title='Hanya Ingin Mengingatkan Kembali'/><link rel='enclosure' type='text/html' href='http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/Filsafat/MasalahPertama.htm' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/3943064297816946050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=3943064297816946050&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3943064297816946050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3943064297816946050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2010/09/hanya-ingin-mengingatkan-kembali.html' title='Hanya Ingin Mengingatkan Kembali'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJF1Oq6rr6I/AAAAAAAAAXY/-fu3edFboR4/s72-c/Filais+Logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-3748457791480332351</id><published>2010-09-16T07:22:00.003+07:00</published><updated>2010-09-16T11:52:40.719+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanggapan'/><title type='text'>Cinta Perdamaian dan Pluralisme</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJFjHAK8fiI/AAAAAAAAAXM/S9iWzOeXfC4/s1600/Surban+dan+Kacamata+Hitam.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJFjHAK8fiI/AAAAAAAAAXM/S9iWzOeXfC4/s200/Surban+dan+Kacamata+Hitam.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b style="color: #990000;"&gt;Saya salut dengan adanya orang-orang yang masih cinta pada perdamaian dan pluralisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: lime; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;seperti Mas Akbar, Nyai Nabila dkk, karena pada hakekatnya ISLAM itu perdamaian bukan penghancuran, ISLAM itu rahmat bukan Dzolim, Tuan-tuan semua yang ada pada dialog ini saya dengan tulus menyampaikan rasa haru dan salut saya atas praktek pluralis yang damai seperti ini. NU dan Muhammadiyah tetaplah menjadi NU dan Muhammadiyah yang sejati dan jika lebih disempurnakan menjadi lebih NU dan lebih Muhammadiyah lagi 1000 kali lebih baik dari sebelumnya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Selebihnya kita doakan untuk saudara Islam kita yang praktek amaliyahnya belum nampak Islami, semoga ulah mereka yang mengatasnamakan Islam namun tdk sesuai mendapat maghfiroh Allah Ta'ala sehingga hal ini tidak mengurangi citra Islam yang penuh perdamaian.......Salam Damai..Id Mubarak, minal aidzin wal faidzin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style="color: #990000;"&gt;Video bisa dilihat pada lampiran link.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini komentar saya terhadap status Gus Mohammad Akbar pada FBnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;GUS Dur telah wafat, tetapi bersyukurlah bangsa ini karena spirit dan keteladanannya untuk melindungi kebebasan beragama terus hidup dan menyala di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Itulah yang selalu ditunjukkan Pengurus Besar NU selama ini dan itulah pula yang lagi-lagi diperlihatkan PBNU sekarang ini dalam menanggapi u...paya pembunuhan terhadap dua jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pondok Timur Indah, Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi keagamaan dengan jutaan pengikut itu siap menerjunkan pasukan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk melindungi jemaat HKBP menjalankan ibadah keagamaan mereka. Demikian kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Sirajd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen dan konsistensi NU itu membesarkan hati bahwa pluralisme belum mati di negeri ini. Sikap NU itu memberi contoh di level horizontal, bahwa masih ada organisasi keagamaan dari pemeluk mayoritas yang peduli dan berani mengambil langkah untuk melindungi pemeluk yang minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu sekaligus hendak menggarisbawahi sisi sebaliknya, yaitu negara absen dalam soal kebebasan beragama. Negara telah gagal menjaga kebebasan beribadah. Absen dan gagal adalah dua predikat yang paling buruk yang harus diberikan kepada negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala negara dan kepala pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya memberi tanggapan terhadap upaya pembunuhan di gereja HKBP Bekasi itu. Tanggapan yang terlambat, bahkan salah alamat. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua-tiga tahun terakhir ini adalah periode paling buruk dalam soal kebebasan beragama. Inilah tahun-tahun kekerasan terhadap kebebasan beragama terjadi berulang-ulang, seperti yang dialami warga Ahmadiyah dan HKBP di Bekasi. Tingkat kekerasan itu bukan lagi sekadar perkara kriminal biasa, seperti selalu disebutkan pemerintah, melainkan telah sampai pada kejahatan yang melanggar hak asasi, kejahatan yang melawan dan menodai hak konstitusional warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan beragama di negeri ini jelas merupakan hak konstitusional warga. Tetapi celaka sembilan belas, negara membiarkan penghancuran hak konstitusional warga itu terjadi di depan hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak mengherankan bila tokoh-tokoh lintas agama sepakat menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah gagal menjamin kerukunan antarumat beragama. Penilaian itu menyusul pidato Presiden yang menyatakan semua pihak seharusnya senantiasa menjaga kerukunan dan hubungan baik di antara umat beragama. Presiden menyampaikannya ke alamat warga. Bukan ke alam dirinya. Padahal, menurut konstitusi, negaralah yang wajib melindungi warga. "Jangan dibalik. Jangan presiden yang minta ke rakyat. Rakyat yang minta ke presiden," kata Ketua Presidium Inter-religious Council (IRC) Indonesia, yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara absen, presiden gagal, tetapi anak bangsa ini masih boleh optimistis karena kita masih punya NU di bawah kepemimpinan Said Aqil Siradj dan Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Din Syamsuddin yang mencintai pluralisme, yang respek pada perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika negara bobrok, kita masih punya harapan di bahu civil society. Jangan-jangan, tanpa pemerintah, malah menjadi lebih baik. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-3748457791480332351?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/home.php#!/profile.php?id=579743778&amp;ref=ts' title='Cinta Perdamaian dan Pluralisme'/><link rel='enclosure' type='' href='http://www.facebook.com/home.php#!/video/video.php?v=428016118778&amp;comments&amp;ref=notif&amp;notif_t=video_reply' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/3748457791480332351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=3748457791480332351&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3748457791480332351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3748457791480332351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2010/09/cinta-perdamaian-dan-pluralisme.html' title='Cinta Perdamaian dan Pluralisme'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TJFjHAK8fiI/AAAAAAAAAXM/S9iWzOeXfC4/s72-c/Surban+dan+Kacamata+Hitam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-8025605270896409807</id><published>2010-09-12T00:50:00.001+07:00</published><updated>2010-09-16T23:47:23.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan dan Do&apos;a'/><title type='text'>SMS Ucapan Idul Fitri Terbaru 2010 1431 H</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TIvBHMOYJ0I/AAAAAAAAAWs/M57335cIe2A/s1600/selamat+idul+fitri.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TIvBHMOYJ0I/AAAAAAAAAWs/M57335cIe2A/s200/selamat+idul+fitri.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: blue; color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;SMS Ucapan Idul Fitri Terbaru 2010 1431 H SMS Lebaran 2010. Kumpulan SMS Ucapan Lebaran 2010, SMS ucapan selamat Idul Fitri 1431 Hijriah, koleksi SMS lucu lebaran Idul fitri terbaru 2010. Buat merayakan hari raya idul fitri 2010 kirimkan ucapan maaf kita lewat SMS lebaran ato SMS Ucapan selamat idul fitri terbaru 2010.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berikut kumpulan SMS Ucapan lebaran dan ucapan selamat idul fitri 1431 H terbaru 2010.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Esok adalah harapan..&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekarang adalah kenyataan..&lt;br /&gt;Kemarin adalah kenangan, yang tak luput dari khilaf dan kesalahan..&lt;br /&gt;Ketika tangan tak mampu berjabat,&lt;br /&gt;Kaki tak dapat melangkah.&lt;br /&gt;Hanya hati yang mampu berbisik,,&lt;br /&gt;”Minal Aidin Walfaizin Mohon Maaf Lahir Batin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah ramai orang di pasar&lt;br /&gt;penuh sesak orang di warung makan&lt;br /&gt;beli baju di pasar besar&lt;br /&gt;belum puasa udah mikir lebaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;L-ive is go on,&lt;br /&gt;E-verything reborn again,&lt;br /&gt;B-ut&lt;br /&gt;A-ll of d sin &amp;amp;&lt;br /&gt;R-egret still inside in me,&lt;br /&gt;A-nd I wanna say&lt;br /&gt;N-othing but taqobbalallahu minna waminkum..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan yang indah penuh hikmah telah berlalu..&lt;br /&gt;Semoga menitis ke lembaran baru&lt;br /&gt;dan membuka ribuan pintu maaf,&lt;br /&gt;Agar kami bisa masuk dan menjadi bagian yang termaafkan,&lt;br /&gt;“SELAMAT IDUL FITRI 1431 H”&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Ganteng Orang Jelek..&lt;br /&gt;Gue Ganteng Elo Jelek..&lt;br /&gt;Lebaran dah Dateng&lt;br /&gt;So Maafin Gw Jek..&lt;br /&gt;“Mohon Maaf Lahir Bathin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satukan tangan, satukan hati&lt;br /&gt;Itulah indahnya silaturahmi&lt;br /&gt;Di Hari kemenangan Kita padukan&lt;br /&gt;Keikhlasan untuk saling memaafkan&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri&lt;br /&gt;Mohon Maaf Lahir Batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang bukan matahari yang bisa membuatmu membedakan siang dan malam&lt;br /&gt;Tapi setidaknya cahaya kecilku ini bisa berarti di hari raya ini…&lt;br /&gt;minal aidzin walfaidzin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan kan kembali berlalu, meninggalkan kisah syahdu&lt;br /&gt;Betapa masa kan tersia jika hati masih terbalut noda..&lt;br /&gt;Minal Aidin Wal Faidzin ..&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia akan segera kembali ke fitrah masing2&lt;br /&gt;Fitrah adalah ide bawaan sejak lahir&lt;br /&gt;Ide bawaan tersebut adalah “Laa ilaha Illallah”&lt;br /&gt;Mari sucikan hati kita kembali kepada tauhid&lt;br /&gt;Minal Aidin Wal Faidzin&lt;br /&gt;Mohon Maaf Lahir Batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas bulan Kita kejar dunia,&lt;br /&gt;Kita umbar napsu angkara..&lt;br /&gt;Sebulan penuh Kita gelar puasa,&lt;br /&gt;Kita bakar segala dosa..&lt;br /&gt;Sebelas bulan Kita sebar dengki Dan prasangka,&lt;br /&gt;Sebulan penuh Kita tebar kasih sayang sesama..&lt;br /&gt;Dua belas bulan Kita berinteraksi penuh salah Dan khilaf,&lt;br /&gt;Di Hari suci nan fitri ini, Kita cuci hati, Kita buka pintu maaf.&lt;br /&gt;Selamat Idul Fitri&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir Dan batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beningkan hati dengan dzikir&lt;br /&gt;Cerahkan jiwa dengan cinta&lt;br /&gt;Lalui hari dengan senyum&lt;br /&gt;Tetapkan langkah dengan syukur&lt;br /&gt;Sucikan hati dengan permohonan maaf&lt;br /&gt;Met Hari Raya Idul Fitri&lt;br /&gt;Taqobbalallahu minna wa Min’kum&lt;br /&gt;Minal Aidzin Wal Faidzin&lt;br /&gt;“Mohon Maaf Lahir dan Batin” ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 tips SMART biar Lbaran HEPI &amp;amp; dapat SIMPATI&lt;br /&gt;- buka Hati Xtra-Large&lt;br /&gt;- Aktf dan EXIS silaturahmi&lt;br /&gt;- Saling bermaafan karna kita INsan berDOsa seSAT&lt;br /&gt;Mari MENjmpuT Ampun dan RIdo Allah&lt;br /&gt;Minal Aidzin Wal Faidzin&lt;br /&gt;Met Lebaran ya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada harapan untuk perubahan,&lt;br /&gt;Masih ada cinta untuk pengabdian,&lt;br /&gt;Masih ada asa untuk berkarya,&lt;br /&gt;Mari bangun bersama peradaban islam nan gemilang.&lt;br /&gt;Mulai lagi di hari nan fitri, diawali dengan maaf dan ikhlas.&lt;br /&gt;Mohon MAAF jika ada kata2 &amp;amp; sikap yang kurang berkenan dihati&lt;br /&gt;Atas segala khilaf.&lt;br /&gt;Mari bersama bangun peradaban Islam nan mulia..&lt;br /&gt;Minal aidzin wal faidzin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hati ini seringkali jengkel,&lt;br /&gt;Jadikan ia jernih sejernih XL,&lt;br /&gt;Jika hati ini seringkali iri,&lt;br /&gt;Jadikan ia cerah secerah MENTARI,&lt;br /&gt;Jika hati ini seringkali dendam&lt;br /&gt;Jadikan ia penuh kemesraan FREN&lt;br /&gt;Jika hati ini seringkali dengki&lt;br /&gt;Jadikan ia penuh SIMPATI&lt;br /&gt;Ahlan Wa Sahlan Wa Marhaban Ya Ramadhan&lt;br /&gt;Bebaskan Diri dari ROAMING dosa,&lt;br /&gt;Raihlah HOKI&lt;br /&gt;Raihlah JEMPOL dari Illahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum&lt;br /&gt;Encang/ing, enyak, babeh, ama sudara2..&lt;br /&gt;Maapin ya wat semua kekhilafan ane,&lt;br /&gt;nyok kite brsihin ati kite dangan saling memaapkan..&lt;br /&gt;Minal a’idzin wal faa idzin,&lt;br /&gt;mohon maaf lahir &amp;amp; bathin..&lt;br /&gt;Taqabalallahu minna wa minkum, taqabbal yaa kariim..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada langkah yang membekas lara,&lt;br /&gt;Apabila ada kata yang merangkai dusta,&lt;br /&gt;dan ada tingkah yang pernah menoreh luka..&lt;br /&gt;dibulan ampunan ini mohon dibukakan pintu maaaf Sedalam2nya..&lt;br /&gt;Selamat Idul Fitri.&lt;br /&gt;MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RESEP SPECIAL KEMBALI FITRI 1430 H.&lt;br /&gt;Bahan yg disediakan:&lt;br /&gt;-1 potong rasa bersalah&lt;br /&gt;-2 kg kasih sayang&lt;br /&gt;-1 kg rasa menyesal d+&lt;br /&gt;-2 kg saling memaafkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUMBU:&lt;br /&gt;-1 ons ikhlas&lt;br /&gt;-1 grm tawakal&lt;br /&gt;-1 kg kebaikan&lt;br /&gt;-3 lembar daun assalam, rasa hormat, tenggang rasa, saling menghargai.&lt;br /&gt;Tuangkan kasih sayang, hiasi dengan “perasaan” cinta sesama mukmin&lt;br /&gt;&amp;amp; ketulusan hati&lt;br /&gt;dan yang terakhir, hidangkan dengan “kejujuran hati”&lt;br /&gt;Minal a’idzin wal faidzin,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita setting NIAT,&lt;br /&gt;upgrade IMAN,&lt;br /&gt;download SABAR,&lt;br /&gt;delete DOSA,&lt;br /&gt;approve MAAF,&lt;br /&gt;hunting PAHALA agar kita getting GUEST LIST masuk surga..&lt;br /&gt;Minal a’idzin wal faa idzin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi SMS ucapan selamat idul fitri terbaru 2010 SMS lebaran 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-8025605270896409807?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/8025605270896409807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=8025605270896409807&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8025605270896409807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8025605270896409807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2010/09/sms-ucapan-idul-fitri-terbaru-2010-1431.html' title='SMS Ucapan Idul Fitri Terbaru 2010 1431 H'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/TIvBHMOYJ0I/AAAAAAAAAWs/M57335cIe2A/s72-c/selamat+idul+fitri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-7930515170911361140</id><published>2010-09-12T00:27:00.001+07:00</published><updated>2010-09-12T00:30:43.369+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan dan Do&apos;a'/><title type='text'>Ied Mubarak</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="background-color: yellow; color: #274e13;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;Ied Mubarak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: blue; color: #bf9000;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Taqobalallahu minna wa minkum&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: blue; color: #bf9000;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Semoga amal ibadah kita diterima di sisi-Nya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: blue; color: #bf9000;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Istajiblana...Amiin &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-7930515170911361140?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/7930515170911361140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=7930515170911361140&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/7930515170911361140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/7930515170911361140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2010/09/ied-mubarak_12.html' title='Ied Mubarak'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-3869486470347039012</id><published>2009-12-22T11:21:00.001+07:00</published><updated>2010-09-16T23:48:15.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><title type='text'>Kisah Perang Para Malaikat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SzBJC1bUbiI/AAAAAAAAAVI/1x3VEh84t90/s1600-h/Perang+Malaikat.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" ps="true" src="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SzBJC1bUbiI/AAAAAAAAAVI/1x3VEh84t90/s320/Perang+Malaikat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: magenta; font-size: xx-small;"&gt;Wednesday, December 16, 2009 at 9:06pm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="border: medium none;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SzBJFfSIvuI/AAAAAAAAAVQ/-Mtsg8GI0tE/s1600-h/Mangunsari.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" ps="true" src="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SzBJFfSIvuI/AAAAAAAAAVQ/-Mtsg8GI0tE/s200/Mangunsari.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #660000;"&gt;&lt;b&gt;Pada bulan Shafar, awal bulan ke-12 sejak hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam (Saw) ke Madinah, untuk pertama kalinya Rasulullah Saw keluar dengan tujuan berperang. Peperangan ini dikenal dengan sebutan Perang Widan. Inilah permulaan disyariatkannya sebuah peperangan dalam Islam.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: medium none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perang ini bertujuan memerangi kaum Quraisy dan Bani Hamzah. Sayangnya, meski persiapan sudah matang, peperangan tak sempat berkecamuk. Sebab, Bani Hamzah menawarkan perdamaian. Rasulullah Saw bersama para sahabat kemudian kembali ke Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa saat, Rasulullah Saw mendengar berita kedatangan kafilah kaum Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb dari Syam. Kafilah ini menuju Mekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan adalah musuh kaum Muslim. Mengingat dulu, saat kaum Muslim masih berada di Mekah, harta mereka banyak yang dirampas oleh kafir Quraisy, maka Rasulullah memerintahkan untuk mencegah iring-iringan kafilah tersebut dan merampas barang bawaan mereka sebagai gantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran Rasulullah Shalallahu Alayhi Wa Salam ini hanya disambut oleh sebagian kaum Muslimin di Madinah. Mereka menyangka, seperti halnya pada Perang Widan, tak bakal terjadi peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam di bulan Ramadhan, berangkatlah sekitar 314 orang Muslim, langsung dipimpin Rasulullah, dengan membawa 70 ekor unta. Setiap unta ditunggangi secara bergantian oleh dua atau tiga orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana penyerangan ini bocor. Abu Sufyan, setelah mendengar rencana penghadangan ini, segera mengutus seorang kurir bernama Dhamdham bin Amer Al Ghiffari ke Mekkah untuk meminta bantuan kaum Quraisy. Ia khawatir harta kekayaan yang sedang ia perniagakan direbut oleh kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mendengar berita dari utusan Abu Sufyan, seluruh kaum Quraisy dengan serta merta menyiapkan diri lalu berangkat meninggalkan Mekah menuju Madinah dengan tujuan berperang. Tak seorang pun dari tokoh Quraisy yang tertinggal. Jumlah pasukan kira-kira 1.000 personil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, pasukan Muslim tak mengetahui keberangkatan bala bantuan tersebut. Sementara iring-iringan kafilah Abu Sufyan telah berhasil meloloskan diri dengan menyusuri mata air Badar, terus ke pantai, lalu menuju Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui rencana penghadangan gagal dan bala tentara Quraisy dalam jumlah besar akan menyerbu kaum Muslim, Rasulullah Saw segera mengumpulkan para sahabatnya kaum Muhajirin. Dalam keadaan tak memiliki pilihan lain kecuali berperang untuk mempertahankan diri, Rasulullah Saw masih sempat meminta dukungan kepada para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, meski jumlahnya sedikit, semangat kaum Muhajirin untuk berjihad tetap menyala. Apalagi, perang sudah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala (Swt).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Quraisy, di bawah pimpinan Abu Jahal, mulai berjalan ke arah lembah Badar. Lembah ini memang sejak lama diincar oleh Abu Jahal untuk diduduki. Mereka bergerak sampai ke salah satu sisi lembah Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pasukan Muslim, dipimpin Rasulullah Saw, tiba di pinggir yang berseberangan. Posisi mereka nyaris berhadap-hadapan di dekat mata air Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang sahabat, Al Habab bin Mundzir Radhiyallahu 'anhu (Ra), bertanya kepada Rasul Saw, ''Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini Anda menerima wahyu dari Allah Swt yang tidak dapat diubah lagi? Ataukah berdasarkan taktik peperangan?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw menjawab, ''Tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan taktik peperangan!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Habab mengusulkan, ''Ya Rasulullah! Jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan berperang dalam keadaan persediaan air minum cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw menjawab, ''Pendapatmu cukup baik!'' Lalu, pasukan Muslim bergerak ke tempat yang diusulkan oleh Al Habab bin Mundzir Ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tentara musyrik Quraisy dengan angkuhnya maju menuju lembah Badar, Rasulullah Saw segera mengangkat tangannya ke langit, seperti dilakukan oleh Nabi-nabi Bani Israil, dan berdoa, ''Ya Robbi! Jika pasukan kecil ini sampai binasa, tidaklah akan ada lagi yang menyembahMu dengan hati yang ikhlas!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul Saw terus memanjatkan doa kepada Allah Swt dengan khusyuk seraya menengadahkan kedua telapak tangan ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar Ash Shidiq Ra, yang melihat kesedihan di wajah Rasulullah Saw, berusaha menenangkan hati junjungannya itu seraya berkata, ''Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah! Sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepadamu!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tiga orang Quraisy maju ke lapangan terbuka yang memisahkan kaum Muslim dan kaum Quraisy. Inilah kebiasaan orang Arab saat pertempuran akan dimulai: duel satu lawan satu. Tiga sahabat Rasul Saw, Hamzah, Ali bin Abu Thalib --dengan pedang bercabang dua yang diberi nama Zulfikar-- dan Abu Ubaidah, menerima tantangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan berlangsung seru. Akhirnya, Hamzah, Ali, dan Abu Ubaidah, memenangkan pertarungan. Dengan kemenangan ini semangat kaum Muslim semakin membara. Sebaliknya, kaum Quraisy semakin ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan pun kemudian berubah menjadi pertarungan umum. Dan, benarlah Abu Bakar Ash Shidiq Ra bahwa Allah Swt tak pernah mengingkari janji-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertulis dalam Al-Qur`an surat Ali Imran ayat 3, yang artinya, ''Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga pada surat yang sama ayat 123 hingga 126, ''Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu menjadi orang yang bersyukur. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mu'min, 'Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)? Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.' Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Mekah berhasil dipukul mundur. Mereka menderita kekalahan besar. Banyak pemimpin mereka yang tewas. Abu Jahal, salah satunya, jatuh sebagai korban kesombongannya yang tidak terkendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pihak kaum musyrik, terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang. Sedangkan dari pihak kaum Muslim gugur sebagai syuhada 14 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara musyrik yang tertawan itu diperlakukan secara baik oleh kaum Muslim, kecuali dua orang, salah satu dari keduanya adalah Nazr bin Harits –seperti tertulis dalam Al-Qur`an surat Al Anfal ayat 32. Keduanya dihukum mati karena kebenciannya yang sangat kepada kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tawanan yang lain diperlakukan dengan rasa kemanusiaan yang amat besar. Atas perintah Rasulullah Saw, mereka tak boleh disakiti. Bahkan, kaum Muslim membagi makanannya sendiri kepada para tawanan itu. Roti yang paling baik diberikan kepada kaum kafir yang malang, sementara kaum Muslim cukuplah menyantap buah korma saja. Para tawanan naik kendaraan, sementara pasukan Muslim hanya berjalan kaki. Mereka benar diperlakukan layaknya seorang tamu. [Sahid hidayatullah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-3869486470347039012?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/3869486470347039012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=3869486470347039012&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3869486470347039012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3869486470347039012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/12/kisah-perang-para-malaikat.html' title='Kisah Perang Para Malaikat'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SzBJC1bUbiI/AAAAAAAAAVI/1x3VEh84t90/s72-c/Perang+Malaikat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-1459762027702905873</id><published>2009-12-10T13:34:00.001+07:00</published><updated>2010-09-16T23:49:06.695+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Budaya'/><title type='text'>Khayangan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SyCWQYUeYyI/AAAAAAAAAUo/wGnrt0jsV1k/s1600-h/Keris+Nagasosro.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" ps="true" src="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SyCWQYUeYyI/AAAAAAAAAUo/wGnrt0jsV1k/s320/Keris+Nagasosro.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SyCWG9ApqDI/AAAAAAAAAUY/BAPtWCxx1_A/s1600-h/khayangan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" ps="true" src="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SyCWG9ApqDI/AAAAAAAAAUY/BAPtWCxx1_A/s400/khayangan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Wonogiri kaya akan wisata ritual, karena menurut sejarahnya wonogiri didirikan oleh RM. Said (Pangeran Sambernyowo/Mangkunegoro I)&lt;br /&gt;Salah satu petilasan RM.Said adalah Dlepih/Khayangan&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;yang terletak di Kecamatan Tirtomoyo kurang lebih 25 Km arak ke selatan Kota Wonogiri, sebagai wisata ritual banyak dikunjungi orang untuk meditasi dan ngalab berkah pada malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata Ritual lainnya adalah :&lt;br /&gt;- Pemakaman Gunung Giri&lt;br /&gt;- Tempat Pusaka Mangkunegaran&lt;br /&gt;- Sendang Siwani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak keindahan alam yang dimiliki Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri. Selain terkenal dengan wisata spiritual Kahyangan, berbagai potensi ekonomi banyak ditemukan di kecamatan ini. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kecamatan Tirtomoyo menjadi salah satu wilayah berpotensi di Wonogiri. Keadaan alam yang dikelilingi bukit tersebut seakan-akan terbelah menjadi dua. Hal ini karena di tengah-tengah wilayah seluas 9. 301.08 hektare (ha) itu mengalir Sungai Wiroko. Sungai terbesar di daerah tersebut dan menjadi sungai penghidupan masyarakat. Potensi kerajinan yang cukup banyak di wilayah ini menjadi salah satu potensi yang perlu digarap. Keberadaan obyek wisata spiritual Kahyangan, menambah kekayaan potensi di kecamatan ini. Lokasi tersebut selalu disinggahi oleh petinggi daerah dan setiap Bulan Sura digelar wayang kulit semalam suntuk. Guna menarik wisatawan, pengelola obyek wisata di Bulan Sura membuat obor sepanjang jalan masuk. Menurut penuturan beberapa warga stempat, lokasi wisata Kahyangan merupakan tempat bertapa Panembahan Senapati, salah satu leluhur Kerajaan Mataram. Bahkan, menurut kepercayaan masyarakat, air di lokasi tersebut membawa berkah dan menjadi sumber kecantikan atau awet muda saat dibasuhkan ke muka. Lokasi wisata tersebut, boleh dibilang belum optimal difungsikan. Belum banyak wisatawan yang mampir ke lokasi tersebut. Bagi masyarakat sekitar Surakarta, Kahyangan sudah sangat terkenal. Untuk mendukung promosi, pihak Dinas Perhubungan, Pariwisata, Seni dan Budaya (DPPSB) setempat telah membuat papan penunjuk lokasi tersebut. Selain itu, leaflet yang dicetak oleh DPPSB, lokasi wisata Kahyangan juga termasuk salah satu obyek wisata andalan Wonogiri. Menurut rencana, tujuh desa di daerah selatan Sungai Wiroko akan dikembangkan menjadi daerah sentra tanaman perkebunan dan buah-buahan. Tujuh desa itu adalah desa Sukoharjo, Dlepih, Wiroko, Hargosari, Hargorejo dan Genengharjo serta Girirejo. Tarjo berharap jika masyarakat sudah mengubah pola tanam, maka tanamannya tidak melulu palawija. ”Wisatawan yang datang bisa langsung membawa oleh-oleh buah-buahan, seperti daerah wisata daerah lain.” Menuju lokasi Kahyangan tidak terlalu sulit. Jalur transportasi pedesaan sudah berjalan dan di Tirtomoyo juga terdapat angkutan umum pada malam hari.Potensi lain yang cukup mengangkat daerah Tirtomoyo menjadi daerah subur adalah industri batik tulis dan industri genteng di sekitar Sungai Wiroko. Dua industri tersebut, mampu mengurangi angka pengangguran. Untuk industri rumah tangga, batik tulis Wonogiren menyerap tenaga kerja mencapai 250 orang, sedangkan industri genteng sekitar 200-an tenaga. Industri batik tulis, di daerah Ngarjosari hingga saat ini masih dilestarikan karena turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-1459762027702905873?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/1459762027702905873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=1459762027702905873&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/1459762027702905873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/1459762027702905873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/12/khayangan.html' title='Khayangan'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SyCWQYUeYyI/AAAAAAAAAUo/wGnrt0jsV1k/s72-c/Keris+Nagasosro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-5978150840334064176</id><published>2009-11-22T15:37:00.001+07:00</published><updated>2010-09-16T23:51:12.241+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='April 1993'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Review of Religions'/><title type='text'>Tidur yang Sehat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/Swj4MGWHPrI/AAAAAAAAATM/ZdPbI9t45LI/s1600/WayangKulit_TiknoDreamstime.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/Swj4MGWHPrI/AAAAAAAAATM/ZdPbI9t45LI/s200/WayangKulit_TiknoDreamstime.jpg" yr="true" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: purple; font-size: xx-small;"&gt;oleh :Dr. Shah Nawaz Khan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Semua mahluk hidup memerlukan istirahat setelah melakukan aktivitas / kegiatan, karena aktivitas tersebut menggunakan jaringan sel hidup sehingga akan timbul kerusakan pada jaringan tersebut, istirahat ini bertujuan untuk memperbaiki kerusakan yang dimaksud.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; Selama kita tidur, tubuh mengganti sel-sel yang rusak dengan yang baru dan limbah serta uap kotor yang terjadi pun dibuang.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Tidur ini tidak hanya diperlukan oleh manusia dan hewan saja, tumbuh-tumbuhan pun memerlukannya. Sebagai contoh saja, pada siang hari tumbuhan bunga matahari daun-daun kelopak bunganya terbuka dan menutup kembali pada waktu senja menjelang malam hari.&lt;br /&gt;Mengenai tidur ini, tidak ada aturan kaku dan ketat yang diberlakukan, karena istirahat tidur ini tergantung pada usia, jenis pekerjaan, temperamen setiap individu. Bayi dan anak-anak memerlukan tidur lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Pada orang orang yang sudah berumur mereka sebenarnya lebih memerlukan istirahat daripada tidur yang sebenarnya, selama berbaring mereka lebih banyak menggunakan waktu untuk mengubah-ubah posisi berbaringnya saja. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Orang yang bekerja dengan menggunakan otak/pikirannya memerlukan lebih banyak tidur dibandingkan dengan orang yang bekerja dengan fisiknya. Orang-orang yang lemah dan sakit-sakitan memerlukan lebih banyak tidur daripada orang sehat. Sebagai suatu ukuran, orang dewasa yang sehat dan banyak bekerja dengan otak/pikiran seyogyanya tidur selama tujuh jam.&lt;br /&gt;Malam hari adalah waktu terbaik untuk tidur. Hal ini bukanlah masalah kebiasaan saja bahwa orang-orang yang bekerja pada siang hari akan tidur pada malam hari, namun secara alamiah terlihat bahwa siang hari lebih cocok untuk bekerja dan waktu malam digunakan untuk beristirahat/tidur. Pelaksanaan diluar aturan alamiah ini akan menimbulkan suatu beban yang lebih besar dan menghasilkan kondisi yang tidak sehat. Sebagai buktinya adalah bahwa para penjaga malam, dan bintang-bintang sinema yang bekerja di malam hari sebagai konsekwensinya harus tidur di siang hari, hal demikian dapat membuat suatu pengaruh yang dapat mengganggu kesehatannya.&lt;br /&gt;Tidur mempengaruhi metabolisme tubuh dan merangsang daya asimilasi, itulah sebabnya jika tidur berlama-lama malah tidak sehat, karena tubuh kita menyerap / mengasimilasi limbah dan uap-uap kotor lagi, sehingga jika kita tidur kelamaan maka akibatnya kita bukannya menjadi segar bersemangat tetapi malah loyo. Disarankan untuk menata selang-selang (periode) aktivitas dan istirahat menjadi lebih pendek. Contoh yang terbaik adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW, beliau biasanya pergi tidur tidak terlalu malam kemudian bangun beberapa saat setelah lewat tengah malam untuk melakukan shalat Tahajjud, besoknya beberapa saat menjelang tengah hari beliau tidur sejenak. Ada juga orang-orang yang menyarankan agar pergi tidur larut malam kemudian bangun terlambat, hal seperti ini praktis tidak alamiah. Kita mengetahui bahwa hewan pun termasuk burung-burung bangun di awal waktu pagi, Seorang Muslim diperintahkan untuk bangun awal dan menjalankan shalat subuh dan praktek seperti ini adalah selaras dengan keadaan alami sehingga menyehatkan.&lt;br /&gt;Tidur berbaring dengan posisi telentang adalah kurang sehat, karena menekan atau menyesakkan tulang punggung, bahkan kadangkala bisa menyebabkan kita ingin ke toilet/WC, juga tidur tengkurap atau menelungkup tidak praktis untuk pernapasan. Banyaknya tidur pada sisi kiri badan (menghadap kekiri) bisa menggangu kesehatan kita, karena menghimpit jantung sehingga sirkulasi darah terganggu dan mengurangi pasokan darah ke otak, jika ini terjadi kita akan mengalami mimpi-mimpi sedih memilukan, mimpi buruk/seram (nightmares) bahkan berjalan dalam keadaan tidur (somnabulisme). Posisi tidur terbaik menurut sains adalah pada sisi kanan tubuh (menghadap kekanan). Fakta ini telah diuji melalui riset medis modern yang panjang untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam yang berkualitas wahyu, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW menganjurkan kepada para pengikut beliau untuk tidur berbaring pada sisi badan bagian kanan. Dalam posisi tidur diusahakan agar kepala menghadap ke Utara dan kaki mengarah ke Selatan, sehingga tubuh tidak menolak arus/medan magnet konstan mengaliri sekujur tubuh dari kutub magnetik Utara menuju ke Selatan dan 'terhubung' lancar ke sistem syaraf kita.&lt;br /&gt;Perlu diketahui &amp;amp; diingat sehubungan dengan fenomena tidur ini, yaitu jika terdapat suatu keinginan, niat, ide didalam fikiran kita sebelum tidur maka hal-hal tersebut secara latent mengendap didalam alam bawah sadar kita sepanjang malam dan tanpa disadari akan mempengaruhi pikiran dan tindakan kita. Sebagai contoh, jika seorang anak kecil tertidur dalam keadaan menangis maka pada umumnya saat anak itu bangun dia akan menangis lagi. Selanjutnya, jika seorang bayi jatuh tertidur ketika sedang menyedot susu, ia juga akan membuat gerakan yang serupa ketika terbangun. Oleh sebab itu, kita dianjurkan agar mengarahkan perhatian kita sebelum tidur pada hal-hal yang berhubungan dengan moral dan spiritual.. &lt;br /&gt;Rasulullah Muhammad SAW menyuruh kaum Muslim untuk membaca dan merenungkan ayat-ayat Al Quran, yaitu ayat Kursi dan tiga surah terakhir dari Al Quran sebelum tidur. Ayat-ayat tersebut tidak untuk dirapalkan seperti jampi-jampi atau mantera. Sebagaimana dapat diketahui, ayat-ayat tersebut banyak berbicara mengenai keagungan dan keindahan sifat-sifat Tuhan, dan hal ini akan memberikan kesan yang dalam serta kuat di alam fikiran kita. Merenungkan sifat-sifat keTuhanan tersebut akan membersihkan dan meninggikan ruhani serta mendapat perlindungan Allah SWT terhadap segala godaan setan dan hal-hal yang merugikan. Praktek seperti ini jika kita laksanakan dengan baik maka akan menjadi sumber yang besar bagi kekuatan moral.&lt;br /&gt;Tidak dianjurkan langsung tidur setelah makan malam. Ada pepatah lama mengatakan : berjalanlah sejauh 1 mil setelah makan malam, raihlah kebaikan untuk selamanya. Islam juga menganjurkan kita agar secara khusus menjalankan shalat Isya berjamaah di masjid. Perintah ini baik bagi jiwa maupun raga.&lt;br /&gt;Sulit tidur atau tidur dengan kualitas yang buruk sering juga menjadi penyebab dan pendamping penyakit syaraf atau penyakit jiwa. Oleh sebab itu penting sekali untuk mendapatkan istirahat yang baik di malam hari. Sulit tidur bisa diatasi dengan suatu niat untuk tidur. Terdapat beberapa faktor yang membantu kita tidur, antara lain yaitu kebersihan tempat tidur, mandi air hangat, minuman hangat dsb.&lt;br /&gt;Dakwah atau pengajaran Islam memang berdasarkan prinsip-prinsip kesehatan dan bersifat alami. Adalah sangat menyenangkan untuk mempelajari doktrin-doktrin Islam dipandang dari ilmu pengetahuan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-5978150840334064176?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/5978150840334064176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=5978150840334064176&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/5978150840334064176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/5978150840334064176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/11/tidur-yang-sehat.html' title='Tidur yang Sehat'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/Swj4MGWHPrI/AAAAAAAAATM/ZdPbI9t45LI/s72-c/WayangKulit_TiknoDreamstime.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-2978733866091603066</id><published>2009-11-09T16:52:00.001+07:00</published><updated>2010-09-16T23:52:36.846+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syekh Siti Jenar'/><title type='text'>ALANG ALANG KUMITIR</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfmTwn56MI/AAAAAAAAAQA/PtkZIQPY-no/s1600-h/Syekh+Siti+Jenar%28wali%29.bmp" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" sr="true" src="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfmTwn56MI/AAAAAAAAAQA/PtkZIQPY-no/s320/Syekh+Siti+Jenar%28wali%29.bmp" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfmDfg4WZI/AAAAAAAAAP4/3EJIAOlCTgk/s1600-h/8.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" sr="true" src="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfmDfg4WZI/AAAAAAAAAP4/3EJIAOlCTgk/s320/8.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;“Mulat Sarira Tansah Eling lan Waspada”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #93c47d;"&gt;&lt;b&gt;Saat Pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499) Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali.&lt;br /&gt;Siti Jenar dianggap telah merusak ketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri). Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam. Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan Sidi Jinnar.&lt;br /&gt;Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali. Dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang semula ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen Swie (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Sunan Giri. Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon. Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun (saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499) yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya, di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I.&lt;br /&gt;Keberadaan Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari kita coba menyoroti falsafah/faham/ajaran Siti Jenar. Konsepsi Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam buku Falsafah Siti Jenar tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, yaitu kira-kira:&lt;br /&gt;1. Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya.&lt;br /&gt;2. Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi, kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan, menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya.&lt;br /&gt;3. Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana, tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah.&lt;br /&gt;4. Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia.&lt;br /&gt;5. Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat pancaindera.&lt;br /&gt;6. Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya.&lt;br /&gt;7. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru.&lt;br /&gt;Dalam buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa : Tuhan itu adalah wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang bersinar cemerlang yang berwujud samar-samar bila di lihat, dengan warna memancar yang sangat indah; Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia juga mengaku sebagai Tuhan; Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya, yang mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang Widi; Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian, bangkai yang busuk, sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di dunia; Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan ungkapan dari dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya.&lt;br /&gt;Dalam buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa : Saat diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata; Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya indah sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri dan tanpa bantuan sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara) yang terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan; Tuhan itu menurutnya adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi.&lt;br /&gt;Menurut buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935) dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan (ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian. Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Siti Jenar memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap obyek (proses intuitif).&lt;br /&gt;Menurut Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal tak berakhir di kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti).&lt;br /&gt;Dalam pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya manusia, flora, fauna dan segala yang ada, sekaligus yang menjiwai segala sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan secitra Tuhan/Hyang Widi. Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam), tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam).&lt;br /&gt;Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar). Bisa jadi pula, tragedi Siti Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran. Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang tulisan mengenai Siti Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari budaya Jawa.&lt;br /&gt;Sebab Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut Ir. Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri. Dikatakan bahwa dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pengalaman tetaplah pengalaman, tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti, yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini. Kalau misalnya dengan kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela.&lt;br /&gt;Kisah Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran, yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci. Kesimpulannya, Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya. Kita akhiri kisah singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”. Sidang para Wali Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad. Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba, mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya. Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar. Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya. Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi masalah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat luas. Menurut Sunan Giri paham Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk islam, karena seperti disampaika di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M.&lt;br /&gt;Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie sbb:&lt;br /&gt;Pedah punapa mbibingung, Ngangelaken ulah ngelmi, NJeng Sunan Giri ngandika, Bener kang kaya sireki, Nanging luwih kaluputan, Wong wadheh ambuka wadi. Telenge bae pinulung, Pulunge tanpa ling aling, Kurang waskitha ing cipta, Lunturing ngelmu sajati, Sayekti kanthi nugraha, Tan saben wong anampani.&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Syeh Siti Jenar berkata, untuk apa kita membuat bingung, untuk apa kita mempersulit ilmu? Sunan Giri berkata, benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar, karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya. Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.&lt;br /&gt;Ngrame tapa ing panggawe Iguh dhaya pratikele Nukulaken nanem bibit Ono saben galengane Mili banyu sumili Arerewang dewi sri Sumilir wangining pari Sêrat Niti Mani . . . Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah. Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita. Kinanti Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti. Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga runggi. Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani. Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika, neng kaanan ênêng êning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-2978733866091603066?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/2978733866091603066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=2978733866091603066&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/2978733866091603066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/2978733866091603066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/11/alang-alang-kumitir.html' title='ALANG ALANG KUMITIR'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfmTwn56MI/AAAAAAAAAQA/PtkZIQPY-no/s72-c/Syekh+Siti+Jenar%28wali%29.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-7676228094867980207</id><published>2009-11-09T16:20:00.002+07:00</published><updated>2010-09-16T23:53:38.258+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gizi Tambahan'/><title type='text'>Kasiat Beras Merah</title><content type='html'>&lt;div style="border: medium none;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfeyeITRqI/AAAAAAAAAPw/JlFnu2I5maI/s1600-h/Beras+merah.+2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;&lt;img border="0" sr="true" src="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfeyeITRqI/AAAAAAAAAPw/JlFnu2I5maI/s320/Beras+merah.+2.jpg" /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfetKXs_4I/AAAAAAAAAPo/be8hsteMue0/s1600-h/Beras+merah.j3.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;span style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;&lt;img border="0" sr="true" src="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfetKXs_4I/AAAAAAAAAPo/be8hsteMue0/s320/Beras+merah.j3.jpg" /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;Umumnya masyarakat lebih sering mengkonsumsi padi beras putih dibanding beras merah. Padahal beras merah bergizi tinggi. Beras merah selain mengandung karbohidrat juga kaya protein dan mengandung mineral dan vitamin. Tepung beras merah pecah kulit dapat mencegah berbagai penyakit seperti kanker usus, batu ginjal, beri-beri, insomnia, sembelit, wasir, gula darah, dan kolesterol.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; Warna merah pada beras terbentuk dari pigmen antosianin yang dikandungnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="border: medium none;"&gt;Nilai gizi beras bergantung pada jenisnya. Dari sisi jenis, masyarakat menggolongkan beras menjadi tiga golongan: beras putih (dipisahkan lagi menjadi pulen dan pera), beras ketan, dan beras merah. Tetapi, apa pun nama berasnya, orang awam hanya tahu, bahan ini hanyalah sumber karbohidrat semata, pengenyang perut, 'bensin' untuk beraktivitas. Padahal, jika saja mau sedikit iseng 'membongkarnya', utamanya beras merah, beras memiliki banyak manfaat lain. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beras merah umumnya beras tumbuk atau pecah kulit, yang kulit arinya tak banyak hilang. Kulit ari beras mengandung zat-zat gizi yang penting bagi tubuh, di dalam kulit ari tersebut kaya serat dan minyak alami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serat tak hanya mengenyangkan, namun juga mencegah berbagai penyakit saluran pencernaan. Manfaat lain dari serat, yakni dapat meningkatkan perkembangan otak dan menurunkan kolesterol darah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu lemak dalam kulit ari kebanyakan merupakan lemak esensial, yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak anak. Sedangkan senyawa-senyawa dalam lemak kulit ari juga dapat menurunkan kolesterol darah, salah satu faktor risiko penyakit jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu beras merah pun lebih unggul dalam hal kandungan vitamin dan mineral daripada beras putih. Beras merah mengandung tiamin (vitamin BI) yang diperlukan untuk mencegah beri-beri pada bayi. Zat besinya juga lebih tinggi, membantu bayi usia 6 bulan ke atas yang asupan zat besinya dari ASI sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan tubuh. Belum lagi vitamin dan mineral-mineral penting lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kelebihan seperti dipaparkan di atas baik sekali jika keluarga kita mulailah mengonsumsi beras merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cegah Kanker&lt;br /&gt;Beras merah telah dikenal sejak tahun 2800 SM. Oleh para tabib saat itu benda ini dipercaya memiliki nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dalam ikatan toksik dapat berubah menjadi radikal bebas, yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel sehingga merusak membran tersebut. Kerusakan ini menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah banyak pakar mengatakan selenium mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-7676228094867980207?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/7676228094867980207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=7676228094867980207&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/7676228094867980207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/7676228094867980207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/11/kasiat-beras-merah.html' title='Kasiat Beras Merah'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfeyeITRqI/AAAAAAAAAPw/JlFnu2I5maI/s72-c/Beras+merah.+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-4926431107083345959</id><published>2009-11-09T16:11:00.003+07:00</published><updated>2010-09-16T23:54:33.308+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gizi Tambahan'/><title type='text'>BERAS MERAH</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfdtHwNIvI/AAAAAAAAAPg/AnQM_9OgM0k/s1600-h/Beras+merah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" sr="true" src="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfdtHwNIvI/AAAAAAAAAPg/AnQM_9OgM0k/s320/Beras+merah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: medium none;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/Svfcqja4JaI/AAAAAAAAAPY/BdAyBhZ4yNU/s1600-h/Roz_Gaya.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" sr="true" src="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/Svfcqja4JaI/AAAAAAAAAPY/BdAyBhZ4yNU/s320/Roz_Gaya.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #ea9999;"&gt;Kandungan nutrisi dalam beras merah hampir sama dengan beras putih pada umumnya, bahkan untuk miniral tertentu seperti fosfor dan selenium,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;span style="color: #b6d7a8;"&gt;&lt;b&gt;beras merah jauh lebih unggul.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: medium none;"&gt;&lt;span style="color: #b6d7a8;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Keunggulan lain dari beras merah tersebut ditangkap dan diolah oleh produsen lalu dikembangkan menjadi produk makanan olahan sehat, bergizi tinggi, sekaligus mampu membantu mendorong tumbuh kembang anak&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Tekstur beras merah yang sedikit lebih keras dibandingkan beras jenis lain, sangat tepat jadi alasan kenapa beras merah akhirnya lebih pas diolah menjadi sejenis tepung.&lt;br /&gt;Olahan tepung beras merah ada yang dicampur dengan bahan lain untuk menambahkan nutrisi dalam bahan makanan tersebut, tapi ada juga yang murni tepung beras merah. Tepung beras merah identik dengan sereal atau bubur sebagai makanan pendamping ASI bagi balita.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Data penelitian menyebutkan konsistensi bubur beras merah sangat toleran dengan kondisi sistem pencernaan balita. Selain itu kandungan gizinya pun mencukupi gizi harian balita, sebagai menu pendamping ASI (KOKI edisi 0061 Januari 2006)&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan manfaat gizi olahan beras merah Anda tidak perlu repot, sekarang telah hadir SERBUK BERAS MERAH NATURAL siap saji tinggal seduh, praktis siap konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-4926431107083345959?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/4926431107083345959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=4926431107083345959&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/4926431107083345959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/4926431107083345959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/11/beras-merah.html' title='BERAS MERAH'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/SvfdtHwNIvI/AAAAAAAAAPg/AnQM_9OgM0k/s72-c/Beras+merah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-6661374102663365985</id><published>2009-10-16T08:46:00.003+07:00</published><updated>2010-09-16T23:55:51.648+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syaikh Abdul Qadir al Jaelani'/><title type='text'>Beberapa Kejadian Penting</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #666600; font-size: 130%;"&gt;Suatu ketika, saat aku berceramah aku melihat sebuah [[cahaya]] terang benderang mendatangi aku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #cc66cc; font-family: verdana;"&gt;"Apa ini dan ada apa?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Rasulullah SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat" jawab sebuah suara. &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StfRFzrqRTI/AAAAAAAAAM0/xb03UbonObM/s1600-h/Al+Jaelani.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393008976502342962" src="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StfRFzrqRTI/AAAAAAAAAM0/xb03UbonObM/s200/Al+Jaelani.jpg" style="float: right; height: 122px; margin: 0px 0px 10px 10px; width: 94px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[[Sinar]] tersebut semakin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi [[spiritual]] yang membuatku setengah [[sadar]]. Lalu, aku melihat RasuLullah SAW di depan [[mimbar]], mengambang di [[udara]] dan memanggilku, "Wahai Abdul Qadir". Begitu gembiranya aku dengan kedatangan Rasulullah SAW, aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Ia meniup ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meniup ke dalam mulutku 3 kali. "Mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah SAW?" tanyaku kepadanya. "Sebagai rasa hormatku kepada Rasulullah SAW" jawab beliau.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;Rasulullah SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepadaku. "apa ini?" tanyaku. "Ini" jawab Rasulullah, "adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad ''Qutb'' dalam jenjang kewalian". Setelah itu, aku pun tercerahkan dan mulai berceramah.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat [[Khidir]] as. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Allah membukakan rahasianya dan apa yang akan dikatakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku, "Engkau tidak akan sabar kepadaku", aku akan berkata kepadamu, "Engkau tidak akan sabar kepadaku". "Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini [[Muhammad]] dan yang ini ar Rahman, ini kuda berpelana, [[busur]] terentang dan [[pedang]] terhunus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Khattab pelayan Syaikh Abdul QAdir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan oleh kaum Muhammad” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas al Khidir as lewat dan aku pun berbicara kepadanya seperti yang kalian dengar tadi dan ia berhenti”. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-6661374102663365985?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/6661374102663365985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=6661374102663365985&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/6661374102663365985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/6661374102663365985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/10/beberapa-kejadian-penting.html' title='Beberapa Kejadian Penting'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StfRFzrqRTI/AAAAAAAAAM0/xb03UbonObM/s72-c/Al+Jaelani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-3002084208710100068</id><published>2009-10-16T08:37:00.004+07:00</published><updated>2010-09-16T23:57:25.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syaikh Abdul Qadir al Jaelani'/><title type='text'>Hubungan Guru dan Murid</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Guru dan teladan kita Syaikh Abdul Qadir al Jaelani berkata, ”Seorang Syaikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StfQHAMNqVI/AAAAAAAAAMs/ODQbz5fqbEk/s1600-h/Syaikh+Abdul+Qadir+al+Jaelani.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393007897528346962" src="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StfQHAMNqVI/AAAAAAAAAMs/ODQbz5fqbEk/s200/Syaikh+Abdul+Qadir+al+Jaelani.jpg" style="float: left; height: 100px; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 94px;" /&gt;&lt;/a&gt; dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang ''sattar'' (menutup aib) dan ''ghaffar'' (pemaaf).&lt;br /&gt;#Dua karakter dari Rasulullah SAW yaitu penyayang dan lembut.&lt;br /&gt;#Dua karakter dari [[Abu Bakar]] yaitu jujur dan dapat dipercaya.&lt;br /&gt;#Dua karakter dari [[Umar]] yaitu amar ma’ruf nahi munkar.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="color: #0b5394;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;#Dua karakter dari [[Utsman bin AffanUtsman]] yaitu dermawan dan bangun ([[tahajjud]]) pada waktu orang lain sedang tidur.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0b5394;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;#Dua karakter dari Ali yaitu aalim ([[cerdas]]/[[intelek]]) dan pemberani.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait [[syair]] yang dinisbatkan kepada beliau dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syaikh maka ia adalah [[Dajjal]] yang mengajak kepada kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum [[syariat]] dzahir, mencari ilmu [[hakekathakikah]] dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syaikh al Junaid mengajarkan standar al Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang syaikh. Apabila ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas untuk diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya (penulis buku) yang harus dimiliki seorang syaikh ketika mendidik seseorang adalah dia menerima si murid untuk Allah, bukan untuk dirinya atau alasan lainnya. Selalu menasihati muridnya, mengawasi muridnya dengan pandangan kasih. Lemah lembut kepada muridnya saat sang murid tidak mampu menyelesaikan [[riyadhah]]. Dia juga harus mendidik si murid bagaikan anak sendiri dan orang tua penuh dengan kasih dan kelemahlembutan dalam mendidik anaknya. Oleh karena itu, dia selalu memberikan yang paling mudah kepada si murid dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. Dan setelah sang murid bersumpah untuk bertobat dan selalu taat kepada Allah baru sang syaikh memberikan yang lebih berat kepadanya. Sesungguhnya [[bai’at]] bersumber dari hadits Rasulullah SAW ketika beliau mengambil bai’at para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia harus [[talkinmentalqin]] si murid dengan [[zikir]] lengkap dengan silsilahnya. Sesungguhnya Ali ra. bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, jalan manakah yang terdekat untuk sampai kepada Allah, paling mudah bagi hambanya dan paling [[afdhal]] di sisi-Nya. Rasulullah berkata, "Ali, hendaknya jangan putus berzikir (mengingat) kepada Allah dalam [[khalwat]] ([[kontemplasi]]nya)". Kemudian, Ali ra. kembali berkata, "Hanya demikiankah [[fadhilah]] zikir, sedangkan semua orang berzikir". Rasulullah berkata, "Tidak hanya itu wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi di muka bumi ini selama masih ada orang yang mengucapkan 'Allah', 'Allah'. "Bagaimana aku berzikir?" tanya Ali. Rasulullah bersabda, "Dengarkan apa yang aku ucapkan. Aku akan mengucapkannya sebanyak tiga kali dan aku akan mendengarkan engkau mengulanginya sebanyak tiga kali pula". Lalu, Rasulullah berkata, “''Laa ilaaha illallah''” sebanyak tiga kali dengan mata terpejam dan suara keras. Ucapan tersebut di ulang oleh Ali dengan cara yang sama seperti yang Rasulullah lakukan. Inilah asal talqin kalimat ''Laa ilaaha Illallah''. Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita dengan kalimat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Qadir berkata, ”Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh [[mursyid]]nya saat menghadapi sakaratul maut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah Syaikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi:&lt;br /&gt;Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut). &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-3002084208710100068?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/3002084208710100068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=3002084208710100068&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3002084208710100068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/3002084208710100068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/10/hubungan-guru-dan-murid.html' title='Hubungan Guru dan Murid'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StfQHAMNqVI/AAAAAAAAAMs/ODQbz5fqbEk/s72-c/Syaikh+Abdul+Qadir+al+Jaelani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-2867671314832873714</id><published>2009-10-12T15:59:00.002+07:00</published><updated>2010-09-16T23:59:05.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Bunda Diabetes, Bayi Lahir Raksasa</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StLvnnpd7mI/AAAAAAAAAKw/cma6ikjTZSA/s1600-h/afrika-giraffe_120x90.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img $r="true" border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StLvnnpd7mI/AAAAAAAAAKw/cma6ikjTZSA/s400/afrika-giraffe_120x90.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Bunda Diabetes&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: cyan;"&gt;Bayi Lahir Raksasa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Bayi-bayi berberat badan di atas lima kilogram lahir di beberapa daerah di Indonesia, belakangan ini. Kebanyakan sang ibu mengidap diabetes. Peningkatan kadar gula dalam darah bisa juga disebabkan oleh penggunaan alat kontrasepsi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;span style="color: #351c75;"&gt;Namun tidak ada ancaman yang serius pada kesehatan si bayi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #351c75;"&gt;DOKTER Binsar Sitanggang.....&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;benar-benar mendapat hadiah Lebaran yang mantap. Ahli kandungan dari Rumah Sakit Abdul Manan Simatupang, Kisaran, Sumatera Utara, itu tak menyangka harus mengeluarkan bayi seberat 8,7 kilogram dan panjang 62 sentimeter, sehari setelah Idul Fitri lalu. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Sungguh menegangkan. Binsar harus tiga kali memperlebar potongan bedah caesar pada perut Bainim, sang ibu asal Desa Bulan-bulan, Kabupaten Batubara. Awalnya, Bainim disayat 16 sentimeter, setelah ibu berusia 31 tahun itu tak kuat menahan sakit. Namun sayatan tersebut masih belum cukup. ”Semula saya mengira yang lahir bayi kembar,” ujar Binsar. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Proses persalinan juga tak mudah: hampir satu jam lamanya—biasanya untuk bedah caesar hanya beberapa menit. ”Saya kaget bukan kepalang, bayi itu setara dengan bayi delapan bulan,” ujar Binsar yang masih terheran-heran walau operasi sudah lewat dua pekan. Sang ibu pun mengaku hampir pingsan melihat anak ketiganya itu. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Setelah lahir, si jabang bayi yang diberi nama Muhammad Akbar Risuddin segera ditaruh di ruang pengawasan khusus bayi, yang biasa digunakan untuk bayi yang terlalu besar, terlalu kecil, atau yang ada kelainan. Mereka mendapat pengawasan ketat 24 jam. Beruntung, bayi Akbar tak menunjukkan kelainan dan sehat saja, hingga pekan lalu. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Ternyata Akbar tidak sendiri. Dua kakaknya juga tergolong bayi besar, tapi lahir tanpa operasi. Nikmah, yang saat ini berusia sembilan tahun, lahir dengan bobot 5,3 kilogram. Adiknya, Firman, delapan tahun, lahir dengan berat 4,5 kilogram. Bainim pun bertubuh tambun meski, menurut Binsar, faktor genetik bukan merupakan penyebab bayi lahir raksasa. ”Penyebabnya, si ibu mengalami peningkatan kadar gula darah selama kehamilan atau diabetes gestasional,” ujar dokter. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Dokter Binsar menduga sumber dari peningkatan gula dalam darah Bainim akibat penggunaan alat kontrasepsi hormonal tertentu dengan kadar progestin androgenic tinggi—yang memicu diabetes—beberapa tahun sebelum hamil. ”Diabetes jenis ini hanya pada ibu hamil. Setelah melahirkan, kadar gula darah kembali normal karena sifat diabetes ini temporer,” katanya. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Bainim membenarkan dugaan dokter. Menurut dia, setelah melahirkan anak kedua, dia menggunakan alat kontrasepsi suntik. Hingga muncullah diabetes gestasional, yang berakibat berkurangnya kadar insulin. Kadar gula darah menanjak cepat, yang bisa menyebabkan pertumbuhan jantung bayi terganggu selama pembentukan organ-organ tubuh lain si janin. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Dampak lain diabetes gestasional adalah bayi jadi macrosomia atau bayi lahir lebih berat dan panjang. Untuk itulah, penting bagi si ibu untuk memeriksa rutin kadar gula darah selama hamil. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Bayi berukuran raksasa juga lahir di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, sebulan sebelumnya. Ibunya bernama Aminah, penduduk Desa Rongkarong, Kelurahan Gladak Anyar. Bayinya yang lahir normal semula dikabarkan memiliki berat delapan kilogram dengan panjang 75 sentimeter. Namun saat ditimbang mahasiswa Akademi Kebidanan Universitas Islam Madura, beratnya 5,8 kilogram. Bayi itu juga dikabarkan berada dalam kandungan selama 12 bulan dan tidak memiliki tali pusar. Namun hal itu dibantah Ketua Ikatan Bidan Indonesia di Pamekasan, Siti Kamarijah. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Bayi besar dengan berat 6,7 kilogram dan panjang 56 sentimeter juga lahir normal di Desa Jabiren Raya, Kabupaten Pulangpisau, Kalimantan Tengah, beberapa bulan sebelumnya. Proses kelahiran anak keempat pasangan Aisyah, 35 tahun, dan Muhtadin, 45 tahun, itu hanya didampingi seorang bidan pusat kesehatan masyarakat setempat. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Fenomena bayi besar atau macrosomia, menurut dokter ahli kandungan dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Profesor Sofie R. Krisnadi, merupakan hal lumrah walau jarang terjadi. Di RS Hasan Sadikin, misalnya, dari 3.197 kelahiran tahun lalu, hanya 50 atau 1,6 persen ibu yang melahirkan bayi besar. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Di dunia, menurut pengamatan dokter obstetri ginekologi senior dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, walau belum ada riset khusus soal itu, faktor ras atau genetis ikut mempengaruhi munculnya bayi besar. Ras Hispanik paling sering memiliki bayi jumbo. Bobotnya lebih dari 4,5 kilogram atau 500 gram lebih berat daripada ukuran minimal bayi besar di sini. ”Di Indonesia, bayi dikatakan besar kalau beratnya empat kilogram lebih,” kata Prof. Sofie. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Bayi terberat lahir di Amerika Serikat pada 1939, dengan berat 13,26 kilogram, tapi hanya mampu hidup dua jam akibat kesulitan pernapasan. Di Ohio, Amerika, pada 1879, bayi lahir dengan berat 10,8 kilogram, cuma berumur 11 jam. Di Aversa, Italia, pada 1955, bayi lahir dengan persalinan normal dan selamat, beratnya 10,2 kilogram. Bayi dengan berat yang sama dilahirkan Christina Samane dari Afrika Selatan. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Rumah sakit rujukan se-Jawa Barat itu rata-rata menangani kelahiran satu-dua bayi besar tiap bulan. Bayi terberatnya pernah mencapai 5,6 kilogram dua tahun lalu. Tahun lalu semua bayi besar lahir selamat, begitu pula ibunya. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Berat bayi normal 2,5-4 kilogram dengan panjang 46-50 sentimeter. Lebih dari itu, kalangan medis menyebutnya sebagai bayi besar. Selain faktor genetis, penyebab lain bayi jumbo adalah riwayat diabetes dalam keluarga, bobot dan usia ibu hamil, serta paritas atau tingkat keseringan kehamilan. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #741b47; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Menurut Ketua Program Studi Fetomaternal di Bagian Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Hasan Sadikin itu, pasca-melahirkan, si ibu juga berpotensi besar mengidap diabetes, begitu pula anaknya kelak. ”Si ibu sangat mungkin terkena diabetes kalau umurnya sudah lebih dari 40 tahun dan mengalami obesitas,” ujar Profesor Sofie. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #6fa8dc; font-family: Verdana,sans-serif; font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;Ahmad Taufik, Sahat Simatupang (Kisaran), Anwar Siswadi (Bandung)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-2867671314832873714?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.tempointeraktif.com/' title='Bunda Diabetes, Bayi Lahir Raksasa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/2867671314832873714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=2867671314832873714&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/2867671314832873714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/2867671314832873714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/10/bunda-diabetes-bayi-lahir-raksasa.html' title='Bunda Diabetes, Bayi Lahir Raksasa'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StLvnnpd7mI/AAAAAAAAAKw/cma6ikjTZSA/s72-c/afrika-giraffe_120x90.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-4727531204030853419</id><published>2009-10-11T22:45:00.005+07:00</published><updated>2010-09-17T00:00:28.288+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terapi Kesehatan Islami'/><title type='text'>Kopi Enak Tenan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH-J2g5LmI/AAAAAAAAAF0/Asfh9vdRMEU/s1600-h/Kopi+biji.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391369674144951906" src="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH-J2g5LmI/AAAAAAAAAF0/Asfh9vdRMEU/s320/Kopi+biji.jpg" style="float: left; height: 162px; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 117px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391369516544326018" src="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH-ArZ-eYI/AAAAAAAAAFs/vPwSgyiqbm4/s320/Kopi+cangkir.jpg" style="float: right; height: 119px; margin: 0px 0px 10px 10px; width: 99px;" /&gt;&lt;span style="color: #999900;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dua penelitian lagi membuktikan konsumsi kopi bisa membantu mencegah penyakit Alzeimer. Para peneliti dari Florida menemukan dosis harian kopi sebanyak 500 miligram kafein atau sama dengan 5 cangkir ukuran 236,5 mililiter kopi bisa memperbaiki kondisi tikus biakan pengidap semacam gejala Alzeimer.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="color: #bf9000;"&gt;&lt;b&gt;Setelah dua bulan penelitian, terbukti tikus-tikus itu memiliki kondisi otak yang sama dengan tikus seumur yang normal. Penelitian ini akan dipublikasikan di edisi online Journal of Alzheimer’s Disease bulan Juli. Penelitian ini juga menemukan bahwa kafein mengurangi sampai separuh dari kelebihan kadar beta amyloid di otak dan darah. Beta amyloid adalah protein yang berhubungan dengan sejenis plak yang ditemukan pada tubuh manusia pengidap Alzeimer.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Penelitian ini memberikan bukti bahwa kafein bisa menjadi terapi untuk penanganan Alzeimer, bukan sekadar strategi perlindungan sederhana,” kata Gary Arendash peneliti utama dan ahli saraf dari University of South Florida. “ Ini penting karena kafein obat yang aman untuk sebagian besar orang, dengan mudah masuk ke otak, dan tampaknya secara langsung mempengaruhi penyakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian lain beberapa waktu lalu di Florida Alzheimer’s Disease Research Center di Tampa, ditemukan kafein di usia awal dewasa bisa mencegah masalah memori pada tikus percobaan. Sangat mungkin terjadi karena kafein bisa meredakan radang otak yang disebabkan oleh peningkatan kadar beta amyloid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak diketahui apakan dosis kafein dalam sehari yang lebih kecil bisa menghasilkan efek menguntungkan pada tikus-tikus Alzeimer. Tapi dalam beberapa penelitian lain, para peneliti tak menemukan kafein bisa memperbaiki kualitas memori pada tikus normal seperti pada tikus Alzeimer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pusat penelitian tersebut juga ditemukan kafein mengurangi kadar beta amyloid pada orang tua tanpa demensia, secepat yang bisa terjadi pada tikus-tikus biakan dengan gejala Alzeimer. “Penelitian akan apakah kafein juga bisa menolong orang dengan masalah kognitif ringan atau penyakit Alzeimer awal tampaknya akan segera menyusul,” kata Huntington Potter, peneliti sekaligus direktur Florida Alzheimer’s Disease Research Center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun meski menkonsumsi 500 miligram kafein sehari tak akan berbahaya untuk sebagian besar orang, Arendash mengingatkan pengidap tekanan darah tinggi atau wanita hamil harus membatasi kafein. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-4727531204030853419?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/4727531204030853419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=4727531204030853419&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/4727531204030853419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/4727531204030853419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/10/kopi-enak-tenan.html' title='Kopi Enak Tenan'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH-J2g5LmI/AAAAAAAAAF0/Asfh9vdRMEU/s72-c/Kopi+biji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-4878159335227599510</id><published>2009-10-11T22:06:00.001+07:00</published><updated>2010-09-17T00:02:30.519+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terapi Kesehatan Islami'/><title type='text'>MANFAAT JUS DAN SAYUR</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH1pFWwl7I/AAAAAAAAAFE/i1OI5AsoHB8/s1600-h/Gelas.bmp"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391360315100272562" src="http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH1pFWwl7I/AAAAAAAAAFE/i1OI5AsoHB8/s320/Gelas.bmp" style="float: left; height: 116px; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 92px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH1f5wmSKI/AAAAAAAAAE8/W5k1V_GXMmE/s1600-h/buah.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391360157368600738" src="http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH1f5wmSKI/AAAAAAAAAE8/W5k1V_GXMmE/s320/buah.jpg" style="float: right; height: 112px; margin: 0px 0px 10px 10px; width: 109px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #ff6666; font-family: verdana;"&gt;&lt;i&gt;Manfaat buah dan sayur bagi kesehatan tentu telah begitu familier di telinga kita. Namun, pernahkah Anda mendengar terapi pengobatan bermacam penyakit dengan menggunakan jus buah dan sayuran?&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: #33ff33;"&gt;Peracik minuman jus buah kesehatan dan pengobatan Rindy mengatakan, terapi jus yang dilakukan secara kontinu akan memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Hanya untuk mendapatkan reaksi itu, perlu rentang waktu sekitar tiga bulan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Khusus untuk pengobatan, kami perlu mengonsumsi jus yang sesuai kebutuhan mengobati penyakit tertentu setiap hari, setidaknya delapan gelas. Sedangkan kalau untuk pencegahan cukup mengonsumsi tiga gelas dalam sehari,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, untuk jus pelangsing alias menurunkan berat badan, jus yang dikonsumsi terdiri dari bahan buah apel, wortel, dan pepaya. Banyaknya delapan gelas sehari dan tanpa mengonsumsi nasi. ”Sebab jus ini bikin kenyang, dua gelas mampu menahan lapar sampai 6 jam karena jus ini tanpa membuang ampas sama sekali,” imbuh Rindy.&lt;br /&gt;Lebih jauh dia memaparkan komposisi bahan buah dan sayuran dalam satu gelas jus. Untuk pengobatan panas dalam, bahannya cukup satu buah pir dan satu buah jeruk. Terlebih dulu kulit dan biji jeruk dibuang lalu dijus jadi satu gelas dan langsung dikonsumsi.&lt;br /&gt;Meskipun jus kesehatan ini pada prinsipnya tanpa membuang ampas, untuk beberapa jenis buah ada yang dibuang bijinya. Tapi untuk beberapa jenis pengobatan tertentu, ada juga yang dijus bersamaan dengan bijinya. Sebagai contoh untuk pengobatan asam urat diperlukan pula biji sirsak, semangka plus kulit, daun salam, dan jeruk lemon.&lt;br /&gt;Untuk pengobatan antistroke, bahan yang diperlukan yakni buah jambu klutuk setengah bagian, buah kesemek seperempat, jeruk separuh dan apel seperempat. Bahan tadi dicampur jadi satu dan dijus maksimal 5 menit.&lt;br /&gt;”Terapi pengobatan jus bisa dibarengi dengan pengobatan konvensional. Umumnya, pelanggan kami setelah menjalani terapi ini selama satu bulan, kemudian dia mengecek perkembangannya di laboratorium kesehatan yang terletak di depan kios jus ini,” sebut Rindi.&lt;br /&gt;Selanjutnya untuk pengobatan antikolesterol terdiri atas bahan nanas seperempat bagian dibagi empat, wortel empat irisan tebal, labu ukuran kecil satu buah, dan daun sawi dua batang. Untuk pelangsing, apelnya cukup separuh, wortel empat irisan, pepaya dari seperempat buah dipotong lagi separuh. Kemudian prosesnya sama dicampur jadi satu dijus dan langsung dikonsumsi.&lt;br /&gt;”Bila dikonsumsi rutin selama satu bulan, setiap harinya 8 gelas, maka maksimal mampu menurunkan berat badan 3-10 kg,” katanya. Jus berkhasiat sehat pria mengandung bahan dua biji nangka, wortel tiga irisan, nanas seperempat dibagi empat, kuning telur dua, dan madu sachet. Khusus sehat pria apabila dalam satu hari mengonsumsi enam gelas, maka dipercaya mampu meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh pria.&lt;br /&gt;Selain pengobatan di atas tadi, jus buah kesehatan dengan variasi buah dan sayuran berbeda ini dipercaya mampu menyembuhkan penyakit lainnya, seperti antikanker, antirematik, antiwasir dan antisembelit.&lt;br /&gt;Benarkah apabila kita menjalani terapi mengonsumsi jus buah dan sayuran ini mampu menyembuhkan berbagai penyakit tadi. Memang belum diketahui hasil kajian medisnya, sebab racikan ini diperoleh hanya berdasarkan referensi tertulis saja dan belum pernah ada penelitian untuk menguji khasiatnya.&lt;br /&gt;Namun, buah dan sayuran sendiri memang telah terbukti memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Buah dapat mencegah kelebihan berat badan, mengurangi risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, hipertensi, katarak. Di samping itu menyebabkan kualitas hidup menjadi prima di usia senja. Awet muda, bugar, dan mencerahkan kulit.&lt;br /&gt;Berdasarkan The American Journal of Epidemology, pria yang mengonsumsi lebih banyak buah seperti buah citrus dan jus dapat mengurangi terjadinya luka pada mulut yang dapat berkembang menjadi kanker.&lt;br /&gt;”Sebenarnya, semua sel squamous carcinomas pada mulut berasal dari premalignant,” tutur peneliti Harvard School of Public Health di Boston, Dr Kaumudi Joshipura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #99ffff; font-size: 78%;"&gt;(Sumber: OKZone.com)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-4878159335227599510?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/4878159335227599510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=4878159335227599510&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/4878159335227599510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/4878159335227599510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/10/manfaat-jus-dan-sayur.html' title='MANFAAT JUS DAN SAYUR'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH1pFWwl7I/AAAAAAAAAFE/i1OI5AsoHB8/s72-c/Gelas.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-5131571154932508608</id><published>2009-10-11T21:51:00.001+07:00</published><updated>2010-09-17T00:04:09.424+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syekh Siti Jenar'/><title type='text'>Manunggaling Kawula Gusti</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StHxytZ7MlI/AAAAAAAAAE0/y6UFiSaGDB0/s1600-h/Syekh+Siti+Jenar.bmp"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391356082423280210" src="http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StHxytZ7MlI/AAAAAAAAAE0/y6UFiSaGDB0/s400/Syekh+Siti+Jenar.bmp" style="float: left; height: 146px; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 113px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="color: #cc0000; font-size: 130%;"&gt;Syekh Siti Jenar dikenal sebagai wali yang memopulerkan ajaran Manunggaling Kawula Gusti, yaitu kemenyatuan hamba dengan Tuhannya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #6600cc; font-family: times new roman;"&gt;&lt;b&gt;Ajaran ini sepertinya menjadi momok yang menakutkan banyak orang dari dulu hingga kini. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Manunggaling Kawula Gusti? Mengapa ajaran itu begitu ditakuti, bahkan oleh para Wali Sanga? Apa yang salah dengan Siti Jenar?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #45818e;"&gt;Ajarannya itu dianggap sesat dan berseberangan dengan Wali Sanga, sembilan wali. Ia pun dijatuhi hukuman oleh kerajaan. Kematian Siti Jenar kerap menjadi misteri yang tak terpecahkan. Bagaimana ia menemui ajalnya? Ada dua versi terkenal mengenai kematiannya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ia dihukum pancung oleh para wali. Kedua, Jenar memilih kematiannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan-gagasan Jenar terletak pada hubungan kematian dan kehidupan manusia di dunia. Buku ini ditulis dengan agak berbeda dari buku-buku tentang Siti Jenar sebelumnya agar kita lebih mampu mencerna gagasan-gagasan Siti Jenar yang selama ini sering disalahpahami. Misteri Kematian Syekh Siti Jenar ditulis dengan gaya prosa, dengan dialog antartokoh, dan dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang menguatkan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku ini beda! Mulkhan menghadirkan Serat Siti Jenar dalam bentuk prosa dan bahasa Indonesia. Perlu dibaca bagi yang ingin memahami Kandungan Serat Siti Jenar.”&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #ffccff; font-size: 78%;"&gt;Achmad Chodjim, Penulis buku Syekh Siti Jenar: Makna Kematian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-5131571154932508608?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/5131571154932508608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=5131571154932508608&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/5131571154932508608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/5131571154932508608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/10/manunggaling-kawula-gusti.html' title='Manunggaling Kawula Gusti'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StHxytZ7MlI/AAAAAAAAAE0/y6UFiSaGDB0/s72-c/Syekh+Siti+Jenar.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-1042412247347846928</id><published>2009-10-11T21:29:00.001+07:00</published><updated>2010-09-17T00:07:43.546+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terapi Kesehatan Islami'/><title type='text'>Sehat dengan Air Putih</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StHuGYxquHI/AAAAAAAAAEs/H9BbJ6d5Ebs/s1600-h/Gelas.bmp"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391352022436591730" src="http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StHuGYxquHI/AAAAAAAAAEs/H9BbJ6d5Ebs/s400/Gelas.bmp" style="float: right; height: 116px; margin: 0px 0px 10px 10px; width: 92px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: #33ff33; font-family: lucida grande; font-size: 130%;"&gt;&lt;i&gt;Air putih merupakan minuman yang menyehatkan bagi tubuh kita. Bahkan banyak penyakit yang bisa kita hindari dengan minum air putih. Dan ternyata air putih juga bisa dijadikan sebagai alat terapi kesehatan bagi kita. Terapi air putih dapat menyembuhkan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #bf9000;"&gt;&lt;b&gt;1. sakit kepala, tekanan darah tinggi, pendarahan otak, mulut miring, sakit syaraf, lumpuh seluruh badan, encok, telinga berbunyi, rasa nyeri pada otot dan tulang, dada berdebar, kaki tangan lemas.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #bf9000;"&gt;&lt;b&gt;2. batuk, asthma, infeksi saluran nafas, TBC&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="color: #bf9000;"&gt;&lt;b&gt;3. cerengitis. gangguan hati, penyakit ginjal, urolithlasis&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;4. gas acid 9asam lambung) yg terlalu byk, gastroptosis, pepticulcer (sariawan usus), disentri, prelapneani (turun berok), susah BAB, wasir, kencing manis.&lt;br /&gt;5. penyakit mata, kemunduran daya lihat mata, sakit mata, pendarahan pada mata&lt;br /&gt;6. penyakit kaum wanita ; mens ga teratur, kanker rahim, keputihan, kanker payudara&lt;br /&gt;7. penyakit hidung tengorokan, infeksi pada hidung penyakit tenggorokan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINUM AIR PUTIH DAPAT MENYEMBUHKAN BAYNYAK PENYAKIT&lt;br /&gt;Hal ini sukar dibayangkan, tetapi kenyataan memang benar. Pada dasarnya minum air putih dapat menyembukan penyakit, karena minum air menyebabkan pembentukan darah segar yg lebih banyak oleh usus besar. Dalam tubuh manusia terdapat usus yg panjangnya 8 meter, menyerap sari makanan (nutrisi). Bila usus qta bersih, maka setelah qta makan, sari makanan dapat di serap semua oleh usus, sehingga terjadi proses pembentukan darah, selanjutnya darah inilah sebagai pendorong untuk kesehatan qta, sebab itu dikatakan : MINUM AIR PUTIH DAPAT MENYEMBUHKAN PENYAKIT, MEMBUAT QTA SEHAT DAN AKHIRNYA TERCAPAI PANJANG UMUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;1. suatu hari saya berjumpa orang tua yg sehat. saya bertanya apakah bapak pernah sakit? Jawabnya; “saya sudah lama tidak sakit2an lagi. Pada usia 20 tahun saya pernah menderita sakit radang usus, sehingga harus tinggal di atas tempat tidur selama 10 tahun. selama itu saya berobat pada 5 dokter yg memberikan rupa2 obat dan suntikan; tetapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya seorang dokter yg simpati kepada saya : “Penyakit saudara sudah tidak daapt disembukan lagi oleh dokter dan obat manapun, tetapi ada satu cara pengobatan lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter tersebut memberikan penjelasan sebagai berikut&lt;br /&gt;Tiap bangun tidur, sebelum uci muka dan gosok gigi, minumlah dahulu air putih sebanyak 7 hap.&lt;br /&gt;Hap adalah satuan berat jepang, 1 hap = 0,18 kg atau 2,52 kati atau 1800 cc air. jai 7 hap = 1,25 liter&lt;br /&gt;Setelah memberikan penjelasan itu dokter tidak memberikan obat apa2 kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai esok paginya, saya turuti petunjuk dokter itu:&lt;br /&gt;Bangun tidur, saya segera minum air putih sampai 7 hap. Reaksinya saya kencing sampai 3 kali sejam. Kemudian saya mulai makan pagi, bubur yg saya makan begitu lezat rasanya seperti belum pernah saya nikmati selama saya sakit 10 tahun. Waktu minum 7 hap untuk yg kedua kalinya, saya perhatikan banyak kotoran yg keluar sewaktu buang air besar. Begitulah saya lanjutkan seterusnya. Setelah 3 bulan, berat badan saya bertambah 10 kg. Sekarang saya berusia 88 tahun dan belum pernah menderita sakit lagi. Salesma pun tidak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Minum air putih menyembuhkan sakit kepala. Reaksi yg timbul ketika pertama kalinya saya mencoba terapi ini ialah diare. Kemudian air yg akan saya minum besok paginya saya endapkan semalaman, pagi-pagi saya minum bagian atasnya saja, dan tidak timbul sakit diare. Sakit kepala yg sering timbul jadi hilang dan badan terasa segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengalaman dari seorang penderita penyakit jantung:&lt;br /&gt;10 tahun yg lalu, saya menderita sakit jantung. Kata orang saya terlalu gemuk dibandingkan dgn tinggi badan saya yg kurang dari 5 kaki, sedangkan berat saya 120 kg. Setelah minum air putih selama 10 hari, sakit-sakit yg dulu diderita sudah tidak ada lagi. Nyeri saraf dab encok tidak kumat lagi. Dua bulan kemudian berat saya berkurang 16 kg. Sebelumnya saya medapat pengobatan acupuncture, tetapi kini tidak lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menurut cerita pada dynasti Ming, wabah kolera pernah menyerang suatu tempat sehingga pemerintah mengasingkan para penderita tersebut. Diantara para penduduk ada seorang yg membiasakan minum air setiap hari. Orang inilah yg masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAL-HAL YG PERLU DIPERHATIKAN PADA TERAPI AIR PUTIH&lt;br /&gt;bagi orang yg sukar minum air 7 hap sekaligus, dianjurkan untuk latihan lari sebentar waktu bangun tidur, sehingga 7 hap itu dapat diminum semuanya.&lt;br /&gt;Bagi pasien yg tdk dpt meninggalkan tempat tidurnya, dapat minum sambil berbaring di atas ranjang dan perlu dipijat sedikit untuk membantu supaya didalam usus bergerak dan dapat mencuci kapiler pada dinding usus.&lt;br /&gt;Mula-mula memang akan timbul gejala mencret-mencret dan kencing-kencing 3kali sejam. Tetapi hal ini wajar. Selama 3-4 hari, gejala-gejala itu akan hilang dan setelah 7-8 hari, kencing hanya 1 kali sejam. Selanjutnya akan berjalan lancer dan dapat lebih menikmati lezatnya makanan.&lt;br /&gt;Biasakan dalam 2 jam setelah makan jgn byk minum air,dan menjelang tidur jgn makan.&lt;br /&gt;Jika menggunakan air ledeng sebaiknya diendapkan dulu semalam&lt;br /&gt;Terapi air putih 7 hap, hanya untuk pagi hari saja, waktu bangun tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu para sarjana jepang mengemukakan teori pembentukan darah oleh usus kapiler. Hingga kini tidak ada yg menentang. Biarlah kita kesampingkan saja mengenai pembentukan darah terletak dimana. Yg telah diakui adalah kenyataan bahwa makanan (nutrisi) melalui urutan sbg berikut&lt;br /&gt;Makan – lambung – usus – usus duodenum – usus halus 8 meter – usus preeto – anus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lama penyembuhan penyakit&lt;br /&gt;- sakit lambung disembuhkan setelah 1 minggu&lt;br /&gt;- tekanan darah tinggi disembuhkan setelah 1 bulan&lt;br /&gt;- castroptosis disembuhkan setelah 3 hari&lt;br /&gt;- sukar atau sering BAB disembuhkan setelah 1 hari&lt;br /&gt;- mencret &amp;amp; kencing pd malam hari disembuhkan setelah 1 minggu&lt;br /&gt;- kanker disembuhkan setelah 1 bulan&lt;br /&gt;- TBC disembuhkan setelah 3 bulan&lt;br /&gt;- sakit lumpuh disembuhkan setelah 2 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips&amp;amp;Trick&lt;br /&gt;a. setiap pagi bangun tidur hendaknya minum sekaligus 7 hap air putih ( atau 7 x 180 cc = 1,25 liter )&lt;br /&gt;minum sekaligus 1,25 liter memang mutlak diusahakan, karena untuk membersihkan 8 meter usus halus, untuk menghilangkan / mengikis kotoran yg melekat pada dinding usus halus. Usus halus yg bersih memungkinkan pembuluh kapiler yg melekat pd pori2 usus halus menyerap nutrisis secara optimal.&lt;br /&gt;b. Minum air putih harus dilakukan sebelum berkumur, karena ludah yg mengendap di mulut dalam semalam byk mengandung enzym2 dan antibiotika alami yg diperlukan tubuh. Jadi menelan liur sendiri adalah sehat. Di zaman dahulu, orang mengobati mata dgn air liur ketika bangun tidur, menjilat luka baru agar sembuh.&lt;br /&gt;c. Adalah lebih baik kita menunggu 1 jam untuk makan setelah minum 7 hap air. Maksudnya memberikan kesempatan kepada air puti untuk membersihkan 8 m usus halus. Setelah usus halus bersih barulah makanan dibiarkan masuk untuk dip roses.&lt;br /&gt;d. Karena itu, khusus para pekerja atau pelajar ( yg harus pergi keluar rumah pukul 6, hendaknya bangun lebih awal sehingga dapat memberikan sela 1 jam sebelum sarapan (lihat penjelasan D)&lt;br /&gt;e. Untuk gamers yg begadang hingga pagi, minum 7 hap air putih dilakukan setelah bangun dari tidur yg lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #993399; font-size: 78%;"&gt;Sumber : http://www.emporiumgamers.com&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-1042412247347846928?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/1042412247347846928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=1042412247347846928&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/1042412247347846928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/1042412247347846928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/10/sehat-dengan-air-putih.html' title='Sehat dengan Air Putih'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StHuGYxquHI/AAAAAAAAAEs/H9BbJ6d5Ebs/s72-c/Gelas.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-8120139087751638570</id><published>2009-10-11T20:20:00.002+07:00</published><updated>2010-09-17T00:09:22.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ungkapan Sedih Sang Ratu Amisan'/><title type='text'>Puisi Keprihatinan Muslim</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StLxVkXTuUI/AAAAAAAAAK4/jZR_1Zl4vLk/s1600-h/Lumo0618.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img $r="true" border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StLxVkXTuUI/AAAAAAAAAK4/jZR_1Zl4vLk/s320/Lumo0618.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #66ffff; font-family: georgia;"&gt;SATU UNGKAPAN SEDIH MENGENAI PERI KEADAAN&lt;br /&gt;KAUM MUSLIMIN&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #cc33cc;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Patut nian kalau pun sang mukmin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersimbah airmata darah –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nasib malang Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #a64d79;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #a64d79;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Dan atas langkanya – Muslim sejati&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemalangan – parah dan hebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;t’lah menimpa agama Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekafiran dan pembangkangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tumbuh subur di muka bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosong dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari segala kebaikan, segala kebajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia masih lagi mencari-cari salah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada yang Terunggul daripada Rasul-rasul Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperbudak dan dipenjara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam wujud kejahatan –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia masih lagi mencerca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atas Penghulu para Muttaqi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusak tak terpulihkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia lepaskan panah-panah atas dia, -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Lugu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya kalaulah Langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekarang juga hujankan batu atas bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam lagi digilas menjadi debu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuka matamu sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalih apa – kalian si kaya –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan kalian sekarang ajukan kepada Tuhan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekafiran di mana-mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menderu bak balatentara Yazid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Tuhan – lumpuh dan terasing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Zainal Abidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kaya – lupa daratan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam buruannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesukaan-kesukaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senang dan suka ria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berteman wanita jelita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cendekiawan agama – siang dan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bergelimang dalam nafsu pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang saleh – dalm kobongnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak mau tahu tak mau peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa itu pinta agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang masing-masing buat dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjaga seginya saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segi agama – tidak dijaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dihantam-hantam oleh musuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari tempat sembunyinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian Muslim-Muslim – itukah nian ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim sejati, Muslim muttaqi, bertingkah laku ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama tinggal merana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalian – masih saja sibuki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkai ini, dunia ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian benarkah anggap dunia ini, gedung ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu kuat dan lestari ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah kalian t’lah lupa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nasibnya mereka nan ditelan masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah kalian yang tak peduli!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat maut dekat sudah, dekat sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama kalian ‘kan bersibuk-sibuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perempuan dan minuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kamu tambatkan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cuma pada dunia ini --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila kamu bujaksana;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau pahit menantimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat kamu hembuskan nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kamu berikan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada dia nan Hubbi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keelokan abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abadi nan jaya-bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang dari Yang Maha Pemurah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bijaksana ia yang gila –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi mencari Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mabuk dia yang mabuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena cantik Wajah-Nya dan Jelita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala cinta-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serbat kehidupan abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapa pun yang minum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencapai hidup lestari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan condong Saudaraku !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada harta dunia fana ini –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Racun maut tiap titik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nampak bak madu di matamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maukah kamu peras tenaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demi untuk Agama ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan dirimu dan hartamu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari Tuhannya Arasy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian ‘kan terima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jubah keridhoan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan padatnya amalmu, tampakkanlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam keyakinanmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kamu berikan hatimu pada Yusuf ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ke Kanaan menghadaplah dan berangkatlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah akan hari-hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila agama mengisi barisannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan orang-orang dari agama lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan bebaskan segenap dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari jalan-jalan syaithan terkutuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diatas muka bumi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudahlah ia beberkan –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;payung cahayanya dan pengajarannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tegakkan setinggi langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kehormatannya, ia punya nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang – begitulah adanya zaman, –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa setiap yang dungu dan jahil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siap sedia sudah –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Tuk teriak dusta sekeras-kerasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada Agama yang berjaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermilyun-milyun yang dungu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah tinggalkan Agama itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak beribu-ribu sudah jatuh jadi korbannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tipu daya yang memakzulkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan ini – kehinaan ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya pada satu, kaum Muslimin berhutang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan cuma satu-satunya –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta mereka akan agama, aduhai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ditopang usaha dan kehendak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh dunia boleh tinggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agamanya Mustafa –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak ‘kan bergerak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekecilnya-kecilnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu janin dalm rahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggelam siang dan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam bisnis duniawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan harta mereka –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seutuhnya dibaktikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buat kerabatnya, buat perempuan-perempuannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana orang berkerumun ‘tuk bersuka-ria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tampak di tengah-tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam kumpulan-kumpulan jahat –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk-duduk –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bak permata berjajar-jajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan ke lepau tuak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka kenal benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan ke hidayat, tidak ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mual ‘kan orang beragama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pencinta tuak mereka dekap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Tercinta berpaling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpaling Wajah dari mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia cintai benar, sebelum ini ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia jumpa tidak dalam hatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintanya mukmin sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlalu sudah masa nan lampau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan bersamanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebesaran dan keagungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulah busuk jadi sebab mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari-hari busuk zaman ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka pertama menanjak kebesaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu karena menngabdi Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun ‘kan bangkit kembali, sungguh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi dari mengabdi kembali –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan, kapankah ? kapankah gerangan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertolongan-Mu kan tiba ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kita lihat kembali –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari-hari penuh berkat itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahun-tahun penuh berkah itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gundah pada diriku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya buat agama Ahmad –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah oroti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;zat penumpu wujudku;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seteru berlimpah-limpah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kawan amatlah langka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari Tuhan, datanglah segera,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujanilah atas kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertolongan-Mu kembali –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, lainnya Tuhanku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambilah daku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari neraka yang mendidih ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ufuk Kasih Sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarlah cahaya petunjuk terbit –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarlah yang tersesat melihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan matanya sendiri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanda-tanda Kehadiran-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat besar Kau telah karuniakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada gairahku dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada gelisahku –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘ku takut tidak, karenanya –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa Kau ‘kan biarkan daku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kecewa – mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendukung kebenaran tak pernah gagal –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam cita nan mereka bela;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Tuhan sendiri ada mereka punya –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sembunyi di balik lengan bajunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-8120139087751638570?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/8120139087751638570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=8120139087751638570&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8120139087751638570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/8120139087751638570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/10/puisi-keprihatinan-muslim.html' title='Puisi Keprihatinan Muslim'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StLxVkXTuUI/AAAAAAAAAK4/jZR_1Zl4vLk/s72-c/Lumo0618.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8006468023525649717.post-7487133484140274623</id><published>2009-10-11T19:47:00.002+07:00</published><updated>2010-09-17T00:10:36.636+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamlah yang Benar'/><title type='text'>Mengenali Agama Yang Benar</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH_fKOeWmI/AAAAAAAAAF8/QfDIS5N25j8/s1600-h/Mln.mahmud+Ahmad+Cheema.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391371139725285986" src="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH_fKOeWmI/AAAAAAAAAF8/QfDIS5N25j8/s320/Mln.mahmud+Ahmad+Cheema.jpg" style="float: right; height: 172px; margin: 0px 0px 10px 10px; width: 140px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StHWnkcoDII/AAAAAAAAAEM/V_yA_g_GoQs/s1600-h/Minaret.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #cc0000; font-family: georgia; font-size: 130%;"&gt;Mengenali Agama Yang Benar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #33ccff; font-size: 78%;"&gt;&lt;i&gt;Sumber : Esensi Ajaran Islam, jilid 1&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #33ff33; font-size: 130%;"&gt;Agar bisa mengenali apa yang dimaksud sebagai agama yang benar, kita perlu melihat tiga hal. Pertama adalah melihat apa yang menjadi ajaran agama itu mengenai Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #3d85c6;"&gt;Yang dimaksud adalah bagaimana pandangan agama itu berkaitan dengan Ke-Esa-an, kekuatan, pengetahuan, kesempurnaan, keagungan, pengganjaran hukuman, pemberian rahmat dan sifat-sifat Ilahi lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Kedua, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk menanyakan apa yang diajarkan agama bersangkutan berkaitan dengan dirinya sendiri. Apakah ada dari antara ajaran agama itu yang akan mencederai hubungan antar manusia, atau menyebabkan manusia melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan kepatutan dan kehormatan, atau bertentangan dengan hukum alam, atau tidak mungkin dapat dipatuhi atau dilaksanakan, atau bahkan membahayakan jika dikerjakan. Juga perlu memperhatikan apakah ada ajaran-ajaran penting bagi pengendalian kesemrawutan, malah ditinggalkan. Begitu pula, perlu kiranya mengetahui bagaimana agama itu mempresentasikan Tuhan sebagai yang Maha Pengasih, dengan Wujud mana hubungan harus dihidupkan dan apakah ada mengatur petunjuk-petunjuk yang akan menuntun seseorang dari kegelapan kepada pencerahan, dari keadaan acuh menjadi eling ( selalu ingat). Ketiga, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tuhan yang dipresentasikan oleh suatu agama bukanlah sosok yang didasarkan pada kisah dan dongeng atau menyerupai barang mati. Beriman kepada sosok tuhan yang menyerupai benda mati dimana keimanan kepadanya bukan karena adanya manifestasi dirinya tetapi karena rekayasa pikiran manusia, sepertinya menyudutkan Tuhan yang sebenarnya. Tidak ada gunanya beriman kepada Tuhan yang kekuasaan-Nya tidak bisa dirasakan dan yang Dia sendiri tidak memanifestasikan tanda-tanda eksistensi-Nya. (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 373-373, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Agama yang mengaku berasal dari Tuhan harus mampu memperlihatkan tanda-tanda berasal dari Tuhan dan harus menunjukkan meterai Tuhan yang membuktikan kenyataan bahwa agama itu memang berasal dari Tuhan. Yang memenuhi syarat demikian adalah Islam. Allah yang tersembunyi bisa dikenali melalui agama ini dan memanifestasikan Wujud-Nya kepada para penganut tulus dari agama ini. Suatu agama yang benar akan didukung oleh tangan Allah dan melalui agama ini Allah memanifestasikan Wujud-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia itu eksis. Agama-agama yang sepenuhnya tergantung kepada kisah-kisah dan dongeng, tidak lebih dari merupakan bentuk penyembahan berhala. Agama seperti itu tidak ada memiliki ruh kebenaran. Jika Tuhan itu hidup sebagaimana ada-Nya, berbicara dan mendengar sebagaimana yang dilakukan-Nya, maka tidak ada alasan bagi-Nya untuk terus berdiam diri seolah-olah Dia tidak ada. Kalau Dia tidak berbicara di abad ini, maka sejalan dengan itu pasti juga Dia tidak mendengar. Dengan kata lain, Dia itu sekarang bukan apa-apa. Hanya agama yang benar yang dapat membukti¬kan bahwa Tuhan mendengar dan berbicara di masa sekarang ini juga. Dalam agama yang benar, Tuhan menunjukkan eksistensi-Nya melalui bicara-Nya. Mencari Tuhan bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa dilakukan oleh para filosof atau orang-orang bijak duniawi. Observasi langit dan bumi hanya memberikan kesimpulan bahwa meskipun dengan melihat keteraturannya mengindikasikan kemungkinan adanya sosok Pencipta, namun tidak menjadi bukti nyata bahwa Pencipta itu memang benar ada. Ada perbedaan besar di antara “kemungkinan ada” dengan “ada” itu sendiri. Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang mengemukakan eksistensi-Nya sebagai suatu fakta, yang tidak saja mendorong manusia untuk mencari Tuhan tetapi juga menjadikan Diri-Nya mewujud. Tidak ada kitab lain yang memanifestasikan Wujud yang tersembunyi tersebut.&lt;br /&gt;(Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 351-352, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Agama tidak berarti pertengkaran, penghinaan dan kata-kata kasar yang dilontarkan atas nama agama. Dalam konteks demikian, tidak ada yang memperhatikan penekanan hawa nafsu batin atau penciptaan silaturrahmi dengan yang Maha Terkasih. Satu kelompok menyerang kelompok lain seperti di antara hewan anjing dan setiap bentuk kelakuan buruk dipertontonkan atas nama agama. Orang-orang demikian tidak menyadari apa tujuan kelahiran mereka di dunia dan apa yang menjadi tujuan pokok dari hidup mereka itu. Mereka tetap saja membutakan mata dan bersikap jahat serta menguar kefanatikan mereka atas nama agama. Mereka mempertontonkan kelakuan buruk mereka dan menggoyang lidah mereka yang loncer guna mendukung tuhan fiktif yang eksistensinya tidak bisa mereka buktikan. Apa gunanya agama yang tidak mengajarkan penyembahan sosok Tuhan yang Maha Hidup? Tuhan yang mereka kemukakan tidak lebih baik dari bangkai mati yang berjalan karena ditopang penyangga, dimana jika penyangganya diambil maka ia akan jatuh ke tanah. Satu-satunya yang mereka peroleh dari agama seperti itu adalah kefanatikan membuta. Mereka sama sekali tidak takut kepada Allah dan tidak memiliki rasa asih kepada umat manusia yang sebenarnya merupakan semulia-mulianya akhlak. (Barahin Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 28, London, 1984). &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8006468023525649717-7487133484140274623?l=matursembahnuwun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/feeds/7487133484140274623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8006468023525649717&amp;postID=7487133484140274623&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/7487133484140274623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8006468023525649717/posts/default/7487133484140274623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matursembahnuwun.blogspot.com/2009/10/mengenali-agama-yang-benar.html' title='Mengenali Agama Yang Benar'/><author><name>Ahsan Anang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15164478209158139866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-JCEgYVwtvA0/Ti4k7IWKrNI/AAAAAAAAAfA/ElAnsR5J61E/s220/Nunukan017%252C-0021.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sr2BI3fKUms/StH_fKOeWmI/AAAAAAAAAF8/QfDIS5N25j8/s72-c/Mln.mahmud+Ahmad+Cheema.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
